Don't Leave Me

Don't Leave Me
143



 


 


 


Tangan Riska bergerak akan menampar wajah Shica. Namun dengan sigap, Reynaldi menahan tangan itu. Riska menoleh menatap tajam pada Reynaldi.


"Lepaskan tanganku! Tuan Adiwijaya! " teriak Riska. Reynaldi pun melepaskan tangannya.


Tangisan Aldevaro di pangkuan Reynaldi semakin kencang. Shica menunduk.


"Awalnya aku berpikir kau wanita baik-baik sehingga aku membiarkan Raihan menikahi janda seperti dirimu.. Aku tidak mengerti kenapa Raihan begitu mencintaimu, padahal kau bukanlah wanita baik-baik! Kau tahu? Betapa dia mencintaimu dan kau malah mempermainkan hubungan pernikahan! " nada bicara Riska semakin meninggi.


"Berhenti menghakimi istriku, ini bukan salah Rastani.. Aku bisa menjelaskannya.. Rastani.. Bawa Deva" kata Reynaldi sambil memberikan Deva pada Shica. Shica membawa Deva kemudian berlalu meninggalkan Riska dengan Reynaldi.


"Kita bisa bicara sambil duduk? " tanya Reynaldi. "Ini mansion milik Raihan, adikku.. Jadi kau tidak berhak memerintah diriku.. Aku bukan tamu disini! " kata Riska dengan kesal.


Reynaldi duduk di sofa. Riska juga. Mereka duduk berhadapan. Riska menatap foto pernikahan adiknya dengan Shica di ruangan tersebut.


"Saat itu, aku menyakiti Shica terlalu dalam.. Yang mungkin tidak bisa diterima begitu saja oleh setiap wanita.. Aku merasa sangat menyesal. Aku tahu.. Aku terlalu memaksakan perasaannya untuk mencintai diriku.. Nyatanya dia lebih mencintai adikmu, Nyonya Abdurrachman.. Aku berpikir tentang untuk melepaskan Shica. Membiarkan dia menikah dengan laki-laki yang dia cintai, namun aku tidak mampu melepaskan dia.. Jadi aku memilih melepaskan dia tapi tidak menceraikannya.. Aku membiarkan dia menikah dengan cintanya tapi tidak meninggalkan diriku juga.. " kata Reynaldi.


"Pria berengsek kau.. Jika aku jadi Shica, aku akan menceraikanmu.. Bagaimanapun kau pria berengsek yang telah berani merebut Shica dari Raihan.. Kau adalah pihak ketiga yang enta kenapa Tuhan mengirim dirimu untuk menghancurkan kisah hidup adikku dan Shica! Sungguh, aku tidak mengerti, kenapa Shica tidak menceraikan dirimu saja saja waktu dia tahu kalau kau masih resmi menjadi suaminya" geram Riska penuh emosi.


"Jangan salahkan dia.. Dia sudah terlalu banyak mengalami masalah karenaku ataupun adikmu.. Dia tidak menceraikan diriku karena saat itu aku sedang sakit.. Dia juga tidak mungkin menceraikan Raihan, pria yang sangat dia cintai.. Pada akhirnya dia memelih kami berdua untuk menjadi suaminya. Aku tahu ini salah dimata hukum maupun dimata agama.. Tapi tenang saja.. Aku tidak melakukan hubungan suami istri dengan Rastani, begitupun Raihan.. Kami menjaga batasan kami.. Dalam surat negara, kami suami istri, begitupun dengan Raihan.. Namun pada saat kami hidup bertiga, kami hidup seperti saudara, apa sekarang kau mengerti? Jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Rastani.. " kata Reynaldi.


Sejenak Riska menghela napas berat. Dia terlihat sedih. "Baiklah.. Untuk itu aku tidak tahu.. Tapi bagiku tetap kalian semua bersalah.. Aku akan bicara pada Papa dan keluarga Mahali.. Aku yakin mereka akan marah besar padamu.. Maupun pada Shica " kata Riska kemudian dia beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja.


"Tunggu! Dengarkan aku dulu " kata Reynaldi.


Namun Riska tetap melanjutkan langkanya.


"Apa kau akan tega mengatakan semua ini pada keluarga besarmu dan keluarga besar Mahali? Bagaimana nanti jika mereka marah pada Shica dan Shica yang tidak bersalah akan mendapat masalah.. Apa kau akan tetap tega? " tanya Reynaldi.


Riska masih tetap melanjutkan langkahnya. Dia tidak mengindahkan ucapan Reynaldi.


"Lalu Deva.. " kata Reynaldi dengan nada geram lalu menggantung kalimatnya.


Langkah Riska terhenti. Dia tampak berpikir dan menunggu kelanjutan kata-kata Reynaldi.


Reynaldi melanjutkan kalimatnya yang menggantung, ".. Deva adalah putra dari adikmu.. Dia keponakanmu.. Apa kau akan membiarkan dia terlibat dalam kesedihan ini? Bagaimana masa depannya? Dia tidak tahu apa-apa.. Tapi dia juga harus menanggung kesalahan orang tuanya jika menurutmu itu salah.. Apa kau sejahat itu? Bagaimana perasaan Rastani. Kau juga seorang ibu kan? " Reynaldi menghela napas panjang untuk menahan emosinya yang hampir meluap.


Riska berbalik dan menatap Reynaldi. "Baiklah.. Ini demi keponakanku.. Aku akan diam.. Tapi.. Apa yang akan kau lakukan setelah ini? " tanya Riska.


"Kalau kau kembali pada Shica, itu berarti kau akan menjadi ayah tirinya Aldevaro, apa kau akan bijaksana? Apa kau tidak akan membedakan anakmu dengan anaknya Raihan? Apa kau akan menerimanya? " tanya Riska.


"Deva seperti putraku sendiri, sebelum tiada, Raihan sudah mengamanatkan agar aku menjaga Deva dan menjadi ayah untuknya.. Tenang saja.. Aku bisa menjadi ayah untuk Deva maupun anakku nanti " kata Reynaldi penuh keyakinan.


"Berjanjilah" kata Riska.


"Aku berjanji.. " kata Reynaldi.


"Baiklah, aku harus pergi.. Sampaikan salamku pada Shica dan Devaro" kata Riska kemudian berlalu.


Reynaldi menghela napas panjang. Dia pun berlalu ke ruang keluarga dan mendapati Shica duduk di sofa dengan eskpresi kosong. Deva memainkan dress yang Shica pakai. Reynaldi pun duduk di samping Shica. Shica sedikit terhenyak kemudian mendongkak menatap Reynaldi.


"Wanita itu menyampaikan salamnya untukmu dan untuk Deva kecil" kata Reynaldi sambil memainkan kedua pipi Deva yang bulat. Deva tertawa senang dengan godaan daddy nya.


"Wa'alaikum salam" kata Shica.


"Hemm.. Kita akan menikah besok.. Agar semuanya jelas.. Kita akan menikah di mansionku.. Aku akan menghubungi keluargamu yang ada di Indonesia.. Begitupun denganku yang akan menghubungi keluargaku yang ada di London " kata Reynaldi.


"Di mansionmu? " tanya Shica.


"Iya.. Karena aku tidak mau kita kembali ke Indonesia dan menikah disana.. Karena Deva masih kecil. Tidak baik membawanya pergi jauh.. Nanti dia sakit" kata Reynaldi. Shica tersenyum mendengar penuturan Reynaldi.


"Terimakasih.. " kata Shica pelan sambil melelapkan kepalanya didada Reynaldi. Reynaldi merangkul Shica.


"Untuk apa? " tanya Reynaldi.


"Untuk semuanya.. Terimakasih telah menjadi suamiku dan ayah untuk anakku" kata Shica.


"Anakku juga " kata Reynaldi.


Deva bertepuk tangan semangat.


By


Ucu Irna Marhamah