
Ratih berusaha menegakkan kepalanya menatap balik Mama Angga. Walaupun dengan irama jantung yang tidak menentu, Ratih berusaha kuat. Dia masih tidak ingin terintimidasi oleh Mama Angga.
"Kami sebagai orang tua sudah berusaha yang terbaik untuk Angga. Dia kami arahkan untuk bekerja di tempat Ayahnya dulu. Kami juga pertemukan Angga dengan dokter-dokter handal, agar dia bisa belajar meningkatkan ilmunya. Tapi apa balasan Angga. Kemarin dia malah memilih disini bersama Anda. Pantas saja Papa Angga sangat murka." Jelas Mama Angga.
Ratih menghela napas panjang. Dia menunduk. Dia merasa kalah oleh perkataan Mama Angga. Ratih merasa ikut bersalah atas apa yang terjadi kemarin di rumahnya. Dia juga tidak menyalahkan Papa Angga yang memang murka dengan keputusan Angga.
"Saya ikut prihatin atas apa yang anda alami." Perkataan Mama Angga mendadak lembut.
Ratih yang tadi tertunduk, kini menatap wajah Mama Angga penuh heran. Mama Angga terlihat tenang, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa canggung karena ikut prihatin dengan takdir Lexa.
"Saya juga pernah merasa kehilangan. Bahkan mungkin lebih banyak dari anda. Yang membedakan adalah situasinya. Tapi, kehilangan tetap kehilangan. Tidak bisa melihat lagi orang yang kita sayang pasti tidak akan mudah." Tutur Mama Angga melemah.
Ratih terpaku. Rasanya dia ingin mencubit pipinya sendiri, karena dia tak yakin dengan situasinya saat ini. Mimpi atau nyata.
"Pasti tidak mudah bagi anda, kehilangan orang yang tercinta dengan jarak yang dekat dan dengan kondisi yang tidak pernah diinginkan. Tapi, hidup harus berjalan bukan? Saya yakin anda pasti bisa melaluinya." Tambah Mama Angga.
Ratih melihat ada seutas senyum semangat tersungging di wajah Mama Angga. Walaupun sangat kecil, Ratih melihatnya dengan jelas. Dia tak menyangkan Mama Angga mempunyai senyum indah seperti itu.
"Anda harus tahu, Angga adalah pewaris kami. Kami tidak akan membiarkan orang lain merusak atau menghancurkan karir yang sudah dia bangun dengan baik. Jadi, saya hanya minta satu hal dari anda." Ujar Mama Angga.
"Saya ingin anda melakukan tes, untuk membuktikan bahwa anda bebas dari AIDS."
Ratih agak menganga mendengar pernyataan Mama Angga. Ratih tersadar. Dia selama ini mengurus Lexa dan juga Riyanti, Ibu Lexa. Dia sampai lupa akan kondisi kesehatannya. Bagaimanapun Ratih adalah care-taker yang setiap hari berinteraksi dengan ODHA.
Ratih masih tertegun. Dia memikirkan dengan baik apa yang dikatakan oleh Mama Angga. Lama dia terdiam dalam lamunannya sendiri, kemudian memberanikan diri untuk membalas pernyataan Mama Angga.
"Saya siap untuk melakukan tes, tante." Jawab Ratih yakin.
Mama Angga melihatnya dalam. Ada rasa puas dan keraguan dari balik sorot matanya. Tapi Ratih membalas sorot mata itu dengan santai.
Mama Angga yang belum merasa lega pun kembali mengatakan beberapa hal kepada Ratih.
"Baiklah. Dan satu hal lagi, tolong bujuk Angga untuk mengambil spesialis. Sayang jika kepintarannya hanya sebatas dokter umum saja." Kata Mama Angga agak kesal.
Ratih menghela napas lagi. Setiap dia ingin memulai berbicara kepada Mama Angga, dia pasti melakukan hal tersebut.
"Saya tidak menjamin bahwa Angga akan menuruti perkataan saya, tante. Karena saya tidak pernah memaksakan kehendak saya kepada Angga. Saya menghargai setiap keputusan Angga untuk hidupnya sendiri. Saya tidak punya hak untuk ikut campur tentang pilihan hidup Angga. Yang akan saya lakukan adalah saya akan mendukung setiap keputusan Angga tentang pilihan hidupnya. Selama itu di jalan yang benar. Karena hidup Angga hanya sekali, jika dia tidak bisa memilih urusan hidupnya maka untuk apa Angga hidup? Bagaimana Angga akan berjuang untuk hidupnya sendiri, jika orang lain selalu menuntutnya untuk melakukan hal-hal yang dia tidak sukai." Jelas Ratih.
Mama Angga terlihat tercengang dengan pernyataan Ratih. Mungkin dia tidak menyangka Ratih akan berbicara panjang lebar seperti itu. Apalagi kata-katanya sungguh sangat menyentuh hatinya.
"Bagaimanapun kita tahu tante, hidup orang lain tidak bisa kita paksakan untuk mengikuti mau kita. Hidup manusia itu hanya sekali, saya tidak mau melihat orang yang saya sayangi menyesal sampai akhir hidupnya. Tante benar, saya mungkin tidak merasa kehilangan sebanyak yang tante rasakan. Tapi saya belajar dari setiap kehilangan itu, tante." Ucap Ratih lagi.
Ratih sendiri tak menyangka bahwa dirinya bisa mengatakan hal seperti itu kepada Mamanya Angga. Ada kekhawatiran sendiri pada diri Ratih. Dia juga merasa takut jika Mamanya Angga akan beranjak pergi untuk menamparnya.
"Baiklah. Saya rasa cukup. Saya ingatkan anda untuk melakukan tes secara menyeluruh. Saya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Angga." Ucap Mama Angga.
Mama Angga segera bangkit dari tempat duduknya. Tidak ada sikap yang ditunjukkan oleh Mama Angga untuk bersiap menampar wajah Ratih. Mama Angga langsung beranjak pergi menghindari Ratih. Tapi kemudian langkahnya terhenti.
"Satu hal yang harus anda tahu, apapun hasil dari tes anda, tidak menjamin saya dan Papanya Angga mau menerima anda."
Perkataan Mama Angga itu, terngiang di telinga Ratih. Terdengar seperti sebuah ancaman yang sangat ampuh untuk melumpuhkan hati dan perasaan lawan. Tapi Ratih tak begitu memikirkannya. Dia justru merasa lega karena sudah berani mengutarakan apa yang mengganjal dalam benaknya.
Bagaimanapun Angga sudah menjadi budak keinginan orang tuanya. Angga tertekan oleh keinginan orang tuanya yang selalu ingin Angga menjadi apa yang mereka mau.
Ratih tahu betul bahwa Angga lebih tertarik menjadi seorang arsitek. Gambar-gambar dan tulisan Angga sangat bagus. Tidak cocok untuk menulis resep. Tapi demi kebahagiaan orang tuanya, Angga rela mengorbankan cita-citanya.
Pernah suatu ketika saat mereka masih berpacaran. Angga membolos untuk kuliah. Dia mengajak Ratih yang tidak ada kuliah untuk menemaninya ke sebuah pameran expo. Hanya untuk melihat berbagai karya seni rancang bangun yang menarik perhatiannya.
Karya bangunan sangat menarik perhatiannya, bukan soal obat ataupun pasien yang membuatnya nyaman. Walaupun Angga akhirnya bisa beradaptasi dengan dunia kedokteran, tapi semua itu berawal dari sebuah paksaan orang tua yang terlalu ambisius dengan sesuatu. Sampai anak menjadi korbannya.
Benar kata Mama Angga. Angga adalah anak yang penurut. Hampir seluruh permintaan orang tuanya selalu Angga penuhi. Angga bukan anak semata wayang sesungguhnya. Dia punya seorang kakak. Tapi kakaknya sejak kecil sakit-sakitan, sehingga Tuhan dengan mudahnya mengambil kembali nyawanya di usia yang cukup muda, bahkan belum genap tujuh tahun.
Dari situlah Angga diplot oleh orang tuanya untum menjadi dokter agar bisa mengobati orang lain. Walaupun tujuannya mulia, tapi tetap saja dilandaskan oleh keterpaksaan.
****
Angga memberi salam kepada Ratih yang mengantarnya sampai ke teras. Sementara Mamanya sudah duduk manis di dalam mobil. Rupanya Mama Angga membiarkan Angga untuk berpamitan kepada Ratih.
"Aku pulang... Jaga dirimu baik-baik. Simpan ini untukmu." Kata Angga sambil menyerahkan sebuah kado berpita emas.
"Apa ini? Tidak usah repot-repot." Ucap Ratih menolak.
"Tolong, terimalah. Ini hanya hadiah kecil untukmu." Pinta Angga memelas.
Ratih tak tega dan tak kuasa menolak. Diterimalah sebuah kado berpita emas itu. Angga mengembangkan senyum bahagia. Dan Ratih membalas senyum Angga itu lebih bahagia.
Angga beranjak pergi dari hadapan Ratih tanpa menoleh. Mungkin Angga tak akan bisa melanjutkan langkahnya lagi jika dia menoleh ke arah wanitanya.
Dan Ratih pun melihat mobil Angga berlalu dari hadapannya dengan mata yang sendu.