Don't Leave Me

Don't Leave Me
128



18++++++++


 


 


 


 


Hari pernikahan Raihan dan Shica telah tiba. Mereka duduk berdampingan di altar pernikahan. Ratna memakaikan kerudung brukat putih pada Shica dan Raihan dengan senyuman yang mengembang.


Ridan menjabat tangan Raihan. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Raihan Alfarizi Mulya Abdurrachman Al Hariz bin Hariz Abdurrachman dengan putriku Rastani Primantari Sukma Riandhini Dharma Wijaya Kusuma Mahali binti Raden Rahadian Arwikasma Trijayadi Kusuma Mahali, dengan mas kawin tersebut dan seperangkat alat shalat.. Di bayar tunai.. " kata Ridan dengan suara lantang.


".. Saya Raihan Alfarizi Mulya Abdurrachman Al Hariz bin Hariz Abdurrachman terima nikah dan kawinnya Rastani Primantari Sukma Riandhini Dharma Wijaya Kusuma Mahali binti Raden Rahadian Arwikasma Trijayadi Kusuma Mahali, dengan mas kawin tersebut dan seperangkat alat shalat di bayar tunai.. " kata Raihan tegas.


"Bagaimana.. Sah.. "


"Sah"


Para tamu yang hadir, diantaranya keluarga besar, membaca doa sesuai kepercayaan masing-masing.


Salah satu diantara mereka ada seorang pria bermata sapphire memakai sorban arab yang digunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.


Mata sapphire-nya menatap tegas ke depan. Tepatnya ke pasangan pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Kini mereka terliha bertukar cincin.


Pria yang tak lain adalah Reynaldi itu menyentuh dadanya yang terasa sakit.


Orang di sekelilingnya tidak ada yang bingung dengan kehadiran pria itu. Karena mengingat keluarga Raihan adalah keturunan Arab, mereka tidak asing lagi melihat pria yang memakai sorban itu.


Dengan langkah gontai, pria itu meninggalkan rumah besar Mahali diikuti dua bodyguard nya yang juga menyamar.


Shica mencium tangan Raihan dan Raihan mengecup lembut kening Shica.


Shica dan Raihan di banjiri ucapan selamat. Semua orang terdekat yang mereka undang hadir. Kecuali keluarga kecil Regar, Jane dan Rangga.


Setelah acara pernikahan selesai, Raihan dan Shica memilih rumah lama Raihan sebagai tempat tinggal sementara mereka. Belum ada keputusan dimana mereka akan tinggal. Namun kemungkinan mereka akan tinggal di mansion Raihan yang ada di Perancis.


Rumah lama Raihan sudah berubah. Meski tidak seindah mansionnya, namun terasa nyaman.


Rumah bertingkat dua dengan cat putih itu terlihat sederhana namu elegan.


Mengingat rumah itu adalah kenangan pahit Raihan dengan kakaknya dimana mereka bernaung di rumah tersebut dan menjalankan aktivitas sehari-hari mengolah makanan sampai dijual.


"Kau ingat? Ini rumahku.. Dulu kau sering kemari untuk memaksa diriku pergi sekolah keesokan harinya " kata Raihan.


Shica tersipu malu. "Iya.. Aku juga masih ingat saat kau membawaku kemari.. Menjagaku yang masih trauma karena perbuatan Argaa" kata Shica.


"Ayo kita masuk. Didalam tidak ada siapa-siapa.. Hanya kita berdua" kata Raihan dengan nada nakal.


Mereka pun memasuki rumah. Ruangan di rumah itu bersih dan rapi.


"Kamar mandinya masih disana? " tanya Shica sambil menunjuk salah satu ruangan.


"Iya.. Ada dua kamar mandi. Satu di dapur dan satu lagi dikamar kita, kamu mau memakai kamar mandi yang mana?" kata Raihan diakhiri pertanyaan.


"Baiklah, aku harus ke kamar mandi.. Aku mau ke kamar mandi yang dekat dapur saja" kata Shica sambil berlalu ke kamar mandi. Raihan tersenyum melihat tingkah Shica yang sepertinya tidak tahan ingin segera ke kamar mandi.


Selesai mandi, Shica yang hanya mengenakan jubah mandi terlihat bingung. Dia masuk ke kamar yang mana? Dia tidak bertanya pada Raihan kamar mereka ada dimana?


Shica menaiki tangga menuju lantai dua. Dia melihat salah satu pintu berhiaskan bunga. Dia yakin itu kamarnya dengan Raihan.


Shica membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Namun dia terkejut melihat Raihan tidak memakai sehelai benangpun membelakanginya.


"Aaa!!! " teriak Shica. Raihan terkejut mendengar teriakan Shica. Dia segera menutupi tubuhnya dengan handuk kemudian berbalik melihat Shica yang menutupi wajahnya.


"Ma.. Maaf.. Aku tidak mengetuk pintu dulu.. Biasanya Reynaldi melarangku mengetuk pintu dulu jadi ini sudah menjadi kebiasaanku" kata Shica menyesal.


Raihan tertawa kemudian menutup pintu. "Haha.. Reynaldi benar.. Kau tidak perlu ketuk pintu untuk memasuki kamarmu sendiri " kata Raihan sambil memegang kedua lengan Shica.


"Kenapa kau masih menutup wajahmu? " tanya Raihan bingung. "Aku.. Aku malu" gerutu Shica.


"Aku sudah menutupi tubuhku, sayang " kata Raihan. Perlahan, Shica menyingkirkan tangannya dan membuka matanya. Raihan hanya menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Hemm.. " Shica pun berlalu mengambil kopernya dan mengeluarkan semua pakaiannya.


"Hei? Apa yang kamu cari? " tanya Raihan.


"Tentu saja pakaian.. Apalagi memang? " kata Shica setengah menggerutu.


"Kau mau memakai pakaian? " tanya Raihan.


"Tentu saja" gerutu Shica.


"Hei, buat apa susah memakai pakaian? Kita melakukannya tanpa pakaian kan? " tanya Raihan dengan polosnya.


Seketika Shica menghentikan aktivitasnya. Kedua pipinya memerah seperti kepiting rebus. Dia berbalik menatap Raihan.


"Atau mungkin Reynaldi dan dirimu melakukannya sambil memakai baju? Atau bagaimana? " tanya Raihan.


"Itu.. Itu.. " Shica jadi gugup. Raihan menghampiri Shica. Dia menyentuh kedua bahu Shica. "Emm.. Apa aku boleh menyentuhmu? Itupun dengan seizin dirimu" kata Raihan.


Kedua pipi Shica semakin merah saja. "Ya ampun.. Apa yang terjadi dengan kedua pipimu? " tanya Raihan.


Shica sangat kesal. Dia mencubit perut kotak-kotak milik Raihan. Raihan meringis pelan. Dia memeluk Shica.


"Jadi bagaimana? Apa kau bersedia? " bisik Raihan di telinga Shica. Shica membalas pelukan Raihan.


"Kenapa bertanya? Bukankah itu hakmu? " Shica balik bertanya.


Raihan melepaskan pelukannya kemudian menatap Shica. Manik kelam itu bertemu dengan manik hazel milik Shica. Raihan mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Shica. Kecupan yang berubah jadi lumatan-lumatan panas.


Raihan kini berada diatas tubuh Shica. Kecupan Raihan semakin turun ke leher Shica. Dia membuat karyanya disana. Meninggalkan jejak merah. Shica meremas rambut Raihan..


Saat Raihan akan membuka jubah mandi Shica, tiba-tiba Shica berteriak dan beringsut menjauh dari Raihan.


"Aldi! Hentikan! Ku mohon! Hentikan!!!" teriak Shica. Shica tampak begitu ketakutan. Tubuhnya gemetar.


Raihan tidak mengerti. Padahal sedari tadi dia memperlakukannya dengan lembut.


"Jangan Reynaldi! Sakit! " teriak Shica.


Raihan mengerutkan keningnya. Jadi Shica masih trauma dengan apa yang dilakukan Reynaldi padanya.


Raihan mendekati Shica. Dia membelai lembut rambut istrinya. "Sayang.. Jangan takut, ini aku.. Raihan " kata Raihan. Shica membuka matanya kemudian mendongkak menatap suaminya.


Serta merta dia memeluk Raihan. "Aku takut.. Jangan sakiti aku.. Aku mohon.. Lakukan dengan hati-hati " tangis Shica.


"Tentu saja, sayang.. Aku sangat mencintai dirimu.. Aku akan melakukannya dengan lembut" kata Raihan sambil mengecup tengkuk Shica.


By


Ucu Irna Marhamah