Don't Leave Me

Don't Leave Me
142



FOLLOW IG @ucu_irna_marhamah


 


 


 


 


 


 


Reynaldi Alexander Adiwijaya


Langit mulai gelap menandakan bahwa malam sudah tiba. Membuat aktivitas siang berhenti dan berganti dengan aktivitas malam.


Aku sedang menggoda Deva. Malam ini dia susah ditidurkan. Bayi ini sangat aktif. Apalagi nanti setelah besar. Mungkin dia ingin menjadi seorang kapten voli seperti ayahnya.


Asalkan dia jangan menyebalkan seperti ayahnya.


Shica memasuki kamar dengan semangkuk kecil bubur protein di tangannya.


"Apa pangeranku masih belum mau tidur? " tanya Shica. "Dia sangat nakal.. Dia tidak mau menurutiku.. " kataku sambil tertawa.


"Kata kak Reynala, bayi di usia 6 bulan memang aktif dan dia pasti sulit ditidurkan " kata Shica. Dia duduk di sampingku kemudian menyuapi Deva.


"Juliette memang sangat aktif makanya kakakku sangat kesulitan merawatnya.. " kataku menahan tawa sambil membayangkan wajah polos Juliette, keponakanku.


Shica tersenyum. "Juliette sangat manis seperti kak Reynala" kata Shica. Deva menggerakkan tubuhnya dan dia bisa merangkak. Aku terkejut.


"Lihatlah.. Dia bisa merangkak.. Deva cepat tumbuh ya.. Sini ke Daddy" kataku dengan bahasa Indonesia. Aku mengulurkan kedua tangangku. Deva merangkak padaku. Aku pun menggendongnya dan memberikan ciuman yang bertubi-tubi pada pipinya yang bulat. Dia tertawa dan menepuk-nepuk pipiku.


Aku menoleh kearah Shica. Dia mengusap pipinya. Ah! Dia menangis lagi.


"Rastani.. " kataku.


Dia tersenyum. "Aku hanya terharu" katanya dengan suara bergetar. Aku memainkan kedua tangan Deva.


"Lihat.. Mommy nangis lagi.. Kamu sudah janji kan sama Papa Raihan untuk membuat Mommy tertawa? " bisikku di telinga Deva.


"Mommy.. Mommy jangan nangis telus.. Deva cedih liat Mommy nangis" kataku menirukan suara anak kecil seolah Deva yang berbicara. Shica tertawa kemudian dia menggendong Deva dan menciumnya. Deva tertawa di pangkuan ibunya.


Aku tersenyum melihat kebahagiaan diwajah Shica. Setidaknya kehadiranku ada sedikit artinya disini. Apalagi ada Deva yang bisa membuat harinya semakin berwarna.


"Terimakasih, Reynaldi.. Terimakasih, suamiku" kata Shica dan tangisannya makin menjadi-jadi meskipun tidak histeris.


Aku memeluknya begitupun dengan Deva. Ah bahagia sekali rasanya aku tengah memeluk keluargaku. Aku memeluk istri dan anakku.


Hey! Deva anakku juga, aku akan tetap memberitahu Deva kalau Raihan adalah ayah kandungnya. Tapi itu nanti setelah dia dewasa.


"Emm.. Reynaldi.."


"Apa sayang? "


"Emm.. Ini sesak.. Apa kau tidak akan melepaskan pelukanmu? " tanya Shica. Aku tertawa kemudian melepaskan pelukanku.


Sejenak kami saling menatap. Kemudian Shica mengalihkan pandangannya mengakhiri kontak mata diantara kami.


"Emm.. Ini sudah malam.. Deva bobo ya.. " kataku sambil memainkan kedua pipi bulatnya. Dia masih tampak semangat dan tertawa.


"Kenapa kau memaksanya tidur.. Jika dia tidak mau tidur biarkan saja.. " kata Shica.


"Hemm.. Iya.. Tapi.. Apa kau tidak berniat membuatkan adik untuk Deva? Agar dia punya teman begitu.. " kataku menggoda Shica. Sudah kuduga, kedua pipinya memerah.


"Baiklah.. Sekarang aku bersyukur jika Deva masih terjaga" kata Shica. Aku tertawa. "Aku tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu.. Karena kau takut kehilanganmu.. Seperti waktu itu " kataku. Shica menunduk.


"Kau mau kemana? " tanya Shica.


"Tidur.. " jawabku.


"Maksudku tidur disini.. Disampingku" kata Shica. Seperti ada ribuan bunga menghujaniku setelah mendengar jawaban Shica. Aku pun tersenyum dan kembali duduk di ranjang.


"Tidurlah.. " kata Shica. Aku merebahkan tubuhku. Deva merangkak menghampiriku. Aku memeluknya agar dia tidur di sampingku.


"Sekarang tidur ya" bisikku ke telinga Deva. Kulihat Shica hanya tersenyum dan berbaring.


"Ah ya.. Mungkin Deva tidak akan tidur sebelum kau memberikannya ASI" kataku.


"Aku sudah memberinya ASI.. Jangan menggodaku " gerutu Shica. Aku tertawa. Tentu saja..


Malam ini, kami tertidur dalam keadaan berpelukan. Langit masih terlihat cerah ditaburi bintang-bintang yang menerangi kota Paris.


Aku merasakan sesuatu menyentuh wajahku. Seperti kecupan lembut. Ah pagi-pagi begini Shica mau menggodaku.


"Rastani.. Ini masih pagi.. " kataku bergumam. Namun dia tidak mau berhenti.


"Rastani.. " aku membuka mataku dan ternyata bayi kecilku yang nakal. Dia sudah bangun ternyata. Aku menggelitik perutnya.


"Pagi-pagi kamu jahilin Daddy, ya.. " kataku. Kulihat Shica masih terlelap dalam tidurnya. Aku melihat jam menunjukkan pukul setengah tujuh.


Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar sambil membawa Deva berkeliling di mansion besar milik Raihan ini.


Para pelayan menyapaku. Termasuk Santos, kepala pelayan mansion ini. Aku menjawab sapaan mereka.


Mereka pasti bingung dengan kehadiranku disini. Mereka pasti mengira bahwa Nyonya mereka telah melakukan hal tidak senonoh denganku. Padahal nyatanya aku adalah suami sahnya. Namun biarkan saja. Aku tidak akan bilang apapun. Atau situasinya akan semakin sulit.


Aku mendengar suara bell berbunyi. Pasti ada tamu. Aku berjalan dan membuka pintu utama mansion. Aku terkejut melihat wanita yang kalau tidak salah adalah saudarinya Raihan.


Dia menatapku terkejut. Dia pasti bingung dengan kehadiranku. Aku juga bingung harus bilang apa padanya.


"Kau? Kau kan mantan suaminya Shica.. Kenapa disini? Apa yang kau lakukan disini? Dan kenapa kau menggendong Aldevaro? " pertanyaan bertubi-tubi dia arahkan padaku. Dia mengambil Deva dariku.


"Aku mengunjungi Rastani.. Dia kesulitan merawat putranya.. Tenang saja.. Aku tidak berbuat macam-macam, aku hanya ingin membantu" kataku sambil mengangkat kedua tanganku. Namun wanita itu menyipitkan kedua matanya seolah curiga padaku.


Dia memasuki mansion. "Shica.. " dia memanggil nama Shica berulang-ulang. Shica menuruni tangga. Dia sudah rapi dengan dress berwarna putih yang melekat ditubuhnya.


"Kak Riska? " Shica terkejut dengan keberadaan kakak iparnya yang bernama Riska itu.


"Shica, kenapa ada dia disini? Dan kenapa dia menggendong Aldevaro? Apa kau dan dia.. " Riska memberikan pertanyaan bertubi-tubi dan terakhir, dia menggantung kalimatnya. Dia menatap Shica penuh curiga.


Shica menoleh kearahku. Deva menangis dipangkuan Riska. Aku mengambilnya dari Riska kemudian  tangisan Deva berhenti.


Riska menatap tidak percaya padaku.


"Dia.. Suami sah ku" kata Shica.


Kulihat raut wajah Riska jadi terkejut. "Apa? Kapan kalian menikah? Apa.. Apa-apaan ini? " tanya Riska.


"Aku menikah dengannya sebelum menikah dengan Raihan, dan saat aku menikah dengan Raihan, aku belum bercerai dengan dia" jawab Shica.


Riska terbelalak. Tangannya bergerak akan menampar wajah istriku.


By


Ucu Irna Marhamah