Don't Leave Me

Don't Leave Me
124



Jakarta, Indonesia


Ratna sedang duduk melamun di teras depan rumah besar Mahali. Wajah cantiknya yang sudah tidak muda lagi tampak begitu menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin tidak pernah terucap dan akan selamanya terpendam dalam benaknya.


Sebuah taksi terhenti didepan gerbang rumah. Keluarlah sepasang kekasih dari dalam taksi.


Ratna terkejut. Serta merta dia bangkit dari duduknya dan melihat siapa yang datang.


Ternyata Shica dan Raihan. Mereka memakai pakaian yang terkesan biasa.


Mereka memasuki area rumah Mahali. Ratna yang begitu merindukan Shica berlari memeluk putrinya.


"Mama kangen sama kamu" kata Ratna. Shica tersenyum kemudian membalas pelukan hangat ibunya yang juga sangat dia rindukan.


Ratna melepaskan pelukannya kemudian menatap Raihan. "Raihan " Ratna terlihat sedih.


Raihan akan mencium tangan Ratna. Tapi Ratna menarik tangannya.


Shica terlihat sedih. Ibunya pasti tidak akan pernah merestui hubungan mereka..


Sampai kapanpun.


"Maaf" kata Ratna lirih sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada di hadapan Raihan.


Shica terkejut dan menatap kedua mata ibunya yang berlinangan air mata. Bahkan sekarang buliran bening itu mengalir membasahi kedua pipinya.


Raihan menyentuh tangan Ratna. "Tidak.. Kumohon jangan katakan itu" kata Raihan.


"Maaf.. Aku telah membuat Benteng diantara kalian.. Dan.. Kalian pasti menderita karena ku.. Aku minta maaf" kata Ratna.


Shica memeluk ibunya. "Mama" tangis Shica.


"Ini salahku.. Semuanya salahku.. " tangis Ratna.


"Tidak ada yang salah" kata Raihan. "Mama.. Kami kemari untuk meminta restumu.. Kami akan menikah bulan depan" kata Shica.


Ratna terbelalak dan serta merta dia menatap putrinya. "Menikah? Lalu.. Suamimu.. " Ratna tidak melanjutkan kata-katanya.


"Aku dan Reynaldi sudah berpisah " jawab Shica dengan ekspresi sedih. Ratna membelai lembut rambut putrinya.


"Kuatkan dirimu, nak"


"Iya" jawab Shica.


"Ayo kalian masuklah.. Papa ada di dalam.. Bicaralah padanya" kata Ratna sambil merangkul Shica dan Raihan.


Mereka memasuki rumah besar itu dan terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk bertumpang kaki sambil membaca koran.


Dia menoleh kearah mereka bertiga. Raut terkejut terpancar di wajahnya. Dia menatap putrinya berdiri disana.


Shica berlari memeluk ayah tercintanya. "Papa.. Aku rindu Papa" kata Shica. Ridan membalas pelukan putrinya.


"Papa lebih merindukan Shica" kata Ridan. Kemudian dia menoleh pada Raihan.


"Papa.. Ini mungkin terlambat sejak beberapa tahun yang lalu, tapi Raihan akan bicara pada Papa sekarang.. Dia berniat menemui Papa" kata Shica pelan.


"Baiklah.. " kata Ridan.


Setelah Shica menceritakan semuanya, Ridan mengerti dan dia memilih bicara dengan Raihan.


Kini mereka berdua duduk berhadapan di ruang kerja Ridan. Ridan memperhatikan Raihan yang terlihat tenang meskipun dalam hati, dia cukup gugup.


Raihan tampak berpikir. Dia memilih kalimat pertama yang akan dia ucapkan dari otaknya.


"Katakan hal yang seharusnya kau katakan sejak lama" kata Ridan.


"Saya minta maaf.. Waktu itu tidak datang dan menemui anda.. Sungguh saya memiliki masalah yang harus saya selesaikan terlebih dahulu " kata Raihan.


Ridan tidak berniat menanggapi ucapan Raihan. Raihan tahu dan dia memilih melanjutkan kata-katanya kembali.


".. Dan sekarang saya berniat menikahi Putri anda.. Maafkan saya telah lancang dan berani mengatakan ini.. Putri anda benar-benar sudah berada di hati saya sejak lama.. Saya mencintai Shica.. Walau saya sadar.. Kalau Cinta tidak seharusnya hadir.. Karena saya.. Hanya seorang penjual nasi goreng rendahan.. Yang tidak punya apa-apa.. Saya hanya punya sedikit uang untuk membahagian Putri anda.. Tidak seperti Tuan Adiwijaya yang bisa memberikan semua yang Shica inginkan.. Maafkan saya Tuan.. " kata Raihan dengan ekspresi memelas.


Ridan menautkan alisnya. "Cukup bicaranya" kata Ridan. Raihan tersentak dan menatap Ridan.


Ternyata kedua air mata Ridan menggenang di pelupuk matanya.


Apa dia begitu terharu dengan penuturan Raihan?


"Tu.. Tuan.. " gumam Raihan.


Ridan menyentuh bahu Raihan. "Kau tahu? Selama ini aku dan Ratna menderita.. Itu karenamu" kata Ridan.


Deg


Sungguh Raihan sangat terkejut. Apa mungkin Ridan tidak akan membiarkannya bersatu dengan Shica?


"Kau seharusnya datang kemari dan ambil Putri kami.. Jadikan dia istrimu sebelum.. Tuan Adiwijaya yang kau maksud itu datang.. Kau bahkan tidak datang ke pernikahan Putri kami untuk sekedar menggagalkan pernikahan yang berujung perpisahan ini" kata Ridan.


Raihan terlihat sedih. Dia mengerti dan dia memang berniat akan datang ke pernikahan Shica untuk menggagalkan pernikahan itu setelah tahu Shica akan menikah. Namun apa daya, saat itu dia tengah dalam tahap operasi, bukan?


"Kau tidak mengerti, betapa kami mencintai Putri kami.. Betapa kami membanggakan putri kami yang baik itu.. Mungkin kau pikir Ratna membencimu.. Ya, itu memang pernah terjadi.. Tapi setelah dia tahu kalau Shica hanya mencintai dirimu seorang, dia sadar.. Dan.. Kau tahu.. Dia memohon padaku dan pada Regar untuk membatalkan pernikahan Shica dengan Reynaldi.. Regar memang sudah berniat melakukannya dari awal, tapi Shica menolak untuk membatalkan pernikahan itu, dengan alasan.. Seorang yang berketurunan baik, harus menikah dengan keturunan yang baik pula.. Dan mereka menikah.. Lalu ini yang terjadi " kata Ridan panjang.


Sunyi.


"Aku.. Ingin kau menikahi putriku dan bahagiakan dia" kata Ridan.


Raihan terkejut.


"Ta.. Tapi.. Apa Tuan tidak masalah.. Saya tidak memiliki apa-apa.. " ucapan Raihan tidak diteruskan karena Ridan memotong ucapannya.


"Cukup.. Tidak ada bantahan.. Bukankah kau juga kemari untuk mengatakan bahwa kau akan menikahi putriku? " gerutu Ridan memotong.


Raihan tersenyum haru. "Te.. Terimakasih " kata Raihan lirih.


"Jadi.. Kapan kau akan menikahi putriku? " tanya Ridan.


"Emm.. Bulan depan.. Karena orang tua saya ingin menjalankan tradisi setelah perceraian" kata Raihan.


"Hmm.. Baiklah.. Mari kita akan makan malam bersama" kata Ridan.


Raihan mengangguk canggung.


Setidaknya beberapa hari menjadi pedagang nasi goreng lagi, tidak masalah kan?


By


Ucu Irna Marhamah