
Pagi sudah menyapa, Angga dan Erick masih nyaman di peraduannya. Wajah lelah masih menggelayuti keduanya sehingga rasanya enggan untuk menyapa mentari pagi yang bersinar terang melewati jendela kamar Erick yang selalu terbuka.
Hari ini hari libur mereka. Kalender menunjukkan warna merah. Saatnya untuk long weekend. Melepas lelah setelah sibuk bekerja dan berjuang dalam takdirnya masing-masing. Meninggalkan sejenak aktifitas sehari-hari yang berulang. Memberi waktu untuk raga agar sedikit melemaskan syaraf-syaraf yang tegang.
Martha sudah menyiapkan sarapan untuk Erick dan Angga yang sedang menginap di rumahnya. Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng dengan taburan sosis dan beberapa suwiran ayam yang sudah tersaji di atas piring. Baunya sangat harum. Membuat lapar perut-perut yang belum terisi.
Martha bergegas naik untuk menemui Erick dan Angga. Membangunkan para lelaki yang tengah bermimpi indah. Dengan gaya khas keibuan, Martha membangunkan Erick dan Angga sedikit kasar. Tujuannya jelas, agar Erick dan Angga segera bangun dan bersiap untuk menyantap masakan yang sudah dia buat.
"Rick! Ayo bangun!!" Gerutu Martha sambil menarik selimut dan sedikit mengacak-acak rambut Erick yang kusut.
"Ngga! Ayo bangun, sudah siang!" Ucap Martha sambil terus menggoyangkan tubuh Angga.
Para lelaki belum menyahut panggilan Martha yang nampak putus asa. Tapi Martha tak kehabisan akal. Dia masih mencari cara untuk membangunkan Erick dan Angga.
"Ngga, bangun! Ada Ratih di bawah, nungguin kamu!" Kata Martha dengan raut wajah penasaran.
"Mmmmm" Angga merespon.
Martha sedikit terkekeh. Dia menggelengkan kepalanya pertanda heran dan tak menyangka ucapannya tentang Ratih bisa menggerakkan sedikit kesadaran Angga.
"Rick! Bangun! Lexa marah loh kalau kamu terus-terusan bangun kesiangan!" Ucap Martha.
"Heeeh" Balas Erick.
Martha tertawa sekarang. Martha tak menyangka, idenya akan berhasil. Walaupun belum sadar sepenuhnya dari tidur, Angga dan Erick mulai sedikit menggeliat. Angga bahkan sudah berusaha membuka matanya, sementara Erick masih berusaha meregangkan ototnya.
"Jam berapa sekarang, Kak?" Tanya Angga yang sudah membuka matanya.
Angga tampak gagah tanpa kacamata. Dia lebih terlihat menggemaskan tanpa kacamata.
"Jam delapan." Tegas Martha.
"Oh ya?? Ratih sudah lama menunggu?" Tanya Angga penasaran.
Martha hanya mengangguk yakin. Padahal dia ingin tertawa karena dia hanya bergurau soal Ratih.
"Aku harus ke kamar mandi dulu." Ucap Angga yang langsung bangun dan segera beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Erick.
"Jam berapa, Ma?" Giliran Erick yang bertanya.
"Jam delapan." Tegas Martha lagi.
Erick melirik matahari yang ada di luar jendelanya. Kemudian duduk bersandar di tembok, mengumpulkan nyawa yang masih melayang dalam alam mimpinya.
Martha melihat Erick penuh rasa. Dia masih tak menyangka, kata-katanya tentang Lexa bisa menggerakkan hati Erick. Ada rasa syukur dalam hatinya untuk Lexa, tapi ada juga kesedihan yang ikut muncul dalam benaknya. Seandainya saja Lexa masih ada di antara mereka, pasti akan sangat mudah untuk mengurus Erick. Ini yang membuat Martha menjadi tahu akan satu hal yaitu Erick adalah orang yang penyayang.
Dia pikir Erick adalah anak yang cuek dan tak mau repot. Tapi setelah mengenal Lexa, anggapan Martha tentang Erick tak sempit lagi. Dia tak menyangka anak bungsunya sudah dewasa dan mulai bisa diandalkan.
Martha mengelus lembut rambut Erick. Tersenyum melihat anak bungsunya yang terlihat polos. Mata Martha mulai berkaca-kaca. Bukan merasa sedih, tapi dia merasa bangga.
"Ayo, lekas bersihkan dirimu, Rick! Pakai kamar mandi milik kakakmu. Kamar mandi milikmu sedang dipakai Om Angga." Ucap Martha yang langsung mengalihkan pikirannya sekaligus menjaga airmatanya agar tidak menetes di suasana pagi yang cerah.
"Mama sudah menyiapkan sarapan. Cepatlah! Biar makanannya tidak dingin." Imbuh Martha.
Setelah mengusap pipi lembut Erick, Martha lekas turun ke bawah untuk menunggu mereka membersihkan diri.
****
Angga sudah siap untuk turun. Dia terlihat sudah rapi dengan pakaian kemeja yang kemarin dia pakai. Angga tidak membawa baju ganti dari kota. Karena pada awalnya tidak ada niatan untuknya bermalam, dia hanya ingin mengantarkan Ratih saja lalu segera pulang.
"Rick, Om Angga turun dulu ya?!" Seru Angga yang menyapa Erick yang masih berada di kamar Kakaknya yang terbuka. Dari tempat Angga, dia masih bisa mendengar suara air dari dalam kamar mandi ruangan tersebut.
"Sudah segar? Kemarilah, ayo sarapan!" Sapa Martha yang sudah menunggu di ruang makan.
Angga terlihat celingukan, seperti mencari sesuatu. Martha paham apa yang Angga cari dan itu membuatnya tak bisa menahan tawa.
"Kenapa tertawa, Kak? Ratih mana?" Tanya Angga serius. Tapi Martha masih saja tertawa. Ekspresi Angga pasti terlihat lucu bagi Martha.
"Aku bohong. Ratih gak ada disini. Aku hanya iseng, biar kamu cepat bangun. Dan ternyata ampuh juga ya bangunin kamu dengan alasan Ratih." Ucap Martha menjelaskan dengan tawa yang tak kunjung lepas dari wajahnya.
Angga mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka kalau orang yang dianggap sebagai kakaknya mampu melakukan hal itu. Angga juga menjadi malu sendiri. Dia juga tidak menyangka kalau ternyata sebesar itu pengaruh Ratih dalam hidupnya.
"Ada apa? Pagi-pagi udah ketawa kencang aja?!" Tanya Erick yang juga sudah turun dan terlihat segar.
"Mamamu, tuh! Tega-teganya buat Om Angga malu." Jelas Angga sambil menarik kursi.
"Emang kenapa, Ma??" Tanya Erick penasaran.
Erick juga ikut bergabung dengan Angga dan Martha yang sudah duduk di tempatnya masing-masing.
Martha benar-benar merasa lucu. Dia sampai mengambil napas untuk mengembalikan moodnya yang terlalu asyik tertawa.
"Gak. Dokter juga manusia rupanya." Hanya itu saja yang terucap dari Martha yang dengan susah payah menghentikan tawanya untuk menjelaskan kepada Erick.
Angga tersenyum mendengar pernyataan Martha. Sementara Erick masih berusaha berpikir.
"Ayo makan!" Perintah Angga sambil menepuk pundak Erick, sebagai pertanda kalau Angga menyuruhnya untuk berhenti memikirkan hal yang membuat Angga malu. Dan Erick pun sadar. Akhirnya mereka bertiga makan dengan suasana yang gembira.
****
"Kak, kita pergi ke swalayan ya?! Aku ingin membeli beberapa baju." Ucap Angga kepada Martha yang sedang asyik mencuci piring bekas sarapan mereka tadi.
"Baju untuk siapa?" Sahut Martha.
"Untukku. Aku mau menginap satu malam lagi disini. Boleh ya?!" Ungkap Angga memohon.
"Boleh, Om!" Jawab Erick antusias.
Martha melirik dua lelaki di belakangnya yang sedang melakukan selebrasi saling menepuk telapak tangan mereka.
"Iya, boleh." Jawab Martha santai.
"Yes!" Imbuh Erick.
"Kamu mau ikut gak?" Tanya Angga kepada Erick.
"Gak akh, Om! Erick mau pergi ke tempat Lexa. Udah lama Erick gak kesana." Jawab Erick.
Angga mengangguk pasti, dan mengembangkan senyum bangga untuk Erick.
"Kapan kamu mau kesana?" Tanya Martha.
"Sekitar jam sembilan, Ma." Jawab Erick.
Martha melirik jam di tembok dekat tangga.
"Mama titip bunga untuk Lexa, ya! Nanti Mama siapkan dulu." Ucap Martha yang langsung pergi setelah mengelap tangannya yang basah dengan lap yang menggantung di dekat wastafel.
"Salam dari Om Angga untuk Lexa." Ucap Angga.
Dia menepuk punggung Erick dengan bangga. Dia salut atas perhatian Erick untuk Lexa. Seandainya dia di posisi Erick sekarang, dia juga akan melakukan hal yang sama.