
Raihan Alfarizi
Sudah tiga bulan kami berada di Perancis. Kami tinggal di mansionku. Hari ini, aku akan pergi ke kantor. Dan Shica akan ke galeri seni yang ku beli untuk Shica.
Shica sangat menyukai seni terutama lukisan. Dia pandai melukis.
Lukisannya sangat Indah. Dia pernah membuat sketsa wajah diriku waktu SMA. Tampak seperti nyata. Dan aku sangat menyukainya.
Lalu dia membuat sketsa wajah Reynaldi. Itu juga tampak nyata. Walau dalam hati aku sedikit cemburu. Namun tidak masalah karena Shica membuatnya pada saat dia masih berstatus sebagai istrinya Reynaldi.
Galeri yang ku beli untuk Shica di beri nama Rastani Abdurrachman Galery
Banyak pengunjung yang datang untuk melihat berbagai macam seni berdimensi di galeri itu.
Shica setiap hari kesana. Dia bilang dia bosan jika terus berada di mansion. Meskipun dia akrab dengan beberapa pelayan, tapi ada kalanya para pelayan bertugas dan membuat Shica kesepian lagi tidak ada teman bicara.
Santos, kepala pelayan mansion juga bilang kalau Shica sering bertanya kapan aku pulang..
Oh aku tahu kalau dia pasti sangat merindukan diriku..
Aku pun melangkahkan kakiku menuju ruang makan. Terlihat Shica menyajikan makanan ke meja. Setiap sarapan, dia yang memasak. Dia bilang, makanan buatan istri dipagi hari membuat suami semangat.
Ya apapun itu asalkan Shica bersamaku, aku selalu semangat.
"Selamat pagi " kataku kemudian mengecup pipinya.
"Pagi" jawab Shica. Aku pun duduk. Shica membawakan aku nasi dan lauknya. Setiap hari seperti ini. Dia benar-benar istri yang telaten.
Kami pun menyantap sarapan kami.
"Sayang, bagaimana jika hari ini kau ikut aku ke kantor? " tanyaku.
Shica menoleh kearahku. "Apa tidak mengganggumu? " tanya Shica.
Yang benar saja, keberadaanmu bukan menggangguku, tapi membuatku semakin semangat, sayang.
"Tidak, sayang.. Sama sekali tidak.. Kamu juga belum pernah ke kantorku" kataku.
"Aku mau mau saja kesana, tapi aku tidak mengerti banyak dengan bahasa Perancis.. Jadi aku takut salah bicara " kata Shica.
"Kamu pake bahasa Inggris saja" kataku.
"Iya aku tahu.. Kadang ada juga yang tidak mengerti bahasa Inggris.. Dan aku kesal sendiri " gerutu Shica. Aku tertawa mendengarnya.
"Jika ada yang tidak mengerti bahasa Inggris, kamu bisa menggunakan bahasa isyarat" kataku sambil tertawa.
"Sama saja kita kembali ke zaman purba.. " Shica tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menyentuh perutnya kemudian berlalu ke kamar mandi.
Apa dia mules?
Shica kembali sambil mengelap bibirnya yang basah.
"Kamu kenapa? " tanyaku.
"Gapapa.. Aku hanya sedikit pusing dan mual" jawab Shica.
Baru saja dia duduk, dia kembali berdiri dan ke kamar mandi lagi. Aku menyusulnya. Kulihat Shica memuntahkan makanan yang baru saja dia makan. Aku memijit tengkuknya.
"Kalo kamu gak kuat, kamu gapapa gak jadi ikut ke kantor" kataku.
"Aku gapapa kok" kata Shica.
"Kita ke rumah sakit aja ya" kataku.
Shica mengangguk.
Setelah selesai sarapan, aku membawa Shica ke rumah sakit. Disana aku memperhatikan dokter laki-laki yang memeriksa Shica.
Ya, aku tidak mau menunggu di ruang tunggu saat istriku di periksa oleh dokter laki-laki. Tadinya aku mau menghubungi dokter perempuan, tapi sayangnya tidak ada.
Menyebalkan.
Aku pun memilih untuk ikut masuk dan melihat sendiri apa yang dia lakukan.
Setelah selesai memeriksa perut istriku, dokter itu menghampiriku.
Aku terkejut dan sangat bahagia mendengarnya.
Benarkah?
Ada putraku di perut Shica?
Aku sangat bahagia.
Dokter itu mengulurkan tangannya padaku. "Selamat" katanya. Aku menerima uluran tangannya.
"Terimakasih.. "
Aku menghampiri Shica dan mengecup keningnya. "Terimakasih, sayang " kataku.
Shica tersenyum.
Setelah dari rumah sakit, Shica memilih untuk ikut denganku ke kantor.
Banyak karyawan kantor yang menyapa kami dengan bahasa Perancis. Shica hanya menjawab dengan senyuman.
Kami memasuki ruanganku. Terlihat seorang pria berjas membelakangi kami. Shica menoleh kearahku.
"Siapa dia? " tanya Shica.
"Kejutan untukmu " kataku. Shica tampak bingung.
Aku tersenyum dan memang merencanakan kejutan ini. Aku ingin mempertemukan Shica dengan pria yang selama ini merindukannya.
"Ayolah" kataku.
Kami berjalan menghampiri pria itu.
"Selamat siang " kata pria itu sambil berbalik kearah kami.
Shica terkejut. Dia menoleh padaku kemudian dia memeluk pria yang sangat berharga baginya, selain diriku tentunya.
"Aku merindukanmu.. Sangat merindukanmu" kata Shica sambil menangis di pelukan pria itu.
"Aku juga" kata pria itu.
"Kenapa kau tidak hadir di pernikahanku dengan Raihan, kak?" tangis Shica.
Ya, pria itu adalah Regar..
Siapa lagi memang?
Aku tidak mungkin rela melihat istriku berpelukan dengan pria lain selain keluarganya sendiri, bukan?
"Aku masih kesal padanya" gerutu Regar sambil melirik tajam padaku.
"Kenapa? " tanyaku kesal.
"Aku masih kesal karena kau telah meninggalkan adikku sementara kau bilang kau berjanji akan selalu bersamanya.. Dasar menyebalkan " gerutu Regar.
Aku hanya terkekeh pelan. "Maaf.. Tapi aku sudah meminta maaf pada Shica.. Dan yang penting sekarang kami bersama.. " kataku tanpa beban.
"Tentu saja itu yang kau inginkan.. Heh" gerutu Regar.
"Sudahlah, kak.. Yang penting sekarang kami bahagia.. Seperti seharusnya.. Dan sekarang aku sedang mengandung " kata Shica.
Regar tampak terkejut. "Benarkah? Wah aku akan segera punya keponakan" kata Regar sambil menatap perut rata adiknya.
Shica tersenyum. "Iya.. Megha akan memiliki teman bermain " kata Shica.
Seharian penuh kami bertiga berbincang.
By
Ucu Irna Marhamah