
Erick terdiam di bawah jendela kamarnya. Matahari yang masuk lewat jendela terbuka itu tampak ragu-ragu menyapa Erick agar segera beranjak dan lekas kembali menghadapi kenyataan. Langit mulai sedikit menghitam, suasana September yang selalu dipenuhi hujan.
Erick kembali mendongakkan wajahnya, menatap jauh entah kemana dan mulai lagi mengeram. Kesal sekali dia hari ini. Tak sengaja tangannya menerjang sebuah pot daisy yang tergeletak di dekat meja belajarnya. Pot ini yang semalam tak sengaja dia jatuhkan, gara-gara memimpikan Lexa.
Erick terdiam sejenak mengamati daisy yang menyinarkan cahaya kuning kepadanya. Erick seperti berpikir. Bukankan Lexa juga datang menghampirinya? Dia mengucapkan salam perpisahan walau hanya dalam mimpi. Lalu apa yang kini dia lakukan?
Dia memikirkan perkataan hatinya yang dalam. Kemudian mengambil kesempatan untuk bertemu dengan Lexa untuk terakhir kalinya.
****
Ratih menyapa Erick dengan lembut. Membelai pipi Erick penuh kasih sayang, kemudian mempersilahkan Erick untuk menemui Lexa dan memilih untuk meninggalkan Erick bersama Lexa. Memberi kesempatan Erick untuk bisa berpamitan atau sekedar melihat Lexa saja.
Erick memakai setelan kemeja kotak-kotak berwarna hitam dengan celana jeans yang robek di lutut. Berjalan mendekati peti tempat Lexa berisitirahat dalam damai.
Lexa anggun dengan gaun berwana putih. Wajahnya memakai riasan sederhana, membuatnya tampak cantik meski tak lagi bisa bergerak sedikitpun. Ada senyum kecil yang tersungging di wajahnya, sepertinya Lexa menikmati tidur panjangnya saat ini.
Erick menatap Lexa dalam tanpa suara. Mata dan wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Sulit menjelaskan apa yang Erick rasakan saat ini.
Erick mendadak mematung melihat tubuh kaku Lexa. Namun sepertinya air bening di matanya akan mencapai batas kesabarannya. Erick langsung menengadah, mencegah air itu jatuh di hadapan Lexa. Dia tidak mau Lexa melihatnya.
Erick menatap asal ke segala sudut kamar Lexa. Kemudian terlintas dalam pikirannya untuk pergi ke pojok kamar Lexa. Kemudian dengan berani, Erick buka jendela kamar Lexa dengan penuh semangat.
****
Angga mengisyaratkan kepada Ratih untuk segera membawa Lexa pergi. Dengan berat hati Ratih mengiyakan isyarat Angga. Ratih melangkah ke tempat Lexa berada. Erick sudah tidak ada disana, dia sudah bergabung dengan Angga dan para lelaki untuk membicarakan keberangkatan Lexa menuju tempat istirahatnya yang kekal.
Ratih fokus pada jendela kamar Lexa yang terbuka lebar, sehingga kamar Lexa menjadi terang dan sejuk karenanya. Ratih kemudian teringat, selama Lexa pindah kesini jendela kamarnya selalu terbuka. Sepertinya Lexa mendapat energi baru dari jendela kamarnya. Ratih menjadi semakin sedih, kenapa dia tidak tahu hal sekecil ini. Dia kemudian menangis lagi.
Ratih kembali menemui wajah Lexa untuk kesekian kali, dengan wajah yang semakin sembab. Dia lihat keponakannya itu lekat. Kembali mengelus rambut hitam Lexa untuk kesekian kali. Menahan airmata, menahan luka, menahan pilu, Ratih coba kembangkan senyum untuk Lexa dan mengecup kening Lexa penuh rasa sayang.
Ratih amati setiap lekuk tubuh Lexa yang sudah dia rawat sejak kecil. Tubuh yang dulu selalu menemaninya dalam keadaan susah dan senang. Tubuh yang semakin kurus setiap harinya. Kini hanya tinggal kenangan.
Ada yang mengganjal pandangan Ratih. Ada sesuatu yang lain di tubuh Lexa. Ratih lihat bunga daisy dengan warna kuning cerah terlihat di genggaman tangan Lexa. Dia sedikit tertegun. Tapi karena melihat wajah Lexa yang tampak lebih berseri, membuat Ratih tersenyum lega. Ratih yakin, Lexa sudah berbahagia.
****
Tiba saatnya Lexa diantarkan ke tempat istirahatnya yang abadi. Ada Ratih yang setia memegang tangan Angga. Ada juga Martha dan Erick yang menyusul langkah mereka di belakang.
Ada 4 orang lain yang sudah sejak pagi di pinta Pak RT untuk membantu mengangkat peti milik Lexa ke dalam mobil yang sudah siaga di depan rumah Lexa.
Belum sempat peti Lexa sampai ke dalam mobil. Sekumpulan anak-anak yang berseragam datang menuju rumah Ratih, dipimpin oleh seorang perempuan paruh baya dengan setelan jas hitam di depannya. Mereka adalah Irma dan teman-teman sekelas Lexa.
Irma langsung bergegas menemui Ratih dan cepat memeluknya. Irma menangis di pelukan Ratih. Ratih hanya bisa pasrah, airmata Irma memicu kesedihan Ratih lagi membuat mereka berdua berpelukan dalam tangis.
Angga meminta keempat orang yang membawa peti milik Lexa untuk berhenti, dan meletakkannya di teras depan rumah Lexa. Memberi kesempatan untuk tamu yang datang tersebut agar bisa menyapa Lexa untuk terakhir kalinya.
Erick dan Martha turun lebih dahulu ke rerumputan depan rumah Ratih, memberi kesempatan untuk teman-temannya bertemu dengan Lexa.
Begitu terbuka penutup peti milik Lexa, Irma langsung mengambil langkah pertama menyapa muridnya yang dia kenal sebagai sosok yang pintar.
Dengan deraian airmata, Irma menatap tubuh kaku muridnya itu.
"Maafkan Ibu, Lexa... Ibu tidak bisa berbuat banyak kepadamu. Maafkan Ibu, Nak... Tenanglah disana..." Irma masih saja sesenggukan tanpa berniat meninggalkan tubuh Lexa. Kemudian tubuh Ari menyusul, berdiri di samping Irma.
Ari menyaksikan tubuh Lexa penuh makna. Dia tak bisa menyembunyikan raut wajah sedih untuknya.
"Maafkan kami, Lexa... Walaupun tak bisa mengucapkan secara langsung kepadamu, tapi mudah-mudahan kamu masih bisa mendengarnya dan menerima permintaan maaf kami." Ucap Ari.
Ari mundur menjauh dari Lexa, menghampiri Erick. Kemudian merangkul Erick dengan tangguhnya. Tak ada kata terucal dari keduanya. Hanya balasan rangkulan dari Erick saja untuk Ari tak kalah tangguh.
Giliran Ana yang berdiri di samping peti milik Lexa. Mendapati sahabatnya yang sudah tak bisa dia rangkul, membuatnya begitu menyesali apa yang sudah dia lakukan. Ana terbayang saat masih bersama Lexa, hatinya menjerit hanya airmata yang bisa menggambarkan luapan hati dan perasaannya.
"Lexa... Maafkan aku..." Ana sesenggukan.
Irma yang ada di sampingnya memeluk Ana erat. Mereka saling merangkul haru untuk setiap penyesalan yang mereka rasakan.
Silih berganti teman-teman Lexa menyapa Lexa untuk kesempatan terakhir yang baru mereka didapatkan. Semua temannya menunjukkan rasa haru dan penyesalan terhadap Lexa.
Tak disangka, Erick selalu mengamati pergerakan teman-teman sekelas di hadapannya itu. Bahkan sejak Irma yang pertama kali mengucapkan salam perpisahan untuk Lexa.
Erick tak berhenti mengawasi mereka. Erick merasa ada yang mengganjal hatinya. Bukankah tindakan mereka tersebut percuma? Lexa sudah terbujur kaku. Tak bisa dengar apa yang mereka katakan. Bukankah ucapan penyesalan hanya untuk diri mereka sendiri?
Apakah mereka baru sadar tentang arti sebuah kesalahan setelah mereka tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki? Memang benar kata pepatah, penyesalan selalu datang terlambat.
Bahkan untuk seorang yang berpendidikan seperti Irma dan teman-teman sekelas di hadapan Erick ini. Erick merasa kehadiran mereka hanya sia-sia dan percuma.
Erick menatap wajah Ratih. Rasa iba kembali berhamburan keluar dari dalam hatinya, melihat Ratih yang sudah tak mampu berdiri dengan kedua kakinya. Dia terduduk di kursi tamu yang dikeluarkan dari ruangannya. Menyandarkan kepalanya di dada Angga. Raut wajahnya tanpa ekspresi.