Don't Leave Me

Don't Leave Me
Langkah Baru



Adhit dan Lexa berdiri di ujung tebing berpagar bonsai yang memberikan sajadah alam yang tak terlukis indahnya. Di bawah sinar matahari yang tak begitu terik menyengat kulit, dan di bawah langit biru yang berselimut awan putih bersih bak kapas.


Lexa dengan anggun mendongakkan wajahnya menantang langit yang kini menjadi tempatnya berlindung. Sementara Erick dengan gagahnya bersedekap menatap Lexa dengan tatapan tajam tetapi sendu.


Angin lembut menyapa keduanya yang seakan sedang berdiri di ujung dunia. Rambut Lexa bergoyang indah diterpa angin. Erick masih terpaku dalam pandangannya. Kibasan angin menyayupkan matanya yang indah. Tapi Erick masih terpukau, menatap Lexa yang semakin anggun.


Lexa melirik Erick yang menatapnya. Ada rona merah terpancar dari pipinya. Pandangan Erick membuat Lexa tersipu. Tapi Lexa berusaha tegar untuk tidak terpengaruh oleh tatapan Erick. Sebisa mungkin menghindari tatapan Erick yang terasa memprovokasinya untuk luluh dalam pandangannya.


"Kamu dengerin aku gak sih?" Gerutu Lexa yang tak ingin terus merasa malu karena tatapan Erick.


"Mmmm" Jawab Erick singkat.


Lexa melirik Erick lagi. Tatapannya semakin dalam rupanya. Dari sinarnya, amat sangat tergambar kalau Erick sedang mengaguminya.


"Apa yang kamu dengar?" Tanya Lexa yang masih berusaha mengalihkan pandangan Erick.


"Mmmm.... Kamu membahas Adhit." Jawab Erick datar.


Usaha Lexa berhasil. Dia berhasil mengalihkan pandangan teduh Erick ke arahnya. Rupanya Adhit bisa diandalkan untuk hal-hal seperti ini. Lexa akhirnya bisa merasa lega setelah terintimidasi oleh tatapan Erick yang membuatnya berdebar.


"Kamu gak ingin ketemu tante Ratih?" Tanya Erick spontan.


Lexa agak terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka Erick akan bertanya hal itu.


"Aku sudah sering menemuinya. Bahkan aku selalu menemani tante Ratih tidur." Jawab Lexa enteng.


Sementara Erick tertegun mendengar jawaban Lexa.


"Apa benar apa hanya aku yang bisa melihatmu?" tanya Erick penasaran.


Lexa menjawab pertanyaan Erick dengan anggukan yang mantap. Erick memutar matanya ke sekeliling. Dia melihat situasi disekitarnya.


"Apa orang akan mengganggapku gila karena berbicara sendiri?" tanya Erick khawatir.


Lexa menjawab pertanyaan Erick dengan menganggukkan lagi kepalanya dengan yakin, yang membuat Erick menjadi terperangah.


"Makanya kamu gak usah sering-sering melamun memikirkan aku. Nanti kamu dikira orang yang gak waras karena berbicara sendiri." Pungkas Lexa.


Erick terdiam seketika. Dia terlihat mencermati sekali ucapan Lexa. Bahkan tanpa sadar Erick menelan ludahnya dalam-dalam dengan wajah yang agak pucat.


Lexa menatap Erick tajam. Dia mengamati reaksi Erick setelah penjelasan yang dia berikan. Erick masih terlihat diam seribu bahasa, berpikir keras tentang jawaban Lexa kepadanya. Tapi tak selang beberapa detik, Lexa malah menunjukkan ekspresi tak terduga. Dia tertawa terbahak-bahak, tak kuasa membendung lagi tawanya yang dia sembunyikan dalam hati.


"Kenapa kamu?? Lihat wajahmu, Rick. Kamu lucu sekali." Ucap Lexa yang tak berhenti menertawakan dirinya.


Erick semakin tak bisa menjelaskan ekspresi wajahnya sendiri, atau sama saja artinya kalau Erick tak bisa memahami perasaan apa yang dia rasakan sendiri. Di satu sisi Erick sangat bangga karena hanya dialah yang bisa berkomunikasi dengan Lexa secara nyata, rapi di lain sisi dia khawatir jika ada orang yang melihatnya berbicara sendiri. Terlebih lagi keluarganya. Apa yang akan Erick jelaskan pada Martha, Ratih, Kakaknya, atau bahkan Angga jika mereka melihat Erick bahagia sendiri.


Erick tak bisa mengekspresikan antara rasa senang atau bimbang. Dia hanya diam dengan menunjukkan muka masam, karena tawa Lexa yang terkesan sedang meledeknya.


"Aku bercanda. Orang tidak akan melihat kamu berbicara sendiri, Rick." Tegas Lexa masih sambil melempar senyum dan tawa yang terasa lepas.


"Kamu tahu gak, kalau kita bertemu seperti ini waktu diantara kita itu berhenti. Angin yang kamu rasakan adalah angin dari duniaku. Orang lain tidak akan bisa melihatnya. Mereka akan berpikir kalau kamu hanya melamun saja. Dan waktunya hanya sepersekian detik." Jelas Lexa masih dengan menunjukkan senyum lebar yang menenangkan.


Erick yang mendengar penjelasan Lexa dengan segera menghamburkan dirinya ke arah Lexa. Mendekap tubuh Lexa dengan erat. Merengkuhnya ke dalam dekapan hangat tubuhnya. Lexa sedikit limbung. Dia belum siap mendapat pelukan erat Erick kepada tubuhnya, tapi untung saja tubuh Erick cukup kuat menahan tubuh Lexa sehingga Lexa masih tetap nyaman dalam dekapannya.


"Kamu benar-benar membuatku gila." Ucap Erick kasar. Dekapannya semakin terasa sesak untuk Lexa.


"Kamu tahu apa yang akan aku pikirkan? Jika memang orang akan melihatku sebagai orang gila karena berbicara dengan angin, maka aku tidak akan peduli dengan itu. Aku akan memikirkan jawaban nanti ketika Mama atau tante Ratih mengajakku ke dokter jiwa. Aku tidak akan peduli. Selama kamu masih bisa disini menemaniku. Aku tidak akan peduli tentang apapun. Aku hanya peduli tentangmu saja. Hanya kamu, Lexa." Tegas Erick.


Lexa yang tadi merasa tak nyaman dengan pelukan paksa Erick, langsung luluh ke dalam perasaan yang Erick ciptakan untuknya. Dia tak mampu berkata atau melakukan bahasa tubuh apapun, Lexa hanya bisa pasrah dalam dekapan Erick yang meluluhkan hatinya.


Kegusaran Erick perlahan hilang, wajahnya yang meragu dan bimbang akhirnya sirna seketika setelah mendekap tubuh Lexa. Hanya ada ketenangan yang tersirat dalam wajah rupawan miliknya. Erick merasa mengenal Lexa adalah suatu keajaiban dari Sang Kuasa. Dia bahkan terlalu menyayanginya, sampai-sampai Dia tak tega melihat Erick hanyut dalam kesedihan karena merasa kehilangan Lexa.


Dan angin dari dunia Lexa semakin keras menyapa. Membawa suasana tenang dan damai seketika. Erick masih mendekap tubuh Lexa dengan kedua tangannya. Detak jantungnya terasa menyatu dengan Lexa, sepeti tidak bisa terpisahkan.


"Kenapa kamu memikirkan hal gila seperti itu? Bukankah hidupmu cukup baik ditengah orang-orang yang menyayangimu?" Tanya Lexa dengan suara agak parau.


Erick menenggelamkan tubuhnya semakin dalam ke arah Lexa, sehingga Lexa dapat merasakan dekapan Erick yang semakin erat. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Lexa, hanya bahasa tubuh yang ingin dia sampaikan kepada Lexa dengan harapan Lexa tahu bahwa Erick tidak ingin kehilangan Lexa untuk kedua kalinya.


Lexa menelan ludahnya dalam-dalam. Dia seperti menerima sinyal dari tubuh Erick. Wajah Lexa terlihat sedih tapi ada gurat bahagia yang terselip. Dengan ragu-ragu, Lexa menggerakkan jemarinya untuk membalas dekapan Erick, tapi dia urungkan.


Tapi entah keberanian darimana yang Lexa dapatkan, atau memang jemarinya yang sudah dikuasi oleh hati tulusnya tak terima dengan reaksi otak yang tak kunjung merestui untuk membalas Erick. Akhirnya jemari Lexa mulai beranjak mendekap tubuh Erick. Walaupun tidak sempurna, tapi cukup mewakili perasaannya kepada Erick.


Erick agak terkejut merasakan jemari lembut Lexa menyentuh pinggangnya. Tapi rona merah di pipi Erick mengartikan segalanya. Erick jelas merasa bahagia. Sampai tak kuasa menitikkan air mata di pipinya. Tanpa ragu lagi, Erick semakin mempererat dekapannya kepada Lexa. Sambil mengucap syukur dalam hati kepada Sang Kuasa atas keajaiban lain yang dia berikan untuknya.


Lexa pun sudah tak tampak canggung lagi. Dia mengutas senyum menawan. Lexa merasa lega untuk hatinya. Meski dia tidak bisa membalas lebih untuk sikap dan perhatian Erick saat ini, tapi dia cukup merasa puas dengan hatinya.


"Maukah kamu berjalan-jalan lagi denganku ke kebun daisy?" Tanya Erick bersemangat.


Lexa mengangguk. Dia bersedia kembali ke kebun daisy untuk memulai pengalaman baru bersama Erick.


***