
..."Kamu harus mencari orang yang bisa menemanimu seumur hidup. Carilah orang yang tidak akan melepaskan tanganmu dalam keadaan apapun."...
..._Monthly Magazine Home...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
98. Bukan Suatu Kecelakaan
Setelah ambulans tersebut datang, dengan segera Zeana dibawa kerumah sakit terdekat yang ada di lokasi kecelakaan.
Kini Jeano terlihat begitu sedih dan juga gelisah menunggu Zeana yang kini sedang ditanggani oleh Dokter di UGD. Jeano yang baru sadar belum memberi tahu orang lain, dengan segera menghubungi kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Zeana.
Jeano merasa bersalah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Zeana dengan baik, apalagi Zeana mengalami kecelakaan tersebur karena menyelamatkannya.
Melihat kondisi Zeana yang berlumuran darah membuat Jeano tidak bisa berpikir positif sekarang, dia sangat takut jika Zeana malah pergi meninggalkannya.
"Jeano!!"
Teriakan tersebut dapat membuat Jeano tersadar dari lamunannya, terlihat kedua orang tuanya juga kedua orang tua Zeana datang. Tidak lupa para teman-temannya yang dari Villa juga ikut menyusul.
"Bagaimana keadaan Anna?" Sangat terlihat wajah khawatir dari Sarah ketika menanyakan kabar Zeana.
"Anna masih ditanggani oleh Dokter. Maaf aku tidak bisa menjaga Anna dengan baik, sehingga bisa seperti ini." Jeano sungguh menyesal dengan keadaan yang sekarang, sehingga kini dia tertunduk begitu sedih.
"Tidak apa, ini sebuah kecelakaan. Bukan karena mu atau kesalahan mu."
"Bagaimana kejadiannya?" Tanya Felix yang mencoba menegarkan hatinya dari kesedihan.
Dengan segera Jeano menceritakan dari awal bagaimana kejadian tersebut terjadi, sehingga akhirnya Zeana yang malah menjadi korban dari kecelakaan tersebut.
"Apakah pelakunya sudah ditanggani?"
"Sudah. Polisi masih mengurusnya karena banyak orang disana, jadi memudahkan saksi untuk melihat pelaku."
Tidak lama dari itu pintu UGD terbuka, menampilan Dokter yang baru selesai menangani Zeana.
"Bagaimana keadaan Anak saya?"
"Pasien sudah dapat ditanggani dengan baik, semuanya lancar. Hanya ada luka dibagian kepalanya, yang menyebabkan dia kehilangan banyak darah. Namun untungnya stok golongan darah tersebut ada di Rumah sakit.
Kalian semua tidak perlu khawatir lagi. Pasien saat ini masih dalam pengaruh obat bius, jadi belum sadarkan diri. Mungkin beberapa jam kedepan sudah dapat siuman." Jelas seorang Dokter yang masih sangat muda jika dilihat dari umurnya, namun Dokter tersebut merupakan salah satu Dokter terbaik.
Mendengar penjelasan dari Dokter tersebut dapat membuat semua orang dapat bernapas dengan lega, untuk kali ini Zeana masih dapat ditolong.
"Apakah sekarang kita boleh masuk untuk melihatnya?"
"Boleh. Namun sebaiknya jangan secara bersamaan untuk melihatnya, kalian dapat bergantian." Saran Dokter tersebut.
"Baik Dok, terimakasih."
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit undur diri, permisi."
Dokter tersebut segera pergi diikuti suster yang membantu menanggani Zeana.
"Siapa yang mau terlebih dulu masuk?"
"Dad dan Mamah saja."
Dengan segera Felix dan juga Sarah masuk pertama kali untuk melihat keadaan Zeana. Serta yang lainnya akan bergantian untuk melihatnya nanti.
Dapat Felix dan Sarah lihat tubuh Zeana yang sedang tertidur dengan tenang, namun dengan wajah yang begitu pucat. Serta tidak lupa perban yang menghiasi kepala Zeana, ketika pertama kali masuk kedalam ruangan tersebut.
"Anna." Lirih Sarah yang langsung menitihkan ait matanya, dia begitu takut ketika mendengar kabar Zeana yang mengalami kecelakaan.
Sarah jadi teringat bagaimana dia dulu juga mendapatkan kabar bahwa Riana mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal. Untung kali ini, Zeana masih dapat diselamatkan dengan baik.
Melihat Sarah yang menangis, dengan segera Felix mengelus punggung Sarah untuk sedikit memberikan ketegaran. Felix tahu pasti Sarah sangat shok ketika mendengarkan hal ini, apalagi untuk yang kedua kalinya.
"Aku sangat takut kehilangan Anna lagi dan aku tidak mau itu terjadi."
"Anna akan selalu bersama kita, dia tidak akan meninggalkan kita semua."
Setelan itu tidak ada lagi obrolan apapun, Felix dan Sarah sama-sama terdiam dengan pikiran masing- masing sambil memandangi wajah pucat Zeana.
***
Sedangkan diluar ruangan kini semua orang mulai membahas lebih lanjut tentang masalah kecelakaan tersebut. Semuanya merasa, jika kecelakaan yang terjadi pada Zeana sepetinya bukan suatu ketidak sengajaan.
Namun sepetinya memang ada dalang dibalik kecelakaan tersebut, yang mungkin saja memang sudah direncanakan sebelumnya.
"Tapi dari ceritamu, sepertinya hal itu adalah suatu kecelakaan yang disengaja. Kita tau bahwa Jeano orang yang begitu teliti, pasti Jeano sudah melihat dengan benar kondisi sekitar.
Terus kenapa secara tiba-tiba ada mobil yang melaju? Apalagi ditambah dengan kecepatan yang begitu tinggi. Jika memang mobil tersebut sudah melaju dengan kecepatan tinggi, pasti Jeano sudah melihatnya dari awal." Reno merupakan orang yang pertama kali sadar dengan keanehan cerita yang Jeano katakan.
Dan seketika semua orang juga membenarkan perkataan Reno karena bagaimanapun mereka juga sudah mengenal bagaimana sifat Jeano.
"Benar juga. Jadi apakah kecelakaan ini memang disengaja?"
"Sepertinya begitu. Tapi tenang saja, Ayah akan mengurus kasus ini sampai tuntas."
Pembahasan tersebut harus terjeda ketika ponsel milik Jeano berbering, menandakan panggilan masuk. Dengan segera Jeano menangkat panggilan tersebut, serta dapat dilihat jika nomer tersebut merupakan nomor asing.
"Halo?"
Jeanopun mulai berbicara dengan orang yang ada dibalik telepon, dapat dilihat raut wajah Jeano yang begitu serius ketika berbicara.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Jeano sudah selesai dengan urusan teleponnya.
"Siapa?"
"Dari kepolisian. Mereka bilang jika sudah menangkap pelakunya dan aku disuruh kesana."
"Syukurlah kalau memang pelakunya sudah tertangkap. Cepat segera kesana!"
"Iya, ayo akan Ayah temani!"
"Baiklah, ayo!"
"Aku ikut." Ucap Zero secara tiba-tiba yang memang lansung disetujui oleh Reno maupun Jeano.
Zero juga ingin tahu dan melihat siapa pelaku yang sudah membuat Zeana, Adik kesayangannya jadi seperti ini.
Ketinganya segera pergi menuju Kantor polisi, sedangkan yang lainnya tetap menunggu di Rumah sakit. Mereka hanya bisa menunggu kabar yang nanti Jeano bawa.
Terlihat pintu ruangan Zeana kembali terbuka, kini Felix dan Sarah akan bergantian untuk melihat Zeana.
"Dimana yang lainnya?" Heran Sarah ketika melihat tidak ada Reno, Jeano dan juga Zero disana.
"Jeano sedang ke Kantor polisi ditemani oleh Reno dan Zero. Tadi Jeano mendapatkan kabar jika pelakunya sudah tertangkap."
"Syukurlah. Aku ingin pelakunya mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang terjadi pada Anna."
"Ya, dia harus mendapatkan itu."
"Apakah kini sudah bisa melihat bergantian tante?" Tanya Aqila yang memang ikut khawatir dengan keadaan Zeana.
Ya, kedua teman Zeana dan juga Jeano juga ikut shok ketika mendengar kabar tentang Zeana. Mereka tidak menyangka kecelakaan ini dapat terjadi karena yang mereka tau, bahwa Zeana dan Jeano hanya akan berjalan-jalan ditepi pantai saja.
"Ya, kalian dapat bergantian"
Mereka semua dengan segera secara bergantian masuk kedalam ruangan Zeana untuk melihat keadaan Zeana.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.