Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 37



..."Aku pikir Domino itu seperti kehidupan. Jika kita gagal semuanya akan jatuh, tapi kita bisa membangunnya kembali."...


..._Park Jisung...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


37. Sedikit berbohong


"Permisi Pak. Apakah boleh masuk?


"Iya, silahkan kembali ke bangkumu Zeana."


Zeana dengan terburu langsung duduk dibangkunya kembali setelah tadi sempat izin untuk keluar karena dia ingin ketoilet sebentar.


"Kamu gak papa kan An?" Khawatir Aqila yang merupakan teman semanggu serta sepupunya itu.


"Gak tenang aja, jangan bilang Jeano ya!"


"Siap. Maaf karena gak bisa temenin kamu tadi."


"Gak papa Qila. Lagian aku udah balik lagi dengan selamat bukan? Aku juga tadi gak kemana-mana dulu langsung buru-buru balik kelas."


"Syukurlah."


"Ouh iya, kita mengerjakan tugas yang mana lagi?"


"Ini, hal 127."


"Oke."


Mereka berduapun langsung sibuk dengan tugas yang diberikan oleh Guru pengajar, nampa mau membahas lebih lanjut tentang kecil masalah tadi. Namun siapa yang tahu bahwa mungkin itu bisa menjadi masalah besar.


Cukup lama bergulat dengan tugasnya, tak terasa waktu cepat berlalu hingga waktu pulangpun tiba.


Ding dong


Waktunya pulang


"Yeyyy...."


Begitu mendengar bel pulang berbunyi tanpa sadar semua murid memekik dengan keras, tanda sangat bahagia.


"Kalau begitu tugasnya dapat disambung dipertemuan minggu depan. Hati-hati saat pulang nanti! Bapak permisi." Sambil menbereskan semua peralatan mengajarnya Guru tersebut meningatkan semua anak muridnya untuk senantiasa berhati-hati.


"Baik Pak, terimakasih."


Ucap serempak semua murid begitu Guru tersebut selesai dengan berbenahnya dan hendak meninggalkan kelas.


"Sama-sama." Guru tersebutpun langsung saja berjalan keluar dari kelas tersebut meninggalkan murid-murid yang mulai ricuh membereskan semua peralatan belajar mereka.


Ada yang langsung pulang, ada yang terlebih dulu piket kelas serta ada yang memang menunggu terlebih dahulu karena tidak mau desak-desakan dengan yang lain.


"Ayo An, Qil." Ajak Rara pada keduanya yang nampak masih sibuk membereskam isi tas mereka.


"Bentar Ra," Aqila dengan cepat langsung membereskan semua alat tulisnya. "Dah beres. Ayo!"


"Ayo!"


"Aku harus tunggu Jeano sama Kak Zero dulu." Ucap Zeana yang langsung menghentikam langkah mereka yang hendak saja pergi keluar.


"Lah iya, aku lupa."


"Yaudah kita tunggu didepan aja. Kalo disini kasian ada yang mau piket kelas." Tunjuk Aqila pada sebagian temannya yang sudah mulai membereskan kelas.


Mereka bertigapun keluar dari kelas dan menunggu tepat di bangku yang memang berada disetiap depan kelas.


Tidak membutuhkan waktu lama dari jauh sudah terlihat Jeano dan yang lainnya berjalan kearah mereka.


"Maaf membuat mu menunggu." Kata Jeano sambil langsung menggandeng tangan Zeana.


"Tidak apa."


"Kakak tidak bisa ikut pulang dengan mu. Kamu bisa pulang dengan Jeano." Zero mendekati Adiknya serta memberi tahu bahwa dia tidak dapat pulang bersama seperti keberangkatan pagi hari.


"Loh, memangnya Kak Zero mau kemana?"


"Kakak ada urusan dulu sebentar, tidak apakan pulang berdua dengan Jeano?"


Sebenarnya bukan hanya Zero namun dengan Andra dan juga Bobby yang ikut dengannya. Awalnya Jeano juga harus ikut bersama mereka, namun mengingat Jeano harus mengatarkan Zeana pulang terlebih dahulu.


"Iya tidak apa, tapi nanti Kak Zero pulangnya bagaimana? Kita kan tadi pagi bareng berangkatnya."


Melihat keperdulian Adiknya membaut Zero sangat senang sekali, karena meskipun amnesia Zeana masih sangat menyayangi keluarganya. Namun Zeropun merasa bersalah karena dari dulu dia mengabaikan Zeana.


"Nanti bisa minta supir jemput, kamu tidak perlu khawatir." Zero mengusap pelan kepala Zeana dan sedikit menyeka keringat yang menghiasi pelipis Zeana. Mungkin karena hari telah siang serta cuaca yang sangat terik mengakibatkan tubuh banyak orang mulai berkeringat.


Tentu saja semua perlakuan Jeano dan Zero terhadap Zeana disaksikan oleh banyak orang. Mereka masih teramat kaget dengan apa yang terjadi untuk hari ini. Perubahan sifat Zeana, Zero bahkan sampai Jeano sangat menghebohkan semua murid sekolahan.


"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu."


"Ya hati-hati. Jeano jaga Anna dengan baik!"


"Tanpa kau suruh, aku akan melakukannya. Ayo!"


Mereka semuapun langsung berjalan kelantai bawah menuju parkiran untuk mengambil kendaraan mereka dan pulang kerumah masing-masing.


"Kita duluan ya An." Seru Aqila pada Zeana yang hendak pergi pulang terlebih dahulu.


Memang Aqila beserta Rara pulang menggunakan satu mobil yang sama karena memang arah rumah mereka sama. Jadi mereka saling menumpang satu sama lain, terkadang menggunakan mobil Aqila atau Rara. Sebenarnya waktu sebelum kecelakaan mereka Zeana selalu ikut berangkat serta pulang bersama, namun kini sepertinya akan berbeda.


Zeana akan pergi dan pulang sekolah dengan Zero atau Jeano. Dan jika mereka berdua tidak bisa, masih ada supir yang siap mengantarkan Zeana kemanalun. Karena bagaimanapun juga Felix sudah melarang Zeana untuk menggunakan kendaraan sendiri, selepas apa yang terjadi pada Zeana terakhir kalinya.


Jeano segera membuka pintu penumpang tepat disamping kemudi untuk Zeana tempati. "Ayo An!"


"Makasih Jeano." Kata Zeana disertai senyuman diwajahnya. Meskipun tadi sempat takut dan hampir bertengkae dengan Jeano, kini Zeana sudah kembali seperti biasa. Namun masih takut saja jika Jeano sedang marah.


"Sama-sama."


Setelah memastikan Zeana duduk dengan nyaman, buru-buru Jeano berjalan kearah kemudi dan langsung menjalankan mobil tersebut untuk pulang.


Mobil mewah itupun mulai meninggalkan parkiran sekolah, serta meninggalkan orang-orang yang tidak percaya dengan prilaku romantis Jeano pada Zeana yang sangat mustahil jika Jeano akan melalukan itu pada orang lain.


Mereka semua terus bertanya, apa sebenarnya hubungan Jeano dan Zeana? Apakah mereka sepasang kekasih? Lalu bagaimana dengan Nico?


Tak ayal Nico serta teman-temanya yang juga melihat bagaimana interaksi Jeano dan Zeana meresa heran juga.


"Sejak kapan Jeano deket sama Zeana?" Tanya Refan mewakili pertanyaan dari semua umat yang ingin tahu kebenaran tentang kedekatan Jeano dan Zeana.


"Iya, sejak kapan mereka deket? Perasaan Zeana ngejar-ngejar Pak Bos mulu. Apa karena Jeano temenan sama Zero? Jadi mereka tanpa sadar jadi deket. Apalagi udah lama banget Zeana gak masuk sekolah, bisa aja waktu itu mereka jadi deket." Robby menduga-duga kemungkinan yang memang mendekati untuk dapat diterima.


"Nah bisa jadi."


"Emang Zeana beneran amnesia ya?" Sisqia yang dari awal diam saja kini ikut bersuara tentang perubahan Zeana. Entah mengapa dia merasa kini posisinya akan tersingkirkan oleh Zeana dari hati Nico, meskipun Sisqia tetap berusaha tidak pesimis.


Sekarang Sisqia merasa kesal pada Zeana karena harus kembali bersekolah serta kembali mengganggu hidupnya. Namun ketika melihat sifat serta menampilan Zeana yang berbeda menambah rasa kesal, apalagi melihat Nico yang selalu menatap Zeana sejak awal tadi pagi datang.


Tanpa sadar kini kondisi berbanding terbalik. Dulu Zeana yang kesal jika Sisqia berdekatan dengan Nico, namun sekarang Sisqia yang kesal melihat Nico yang selalu menatap Zeana dalam diam dan mengabaikannya.


"Kayaknya beneran sih. Liat aja sekarang dia gak ngejar-ngejar Nico lagi, ditambah kaya gak kenal." Jelas Refan yang menyakini bahwa berita amnesia Zeana adalah benar adanya.


"Tapi gimana kalau Zeana bohong? Pasti itu cuman akal-akalan aja biar bisa deket Kak Nico." Sisqia mencoba untuk menjelekkan nama Zeana didepan Nico beserta teman-temannya.


"Gak tau juga sih. Kita liat aja nanti."


Sedangakan untuk Nico, dia hanya diam sama dan kembali bergelut dengan pikirannya tanpa meghiraukan ucapan dari Sisqia maupun teman-temannya.


"Aku harus buktiin kebenarannya Zeana."


"Gue akan bongkar kebohongan lo Zeana."


Tanpa sadar Nico serta Sisqia mempunyai rencan masing-masing untuk benar-benar membuktikan keadaan Zeana.


"Ayolah pulang!" Ajak Robby pada semuanya yang memang langsung diikuti oleh yang lainnya.


***


Kini suasana sepi menghiasi mobil yang sedang melaju dimana terdapat Jeano beserta Zeana yang hendak pulang menuju rumah Zeana. Jeano yang fokus dengan berkendara, sedangkan Zeana masih terus asik melihat-lihat pemandangan yang mereka lalu sepanjang jalan.


Zeana masih mengagumi serta ingin tahu bagaimana suasana dikehidupannya yang sekarang. Banyak tempat yang ingin Zeana kunjungi ditempat ini.


Serta Zeana yang berpikir apakah ini sebuah dunia yang berbeda? Tapi melihat keadaan yang sekarang meyakinkan Zeana bahwa ini masih dunia yang sama namun berada dibelahan dunia yang berbeda. Seolah ini adalah sudut pandang dunia yang tidak diketahui oleh Riana yang mengisi tubuh Zeana sekarang.


"Kamu ingin mampir terlebih dahulu?" Tanya Jeano melihat Zeana yang sangat senang melihat setiap bangunan yang dilewati oleh mereka.


"Hah?" Zeana yang menang sedang melamun tidak begitu mendegarkan apa yang dikatakan oleh Jeano.


"Apakah kamu ingin mampir kesuatu tempat dulu?"


"Hmm tidak tau. Aku ingin, tapi tidak tau mau kemana?"


"Mau aku tunjukan kesuatu tempat yang indah?"


"Apakah boleh? Daddy tidak akan marahkan, jika kita pergi bermain dulu?"


"Tidak. Aku yang akan bilang pada Daddy jika nanti bertanya, jadi apakah mau?"


"Oke, aku mau." Dengan senang hati Zeana menerima tawaran Jeano.


"Baiklah. Ouh iya, kamu tidak kemana-mana kan tadi?"


"Tidak." Jawab cepat oleh Zeana. Meski ragu Zeana langsung menjawab pertanyaan dari Jeano meskipun harus sedikit berbohong.


Zeana tidak mau membuat Jeano kembali marah padanya dan akan merusak momen bahagia ini. Serta Zeana masih tidak tahu bagaimana caranya menenangkan Jeano ketika marah.


"Benarkah?" Tanya Jeano merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Zeana.


"Benar. Tanya saja pada Aqila dan Rara jika tidak percaya."


"Baiklah aku percaya. Kamu tidak akan berbohong dan membuatku marah kan?"


"Tentu saja tidak."


Zeana mulai berpikir untuk menanyakan hal ini atau tidak pada Jeano. "Hm...Jeano, boleh aku bertanya?" Dengan ragu Zeana mulai bertanya pada Jeano untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Ya, tanya saja."


"Kenapa kamu sangat marah ketika aku bilang tidak ingin menikah dengan mu?"


Jeano tidak langsung menjawab pertanyaan dari Zeana, sekarang dja sedang fokus untuk memarkirkan mobil mereka dengan benar. Karena tanpa sadar mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti ditempat yang ingin mereka tuju.


Jeano langsung menatap kedua mata Zeana dengan sorot mata yang amat serius serta menggenggam kedua tangan Zeana.


"Liat aku Anna! Dengarkan ini baik-baik. Kenapa aku sangat marah saat itu? Karena tentu saja aku sangat mencintai mu Anna, aku tidak mau orang lain yang harus menikah denganmu. Mungkin kamu lupa, tapi aku sudah mencintai mu dari dulu. Jika ingin tau, ayo kita ketempat dimana kita pertama kali bertemu!"


Ajak Jeano yang langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zeana. Tentu saja disambut baik oleh Zeana, mereka berduapun mulai melanglah memasuki tempat yang ingin mereka tuju.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.