Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 19



..."Belajar berdamai dengan diri sendiri. Karena dengan itu, kamu akan lebih mudah sembuh dari apapun yang membuat mu sedih dan terluka."...


..._Kata.Cerdas...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


19. Data Tentang Mora


Seperti biasa, keluarga Anderson akan melaksanakan acara makan malam bersama. Mereka semua sudah mulai memakan makanan yang sudah tersaji, dengan begitu hikmad.


Tanpa ada percakapan apapun di didalamnya karena memang merasa tidak ada hal yang harus dibicarakan.


Setelah selesai, satu per satu dari mereka mulai meninggalkan meja makan dan menuju kamar masing-masing.


Secara bersamaan Zero dan Zeana berjalan menuju lantai atas, dimana kamar Zero dan Zeana berada.


"Bisa ke kamar Kakak dulu? Ada yang ingin dibicarakan." Kata Zero sambil mereka terus berjalan menaiki tangga. Zeana hanya mengangguk singkat, dan mengikuti langakah Zero menuju kamarnya


Mereka berdua mulai memasuki kamar Zero yang sangat rapi dan wangi. Warna kamar Zero, hampir sama dengan Jeano. Yaitu, hitam dan abu-abu. Kamar mereka berdua didominasi warna tersebut.


Zero membawa Zeana duduk dibalkon yang ada dikamar itu, tidak lupa dirinya yang mengambil sebuah berkas dan juga snack untuk menemani obrolan mereka.


"Duduklah!" Perintah Zero yang langsung dilakukan oleh Zeana. Kini keduanya duduk bersampingan, dengan terhalang meja kecil ditengahnya.


"Ada apa Kak?"


"Ini berkas data yang kamu cari dan inginkan. Lihatlah!" Mendengar perkataan itu, tentu saja membuat Zeana dengan segera mengambil berkas itu dari tangan Zero dan membacanya dengan teliti.


Terlihat Zeana yang begitu fokus membaca satu per satu kata yang beradan disana. Terlihat sedikit kerutan pada dahinya, menandakan betapa fokusnya dirinya.


Sedangkan Zero hanya diam, serta menunggu Zeana selesai membaca semunya. Sebernarnya dirinya juga penasaran dengan orang yang bernama Mora itu, karena dia juga belum sempat membaca berkas tersebut setelah Kenzo memberikan padanya.


Ya, Kenzo. Orang yang membantu Zero untuk mengumpulkan data-data keluarga Horison yang terbaru dan mendetail.


Selain menjadi Asisten pribadi Zero, Kenzo juga merupakan hacker handal yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Sehingga, untuk mencari data-data tersebut sangatlah mudah untuknya.


Cukup memakan waktu yang lama, untuk Zeana dapat membawa berkas tersebut secara menyeluruh. Dan setelah selesai baru dirinya menatap Zero dengan senyuman yang merekah.


Secara tiba-tiba juga, Zeana memeluk tubuh Zero. "Terimakasih Kak, sudah mau membantu ku. Maaf merepotkan Kakak," setelahnya Zeana kembali menatap Zero dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya.


Tentu saja Zero langsung merasa bangga, dan ikut terseyum kecil melihat Zeana yang bahagia. "Sama-sama dan sama sekali tidak merepotkan." Kata Zero sambil mengelus pelan kepala Zeana, dengan penuh kasih sayang.


"Apakah, Kakak tau juga tentang Mora?" Zeana pikir, jika mungkin sebelum memberikan berkas ini pada dirinya. Pasti Zero sudah lebih dahulu membaca dan mengetahuinya.


Namun nyatanya tidak. "Tidak. Kakak belum sempat membacanya tadi. Jadi, siapa Mora sebenarnya?" Kata Zero yang mulai menatap serius pada Zeana.


"Baiklah, aku akan memberi tahu siapa Mora sebenarnya dan mengapa aku ingin kembali berteman dengannya."


Mengalirkan kisah tentang Riana dan Mora. Zeana menceritakan semua tentang Mora, termasuk Sindrom Cinderella Complex yang diderita oleh Mora.


Zeana juga menceritakan tentang awal dirinya bertemu, sampai bisa berteman baik dengan Mora. Serta banyak sekali suka-duka yang telah mereka lalu bersama, waktu masih menjadi Riana waktu itu.


"Jadi, dia mengidap Sindrom Cinderella Complex?" Tanya Zero setelah mendengarkan semua cerita Zeana. Ada suatu hal yang berhasil menarik perhatian Zero, yaitu tentang Sindrom Cinderella Complex.


"Apa itu Sindrom Cinderella Complex?" Zero kembali bertanya pada Zeana, karena tidak begitu baham dengan penyakit itu. "Apakah sebuah penyakit yang serius?"


"Pengidap Sindrom Cinderella Complex, cenderung manja dan juga membutuhkan orang lain sebagai sandarannya. Mungkin istilah kasarnya karena terlalu dijaga dan overprotektif, membuat Mora secara tidak sadar mengalami hal itu."


"Apa hal itu bisa sembuh juga?"


"Mungkin bisa dan juga tidak. Semuanya tergantung pada tekat si penderita yang mau sembuh, atau tidak. Para psikologi hanya bisa membantu meringankan, atau bahkan hanya bisa menjadi bahan shering saja.


Tentunya kesembuhan akan bisa terjadi dari diri para penderita sendiri, dan juga tekat yang kuat juga. Dibarengi dengan kuasa Tuhan untuk hal itu.


Diagnosis Sindrom Cinderella Complex pada saat ini belum dikategorikan sebagai masalah kesehatan mental, tidak ada prosedur diagnosis khusus untuk kondisi ini. Namun, jika merasa mengalami gejala sindrom ini, tidak ada salahnya untuk menemui psikolog atau psikiater.


Jika sikap manja yang dimiliki orang terdekat itu sudah mulai mengganggu aktivitas sehari, dan membuat sangat bergantung dengan orang lain, sebaiknya segeralah berbicara dengan psikolog. Tujuannya untuk mengidentifikasi penyebab sikap tersebut, serta mencari penanganan yang tepat."


Zero mengangguk paham, dirinya juga sudah paham dengan semua maksud Zeana. "Jadi, keluarga Horison pindah kesini juga karena hal ini?"


"Ya, ternyata keluarga Horison pindah ke kota ini karena pengobatan Mora. Mora shok berat, setelah mengetahui kematian Riana. Dia pasti sangat sedih dan tertekan waktu itu." Zeana sendiri tidak bisa membayangkan, bagaimana keadaan Mora waktu itu.


Sehingga harus melerakan pindah kota, demi kesembuhannya dan juga shok berat yang dideritanya.


"Aku merasa bersalah atas kepergian ku sendiri, yang bahkan tidak bisa aku bayangkan dan juga inginkan. Aku juga merasa bersalah dengan tidak mencari Mora dari 4 tahun yang lalu, setelah aku hidup sebagi Zeana."


Raut wajah sedih sudah tidak bisa Zeana tutupi, dirinya benar-benar merasa bersalah karena memperparah keadaan Mora dengan kepergiannya.


Zero yang melihat Zeaan sedih, kini mulai mengusap pungguh Zeana pelan. Dirinya seolah memberik kekuatan pada Zeana, agar tidak merasa sedih lagi.


"Ini semua bukan salahmu Anna, ini semus sudah takdir. Kita hanya bisa menerimanya dan mungkin saja merubahnya."


"Ya, aku ingin mengubah takdir ini juga Kak. Aku ingin kembali berteman dengan Mora, agar dia tidak merasa kesepian lagi." Kata Zeana penuh tekat, dirinya akan berusaha mendekati Mora dan menjadi sahabat Mora lagi.


"Tapi bagaimana caranya?"


"Dengan kembali mendekati Mora. Ouh ya, apakah ada jadwal antara perusahaan Horison dan Anderson dalam waktu dekat ini?"


"Kakak belum tahu, mungkin akan Kakak cek nantinya. Memang apa hubungannya?"


"Aku mempunyai rencana untuk itu, ku harap Kakak dapat membantu ku juga."


"Tentu."


Keduanya kembali membahas rencana apa yang akam dilakukan kedepannya, agar Zeana bisa kembali berteman dengan Mora.


Dan ya, Zero juga mendukung penuh dengan keputusan Zeana. Entah mengapa, dirinya jadi merasa ikut kasihan dengan apa yang terjadi pada Mora.


Hidup dalam keluarga bahagia, nyatanya tidak akan sama dengan kehidupan diluar rumah. Diluar rumah, kita dituntut untuk bisa mandiri dan juga cenderung mengadapi semua masalah yang akan datang.


Namun berbeda dengan Mora. Mora tidak diajarkan hal itu karena dalam hidupnya tidak pernah mendapatkan masalah hidup yang serius. Semua hal berjalan dengan lancar dalam kehidupan Mora.


Baik dalam bidang ekonomi, maupun fisik. Dan hal lainnya, Mora sempurna dalam hal itu.


"Aku jadi ingin bertemu langsung dengan gadis bernama Mora itu."


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.