Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 55



..."Aku tidak tau kisah orang lain sesedih kisahku atau tidak. Tapi, setiap orang merasakan sedih. Setiap orang punya beban masing-masing."...


..._K-Drama...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


55. Sahabat Baik Sebenarnya


"Jadi, sebenarnya siapa sahabat baik ku waktu kecil? Kamu atau Nico?"


Pertanyaan dari Zeana membuat Jeano terdiam, dia sedang mencoba untuk mengingat semua kenanganya waktu dulu. Dimana hal itu bercampur aduk antara sedih dah juga bahagia, Jeano masih mempersiapkan diri untuk mencoba membuka lembaran masa lalu.


Jeano juga sedang mencoba untuk bersikap biasa saja saat Zeana bertanya seperti itu serta setelah menceritakan tentang pertemuannya dengan Nico, menekan sedikit emosinya supaya Zeana tidak merasa takut dengan dirinya.


Namun disisi lain Jeano juga takut Zeana akan kembali memjauhi dan malah mengejar Nico kembali setelah mendengar apa yang diceritakannya nanti.


"Kamu benar-benar ingin tahu semuanya?" Tanya Jeano yang masih dengan wajah datarnya menatap Zeana dengan serius serta nada dingin disetiap katanya.


Zeana mengangguk ragu, namun rasa penasarannya lebih tinggi dibanding rasa takutnya sekarang pada Jeano. "Ya, tentu. Aku ingin tahu semuanya."


"Baik, tapi ku harap kamu tidak akan berubah lagi setelah mengetahui ini semua."


Jeanopun mulai menceritakan semua hal yang bersangkutan dengan masa lalu.


Flashback On


7 Tahun yang lalu


Tidak terasa perteman Zeana dan juga Jeano sudah berjalan begitu lama, mungkin dari Zeana yang berumur 4 tahun dan Jeano yang berumur 5 tahun.


Kini umur mereka berdua sudah menginjak 10 tahun untuk Zeana dan 11 tahun untuk Jeano. Mereka berdua bersekolah ditempat yang sama, dari mulai Taman Kanak-kanak serta ke jenjang Sekolah Dasar.


Serta pastinya pertemanan mereka diisi dengan semua hal yang sangat mengasikkan, dari hal yang bahagia serta hal yang membuat sedih. Semua hal itu dilalu Zeana dan Jeano dari kecil, tak lupa pertemanan mereka yang bertambah menjadi banyak anggota yaitu Andra dan Bobby untuk teman seangkatan Zero dan Jeano, juga Aqila yang menjadi teman seangkatan Zeana. Sedangkan untuk Rara mereka berteman dari jenjang Sekolah Menegah Pertama.


Setiap harinya mereka berdua semakin dekat mungkin tidak mengerti tentang apa arti cinta yang sebenarnya, mereka berdua hanya merasa tidak akan bisa untuk tidak bertemu sehari saja.


Mereka sudah melewati semua kenangan yang sangat banyak, hingga akhirnya sebuah kejadian membuat mereka harus berpisah dan menjadi canggung layaknya orang asing yang tidak bernah bertemu saat kembali bertemu.


Dimana waktu itu perusahaan yang dikelola oleh Ayahnya Jeano belum terlalu berjaya seperti sekarang, dimana wakti itu Ayah Jeano masih mengembangkan serta mencoba mengstabilkan perusahaan yang dikelolanya.


Waktu itu ada salah satu perusahaan di luar kota yang bermasalah, dimana Ayah Jeano yang harus menyelesaikannya secara langsung. Awalnya masalah tersebut hanya sebuah masalah kecil yang mungkin hanya akan menghabiskan waktu yang singkat, tapi nyatanya tidak.


Masalah tersebut merupakan masalah serius yang mungkin entah memakan waktu berapa lama untuk menyelesaikannya, hal itu yang menyebabkan Ayah Jeano mengambil keputusan untuk membawa serta keluarganya untuk ikut ke kota itu menemaninya


Tentu saja di awal Jeano menetang dan tidak mau ikut pindah karena harus berpisah dengan Zeana dan juga teman-temannya yang lain.


"Aku tidak mau Ayah." Teriak Jeano marah pada Reno. Bagaimana tidak,  ketika baru pulang sekolah Jeano harus mendapat kabar jika akan pindah keluar kota bersama keluarganya.


"Jika kamu sendirian disini akan bersama siapa? Ayah tidak tahu berapa lama akan menyelesaikan masalah kantor yang ada disana. Tolong mengerti Jeano!" Ucap Reno mencoba sadar menghadapi kemarahan putranya, dia juga merasa bersalah karena harus memberi tahu berita ini secara mendadak.


"Tapi aku akan berpisah dengan Anna, dan teman-teman ku yang lain. Aku tidak mau."


"Mereka akan tetap menjadi temanmu meskipun kamu berpisah dengan mereka, tidak akan ada yang berubah."


"Kita tidak bisa menjamin nya Ayah, bagaimana kalau Anna nanti tidak mengingatku dan malah menjauh dariku?"


"Tidak akan, kalian bisa berbicara terlebih dahulu dan berpamitan."


"Tetap tidak mau." Itulah Jeano, sekeras apapun bujukan orang lain Jeano akan tetap pada pendiriannya.


Sama halnya dengan Jeano, Renopun tak kalah keras kepala untuk tetap pindah karena bagaimanapun juga sifat Reno yang menurun pada Jeano.


Like Father, like Son.


Reno yang melihat kekeras kepalaan Jeank hanya bisa mengela napas lelah, dia lelah untuk menbujuk Jeano lagi. Akhinya dia melihat kearah Istrinya yang tidak jauh dari mereka berdua, Istinya hanya diam sambil melihat berdepatan mereka.


Lewat raut wajah serta gerakan mata Reno mengkode Istrinya agar membujuk Jeano karena dirinya sudah menyerah untuk membujuk Putranya ini.


Maura yang tau kode dari Reno segera mendekat kearah mereka berdua. "Ayo bujuk Putramu!" Bisik Reno pada Maura.


Maura menghela napas sejenak, mulai mempersiapkan dirinya agar dapat membujuk Jeano. "Jeano, dengarkan Bunda!" Ucap pelan Maura sambil mengelus pelan kepala Jeano dengan penuh kasih sayang.


"Tidak mau." Ketus Jeano sambil melepaskan tangan Maura dari kepalanya.


"Jeano tidak mau mendengarkan Bunda ya? Bunda sedih lo, kalau Jeano seperti ini." Kata Maura yang sengaja membuat raut wajah serta nada sesedih mungkin.


Sontak hal itu menarik perhatian Jeano karena Jeano tidak akan suka melihat Bundanya bersedih, apalagi bersedih karenanya.


"Tidak Bunda, jangan sedih! Aku akan mendengarkan Bunda, maaf membuat Bunda sedih."


"Baiklah, Bunda tidak akan sedih. Tapi Jeano dengarkan semua kata Bunda Ya!"


"Iya."


"Tidak mau kan? Oleh karena itu kita harus ikut bersama Ayah, agar dapat ikut menyemangati dalam menyelesaikan masalahnya nanti."


"Tapi bagaimana dengan Anna?"


"Anna akan baik-baik saja. Banyak orang-orang yang akan menjaganya disini, ada Zero dan juga teman-teman yang lain yang akan ikut menjaga Anna. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, dan Anna pasti akan selalu mengingatmu. Kalian berdua teman baik bukan?"


"Tentu saja Bunda, kita berdua adalah sahabat baik yang tidak terpisahkan."


"Nah, oleh karena itu kalian tetap akan bersama walaupun berpisah jauh nantinya. Jadi apakah Jeano mau ikut juga?"


Cukup lama Jeano terdiam, dia masih bimbang dengan hati dan juga pikiranya. Disatu sisi dia tidak mau berpisah dengan Zeana, namun dia juga tidak mau membuat Bundanya bersedih.


Akhinya dengan berat hati Jeano memilih untuk ikut bersama kedua orang tuanya untuk pindah keluar kota bersama. "Baiklah, aku ikut."


"Anak pintar, Bunda harap kamu dan Anna akan bersama selamanya."


"Pasti Bunda, kalau begitu aku akan kerumah Anna dulu untuk berpamitan. Ouh iya, dimana boneka yang hendak aku berikan pada Anna Bunda?"


"Ada di atas meja belajarmu."


"Oke, terimakasih Bunda." Ucap Jeano sambil mengecup pelan pipi Maura dan berlalu untuk mengambil boneka yang ada dikamarnya.


"Cih, Putra mu harus dibujuk oleh dirimu dulu baru mau menurut. Giliran bersama ku dia sangat susah sekali, dan apa-apaan dengan mengecup pipi mu." Ucap Reno yang mengelus pelan pipi Maura yang dikecup pelan oleh Jeano.


"Dia putramu juga, kalau kamu lupa. Lagian dia purta kita, tidak apa dengan mengecup pipi Bundanya sendiri."


"Aku tidak lupa, hanya kesal saja dengan anak itu. Kenapa dia sangat susah menurut padaku?"


"Karena kamu selalu bertengah dengannya, jadi dia susah menurut padamu. Lagian jika Jeano keras kepala seperti itu, jangan mengeluh! Tanya pada diri sendiri mengapa punya sifat seperti itu dan menurun pada Jeano."


Maura yang kesal langsung berlalu meninggalkan Reno setelah mengatakan itu, sedangkan Reno hanya diam cemberut karena disalahkan oleh Maura, niatnya kan dia mau mengadu tentang Jeano. Kenapa malah dia juga yang kena?


***


Jeano yang sudah membawa boneka untuk Zeana segera pergi kerumah Zeana untuk berpamitan.


"Anna aku ingin bicara." Terlihat sekali wajah sedih dari Jeano, hal itu membuat Zeana memjadi heran karena tidak biasanya Jeano seperti ini.


"Ada apa Jeano? Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Aku...aku-" Jeano tidak bisa menyelesaikan perkataanya kerena terlalu bingung untuk bicara seperti apa.


"Aku apa?"


"Aku akan ikut Bunda dan Ayah keluar kota." Dengan sekali tarikan napas Jeano mengatakan itu.


"Jeano mau liburan?"


"Bukan. Tapi tinggal diluar kota bersama Ayah dan Bunda."


Deg


"Jeano akan pindah?" Tanya Zeana dengan wajah yang mulai berubah menjadi sedih.


"Ya, aku akan pindah. Tapi itu hanya sebentar, setelah masalah Ayah selesai aku akan kembali lagi kesini."


"Tapi tetap saja kamu akan meninggalkan ku."


"Meskipun aku meninggalkanmu, kamu tidak akan sendiri disini. Ada Zero dan juga yang lain, yang masih dapat menemanimu."


"Tetap saja berbeda. Berapa lama akan disana?"


"Tidak tahu."


"Kamu tidak usah ikut saja!"


"Tidak bisa Anna, Ayah dan Bunda juga akan membutuhkan ku disana. Kasian mereka jika hanya berdua saja menghadapi masalah nantinya."


Yang dikatakn oleh Jeano sangatlah benar, meskipun Jeano dan juga Zeana masalah apa yang dimaksud namun mereka berdua cukup mengerti dengan keadaan orang tuanya.


"Baiklah tidak apa, tapi jangan sampai melupakanku!" Pesan Zeana dengan menatap penuh harap pada Jeano.


"Tentu saja tidak akan."


Dari situ kedua anak yang mencoba berjanji satu sama lainnya untuk tidak saling melupakan, akhirnya berpisah karena keadaan.


"Ouh iya, ini boneka untuk mu. Jika kamu merindukan ku, kamu bisa peluk boneka ini. Anggap saja boneka ini adalah aku."


Sebelum benar-benar pergi Jeano menyempatkan untuk memberi boneka tersebut pada Zeana, dimana boneka tersebut berbentuk bebek persis seperti karakter Donall Duck dalam series Micky Mause.


Flashback Off


Dari situ kehidupan keduanya berubah, dimana keduanya terus bersedih karena harus berpisah. Namun juga keadaan kedepannya yang membuat salah satu dari mereka mulai melupakan, dimana Zeana menemukan orang baru sebagai penghibur rasa sedihnya.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.