Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 15



..."Hanya karena aku bisa memikulnya, bukan berarti itu tidak berat. Kadangkala, tersenyum menyakinkan diri sendiri kuat adalah satu-satunya pilihan yang ku dapat."...


..._Unknown...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


15. Horison Family


Disebuah mobil yang melaju, terdapat sebuah keluarga yang begitu harmonis. Dimana ada Ayah, Ibu dan seorang Putrinya yang begitu cantik.


Keluarga yang kaya, namun selalu tampil sederhana. Tidak pernah terlibat oleh masalah yang begitu besar dalam kehidupan mereka. Baik dari rumah tangga, maupun urusan bisnis.


Keluarga tersebut selalu bisa melewati masalah apapun dengan baik, dan selalu bersama untuk melakukan hal itu.


Keluarga tersebut dijuluki sebagai, keluarga yang harmonis dan juga keluarga tanpa beban dijajaran para pebisnis lainnya. Meskipun hanya memiliki satu anak, sepasang Suami-Istri itu tetap bersyukur akan takdir yang sudah Takdirkan kepada mereka.


Ditambah dengan hanya dikarunia satu anak perempuan, yang mungkin saja tidak akan bisa menerusakan bisnis mereka nantinya.


Namun, hal tersebut tidak dijadikan masalah oleh mereka. Bahkan mereka begitu menyayangi dan menjaga putri mereka dengan negitu baik.


Bisa disebut mereka berdua adalah orang tua yang Overprotektif. Dimana pergerakan Purtinya selalu di awasi dengan baik, bahkan banyak hal yang dilarang demi kebaikan Purtinya tersebut.


Tentu saja mereka berdua seperti itu karena tidak mau kehilangan Putri mereka, sekaligus anak mereka satu-satunya.


Mereka berdua menikah dan memiliki Anak diusia yang cukup Tua, sehingga umur mereka tidak mendukung untuk dapat memiliki anak lagi.


Keluarga tersebut memiliki marga Horison. Keluarga Horison, terdiri dari David Horison, Emeli Horison, dan juga Mora Latasha Horison.


Davis Horison selaku kepala keluarga, merupakan anak tunggal dari keluarga Horison terdahulu. Ditambah Emeli Dawn, selaku Ibu Rumah tanggga yang sekarang berganti nama menjadi Emeli Horison karena mengikuti marga suaminya, juga merupakan anak tunggal juga.


Jadi mereka pikir, kehadiran Anak mereka yang hanya satu disebabkan karena keturunan juga.


Hal itulah yang membuat mereka mensyukuri keadaan yang ada. Setidaknya mereka berdua masih dipercayai oleh Tuhan, agar dapat memiliki anak juga dan membesarkannya dengan baik.


"Tadi kamu berbicara apa saja dengan Sarah?" Emeli melihat sekilas kearah belakang dimana Mora berada. Terlihat waut wajah Mora mulai mengingat kejadian yang telah terlewat beberapa waktu itu.


Emili tidak sempat berbicara banyak dengan Sarah, selaku Ibu dari teman baik anaknya itu karena waktunya yang tidak tepat.


Bertepatan dengan Emeli yang menghampiri Sarah dan Mora, seketika itu juga, anak kecil yang Emeli tahu anak baru Sarah meminta untuk segera pergi dari tempat itu.


Dan ya, Sarah tidak dapat menolak keinginan anaknya. Apalagi ditambah dengan keadaan anak itu yang sempat mengamuk tadi.


Emeli tahu, jika sekarang Sarah sudah mempunyai kehidupan baru dan juga keluarga baru. Bahkan tidak tanggung-tanggung, suami Sarah yang sekarang merupakan pebisnis yang sangat berpengaruh.


Namun hal itu tidak membuat Sarah menjadi sombong, buktinya secara langsung Sarah menyapa Mora dan mengobrol ringan dengannya.


Mungkin juga karena hubungna baik antara Mora dan Riana. Sehingga membuat Sarah tidak merasa segan untuk bertegur sapa dengan Mora


"Aku hanya mengobrol sedikit dengan Tante Sarah, hanya tentang anak barunya dan juga Anna." Terdengar suara Mora menjadi sedih diakhir perkataannya.


Sampai sekarang Mora belum bisa melupakan, serta mengikhlaskan kepergian sahabat baiknya itu.


Sehingga Mora akan kembali sedih, jika ada orang yang membahas Riana. Atau bahkan dirinya yang selalu tidak sengaja selalu mengingat kenangan indahnya bersama Riana.


"Kamu merindukan Anna?" Tanya Davis dengan hati-hati, dirinya tau bahwa pembahasan ini akan selalu membuat Purtinya menjadi sedih.


Namun dirinya juga tidak bisa berbuat banyak, atas kepergian Riana karena hal itu merupaka takdir Tuhan yang tidak bisa diubah oleh siapapun.


Kepergian dan kelahiran orang, tidak akan bisa dicegah oleh siapapun.


Mora mengangguk pelan, sangat terlihat raut wajah sedih yang Mora perlihatkan. "Aku sangat rindu Anna, aku ingin bersama-sama lagi dengannya. Setelah dia pergi, aku tidak mempunyai teman lagi. Kenapa dia harus pergi?"


Seketika terdengar tangisan yang berasal dari Mora. Selain sedih, Mora merupakan anak yang gampang menangis jika dalam situasi yang menurutnya sulit.


Tangisan tersebut semakin kencang, seiring bertambahnya waktu. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tauanya panik. Mereka takut keadaan Mora kembali drop, jika terus menangis dan bersedih terlalu lama.


Dengan segera David meminggirkan mobil tersebut dan mematikan mesin kendarannya. "Cepat, tenangkan Mora!" Titah David pada Emeli, Istrinya. Yang dengan segera Emeli turun dari kursi samping kemudi dan masuk kedalam kursi belakang dimana Mora berada.


"Hei sayang..jangan menagis seperti itu!" Ucap Emeli yang mencoba menenangkan Mora dan juga membantu Mora agar duduk dengan tegap menghadapnya.


Mora yang menangis sambil menangkup mukanya dengan kedua tangannya, kini mulai melihat kearah Emeli dan langsung memeluk erat tubuh orang yang sudah melahirkannya itu.


Dengan segera Emeli membalas pelukan tersebut dan mengelus pelan punggung Mora yang bergetar. "Tenanglah..jangan menangis lagi! Ingat, Anna tidak akan senang jika melihat kamu menangis seperti ini."


Perkataan dari Emeli dapat membuat tangisan Mora reda, namun masih dapat terdengar isakan kecil dari mulutnya.


Ya, Mora akan selalu ampuh dengan perkataan itu. 'Anna tidak akan senang dengan itu'. Sebuah kata sederhana, namun nyatanya sangat berarti bagi Mora.


Emeli mulai mengangkat wajah Mora, agar berhadapan dengannya. Dapat dilihat, jika wajah bersih Mora kini tampak memerah dikedua mata dan ujung hidungnya.


Wajah putih dengan kedua mata hijau yang sangat cantik itu, kini terlihat sendu. Hidung mancung, namun terlihat mungil itu terlihat memerah pada bagian ujungnya. Tidak lupa bibir merah ceri, yang secara alami masih mengeluarkan isakan tangis yang tersisa.


Tangan Emeli bergerak untuk menghapus jejak air mata yang ada dikedua pipi cubby milik Mora. "Ingat bukan? Perkataan Anna kepadamu. Anna selalu tidak suka dengan air matamu, apalagi hal itu tentang kesedihan.


Meskipun sekarang Anna sudah tidak ada, tapi Mommy yakin bahwa diatas sana Anna juga tidak akan menyukai air matamu karena kepergiannya.


Kamu, bahkan kita semua harus ikhlas atas kepergian Anna karena mungkin itu yang terbaik untuknya. Lihat, bahkan Sarah sudah menemukan kebahagian baru untuk hidupnya.


Dan Mommy juga berharap hal yang sama dengan dirimu. Hidup itu akan terus berlanjut, dengan atau tidak adanya orang disekitarmu.


Kamu harus bisa melupakan hal sedih itu dan menjadikan Anna kenangan indah, yang pernah kamu miliki sebagai teman dihidupmu.


Mommy tidak mau melihat kamu sedih seperti ini, Mommy takut kamu malah drop lagi. Hal itu membuat kita sedih dan khawatir kepadamu."


Dengan sabar Emeli selalu dapat menengkan Mora, dirinya selalu dapat menasehati Mora dengan baik. Dan Mora yang pada dasarnya penurut, selalu mendengarkan apa perkataan kedua orangtuanya.


Mora yang sadar telah membuat kedua orang tuanya khawatir, kini menatap Emeli dan David secara pergantian dengan wajah bersalah. "Maaf Mommy, aku membuat Mommy dan Daddy khawatir lagi."


Ya, kata maaf dan berterimakasih akan sering terdengar dalam kamus kehidupan seorang Mora.


Kini Emeli dan David dapat bernapas dengan lega. Keadaan Mora sudah baik-baik saja sekarang. Keduanya tersenyum bahagia, "tidak perlu minta maaf sayang. Kamu hanya perlu untuk tidak sedih berlebihan saja, okay?"


"Iya, Daddy."


"Bagus. Anak pintar." Puji David yang mengelus kepala Mora, meskipun agak sedikit kesusahan karena posisinya berada dibalik kemudi.


"Mau Mommy temani duduk disini?"


"Tidak. Mommy kembali duduk bersama Daddy saja, aku akan duduk sendiri disini. Tapi aku ingin sesuatu, apakah boleh?"


"Apa itu?" Tanya David dengan cepat.  Selagi hal itu bisa dilakukan olehnya, semua permintaan Mora tidak masalah dan akan selalu diwujudkan.


"Aku ingin menemui Anna."


"Baiklah."


Saat dan detik itu juga. Mereka semua pulang ke kota xxx, dimana kota tersebut asal mereka berada untuk melihat dan mengunjungi makam Riana yang memang berada disana juga.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.