
..."Semuanya, jadilah bebas di dalam hidup ini. Jadilah bebas selama kamu tidak melanggar hukum apapun. Jangan mencoba untuk menyimpan perasaanmu sendiri terlalu banyak, sehingga kamu tidak akan menyesal."...
..._K-Drama...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
45. Masih Dunia yang Sama
Kali ini Zeana pergi dan pulang sekolah nanya bersama Zero karena jika tadi pagi Jeano kesiangan sedangkan untuk pulangnya Jeano ada urusan terlebih dahulu untuk masalah tim basketnya.
Sebagai kapten basket tentu saja Jeano ikut sibuk dalam mempersiapkan acara tahunan sekolah, apalagi pertandingan basket merupakan penampilan utama dari acara nanti.
Dengan senang hati Zero pulang berdua bersama Zeana, karena itu merupakan keinginanya. Untuk dapat menghabiskan waktu berdua bersama Adiknya, Zeana.
"Bagaimana sekolah hari ini?" Tanya Zero melirik kearah Zeana sebentar lalu fokus lagi melihat jalan didepannya.
Sudah menjadi rutinitas bagi Zero maupun Jeano serta Daddynya untuk menanyakan bagaimana keseharain Zeana selama sekolah.
"Baik, tapi aku bertemu seseorang tadi."
"Siapa?"
"Tidak tahu, dia tiba-tiba menghampiri ku yang sedang duduk sendiri di kursi perpustakaan."
"Kenapa kamu duduk sendiri? Sudah Kakak bilang kan, jangan sendirian bila ingin berpergian!" Ucap Zero tidak suka begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana. Zero takut akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi, contohnya ketika Zeana bertemu dengan dia.
"Aku tidak sendirian Kak, aku bersama Aqila. Namun setelah selesai dari perpustakaan, Aqila tiba-tiba ingin ke toilet. Aqila menyuruhku untuk tidak kemana-mana, jadi aku duduk saja di kursi depan perpustakaan."
"Lalu orang itu?"
"Orang itu datang dan meminta izin untuk duduk disamping ku lal-"
"Kamu mengizinkannya?" Sebelum Zeana menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu Zerk menyela dengan raut wajah tak sabaran nenatap Zeana.
"Tentu saja, kursi itu bukan milik ku kan? Jadi semua orang bisa duduk disitu."
Benar juga apa yang dikatakan oleh Zeana, namun entah mengapa dia menduka bukan hal bagus yang sudah terjadi pada Zeana.
"Lalu?"
"Dia bertanya apakah aku mengenalnya? Dan aku rasa tidak mengenal orang itu, serta aku bilang saja bahwa aku mengalami kecelakaan dan amnesia. Orang itu bilang bahwa dia adalah teman ku, tapi saat akan menyebutkan nama Aqila terlebih dahulu datang dan menyeretku pergi untuk kembali ke kelas. Saat sudah tiba di kelas Aqila bilang bahwa orang itu bukan teman ku, dan menyuruhku untuk menjauhinya."
Deg
Entah mengapa begitu Zeana bercerita hanya satu nama yang terlintas di pikiran Zero, yaitu Nico.
"Baguslah, kamu memang harus menjauhi orang itu."
"Kenapa kalian semua menyuruh ku untuk menjauhinya? Orang itu tidak terlihat seperti orang jahat kok." Bela Zeana karena merasa semua orang terlalu berburuk sangka dengan orang yang baru ditemui oleh Zeana didepan perpustakaan tadi.
"Pokoknya jauhi saja, ini demi kebaikan mu juga Anna. Dan jangan membantah!" Peringat Zero pada Zeana, sungguh dia tidak mau Zeana kembali seperti dulu lagi.
Selalu mengejar Nico dengan tidak malunya, serta menghalalkan segara cara agar Nico dapat melihat kearahnya.
"Iya." Cicit pelan Zeana merasa takut jika Zero sudah mulai marah.
"Ini demi kebaikan mu Anna...dan juga kita semua." Tentu saja Zero hanya dapat melanjutkan perkataannya dalam hati.
Zeana mengangguk pelan, dia mencoba mengerti kecemasan semua orang padanya. Melihat Zeana yang mengangguk serta tidak berbicara lagi membuat Zero tersenyum tipis dan mengusap kepala Zeana penuh kasih sayang.
Tidak terasa mereka sudah sampai diruman, namun begitu Zeana turun Zero tak ikut karena harus kembali kesekolah untuk latihan basket bersama Jeano dan yang lainnya.
"Kakak akan langsung pergi lagi?"
"Ya, Kakak harus latihan basket bersama yang lainnya."
"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalannya."
"Pasti."
"Bye Kak." Ucap Zeana sambil melambaikan tanganya kearah Zero yang dibalas lambaikan juga.
"Bye."
Zero pun mengendarai mobilnya untuk kembali kesekolah dan berkumpul dengan yang lainnya.
***
Sedangkan Zeana langsung bergegas masuk untuk istirahat serta berganti pakaian.
Namun begitu masuk kedalam, Zeana tidak menemukan keberaan Bi Julia. Tidak seperti biasa, karena biasanya Bi Julia akan selalu menyamput Zeana pulang.
Zeana terus mencari Bi Julia kesetiap penjuru dari dapur, taman hingga halaman belakang. Namun hasilnya nihil, tidak ada Bi Julia dimanapun.
Seorang maid yang melihat Zeana seperti sedang mencari seseuatu, langsung saja menghampiri Zeana.
"Nona Muda cari apa?"
"Eh..aku cari Bi Juli. Dimana Bi Juli? Aku cari kesana-kemri tidak ada." Zeana agak kaget begitu maid itu menyapa untuk bertanya padanya.
"Ouh, ya sudah kalau begitu."
"Apakah Nona butuh sesuatu? Biar saja ambil kan."
"Tidak ada, aku akan langsung kekamar saja."
"Baiklah, jika ada sesuatu Nona bisa panggil saya."
"Iya, Bibi."
Zeana pun melangkakan kakinya menuju lantai atas dimana kamarnya berada, begitu sampai dia langsung bergegas untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Zeana membersihan tubuhnya agar dapat segar kembali, begitu selesai Zeana langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.
Pikiran Zeana berkelana tentang hidupnya kali ini, dia sudah mengetahui sedikit kebenaran jika dunia yang dia tempati sekarang masih sama seperti dunia yanh dia tempati sebagai Riana.
Dunia ini hanya berbeda tempat saja, karena Zeana sudah menyelidiki tentang hal itu. Dia mencari dari berbagai informasi tentang kehidupan yang dia tempati sekarang.
Ada sedikit rasa bahagia dalam diri Zeana karena kemungkinan dia dapat kembali melihat Ibu kandungnya dulu ketika menjadi Riana. Dia sangat rindu sekali akan kehidupannya yang dulu, meskipun kehidupan yang sekarang jauh lebih baik.
Zeana sendiri sudah merecanakan ingin berkunjung ketempatnya yang dulu, namun entah kapan hal itu akan terwujud. Namun Zeana juga merasa sedih secara bersamaa, dia bingung bagaimana cara dia memberi tahu Ibunya bahwa kini dia masih hidup namun dalam diri orang lain.
Yang pasti semua orang akan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zeana, pasti orang-orang akan menganggap Zeana berbohong dan lebih parahnya menganggap Zeana gila.
Zeana terpikirkan bagaimana keadaan Ibunya begitu tau Riana meninggal dan meninggalkan Ibunya sendirian tanpa ada dirinya.
"Pasti Mamah sangat sedih begitu tau aku meninggal, bagaimana keadaanya sekarang?" Monolog Zeana pada dirinya sendiri, dia terus menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan sedih serta kosong.
"Aku harap Mamah baik-baik saja tanpa ku." Zeana kembali terucap sehingga tanpa disaradi air mata jatuh dari kedua matanya.
Zeana memejamkan kedua matanya dan berdoa kepada Tuhan agar dapat menjaga Ibunya selalu dalam keadaan yang baik-baik saja.
Tanpa disadari Zeana terus saja menangis dengan pilu karena memikirkan semua yang terjadi memimpa kehidupannya dan juga kehidupan orang lain yang kini ditempatinya.
"Aku ingin bertemu Mamah."
Karena kelelahan Zeana mulai tertidur dan masuk kealam mimpi, dia berharap dapat bertemu dengan Ibunya walau hanya lewat mimpi saja.
***
"Kak tunggu!!" Seseorang itu terud saja bertetiak agar dapat menghentikan langkah kaki yang diikutinya, namun nyatanya teriakan itu tidak ada gunanya karena orang tersebut tetap terus berjalan.
"Kak Nico, tunggu Kak. Aku bisa jelasin semuanya, tolong berhenti dulu Kak!" Sisqia, orang itu terus saja berjalan dengan sedikit berlari untuk mengejar Nico yang berjalan cepat didepannya.
"Kak!!" Sentak Sisqia begitu berhasil menarik salah satu tangan Nico.
"Apa?" Tak kalah Nico pun memberikan nada bicara yang tidak baik untuk Sisqia.
Semua orang yang melihatnya pasti akan langsung paham bahwa sepasang manusia itu sedang tidak dalam keadaan yang baik, bisa dibilang mereka sangat tanpak sedang bertengar.
"Dengarin dulu penjelasan aku."
"Penjelasan apa? Udah jelas-jelas, gue liat lo berduan sama laki-laki itu di gudang. Lo mau jelasin apa lagi?"
"Tapi itu bukan seperti apa yang Kak Nico pikirkan! Aku cuman-" Sisqia tidak dapat meneruskan ucapannya, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Nico.
"Cuman apa? Ciuman? Pelukan? Atau bahkan ngelakuin hal lebih?" Cerca Nico yang tidak dapat dijawab oleh Sisqia secara langsung.
Melihat keterdiaman Sisqia membuat Nico amat sangat marah, kenapa dia sangat bodoh sekali? Malah memungut sampah dibanding berlian.
"Gue nyesel tau gak, udah percaya dan suka sama lo!!" Ucap Nico yang terus menatap kedua mata Sisqia dengan perasaan benci dan juga jijik. "Gue nyesel udah suka sama lo dan buang cinta yang tulus dari Zeana."
"Kenapa harus selalu Zeana? Kenapa?" Teriak Sisqia tidak terima karena Nico selalu saja membawa nama Zeana dalam pembicaraan mereka.
Ketika Zeana kembali masuk kesekolah disitu Nico selalu memperhatikan Zeana, membicarakan Zeana, bahkan selalu membandingkannya dengan Zeana. Sungguh sangat memuakkan.
"Karena emang Zeana pantes untuk dapat semua itu."
"Terus kenapa gak dari dulu aja Kak Nico suka Zeana? Kenapa harus nyakitin peraaan aku dulu?"
"Lo sadar gak sih, dengan apa yang lo bilang? Lo yang udah bikin gue jauh sama benci Zeana. Dan sekarang lo nyalahin gue? Lucu banget." Nico tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang didepannya ini.
"Kamu aja yang terlalu bodoh dan mudah buat dibohongi." Dengan entang Sisqia mengatakan itu.
"Ya, gue emang bodoh karena udah percaya sama lo sial*n." Dengan cepat Nico mencengkam kedua pipi Sisqia dengan tangan kanannya, menekannya dengan kuat sehingga membuat Sisqia merasakan sakit yang luar biasa pada kedua pipinya.
"Lwepwas." Sekuat tenaga Sisqia mencoba untuk melepaskan cengkraman tersebut.
Dengan segara Nico melepaskan tangannya dan mendorong tubuh Sisqia hingga terjatuh. "Ingat ini Bit*h! Mulai saat ini, jangan pernah deket sama gue, ataupun muncul dihadapan gue lagi!"
Nico terus saja mengacungkan jarinya tepat didepan wajah Sisqia. "Dan gue minta buat lo, lupain kalau kita pernah punya hubungan. Mulai sekarang lo sama gue putus!!"
Setelah mengatakan itu Nico bergegas pergi meninggalkan Sisqia yang masih terduduk dilantai dengan luka dikedua pipinya.
"Sial*n, ini semua gara-gara Zeana, rencana gue jadi hancur perantakan. Liat aja nanti, gue bakal bales semuanya."
Dengan kedua tangan yang mengepal erat, Sisqia terus saja menatap tajam punggung Nico yang berlahan jauh meninggalkannya.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.