Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 40



..."Jangan lupa bersyukur!! Bersyukur bukan hanya karena ada hal yang WOW, tapi syukuri hal-hal kecil sekalipun. Hitung berkat kita satu per satu. Maka kita akan kagum akan berkat Tuhan yang begitu banyak di hidup kita."...


..._Jerome Polin...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


40. Tiba-tiba Harus Lembur


"Dimana dirinya menunggu?"


Kenzo tampak celingukan kesana-kemari untuk menemukan keberadaan Zero. Namun, nyatanya nihil. Zero tidak terlihat disekitaran restaurant tersebut.


Mencoba mencari kesekitaran dan juga tempat-tempat yang ada karena siapa tahu saja Zero malah masuk kesalah satu tempat makan lainnya.


"Dia sebenarnya nunggu dimana sih? Nambah beban banget sekarang harus ngayari dia, udah kayak nyari anak ilang aja." gerutu Kenzo sepanjang jalan sambil terus mencari keberadaan Zero.


Cukup lama dirinya hampir memutari seluruh lantai itu, namun Zero belum juga terlihat.


Setelah dirasa cape dan lelah berjalan, Kenzo memilih terdiam dan mulai mengatur napasnya yang sedikit ngos-ngosan.


Terlihat wajah kesal dan juga lelah dari Kenzo, tidak lupa kedua tangan Kenzo yang berada tepat dikedua sisi pingganya. "Huhhh..capek juga jalan hampir ngelilingin ini Mall," setelah mengatakan itu, Kenzo teringat akan suatu hal.


Kenapa dirinya tidak menelpon Zero saja?


Sangat tepat, mungkin karena terlalu bingung Kenzo sampai tidak teringat akan hal itu. Dengan segera dirinya mengambil ponsel yang berada disaku celananya dan mulai mencari nomor Zero.


Tidak membutuhkan waktu lama, sambungan telpon pun terhubung. Syukurlah, setidaknya Zero langsung mengangkat telpon darinya.


"Halo Tuan?" tanya Kenzo begitu sambungan telpon dengan Zero tersambung, terdengar nada kesal dari kalimat yang Kenzo katakan.


"Ya, ada apa?"


Sedangkan disebrang telpon sana, Zero malah dengan santainya menjawab seolah tidak terjadi apapun. Tidak lupa nada dingin yang selalu dia katakan pada setiap perkataannya.


Kenzo yang mendengar nada kelewat santai dari Zero tambah membuat dirinya kesal. Bagaimana tidak kesal?


Secara tiba-tiba dan mendadak Zero menghilang dari tempat yang sudah dijanjikan, sehingga membuatnya harus mencari Zero kesana-kesini. Menambah beban hidup seorang Kenzo Dirgantara saja.


Poor Kenzo:(


"Tuan menunggu dimana?" tanya Kenzo secara langsung pada inti pembicaraannya.


Zero yang sudah tersadar dengan kondisi sekarang, bahwa dirinya tidak sendiri datang ketempat ini. Masih ada Kenzo yang mungkin sedang mencari dan menunggunya.


"Aku ditoilet."


"Pantas saja dicari tidak ketemu," gerutu Kenzo dalam hatinya karena sejak dari tadi belum melihat keberadaan Zero. "Baiklah, saya akan menyusul kesana."


Kenzo pikir mungkin Zero sedang ingin pergi ketoilet, sehingga ada disana. Dengan niat tulus, dia akan menyusulnya dan nanti langsung pulang bersama.


Namun nyatanya tidak, penolakan dari Zero membuat Kenzo bingung akan hal itu. Ditambah dengan perintah Zero yang menyuruhnya pulang terlebih dahulu.


"Tidak. Kamu kembalilah ke kantor sekarang, nanti aku akan kembali ke kantor sendiri."


"Lalu, nanti Tuan akan pakai apa untuk kembali ke kantor?"


Masalahnya, Zero dan Kenzo berangkat bersama, serta menggunakan mobil yang sama juga. Dimana Kenzo yang mengambil kemudi mobil tersebut tadi.


Jadi, jika Zero menyuruhnya kembali lebih dulu, lalu Zero pulang akan memakai apa?


Sedangkan Zero tidak langsung menjawab pertanyaan darinya, mungkin Zero sedang berpikir telebih dahulu untuk menjawab pertanyaannya. "Tidak apa, akan kupikirkan nanti. Pergilah terlebih dahulu!"


Mendengar nada titah dari Zero, membuat Kenzo tidak berani lagi untuk bertanya. Biarlah, suka-suka Zero aja.


Yang penting dirinya cukup menjalani, apa yang dikatakan oleh Zero dengan baik.


Mencoba menahan emosi dan rasa kekesalan yang ada, akhinya Kenzo hanya bisa mengiyakan perintah Zero tanpa banyak tanya lagi.


"Baik, Tuan."


Tut


Sambungan telpon tersebut langsung terputus, tanpa ada jawaban atau perkataan apapun lagi dari Zero.


Setelah sambungan telpon itu terputus, Kenzo langsung menghela napas lelah. "Tuhan...kapan aku bisa kaya? Aku capek harus kerja keras bagai kuda seperti ini." Sungguh sangat mendramatis sekali Kenzo mengatakan itu pada dirinya sendiri.


Nyatanya, menjadi asisten pribadi Zero harus kuat badan, batin dan juga mental.


Mulai memasukan kembali ponselnya, Kenzo hanya bisa mengangkat bahunya pelan. "Biarlah, dia pikirkan bagaimana caranya pulang sendri. Kenapa aku harus repot-repot? Sekalipun dia ingin pulang jalan kaki pun, aku tidak akan perduli." Setelah mengatakan itu, dengan segera Kenzo melangkahkan kakinya keluar dari Mall itu.


Lebih memilih segera pergi seperti perintah Zero dan mengerjakan kembali pekerjaannya yang masih banyak.


"Huh...kayaknya bakal lembur deh." kata Kenzo sambil mulai melajukan mobil tersebut kembali menuju perusahaan


***


Zero terlihat kembali kekantor tidak lama dari Kenzo datang juga. Tidak ada hal aneh ataupun hal yang perlu dicurigai.


Mulai bekerja seperti biasa lagi, namun berbeda dengan Zero. Setelah bertemu dengan Mora secara tidak langsung di Mall tadi, dirinya kembali merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Apalagi ditambah dengan Zeana yang juga menyadari prilaku anehnya, "perasaan aneh apa ini?"


Pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban apapun karena pada nyatanya Zero bertanya pada dirinya sendiri. Hanga dirinya sendiri pula yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.


Ada rasa aneh dalam diri Zero, dimana dirinya kini mulai memikirkan Mora  dan juga ingin melindungi Mora secara tidak langsung.


Zero merasa, bahwa dirinya tidak bisa mengalihkan perhatiannya jika bersama Mora. Zero ingin tau dan juga mengetahui apa saja yang ada pada diri Mora.


"Huh, sepertinya Anna akan menanyakan banyak pertanyaan nantinya." Zero hanya bisa menghela napas lelah, dirinya juga tidak tahu harus menjawab apa, jika nanti Zeana bertanya padanya.


Ketika sedang bergelut dengan pikirannya, Zero kembali mendapatkan pintu ruangannya kembali diketuk dari luar.


Tok tok tok


"Masuk!"


Kata tersebut merupakan kata yang selalu dirinya katakan ketika ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Ceklek


Pintu kembali terbuka dan kembali juga terlihat Kenzo memasuki ruangannya dengan begitu banyak berkas-berkas dikedua tangannya.


"Sepertinya kita harus lembur," kata Kenzo sambil kembali menyerahkan begitu banyak berkas yang dibawanya.


Sedangkan Zero hanya diam, sambil mengerutkan dahinya. Seolah meminta penjelasan dari perkataan yang Kenzo katakan.


Mulai meletakan berkas tersebut dengan hati-hati dan juga rapi. "Banyak pekerjaan yang secara tiba-tiba harus diselesaikan dalam waktu dekat ini. Sepertinya jadwal kedepannya pun akan ikut berubah juga."


Selepas Kenzo terlebih dahulu sampai diperusahaan, dirinya mendapatkan informasi bahwa ada sebagian pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tentu saja itu bukan suatu hal aneh, karena sering juga terjadi.


Banyak pekerjaan yang secara mendadak harus segera diselesaikan, mungkin karena Emergency ataupun ada hal lainnya.


Lembur secara tiba-tiba memang sering terjadi secara mendadak, namun pasti akan ada informasih yang jelas untuk itu.


"Ya, segera aturlah."


Zero dengan santai menghadapinya, setiap permasalah yang ada, Zero selalu mencoba untuk santai menghadapi semuanya.


"Ini berkas-berkas yang harus kembali ditanda tangani," kata Kenzo sambil memilah berkas mana saja yang harus Zero tanda tangani. "Dan ini adalah berkas yang harus diperiksa kembali. Siapa tau saja masih ada yang harus diubah dan diperbaiki." Kenzo kembali memberikan berkas-berkas itu.


Zero memperhatikan dan juga mendengarkan dengan baik setiap perkayaan Kenzo. Dia sangat fokus dengan semua berkas-berkas yang hendak dirinya kerjakan.


"Apa ada lagi?"


"Untuk sekarang belum, mungkin jika nanti ada akan menyusul."


"Baiklah."


"Kalau begitu saya permisi, masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan juga."


"Hm."


Kenzo pun segera kembali menuju ruangannya, setelah mendapatkan persetujuan dari Zero.


Infromasi bahwa hari ini harus lembur, karena banyak pekerjaan secara mendadak yang harus diselesaikan sekarang. Membuat semua karyawan ikut menghela napas lelah, namun juga bersyukur juga.


Sebagian para karyawan yang ada harus ikut lembur juga. Serta mereka berdua harus ikut lembur karena semakin banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Malam itu Zero dan juga Kenzo harus pulang tengah malam.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.