Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 100



..."Mulai ulang hidup mu dan memprogram ulang otak mu. Lupakan masa lalu mu, hapus semua gangguan."...


..._Painful Tales...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


100. Lebih Baik Berdamai Dengan Keadaan


Pagi mulai menyapa kembali, Zeana yang masih harus mendapatkan perawatan kini hanya bisa menerima jika harus tinggal beberapa hari di rumah sakit.


Entah bagaimana bisa berita kecelakaan yang Zeana alami dapat menyebar dengan begitu cepatnya. Sampai berita ini juga diketahui oleh Nico, dan secara langsung Nico mendatangi Zeana dirumah sakit tempatnya dirawat.


Tentunya kedatangan Nico tidak disambut cukup baik karena sekarang Zeana ditemani Jeano dan juga Zero. Sedangkan untuk kedua orangtuanya secara bergantian akan berjaga.


Suasana dalam ruangan tersebutpun terasa tidak enak, sangat terasa aura kelam dari Jeano dan juga Zero. Sedangkan Nico hanya mampu diam saja dengan mencoba memberanikan diri berada disituasi seperti itu.


"Terimakasih telah datang menjenguk ku." Ucap Zeana yang berusaha untuk mencairkam suasana.


Seketika Nico yang tadinya hanya mampu diam dengan kepala tertunduk, kini mulai melihat kearah Zeana. "Sama-sama." Kata Nico yang disertai senyuman.


Sedangkan Jeano dan Zero tambah tidak suka melihat itu, apalagi Zeana yang juga membalas senyuman Nico.


Mereka berdua belum percaya jika Nico sudah berubah, bahkan sudah tidak mengarapkan dan juga menyukai Zeana lagi.


Melihat wajah Nico yang tertekan, membuat Zeana jadi kasihan. Pasti Nico sangat tidak nyaman berada dalam posisi seperti ini, ditambah dengan tatapan tajam yang Jeano dan Zero berikan.


"Hmm....bisakah tinggalkan kami berdua?"


"Tidak." Tolak Jeano dan Zero bersamaan. Bahkan mereka berdua tidak mengalihkan padangan dan juga posisi tubuhnya.


"Apa ada lagi yang ingin dikatakan?" Zeana lebih memilih untuk mengajak Nico berbicara dan mengabaikan kedua pria itu.


"Semoga cepat sembuh ya dan sepertinya aku harus segera pergi."


"Kenapa buru-buru?"


"Aku ada urusan."


"Baiklah, hati-hati dijalan."


"Ya, kalau begitu aku pamit."


Dengan sedikit terburu-buru Nico berjalan keluar dan meninggalkan ruangan Zeana. Rasanya Nico tidak sanggup jika harus ditatap tajam oleh Jeano dan Zero lebih lama.


Hal ini baru Nico rasakan karena pada dasarnya Nico tidak pernah dekat dengan Jeano maupun Zero. Nico mengenal keduanya sebatas teman se-anggkatan, tidak lebih dari itu.


Setelah kepergian Nico, kini pandangan Jeano dan Zero terarah pada Zeana. Ruat wajah keduanya sangat menandakan ketidaksukaan.


"Apa?" Tanya Zeana pura-pura heran, meskipun dia sudah tahu arti tatapan tersebut.


"Jangan bertemu lagi dengan dia!"


"Tidak boleh tersenyum padanya juga!"


"Tidak boleh bilang hati-hati juga!"


Secara bergantian Zero maupun Jeano mencerca Zeana dengan peringatan, keduanya benar-benar tidak suka dengan kedatangan Nico. Apalagi sekarang masih pagi, sungguh pagi yang menyebalkan karena membuat mereka berdua kesal.


"Iya, tidak lagi."


Zeana lebih baik mengiyakan saja, dari pada harus ada berdepatan lebih lanjut. Seketika Zeana jadi teringat dengan pelaku yang menabraknya, dia belum sempat bertanya lebih jauh tentang itu.


"Ouh iya, bagaimana dengan pelaku penabrakan? Apakah sudah tertangkap?"


Secara bersamaan Jeano dan Zero menggaguk pelan, "sudah."


"Siapa pelakunya?"


"Sisqia."


"Apa? Yang benar saja?"


"Ya, memang benar dia pelakunya." Kata Jeano yang membenarkan ucapannya.


"Bagaimana bisa?"


"Bisa, karena dia adalah wanita gila." Tidak lupa Zero ikut menimpali perkataan tersebut.


"Maksudnya?"


Dengan segera Jeano menceritakan semua hal yang terjadi, serta pelaku dibalik kecelakaan tersebut. Sampai pada akhirnya Sisqia yang sudah dijatuhkan hukuman penjara sesuai dengan apa yang diperbuatnya.


Sedangkan Zeana tidak mampu berkata apapun lagi, dia masih tidak menyangka dengan kebenaran tersebut. Apakah sebegitu iri dan benci Sisqia kepadanya? Padahal Zeana sudah tidak mendekati Nico, bahkan tidak mengganggu hidup Sisqia sedikitpun.


Lalu mengapa Sisqia masih dapat berpikir, jika Zeana penyebab dirinya hancur. Namun Zeana juga merasa kasihan dengan Sisqia yang harus menghabiskan masa mudanya dipenjara.


Semua yang ada didunia ini sudah ditakdirkan sejak kita lahir hingga meninggal.


Jadi tidak ada gunanya untuk merasa iri dan juga dendam pada orang lain. Setiap manusia punya jalan kehidupannya masing-masing. Termasuk Zeana dan Sisqia sekalipun. Semua itu tergantung cara kita menjalaninya, ikut jalan benar atau salah.


"Bisakah, antar aku menemui Sisqia?"


***


Seperti keinginan Zeana yang ingin mengunjungi Sisqia, kini Zeana sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi ditemani oleh Jeano.


Butuh beberapa hari untuk bisa melaksanakan keinginan tersebut karena kondisi Zeana yang mengharuskan pulih secara total terlebih dahulu.


Dalam perjalanan kali ini keduanya tanpak terdiam. Zeana dengan pikiran yang sedang berusaha menyusun kata-kata apa saja yang hendak dia katakan pada Sisqia nantinya. Sedangkan Jeano yang memilih fokus menyetir dengan baik.


Tidak berselang lama, kini keduanya sudah sampai. Dengan segera Zeana berjalan bersama Jeano masuk kedalam kantor polisi tersebut.


"Kamu yakin ingin melakukan ini?" Tanya Jeano sebelum benar-bener masuk.


Sedangkan Zeana yang ditanya seperti itu langsung saja mengganguk pelan. "Ya, aku yakin." Jawab Zeana dengan sungguh-sungguh.


Begitu tiba, langsung saja Jeano mengatakan tujuan mereka datang. Setelah mengikuti prosedur yang ada, baru keduanya boleh menemui Sisqia.


Terlihat Sisqia yang memakai baju khas tahanan, kini mulai berjalan mendekati keduanya.


Zeana melihat kearah Jeano, "boleh aku bicara hanya berdua dengannya?" Pintanya pada Jeano, dengan sedikit ragu Jeano mengizinkan hal itu.


"Aku akan ditunggu diluar."


Kini hanya ada Zeana dan Sisqia yang duduk berhadapan. Keduanya hanya terhalang oleh meja, serta pembatas kaca yang ada didepannya.


Entah hanya perasaan Zeana, atau tidak. Tapi dapat Zeana lihat, jika sekarang raut wajah Sisqia begitu sedih dan rasa bersalah tertera jelas di wajahnya.


Memilih untuk mengabaikan hal itu, Zeana lebih memilih untuk menyapa terlebih dahulu.


"Hai." Sapa Zeana dengan lambaian tangan, tidak lupa senyum tulus yang menghiasi wajahnya.


"Hai Zeana."


"Bagaimana kabarmu?"


"Buruk." Lirih Sisqia yang masih dapat didengar oleh Zeana. "Tapi tidak apa, setidaknya aku tidak akan berbuat jahat lagi jika berada disini." Lanjut Sisqia yang kini terlihat senyum miris.


Zeana yang melihat itu menjadi ikut sedih, namun Zeana juga tidak bisa melakulan hal lebih.


Sebelum Zeana ingin kembali bersuara, terlebih dahulu perkataan Sisqia menyelanya.


"Maaf Zeana. Maaf karena sudah jahat padamu dari awal, maaf karena telah membuat mu mengalami kecelakaan. Maaf atas semua kesalahan yang pernah aku buat padamu, tolong maafkan aku."


Terlihat kedua mata Sisqia mulai mengeluarkan air mata yang begitu deras, dia merasa malu dan juga terharu secara bersamaan.


Malu karena sudah begitu jahat pada orang yang jelas-jelas tidak salah. Juga terharu karena Zeana merupakan orang pertama yang menumuinya, setelah resmi menjadi tahanan.


Ada sedikit bahagia ketika melihat Zeana yang tidak ikut mencaci dan memarahinya seperti orang lain.


Malah dengan wajah senang Zeana menemuinya, tanpa ada wajah yang mengejeknya.


"Aku sudah memaafkan mu dan Aku tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa memberi dukungan padamu untung dapat menerima ini semua karena bagaimanapun ini adalah hasil dari perbuatanmu.


Maaf, jika aku yang membuat rasa iri dalam hati mu muncul. Serta maaf juga, jika dulu aku berbuat jahat padamu."


Ya, Zeana menyadari jika berbuatan yang Zeana asli lakukan juga tidak benar dengan membully Sisqia. Ini bukan siapa yang salah dan benar, dari setiap sudut pandang pasti akan berbeda.


"Terimakasih Zeana."


"Sama-sama."


Suasana haru tersebut harus terganggu karena kedatangan Jeano, yang memberi tahu jika waktu kunjungan sudah habis. Sehingga, mau tidak mau Zeana harus segera pergi.


"Aku pamit ya. Jika ada waktu, aku akan berkunjung kesini lagi."


Sisqia hanya bisa mengangguk dengan semangat, dia tidak sabar untuk itu. Namun dia juga cukup tau diri untuk tidak meminta Zeana menepati perkataannya.


Setelah mengatakan kata itu, Zeana segera pergi keluar dari sana bersama Jeano. Keduanya akan kembali pulang kerumah dan membahas tentang keberangkatan study Jeano menuju luar Negeri.


***


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Jeano dan Zeana sudah sampai dikediam Xiallen. Dengan segera keduanya masuk kedalam, sudah dapat dilihat jika kedua orang tua Jeano dan Zeana ada disana. Tidak lupa Zero dan teman-teman yang lainnya juga ikut hadir disana.


Sebelumnya Jeano sudah meminta semua orang itu untuk berkumpul dirumahnya, untuk merayakan kesembuhan Zeana serta ada hal lain yang ingin dikatakan.


"Sudah pulang? Apakah semuanya lancar?" Tanya Muara begitu melihat Jeano dan Zero yang ikut bergabung ruang tamu.


Dimana ruang tamu tersebut sudah diisi berbagai macam makanan dan minuman untuk menemani mereka mengobrol nantinya.


"Lancar."


Jeano dan Zeana pun mendudukan tubuh mereka disalah satu kursi.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan Jeano? Sampai mengumpulan kita semua disini?"


"Ini hal yang sangat penting."


"Apa?" Secara tidak sengaja semua orang kecuali Zeana menyuarakan suaranya.


"Aku akan kuliah di London."


"Hah?"


Untuk kedua kalianya semua orang kembali tercegang dengan apa yang dikatakan oleh Jeano. Mereka semua mendapatkan kejutan mendadak dari Jeano.


"Sebelumnya aku sudah mendaftar dan diterima di salah satu kampus disana. Jadi aku memutuskan untuk mengambilnya." Lanjut Jeano yang menjelaskan tentang perkataannya.


"Kenapa baru bilang sekarang?" Tanya Maura dengan wajah kesal.


Maura merasa tidak dianggap orang tua karena tidak ikut dibawa dalam memutuskan rencana Jeano menempuh pendidikan.


"Hanya menunggu waktu saja."


"Ihss....dasar Anak ini."


"Aku bolehkan Yah, Bun?" Tanya Jeano meminta izin kedua orang tuanya karena ini sebenarnya tujuan utama Jeano, yaitu meminta persetujuan keduanya.


"Ya, itu sih terserah kamu. Kami berdua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, lagian nanti kamu sendiri yang akan menjalaninya." Kata Reno penuh bijaksana.


Dari dulu Reno tidak pernah menolan keinginam Jeano, selagi itu hal baik Reno selalu mengabulkannya.


Perkataan dari Reno dapat membuat Jeano merasa lega, lengkap sudah semua urusan yang bersangkutan untuknya dapat pergi.


Malah kini pandangan semua orang mengarah ke Zeana, yang dimana dari awal datang Zeana tidak mengatakan hal apapun.


Mereka semua paham, jika Zeana adalah orang yang paling sedih atas kepergian Jeano nantinya.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.