Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 84



..."Saya bukan orang yang sempurna. Saya membuat banyak kesalahan. Tetapi saya sangat menghargai orang-orang yang tinggal bersama saya setelah mengetahui siapa saya sebenarnya."...


..._IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


84. Pertengkaran Jeano dan Zeana


Jeano yang baru selesai mengerjakan ujian praktik dan hendak pulang tiba-tiba terhenti ketika karena merasa getaran di ponselnya.


Ketika melihat ternyata ada sebuah pesan dari nomor asing yang masuk dan karena penarasan Jeanon mulai membukanya.


Dan taraaa


Pesan tersebut berisi foto Zeana dan juga Nico yang sedang berpelukan. Serta ada beberapa foto lain yang menunjukan, jika keduanya sedang berada disuatu tempat makan.


Jeano tau kejadian tersebut pasti terjadi beberapa waktu yang lalu karena Jeano tau bahwa hari ini Zeana memakai sweeter abu-abu untuk berangkat kesekolah.


Dan sepertinya hal ini terjadi setelah pulang sekolah, tapi yang Jeano pikirkan kenapa bisa Zeana dan Nico bersama? Apakah hanya suatu kebetulan atau memang sudah direncanakan?


Semua pikiran buruk mulai bersarang dalam pikiran Jeano sekarang, serta rasa marah pun mulai keluar dalam dirinya.


Tanpa banyak kata Jeano segera pergi menuju rumah Zeana untuk memastikan hal ini, benar atau tidaknya. Dan jika benar, Jeano ingin tau apa alasan Zeana bisa bersama dengan Nico.


Jeano terus melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya bisa sampai di rumah Zeana.


Dan pas sekali, begitu Jeano datang dapat dilihat jika Zeana turun dari sebuah mobil asing yang Jeano yakini adalah mobil Nico.


Begitu memasuki gerbang Zeana langsung tersentak, dengan tatapan tajam serta dingin secara bersamaan yang Jeano berikan padanya.


Zeana sudah menduga hal ini pasti akan terjadi dan Zeana harus berani menghadapai amarah Jeano untuk saat ini.


"Dari mana? Dengan siapa?"


Secara langsung tanpa basa-basi Jeano langsung menanyakan pada intinya, hal yang membuatnya marah dan juga penasaran secara bersamaan.


"Dari kafe, bersama Nico." Jawan Zeana dengan jujur tanpa mau menutupi hal apapun dari Jeano.


Mendengar jawaban dari Zeana membuat Jeano tambah marah, juga merasa lega karena Zeana mau mengatakan dengan sejujur-jujurnya.


"Kenapa bisa? Kamu tau kan, kalo aku udah bilang untuk jauhi Nico! Kenapa sekarang malah jalan bareng? Kamu suka lagi sama dia? Iya?"


Dengan secara beruntun Jeano bertanya, tidak lupa dengan intonasi suata yang tanpa sadar sudah menaik sedikit membentak pada Zeana.


"Gak gitu, dengerin dulu." Kata Zeana yang mencoba untuk meredam emosi Jeano, namun sepertinya tidak bisa karena Jeano sudah terlanjur emosi sekarang.


"Dengerin apa? Dengerin cerita kamu yang habis pelukan sama dia?"


Sontok pertanyaan dari Jeano membuat Zeana kaget. Darimana Jeano tahu hal itu? Pasti ada orang yang diam-diam mengadukan hal itu pada Jeano dan lagi pula pelukan itu bukan yang seperti Jeano pikirkan sekarang.


Zeana tidak dapat menjawab pertanyaan Jeano secara langsung karena memang hal itu begitu panjang untuk diceritakan.


Dan jika dijawab setengah-setangah pasti akan menambah kesalah pahaman yang terjadi.


Sedangkan Jeano yang melihat Zeana terdiam, jadi semakin marah. Jeano pikir, jika sekarang Zeana sedang mencoba untuk mencari alasan untuk dapat menyangkal hal itu.


Ingat, bahwa sekarang pikiran Jeano hanya berisikan hal negatif saja pada Zeana.


"Kenapa tidak jawab? Apakah semuanya benar?"


"Kamu tau darimana?"


"Tidak penting aku tau dimana. Yang jelas sekarang aku tanya, apakah benar kamu dan Nico berpelukan?" Desak Jeano yang belum mendapatkan jawaban dari Zeana sendiri tentang foto itu.


Zeana mengangguk pelan, "ya, tapi aku bisa jelaskan."


"Tidak usah. Bahkan kamu sudah sampai senekad ini bersama Nico."


"Dengar dulu Jeano!" Zeana mencoba untuk menggapai tangan Jeano agar mau ikut denganya dan Zeana akan menjelaskan semuanya.


"Tidak mau." Sentak Jeano sambil menepis tangan Zeana yang hendak mencekal tangannya.


Entah sadar atau tidak, kini Zeana mulai emosi dengan keras kepalanya Jeano. Dia tidak suka dengan Jeano yang kini malah tidak mau mendengarkan terlebih dahulu penjelasannya.


"Kamu kok jadi keras kepala gini sih? Bisa gak dengerin dulu penjelasan aku? Jangan main emosi dulu." Tampak sadar kini Zeana mulai sedikit berteriak pada Jeano.


Jeano terdiam setelah mendengar perkataan Zeana, untuk kali ini Jeano baru melihat Zeana yang kembali seperti dulu. Dimana suka berkata dengan nada tinggi dan kini berteriak kepadanya.


Zeana yang mendengar teriakan Jeano jadi sedikit takut dan juga tersentak kaget. Baru kali ini Zeana melihat Jeano semarah ini. Zeana pikir dirinya mampu menyelesaikan masalahnya dengan Jeano secara mudah.


Dirinya merasa bersalah juga karena ikut terbawa emosi tadi. Seharusnya dia bisa terus bersabar untuk menghadapi Jeano yang sekarang karena memang kesalahan terletak padanya dari awal.


"Oke. Aku minta maaf karena udah gak dengerin apa yang kamu bilang, tapi aku bisa jelasin hal itu. Dan mohon kamu dengerin dulu apa yang mau aku katakan Jeano!" Pinta Zeana yang kini dirinya mencoba untuk tidak ikut emosi.


"Gak usah."


Tolak Jeano yang kini malah hendak pergi meninggalkan Zeana. Sedangakan Zeana yang melihat ikut dengan segera menahan Jeano agar tidak pergi sebelum mendengarkan perkataannya.


"Tunggu Jeano, dengerin dulu!"


Namun nyatanya perkataan Zeana tidak dihiraukan oleh Jeano. Dia kini sudah kembali memasang helmnya dan duduk dimotor bersiap untuk pergi.


Dengan segera Jeano melajukan motornya dengan kencang meninggalkan perkarangan rumah Zeana, serta Zeana yang terus berteriak memanggilnya.


"Jeano!!" Teriak Zeana dengan kencang, namun nyatanya motor Jeano sudah hilang menjauh.


Teriakan tersebut terdengar sampai kedalam rumah, sehingga mengundang perhatian Sarah yang memang sedang berada didalam rumah.


"Ada apa Anna?" Tanya Sarah sambil perjalan dengan pelan kearah Zeana karena sekarang sudah sangat sulit untuknya berjalan dengan cepat.


Sarah berjalan mendekati Zeana dengan mengelus pelan perutnya yang kini sudah membesar.


"Jeano mah." Lirih Zeana yang kini kedua matanya sudah terlihat berkaca-kaca.


"Kenapa dengan Jeano? Dan kenapa kamu jadi sedih seperti ini?"


"Jeano salah paham pada ku Mah dan aku mencoba untuk menjelaskannya. Tapi dia tidak mau mendengarkan ku dulu dan malah langsung pergi."


"Biarkan saja Jeano pergi dulu, mungkin dia harus meredakan emosinya dulu untuk sekarang." Kata Sarah yang mencoba menenangkan Zeana.


"Tapi Jeano menjalankan motornya dengan sangat kencang Mah, aku khawatir dia kenapa-napa dijalan nanti."


"Kalau begitu kamu coba hubungi Bunda, untuk menanyakan apakah Jeano pulang kerumah dengan selamat atau tidak."


"Baiklah, aku akan tanya Bunda."


"Kita masuk kedalam dulu dan bicarakan hal ini didalam." Ajak Sarah yang langsung dituruti oleh Zeana.


Keduanya masuk kedalam dan Zeana dengan segera menghubungi Maura untuk menanyakan tentang Jeano, juga menceritakan perihal apa yang membaut Jeano marah padanya. Serta Zeana meminta Maura untuk kembali menghubunginya ketika Jeano sudah sampai dirumah nanti.


"Sudah?" Tanya Sarah begitu Zeana selesai berbicara pada Muara melalui sambungan telpon.


"Sudah. Tapi akan kah Jeano mau memaafkam ku Mah?"


"Tentu saja dia akan memaafkan mu nantinya. Sekarang Jeano hanya butuh waktu untuk sendiri dulu, kita tunggu saja kabar dari Bunda Maura nanti."


Zeanapun mengangguk pelan, perasaannya sedikit lega sekarang. Namun masih khawatir dengan keadaan Jeano yang sekarang, serta sedang memikirkan cara untuk bisa menjelaskan semuanya pada Jeano dan Jeano mau mendengarkan penjelasannya juga.


Tidak lama dari itu datanglah Zero yang baru sampai dirumah. Mungkin Zero ada hal lain yang harus diurus terlebih dahulu, sehingga tidak pulang bersama dengan Jeano.


Dan pastinya Zero tidak akan tau permasalahan yang kini terjadi antara Zeana dan juga Jeano.


"Aku pulang." Kata Zero sambil mendekati Zeana dan juga Sarah.


Zero dengan segera mendekati Maura dan duduk disampingnya. Tanyanya mulai mengelus pelan perut buncit Sarah. "Apakah Adik bayi baik?" Tanya Zero sambil terus mengelus pelan perut Sarah.


"Adik bayi baik-baik saja Kakak." Kata Sarah yang suaranya ditirukan seperti anak kecil.


Perkataan dari Sarah mampu membuat Zero tersenyum kecil, dia jadi tidak sabar untuk melihat adiknya lahir dan dapat mendengar suara sesungguhnya dari adiknya nanti.


Kini Zero melihat kearah Zeana yang terlihat tertunduk sibuk dengan ponselnya. Sehingga Zero tidak dapat melihat raut wajah sedih dan juga khawatir Zeana.


"Anna, apakah kamu belum berganti pakaian dari tadi?" Tanya Zero yang kini menarik perhatian Zeana untuk melihat kearahnya.


Dan sekarang dapat Zero lihat raut wajah tersebut dari Zeana, yang tentu saja membuat Zero heran dengan itu.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa Kak." Zeana mulai beranjak dari kursi tersebut. "Aku kekamar dulu Mah, Kak."


Pamit Zeana yang setelah mengatakan itu, dengan segera Zeana meninggalkan Sarah dan juga Zero yang terus menatap heran. Perlahan tubuh Zeana mulai menghilang seiring dengan Zeana yang terus berjalan menaiki tangga.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.