
..."Kedewasaan adalah ketika kamu memiliki kemampuan untuk membalas orang yang berbuat salah padamu. Tapi kamu hanya menarik napas, perjalan pergi dan membiarkan hidup yang membalas perbuatan mereka."...
..._Hugh Jackman...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
89. Berdamai Dengan Keadaan
Benar saja setelah acara makan malan dirumah Jeano, kini Zeana dan juga Jeano sedang ada dalam perjalanan pulang menuju rumah Zeana.
Keduanya akan sama-sama mengatakan kebenaran yang sebenarnya, mungkin nanti yang lebih banyak bicara itu adalah Zeana dan nanti Jeano hanya akan membantu sedikit saja untuk menjakinkan juga.
Kini perjalanan menuju rumah Zeana tidak memerlukan waktu yang lama karena sekarang mereka berdua sudah sampai di rumah Zeana dan segera masuk kedalam.
Begitu masuk, sudah dapat dilihat jika Sarah, Felix dan juga Zero sedang berada diruang tengah. Ketiganya terlihat sedang mengobrolkan sesuatu. Dengan segera Zeana dan Jeanopun menghampiri ketinganya.
"Aku pulang." Sapa Zeana terlebig dahulu, yang tentunya disambut baik.
"Daddy kira akan menginap?"
"Tidak Dad, kasian Jeano masih harus fokus pada ujiannya. Jika aku menginap, takut menggangguk konsentrasinya. Lagian ada hal penting yang ingin aku katakan pada Daddy dan Kak Zero."
"Hal penting apa?" Zero yang tadinya fokus pada game diponselnya, kini menatap Zeana dengan bingung.
"Hal penting yang mungkin saja akan membuat kalian berdua terkejut dan aku harap kalian dapat mempercayai apa yang hendak aku katakan."
"Ada apa Sayang? Katakan saja." Desak Felix yang ikut menasaran dengan apa yang hendak Zeana katakan.
Kini Zeana mulai menatap Sarah, seolah meminta izin untuk mengatakan semuanya. Dan Sarah yang mengetahui tatapan dari Zeana hanya mengangguk pelan. Dia setuju apapun yang hendak Zeana katakan sekarang.
"Hal yang ingin aku katakan adalah aku buka Zeana, tapi aku adalah Riana."
"Apa?" Teriak Felix dan Zero secara bersamaan. Mereka berdua dibuat tak kalah terkejut dengan apa yang dikatana oleh Zeana.
"Becanda mu tidak lucu Anna." Kata Zeeo disertai kekehan.
"Anna tidak bercanda Zer, Anna mengatakan yang sebenarnya." Bela Jeano yang memang sudah berjanji untuk membantu Zeana.
"Benarkah? Tapi bagaimana bisa? Itu hanya hal konyol yang sedang kalian mainkan bukan?" Tanya Felix yang juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zeana.
"Tidak, tolong percaya pada Anna sekarang." Bela Jeano.
"Iya, Dad Kak. Tolong percaya pada semua perkataan yang hendak aku katakan." Kata Zeana dengan serius, kali ini dia akan kembali berkata seriud sehingga dapat membuat Felix dan Zero percaya padanya.
Melihat Zeana dan Jeano yang begitu serius serta kekeh untuk percaya membuat Felix dan Zero menyetujui apa yang hendak Zeana katakan.
"Baiklah, katakan."
Dengan segera Zeana menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi, serta tidak lupa Jeano yang sesekali membantu dirinya untuk dapat membuat percaya dengan apa yang dikatakan.
Tidak lupa Sarah yang merasa hal ini ada sangkut pautnya dengan dirinya, jadi ikut membantu menjelaskan juga. Dirinya tidak mau ada kesalah pahaman nantinya.
"Kenapa tidak bilang dari awal?" Tanya Felix dengan nada dingin, tentu saja Zeana dan Sarah yang mendengarnya jadi merasa sedikit takut.
"K-karena aku menunggu waktu yang tepat. Dan aku tau tidak akan mudah untuk mengatakan semua ini pada kalian, serta pasti kalian tidak akan percaya pada yang hendak aku katakan." Jelas Zeana yang membela dirinya, meskipun sedikit gugup tapi Zeana harus mampu menjelaskan semuanya dengan rinci.
"Tapi harusnya kalian berusaha untuk menjelaskan." Kini Zero yang bersuara, nada bicaranya tidak jauh berbeda dari Felix.
"Sudah. Apa kalian tidak sadar dengan berubahan sikap dan kebiasaan yang sengaja aku tampilkan agar kalian sadar, jika aku bukan Zeana. Aku bahkan sudah sering bilang, jika bagaimana kalau aku bukan Zeana yang sesungguhnya, tapi kalian tetap tidak percaya itu dan malah menganggap itu hanya lelucon saja.
Sudah banyak cara yang aku coba untuk itu, tapi nyatanya tidak sedikitpun kalian percayai. Serta aku juga tidak ingin memaksakan hal itu karena takut menbuat kalian sedih. Aku tahu, sikap Zeana yang dulu sudah membuat kalian sedih dan juga merasa bersalah secra bersamaa.
Aku tidak mau hal itu terjadi lagi, apalagi Zeana sudah berpesan seperti itu padaku. Oleh karean itu sampai saat ini aku masih tidak menceritakan yang sebenarnya, tapi untuk sekarang aku tidak mau egois dengan terus berbohong pada kalian berdua.
Aku juga tidak mau ada dalam tubuh ini dan menjalani kehidupan yang seperti ini." Lirih Zeana diakhir perkataannya.
Kini Zeana merasa sedih dan menangis kencang dalam pelukan Sarah. Dirinya lelah harus menjalani hidup yang begitu rumit, serta tidak dia inginkan sekalipun. Dirinya tidak pernah mau menjadi Zeana atau bahkam menjadi diri orang lain.
Melihat Zeana yang menangis kencang membuat Felix dan Zero sadar, jika mereka salah dengan terus menekan Zeana dengan apa yang terjadi.
Ini semua bukan kemauan Zeana ataupun Riana sekalipun. Semuanya terjadi begitu saja dan begitu tiba-tiba.
"Sudah, tidak perlu menangis." Bisik Sarah pelan mencoba untuk menenangkan Zeana, sambil terus mengusap punggung Zeana yang bergetar.
Namun bukannya berhenti, tangisan Zeana malah semakin kencang dan begitu memilukan. Tentu saja hal itu membuatt Felix, Jaeno dan juga Zero yang mendengarkan menjadi ikut kasihan.
Kini Felix mulai mendekati Zeana dan membawa tubuh Zeana kedalam pelukannya. "Maafkan Daddy yang terlalu memaksamu, sudah jangan menangis lagi." Ucapa Felix yang mengelus pungguh Zeana, juga sesekali mengecup puncak kepala Zeana.
"M-maafkan aku juga Dad, aku tidak berniat membohongi kalian." Kata Zeana yang sedikit sesegukan menahan tangis.
"Iya, kita akan saling memaafkan."
"Apakah sekarang aku akan diusir dari sini?"
"Tenti saja tidak. Apapun yang terjadi dan kebenaran apapun itu, kamu tetap Anna anak Daddy. Tidak akan ada yang mengusirmu dari sini, kini maupun nanti. Lagian ini sudah terjadi dan tidak dapat diubah lagi. Alangkah baiknya jika kini, kita mencoba menerima dan mejalani saja. Benar bukan?"
Perkataan Felix disetujui oleh semuanya karena bagaimaanpun juga tidak ada hal yang dapat mengubahnya sekarang.
Kini terlihat Zero yang menghampiri Zeana dan berjongkok tepat didepannya. Kedua tangan Zero secara perlahan mengusap kedua pipi Zeana yang terdapat air mata yang belum mengering
"Maafkan Kakak juga, kini kita semua tetap bisa menjadi keluarga. Baik itu, Zeana maupun Riana. Kalian sama-sama orang yang kita sayangi." Kata Zero yang membuat Zeana tambah merasa terharu dengan respon tersebut. Orang-orang yang dia takuti akan marah malah menjadi semakin sayang kepadanya setelah mengetahui sebenarnya.
Memang kita terkadang terlalu khawatir memikirkan respon orang lain kepada kita, sehingga kita tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Terkadang tekanan dari pikiran mengalahkan niat dari hati kita.
Sedangkan Sarah dan juga Jeano yang melihat itu, jadi ikut terharu juga. Mereka ikut senang dengan keberadaan Zeana yang diterima apapun kondisinya.
Akhinya mereka semua memilih untuk tidak mempermasalahkan siapa Zeana yang sebenarnya. Mereka semua akan melupakan jika kebenarannya Zeana bukanlah orang yang sama.
Berdamai dengan keadaan lebih baik, dari pada terus menanyakan siapa yang benar atau salah. Lebih baik dari pada terus bertanya bagaimana bisa hal itu terjadi.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.