Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 42



..."Hidup ini kadang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Karena pengemudi hidup kita sejatinya buka kita sendiri....


...Tidak mengapa. Sepanjang kita tetap jujur, bekerja keras dan selalu kongkret, InsyaAllah jalannya kembali lancar."...


..._Tere Liye...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


42. Pertemuan Tidak Terduga


Pagi kini sudah berganti menjadi sore, namun sore juga secara perlahan mulai tergantikam dengan malam.


Disebuah mini market, secara tidak sengaja Zero dan Mora kembali bertemu. Mora yang seperti biasa akan membeli coklat kesukaannya dan Zero yang memang ada sesuatu yang hendak dibelinya dimini market tersebut.


Seperti yang diharapkan, Zero dapat pulang kerja tepat pada waktunya. Tanpa membuat waktu lagi, Zero dengan segera meninggalkan perusahaan dan pulang menuju rumah.


Namun ketika dalam perjalanan, Zero malah mempunyai suatu rencana yang mungkin tidak yakin akan dirinya lakukan. Dan untuk melakukan hal itu, Zero harus membeli dulu sesuatu yang dapat melancarkan rencananya itu.


Zero hampir terlebih dahulu kesebuah mini market yang berada dijalan menuju pulang, mulai turun dan memasuki mini market tersebut.


Masih dengan pakaian jas yang lengkap, namun kini dasi yang berada di lehernya sudah tidak ada. Mulai masuk dan memilih barang yang dia perlukan, tanpa menghiraukan tatapan orang lain yang kini perpusat pada dirinya.


Bagaimana tidak? Zero terlihat begitu tampak dengan setelan formal seperti itu, ditambah dengan tatanan rambut Zero yang kini sedikit berantakan.


Sedangkan Zero yang sudah biasa, hanya terus mengabaikannya dan memelih fokus mencari barang yang dicarinya.


Terlebih dahulu Zero menuju lemari pemdingin, dimana begitu banyak sekali jenis minuman disana. Tanpa ragu dan berpikir panjang, Zero mengambil, serta memilih semua minuman yang memiliki rasa Taro.


Langsung menasukannya pada keranjang yang dia bawa, setelah itu mulai berjalan menuju tempat lain. Yaitu, jajaran cookies yang juga perjajar rapi dengan banyak bentuk dan juga rasa.


Tanpa pikir juga, Zero kembali mengambil cookies dengan rasa coklat dan juga keju. Setelah dirasa cukup, Zero hendak pergi menbayar. Namun sebelum itu, dia malah berpapasan dengan Mora yang hendak mengambil cookies juga.


"Eh?"


Sontak Zero maupun Mora terdiam sejenak, dan saling pandang satu sama lainnya.


"Kak Zero?"


"Kau?"


Secara bersamaan Mora dan Zero berkata, serta saling menunjuk satu sama lainnya.


"Kak Zero disini juga? Beli apa?"


"Hanya ini," kata Zero yang memperlihatkan semua barang yang dibelinya pada Mora.


Dan Mora melihat kedalam keranjang tersebut yang terisi begitu banyak minuman dan juga cookies. "Banyak sekali, apakah Kakak menyukai semuanya?"


"Tidak." dengan segera Zero menjawab pertanyaan Mora. "Aku tidak suka manis," lanjut Zero yang menatap lurua kearah kedua mata Mora yang indah.


Mora terlihat mengerutkan dahinya, "lalu kenapa membelinya?"


"Hanya ingin."


Seketika Mora tidak ingin bertanya lagi, dirinya tidak mau terlalu mencampuri urasan Zero. Mora hanya mengangguk singakat, seolah paham dengan perkataan Zero.


Sedangkan Zero, merasa tidak suka melihat Mora yang tidak bertanya lagi. Yang Zero inginkan adalah Mora yang banyak bertanya, sehingga banyak berbicara juga dengannya.


"Kamu tidak bertanya untuk siapa?" Secara tiba-tiba Zero kembali bertanya pada Mora, yang membuat Mora jadi bingunh sendiri.


Dirinya sudah mencoba menbatasi dengan tidak bertanya banyak pada Zero, namun sekarang kesannya Zero ingin dia bertanya bangak padanya.


"Ah-ya, untuk siapa semua itu?"


"Seseorang." Zero kembali menjawab dengan singkat pertanyaan dari Mora, yang membuat Mora kembali merasa tidak ingin bertanya lagi.


Entah siapa yang salah?


Keduanya sama-sama kembali terdiam setelah itu, mereka berdua bingung. Mora yang memang bingung harus menanyakan apa lagi, sedangkan Zero yang bingung melihat Mora yang tidak bertanya lagi.


Dengan sedikit terburu, Mora mengambil salah satu cookies kesukaannya. "Sepertinya aku sudah selesai, aku duluan ya Kak." Setelah mengatakan itu, Mora berjalan menuju kasir yang kebetulan kosong dan langsung membayar pelanjaannya.


Sedangkan Zero yang sadar dengan bahwa Mora sengaja terburu-buru pergi, kini mulai ikut menuju kasir juga dikarekan diringa juga merasa sudah selesai dengan urusannya.


Namun begitu sampai dikasir, Mora sudah selesai menbayar dan hendak pergi. "Aku duluan Kak," kata Mora yang langsung berlari keluar dan masuk kedalam mobilnya.


Lagi dan lagi, Zero tidak sempat menjawab perkataan Mora dan mengobrol banyak dengannya.


"Segini aja Kak?"


Suara dari penjaga kasir tersebut, dapat mengalihkan pandangan Zero yang terus menatap kepergian Mora. Kini Zero mulai menatap kearah penjag kasir tersebut dan mengangguk pelan.


"Mau coklat nya sekalian Kak? Mumpung ada diskonan beli 2 gratis 1." Seperti biasa para penjaga kasir akan selalu menawarkan barang yang sedang promo pada setiap pengunjung, namun Zero termasuk orang yang tidak tertarik akan hal itu.


Zero belike: gue kaya, ngapain nyari yang diskonan-_-


"Tidak."


Mendapatkan penolakan dengan nada dingin dan juga tatapam datar dari Zero, membuat penjaga kasir itu dengan segera menghitung semua barang belajaan Zero tanpa bertanya lagi.


Cukup lama Zero terdiam menunggu semuanya selesai dihitung karena minuman dan juga makanan yang dia beli cukup banyak juga.


"Totalnya 254.300 rupiah, mau debit atau cas?"


"Cas," dengan segera Zero mengeluarakan 3 lembar uang merah dan menyerahkannya pada penjaga kasir tersebut.


"Ini uang kembaliannya Kak, semoga bisa kembali berbelanja disini."


Tidak ada jawaban apapun dari Zero, dia lebih memilih langsung membawa barang belanjaannnya dan pergi dari sana.


"Dih ganteng doang, tapi sombongnya minta ampun." Cibir penjaga kasir tersebut setelah Zero berlalu keluar.


Sedangkan Zero langsung melanjutkan perjalanan pulangnya, dengan masih memikirkan Mora tentunya.


***


Zero dan Felix datang kerumah bertepatan dengan jam makan malam, yang secara otomatia mereka akan melakukan makan malam bersama seperti biasanya.


Dan begitu makan malam selesai, mereka semua akan kembali beristirahat menuju kamar masing-masing. Sama halnya dengan Zeana.


Baru saja dirinya hendak kekamar mandi untuk sekedar sikat gigi, Zeana malah mendapatkan pintu kamarnya yang diketuk.


Tok tok tok


Ceklek


Begitu pintu dibuka, Zeana dapat melihat Zero yang datang sambil membawa sebuah kantong plastik yang entah apa isinya.


"Loh Kakak? Sedang apa?"


"Kamu tidak mengizinkan Kakak masuk?"


"Ah-ya, silahkan masuk."


Setelah mendapatkan izin, Zero pun melangkah masuk kedalam kamar Zeana dan duduk disofa yang ada didalam kamar tersebut.


Melihat Zero yang tampaknya akan membicarakan sesuatu, dengan segera Zeana menutup pintu kamarnya kembalu dan ikut bergabung duduk bersama Zero.


"Ada apa Kak?"


"Sebenarnya ada yang ingin Kakak tanyakan?"


"Apa itu?"


"Hmm...itu-itu...hm.."


"Bicara yang jelas Kak!" Zeana malah jadi kesal dengan Zero yang tidak langung menjawab pertanyaannya dan malah terkesan gugup.


"Kamu punya nomer Mora?"


"Apa?"


Tentu saja Zeana langsung terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Zero, dirinya tidak menyangka Zero akan pertanya hal seperti ini.


Raut wajah Zeana yang awalnya terkejut, malah kini berubah menjadi tersenyum jahil. Tentu saja Zero menyadari hal itu, "ah-tidak lupakan. Sebenarnya, bukan itu yang akan Kakak tanyakan."


Mendengar itu, malah membuat Zeana semakin ingin mengoda Zero dan bertanya lebih tengang Mora.


"Yang benar Kak? Aku punya loh nomer handpone Mora, yakin gak mau?"


"Tidak. Sudah Kakak bilang, bukan hal itu yang Kakak tanyakan."


"Ouh ya, lalu apa?"


"I-itu..apa ya?"


"Tuhkan, bingung sendiri. Udahlah, jangan terlalu gengsi Kak! Nanti Mora kemburu diembat orang lain loh." kata Zeana yang mencoba menakut-nakuti Zero.


Dan nyatanya dalam lubuk hari Zero yang paling dalam, ada rasa tidak suka ketika membayangkan perkataan Zeana.


Zero pun hanya bisa pasrah karena sudah terlanjut juga, menarik napas pelan. "Baiklah, memang itu yang hendak Kakak tanyakan."


"Katanya gak suka Mora."


"Loh, kapan ngomong gitu?"


"Waktu pagi sih?"


Seketika Zero kembali teringat dengan perkataannya tadi pagi sebelum berangkat kerja. "Ouh ya itu, Kakak kan hanya menjawabnya mungkin. Bisa jadi mungkin suka dan juga mungkin saja tidak."


"Jadi, Kakak suka Mora?"


"Mungkin."


"Tuhkan..gitu lagi jawabnya, yang bener dong Kak!"


"Kakak gak tau harus jawab apa, Kakak juga belum bisa mastiian beneran suka sama Mora atau engak. Kamu tau sendiri kan? Bahwa Kakak kayak gini pertama kalinya, jadi Kakak bingung dengan yang Kakak rasakan sekarang."


Zeana menyetujui perkataan Zero, pasti Zero sendiri bingung dengan perasaanya pada Mora sekarang. "Jadi, sekarang Kakak mencoba untuk mendekatinya?"


"Ya, Kakak mau mencoba untuk itu."


"Baiklah, aku akan menduduk Kakak. Tapi ingat! Jangan pernah menbuat Mora sedih ataupun sakit hati nantinya."


"Kakak tidak bisa janji, namun akan berusaha untuk jaga Mora juga kayak kamu."


"Semoga kalian beneran jodoh ya."


Zero tidak mengatakan apapun, namun dalam hatinya ikut mengamini perkataan Zeana.


"Benaran mau nomernya Mora nih?"


"Iyalah, kan emang itu yang Kakak maksud."


"Tapi, gak gratis loh ini."


Sudah dapat Zero tebak, jika Zeana pasti akan meminta imbalan untuk ini. Sehingga, Zero sudah menyiapkan barang sogokan untuk mendapatkan nomer ponselnya Mora.


Zerk pun memberikan kantong plastik yang dirinya bawa pada Zeana, "semuanya buat kamu."


Dengan segera Zeana membukanya, dan dapat dilihat terdapat banyak sekali minuman dan juga cookies kesukaannya.


"Ah...Kakak baik banget deh, jadi terharu kan."


Zero malah menatap datar pada Zeana, menutunya perkataan Zeana yang sekarang itu sedikit membuatnya kesal. Perkataan Zeana terkesan lebay dan dilebih-lebihkan.


"Sudah...sudah, swkarang mana nomer ponsel Mora?"


"Tidak ada." jawab Zeana dengan santainya, sambil fokus melihat-lihat semua isi pemberian Zero.


Tentu saja hal itu langsung membuat Zero kesal, "hei yang benar saja!!"


Zero dengan segera mengambil kembali kantong plastik itu dari tangan Zeana, "kenapa diambil lagi?"


"Jawab dulu pertanyaan Kakak dengan benar, baru diberikan kembali."


"Baiklah, ini nomer Mora." kata Zeana yang menyerahkan ponselnya, dimana sudah ada nama Mora disana. Dengan segera dirinya mengambil kembali pemberian Zero dari pemiliknya.


Sedangkan Zero melepaskan kantong plastik itu, dan mulai menyalin nomer Mora kedalam ponselnya.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.