
..."Jangan pura-pura bahagia, sedih itu bukan aib, menangis juga bukan dosa. Yang salah adalah saat kamu tertawa disaat sedih."...
..._Kim Jungwoo...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
21. Pengakuan Dosa
"Aku selesai," tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya Zero pergi meninggalkan meja makan dengan wajah dinginnya menuju lantai 2 dimana kamarnya berada.
Sedangkan yang lain hanya menatap punggung Zero yang perlahan menghilang menaiki tangga, dan tak lama semua orang sudah selesai dengan makan malamnya.
"Daddy ingin bicara sebentar, apakah boleh?" Sambil menatap penuh harap pada Zeana, Felix mengutarakan keinginannya.
"Boleh Dad."
"Bagaimana kalau kita mengobrol diruang keluarga?"
"Iya Dad, aku mau."
Sesampainya diruang keluarga semuanya duduk di sopa yang empuk yang mungkin hanya bisa dibeli oleh keluarga sultan saja.
Jeano membantu dengan menggendong Zeana dari kursi rodanya agar bisa duduk disopa bersama, dengan posisi Zeana yang berada ditengah antar Felix dan Jeano.
"Apa yang Daddy ingin bicarakan?"
"Daddy hanya ingin bertanya bagaimana hari pertama mu terapi? Apakah lancar?"
"Terapinya lancar Dad, namun sangat susah dan membuatku sangat kesakitan. Tapi kalian tidak perlu khawatir," Zeana menjeda ucapannya dan menatap Jeano beserta Daddynya dengan penuh keyakinan, seolah berkata dia baik-baik saja. "Dokter Bian kata itu adalah efek karena terapi itu sendiri karena kondisi saraf yang kaku dan dipaksakan berkerja kembali membuat rasa sakit itu muncul, tapi sungguh Dad aku tak apa. Asalkan aku bisa berjalan kembali itu semua tidak apa."
"Baiklah Daddy akan mendukung apapun itu, dan Daddy juga yakin bahwa purti Daddy ini sangat kuat. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan. Perlahan saja, nanti ketika sudah waktunya kamu akan bisa berjalan dengan normal kembali. Intinya semangat selalu untuk penyembuhan mu."
"Terimakasih Daddy telah menyemangati ku, dan aku akan bersungguh dalam terapi supaya cepat sembuh."
"Ouh iya, kamu sudah tau kan bahwa laki-laki tadi adalah Kakakmu?"
Zeana mengangguk pelan, "Iya Dad aku tau, tadi setelah pulang dari terapi aku sudah melihat Kakak."
"Jadi apakah kalian sudah saling bicara?"
Zeana tak langsung menjawab, dia terlihat seperti berpikir tentang apa yang dia ingin katakan.
"Mm...sudah. Aku tadi siang sempat berbicara dengan Kak Zero."
"Kalian berbicara apa saja?" Kini giliran Jeano yang bersuara, dia juga mulai tertarik dengan pembicaraan kali ini.
"Banyak, eh tidak. Aku bingung mau menjawabnya bagaimana?"
"Ceritakan semuanya!" Titah Felix menatap lembut Zeana, "Kamu mau kan?"
Akhirnya mengalirlah cerita dimana tadi siang pembicaraan antara Zeana dan Zero yang sangat menegangkan itu. Zeana dengan wajah sedih menceritakan semua dengan secara keseluruhan tanpa ada yang di kurangi serta ditambah-tambahkan.
"Begitu Dad, apakah aku sejahat itu?"
"Tidak." Secara bersamaan Felix dan Jeano menjawab, mereka secara bersamaan menggelengkan kepala.
"Tapi yang dikatakan oleh Kak Zero benar Dad, bahkan aku juga menanyakan pada Bi Julia. Dahulu aku memang sangat jahat kan? Ayolah tidak perlu menutupi itu, itu hanya akan membuatku semakin merasa bersalah kepada kalian semua." Tak terasa air mata Zeana sudah menbasahi kedua matanya, dia menangis dengan kencang menumpahkan semua rasa bersalahnya.
Meskipun hal itu tidak dilakukan olehnya, namun oleh Zeana yang dulu tetap saja hati Zeana merasa sakit jika terus memikirkan itu.
Dengan sigap Felix membawa tubuh Zeana kedalam pelukannya, dia ikut sedih melihat putrinya yang ceria kini menangis dengan kencang.
Zeana menatap Felix yang masih memeluknya, "M-maksud D-daddy?" Sedikit agak terbata di setiap katanya, karena agak sulit berbicara ketika sedang menangis.
"Pertama Daddy mau minta maaf kepadamu, maaf Daddy bukan orang baik seperti yang kamu kira. Daddy begitu banyak salah padamu juga, kamu tau bahwa Daddy selalu mengabaikanmu dari kecil?
Pasti kamu tau kan bahwa Mommymu meninggal tepat ketika kamu dilahirkan, dan Daddy beserta Kakakmu menyalahkan mu atas perginya. Daddy dan Kakakmu selalu mengabaikanmu dari kecil, tapi kami berdua sangat sayang padamu. Kita hanya tidak tau bagaimana cara menyalurkannya, kehilangan orang yang begitu disayangi sangatlah berat sehingga tanpa sadar mengubah prilaku kita.
Dan Daddy rasa prilakumu waktu dulu adalah karena tidak mendapatkan perhatian dari keluargamu sendiri, sehinga kamu selalu melakukan drama penuh kebohongan untuk menarik perhatian orang lain. Serta tanpa disadari kamu berubah menjadi jahat dan egois, tapi pada kenyataannya kamu tidak begitu. Kamu adalah purti kecil Daddy yang baik dan penurut, sama seperti sekarang."
Felix dengan sejujur-jujurnya membeberkan semua prilakunya maupun Zeana semasa sebelum kecelakaan tiba. Meskipun agak khawatir akan Zeana yang kembali seperti dulu, namun semua kenyataannya perlahan akan diketahui juga kan?
Daripada nanti Zeana mengetahuinya dari orang lain, lebih baik secara langsung Felix menceritakan semuanya, lagian dia juga tidak tega melihat purtinya yang menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi dimasa lalu.
Zeana tidak tau mau merespon seperti apa, karena pada dasarnya Zeana juga baru tahu fakta dari tubuh yang ditempatinya sekarang.
"Kamu mau kan memaafkan Daddy?"
Dengan perlahan Zeana menganggukan kepalanya, "Iya Dad, aku memaafkan mu. Apakah Daddy juga mau memaafkanku?"
"Tentu, jadi sekarang izinkan Daddy untuk menebus semua rasa bersalah Daddy padamu. Meskipun ini terlambat, namun Daddy tidak mau membuang waktu lagi dan terus merasa bersalah padamu."
"Iya, ayo kita hidup dengan bahagia mulai sekarang!"
Felixpun tersenyum dan mengelus kepala Zeana dengan penuh masih sayang, rasanya sangat lega ketika putrinya mau memaafkan atas segala kesalahan dimasa lalunya.
Lalu pandangan Zeana terarah pada Jeano yang dari tadi hanya diam saja mendengarkan pembicaraan Ayah dan Anak itu tanpa mau ikut campur sedikutpun.
"Jeano-"
Jeano yang memang dari tadi memperhatikan Zeana dan Felix berbicara mengangkat salah satu halisnya tanda bertanya.
"Maafkan aku, a-aku sudah jahat padamu." Dengan wajah tertunduk Zeana mengatakan itu, sungguh dia merasa malu karena sudah melakukan Jeano dengan sagat buruk padahal laki-laki itu sangat mencintainya.
"Kamu tidak perlu minta maaf Anna, aku sudah memaafkan mu. Dan kamu hanya perlu berjanji untuk tetap bersama ku apapun yang terjadi serta kapanpun itu. Kamu paham?"
"Aku paham, dan aku barjanji akan selalu bersama mu."
Karena terlampau bahagia Jeano sampai menarik tubuh Zeana untuk dapat masuk kedalam pelukannya, membuat Felix yang melihat itu merasa terkejut dan juga marah.
"Hei hati-hati Bocah tengil, kau dapat membahayakan Anna."
"Diam, Pak Tua."
"Tidak apa-apa Daddy, aku baik-baik saja. Dan kenapa kalian saling memanggil dengan tidak sopan begitu?"
"Karena dia memang seorang Bocah tengil yang tidak tau sopan santun." Ucap Felix membela dirinya sambil menujuk kearah Jeano.
"Dan kau adalah Pak Tua yang suka marah-marah serta selalu melarangku dekat dengan Anna." Jeanopun sama tak mau kalah dari Felix dengan menatap tajam kepadanya.
"Kalian tidak boleh seperti itu-
"Tidak mau." Sebelum Zeana menyelesaikan ucapannya Jeano dan Felix menyela secara bersamaan.
Zeana hanya bisa menghela napas pelan, sudah tidak ada titik terang kalau begitu. Biarlah selagi keduanya bertengkar secara wajah Zeana tidak akan mengahalang-halangi.
Akhirnya mereka bertiga masih terus mengobrol dengan asik dan jangan lupa ditambah dengan perdebatan antara Felix dan Jeano yang tidak ada habisnya.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.
See you Next part.