
..."Berharap pada seseorang adalah kobodohan yang disengaja."...
..._Kim Doyoung...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
๐ฑ
59. Tidak Suka Kucing
Weekend kali ini agar berbeda dengan sebelumnya, karen untuk weekend diminggu ini Jeano dan Zeana memilih untuk menghabiskan waktu berdua.
Selesai dengan sarapan serta pengakuan yang mengejutkan dari Zeana membuat Jeano hendak merayakan kebahagiaan tersebut dengan jalan-jalan romantis, maybe?
Jeano yang selepas itu langsung pulang terlebih dahulu kerumahnya serta akan kembali menjembut Zeana disiang harinya.
Tentu saja Zeana juga merasa bahagia dengan itu, mungkin bisa dibilang ini acara ngedate Jeano dan Zeana untuk pertama kali.
Setelah kepergian Jeano, Zeanapun lekas bersiap-siap. Dan sebenarnya acara jalan-jalan kali ini tidak begitu mewah, hanya sekedar mencoba untuk mengukir memori yang dapat mereka ingat sampai nantinya.
Kini Zeana sudah siap dengan celana catoon panjang serta hoodie yang sangat cocok ditubuhnya, tidak lupa sepatu kest dan tas selempang yang melengkapi outfit untuk hari ini.
Merasa semua penampilannya sudah siap, lekas Zeana turun kelantai bawah dan akan menunggu Jeano diruang tamu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Zero yang kebetulan berpapasan dengan Zeana yang baru keluar dari kamar.
"Aku mau jalan-jalan bersama Jeano."
"Kemana?"
Zeana menggeleng pelan, "tidak tahu." Memang Zeana maupun Jeano belum menentukan kemana mereka akan menuju, tadi Jeano hanya bilang jika mereka akan pergi jalan-jalan nanti siang.
"Kenapa begitu?"
"Ya, karena kita memang belum menentukan mau kemananya."
Zero hanya menghela napas pelan, melihat kepolosan Zeana yang mau diajak pergi namun tidak tahu tempat yang akan dituju.
"Sudah izin Daddy?"
"Hmmm...belum."
"Minta izin Daddy dulu, baru boleh pergi."
"Oke."
Zeanaย berlari-lari kecil untuk segera mencari keberadaan Felix, yang mungkin tidak akan jauh dari kamar atau ruang kerja yang ada dirumah itu.
Sedangkan Zero yang melihat tingkah antusias dari Zeana hanya bisa tersenyum pelan, dia tidak akan mempermasalahkan hal ini karena dia percaya bahwa Jeano tidak akan membawa Zeana ketempat yang aneh dan berbahaya.
***
Tepat siang harinya Jeano dan juga Zeana sudah mulai berjalan menyelusuri tempat-tempat yang sekiranya menarik perhatian untuk mereka kunjungi.
Akhirnya sebuah tempat perbelanjaan menjadi tujuan mereka, karena pasangan yang satu ini ingin memulai memiliki hal-hal yang menyangkut pasangan pada umumnya.
Mereka berdua mulai menyelusuri satu persatu lantai yang berada di mall, mulai dari sebuah toko pakaian, sepatu dan tempat lainnya.
Hingga tujuan akhir mereka adalah sebuah tempat makan, semua berjalan sangat lancar. Mereka berdua seperti saling mengenal kembali diri masing-masing.
"Bolehkah kita ke Danau Biru Asri dulu?"
"Kamu ingin kesana?"
"Iya."
"Sepertinya kamu sangat menyukai Danau itu?"
"Tentu saja, Danau itu jadi tempat favorite ku sekarang."
"Baiklah, ayo kesana!" Jeano mulai melajukan mobilna menuju Danau biru sebelum benar-benar pulang kerumah.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir tidak jauh dari Danau. Seperti biasa mereka duduk ditempat yang menjadi favorite, disebuah bangku yang tidak jauh dari sebuah pohon rindang.
Ketika sampai dapat mereka lihat banyak orang yang juga sama berkunjung ke Danau itu, mungkin karena sekarang adalah weekend.
"Banyak sekali orang yang berkunjung."
"Ya, mungkin karena hari ini weekend."
Mereka berdua mulai menikmati pemandangan yang senantiasa selalu diperlihatkan Danau itu, namun saat sedang asik menikmati hal itu tiba-tiba ada seekor kucing yang mendekat kearah mereka berdua.
Meong
Seketika Jeano yang mendengar suara itu tubuhnya langsung menegang, dan melihat dengan ragu kearah kucing itu.
Meong
Kucing tersebut malah semakin mendekat dan menggesekkan tubuhnya pada kaki Jeano, yang sontak saja Jeano langsung berteriak dan memegang tangan Zeana erat.
"Aaaaa...pergi!"
Zeana yang mendengar Jeano berteriak sontak ikut panik juga, "Ada apa Jeano?"
"Itu...."
Jeano menunjuk kucing yang berada di kakinya, Zeana menatap tidak mengerti dengan itu.
"Kucing? Kenapa dengan kucing?"
"Itu...itu..."
Zeana semakin dibuat bingung dengam tingkae laku Jeano, "Kenapa?"
"Aku tak-, eh maksud ku geli dengan kucing itu."
Seketika Zeana langsung ingat bahwa Maura pernah bilang jika Jeano takut pada kucing. "Kamu takut dengan kucing?"
"Tidak. Aku hanya geli saja." Bantah Jeano yang membuat Zeana terkekeh menahan tawa melihat wajah takut Jeano.
"Baiklah..baiklah, tidak takut. Tapi kenapa kamu begitu menghindar dari kucing?"
"Sebelum itu, bisakah kamu menyingkirkan dulu kucing ini dari kakiku."
Dengan sigap Zeana langsung mengambil kucing tersebut dan membawanya kedalam pangkuannya serta mengelus pelan bulu lebat kucing itu. Jeano yang melihat itu menjadi merinding seketika, tidak dapat dibayangkan bagaimana gelinya ketika bulu itu bersentuhan dengan kulitnya.
"Jadi waktu itu..."
Flashback On
Alasannya karena disuatu pagi Jeano yang masih berusia 7 tahun seperti biasa akan selalu menemui Zeana disetiap pagi, namun untuk beberapa hari ini tidak bisa dikarenakan Jeano kecil baru saja masuk kesekolah dasar.
Dimana disetiap pagi harinya harus pergi kesekolah, dan baru ketika weekend Jeano dapat pergi kerumah Zeana pada pagi harinya.
Tenang saja, Jeano kini sudah tidak dilarang lagi masuk kedalam rumah Zeana oleh Felix. Dikarenakan semua tingkah tengil Jeano yang membuat Felix menyerah untuk mencegah Jeano untuk tidak masuk kerumah, Felix pikir itu hanya mencari penyakit saja dengan melarang Jeano.
Pagi weekend kali ini Jeano lebih memilih berjalan kaki saja menuju rumah Zeana karena memang jarak dari rumahnya tidak jauh untuk sampai kerumah Zeana.
Saat sedang asik berjalan kaki menikmati sejuknya angin pagi tiba-tiba Jeano mendengar suara eongan kucing, dapat ditebak dari suara tersebut jika itu suara seekor anak kucing. Seketika tubuh Jeano bergidik ngeri, entahlah setiap kali mendengar suara kucing tubuh Jeano akan langsung merinding.
Karena sudah dari kecil Jeano tidak pernah menyukai salah satu hewan berbulu itu, dia pikir seekor kucing adalah makhluk kecil yang mengerikan. Namun nyatanya banyak orang yang menyukai kucing, bahkan sampai sangat menyanyangi hewan berbulu yang lucu itu.
Jeano kecil bisa dibilang takut dengan kucing, apalagi dengan anak kucing. Karena ketika kita melihat anak kucing pasti saja kucing tersebut akan terus mengikuti bahkan mengerjar kita kemanapun, hal itu yang menjadi penyebab Jeano tidak suka kucing.
Meong
Meong
Suara tersebut kembali terdengar sontak hal itu menghentikan langkah Jeano, dia mulai melihat-lihat sekitar dimana asal suara tersebut.
Dan ketika ingin melanjutkan langkahnya Jeano malah langsung berteriak terkejut karena anak kucing tersebut sudah berada di depan kakinya.
"Sejak kapan kucing ini ada disini?" Tanya Jeano entah pada siapa, yang tentu saja tidak akan akan yang menjawab pertanyaannya.
Meong
Meong
Kini kucing yang berada di depan kaki Jeano mulai mengeoang lagi serta mulai mendekatkan dirinya pada kaki Jeano dimana mundusel-dusel layaknya kucing pada umumnya, dan itu sangat membuat Jeano merinding karena geli dengan bulu yang mulai bersentuhan dengan kulit kakinya.
"Hei, jangan mendekat!"
Sentak Jeano pada kucing tersebut serta memundurkan langkahnya, bukannya pergi kucing tersebut malah terus mendekati Jeano. Hal itu terjadi cukup lama, hingga akhirnya Jeano memilih untuk berlari menghindar dari kucing itu.
Tentu saja hal itu malah menambah kucing tersebut mengejar Jeano karena mungkin kucing itu pikir Jeano sedang mengajaknya bermain.
"Hei, jangan mengejarku!! Pergi!!" Teriak Jeano disepanjang larinya, dan sesekali melihat kearah belakang dimana kucing tersebut masih terus mengejak Jeano.
Mungkin karena terlalu panik Jeano tidak melihat jika ada sebuah selokan yang tidak tertutup karena sedang dibersihkan yang mengakibatkan dirinya terjatuh dan masuk kedalam selokan yang penuh dengan lumpur hitam.
Brukkk
Seketika tubuh Jeano masuk masuk kedalam sekolan penuh lumpur itu, tubuh Jeano langsung dipenuhi dengan lumpur hitam tersebut.
Sontak kejadian itu mengundang perhatian warga sekitar yang langsung menolong Jeano keluar dari sekolan tersebut.
"Kamu tidak apa?" Tanya salah satu warga.
Jeano hanya menggeleng pelan karena dirinya sendiri masih begitu shok dengan apa yang terjadi padanya.
"Kalau begitu, ayo Paman antar pulang!" Ajak salah satu warga itu yang mencoba membantu Jeano agar dapat pulang dan membersihkan diri.
Sebelum warga itu akan mengantar pulang Jeano, terlebih dahulu pada Jeano lihat sebuah mobil yang sangat dia kenali.
"Ayah!!" Teriak Jeano langsung menghentikan lagu mobil itu, dan dengan segera Jeano mendekat kearah mobil itu.
Dan tidak lama juga terlihat Reno yang ikut keluar, serta menatap bingung kepada bocah yang tidak dikenalinya karena hampir seluruh wajah Jeano dipenuhi lumpur.
"Kamu siapa Nak?"
"Aku Jeano."
Seketika Reno menatap tidak percaya pada Jeano, sejak kapan Akan tampannya berubah menjadi seperti ini?
"Benarkah?"
"Benar Ayah, ayo kita pulang! Aku sudah tidak nyaman dengan tubuh seperti ini." Ucap Jeano yang langsung saja masuk kedalam mobil nanpa menghiraukan keadaan tubuhnya yang kotor yang mungkin akan ikut mengotori mobil.
Sedangkan Reno masing merasa bingung dengan keadaan Jeano sampai akhirnya salah satu warga bertanya padanya.
"Apakah Anda orang tuanya?"
"Hmm, ya. Dia adalah anak Saya."
"Syukurlah kalau begitu, tadi Anak anda terjatuh kedalam selokan itu. Untung warga langsung menolongnya, semoga saja tidak apa-apa."
"Terimakasih atas pertolongan semuanya."
"Sama-sama."
"Kalau begitu Saya pamit, permisi."
Renopun segera ikut menyusul masuk kedalam mobil dan dapat melihat Jeano yang sudah duduk dengan tenang, mobil yang mereka tumpangipun segera melaju menuju rumah.
"Kenapa bisa jatuh?"
"Jangan tanya sekarang, nanti saja." Ketus Jeano, yang membuat Reno menjadi kesal dengan Anaknya itu.
Akhirnya Reno tidak membuka suara lagi sampai mereka tiba dirumah, namun begitu turun dari mobil bertepatan juga dengan Zeana yang beru tiba dirumah Jeano.
Zeana yang melihat penampilan mengerika Jeano sontak saja langsung berteriak histeris.
"Aaaaaa...hantu....Bunda.....ada hantu." Teriak Zeana dengan kencang.
"Ada apa Anna?" Tanya Maura dengan panik.
"Itu, ada hantu Bunda." Kata Zeana yang menunjuk kearah Jeano.
Sedangkan Jeano yang melihat Zeana salah paham padanya mencoba untuk mendekat dan menenangkan Zeana, bukannya tenang kini Zeana malah menangis dengan kencang.
"Aku Jeano Anna, bukan hantu."
Tapi tetap saja Zeana malah terus menangis, "Jeano jadi hantu Bunda hiks hiks.."
Zeana terus saja menangis meskipun Jeano dan juga yang lainnya sudah menjelaskan bahwa itu bukan hantu melainkan Jeano yang dipenuhi dengan lumpur.
Flashback Off
Dari situlah untuk beberapa Zeana tidak mau bertemu bahkan berkunjung kerumah Jeano, dan hal itu menjadi alasan kenapa Jeano menjadi tambah tidak suka dengan kucing.
Sedangkan Zeana yang mendengar apa yang diceritakan oleh Jeano hanya bisa tertawa dengan kencang, sungguh cerita Jeano cukup menghibur dirinya.
"Jangan tertawa!" Kata Jeano yang menatap tidak suka pada Zeana apalagi ditambah tawa Zeana yang sangat kencang seolah mengejeknya.
Bukannya diam Zeana malah semakin ngakak melihat wajah semberut Jeano yang menurutnya sangat lucu dan berbeda dengan Jeano yang biasa ditemui setiap hari.
Hai hai๐๐๐
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.