
..."Jika kamu mempunyai kekurangan, jangan salahkan introvertmu. Salahkan dirimu yang tidak mau berusaha berkembang."...
..._Introvertid...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
38. Bertemu Lagi
Bruk
"Aduh!"
Seseorang yang tepat berada didepannya mengaduh pelan, ketika tanpa sengaja bertabrakan dengan tubuh Zero.
Sedangkan Zero hanya terus diam, sambil menatap pada orang yang ada didepannya ini. Terlihat orang yang didepannya mengelus pelan hidungnya, yang mungkin saja merasa sakit.
Seseorang itu mulai mendongkak, dan melihat tepat kearahnya. Dengan keadaan ujung hidung yang memerah, kedua mata orang itu juga seketika membulat sempurna.
"Eh?"
Seketika orang itu merasa terkejut dan tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang berada didepannya.
"Sedang apa disini?" Suara Zero yang terdengar dingin dan juga khas seorang pria mulai mengudara, serta menyapa pendengaran orang yang ada didepannya ini.
"It-tu aku..." orang yang berada didepannya ini seketika merasa gugup dan sedikit takut. Membuat Zero menjadi tidak suka mendengarnya, kenapa harus gugup?
"Sedang apa?"
Zero kembali bertanya pada orang yang berada didepannya ini. Mulai menatap serius dan juga terliti akan orang yang didepannya ini.
Seseorang yang merupakan sahabat baik dari Adiknya. Mungkin dikehidupan dulu dan juga sekarang.
Orang itu adalah Mora. Seseorang yang entah mengapa dapat menarik perhatiannya dan juga tanpa dasar menimbulkan rasa aneh dalam diri Zero.
Sejak mengetahui fakta tentang Mora, Zero menjadi sangat penasaran dengan Mora. Dan mungkin juga, tanpa sadar Zero mulai selalu tertarik dengan apa yang ada pada Mora.
Sedangkan, Mora yang baru saja akan menjawab pertanyaan dari Zero, malah tiba-tiba rasa ingin buang air kecilnya kembali menyerang.
Tanpa sadar Mora memegang tangan Zero yang ada didepannya ini dengan kuat. Menahan rasa tersebut, dan juga sedikit berteriak untuk menjawab pertayaan tersebut. "Aku sedang mencari toilet, aku ingin pipis.."
Deg
Akibat dari pergerakan dan perkataan Mora yang secara tiba-tiba, membuat Zero sedikit dibuat terkejut. Ada rasa aneh yang secara tiba-tiba timbul dari hatinya, ketika tangan Mora bersentuhan dengan tangannya.
"Benarkah?"
Meskipun sempat melihat pergerakam Mora yang seperti menahan sesuatu, membuat Zero memastikan kembali hal tersebut.
"Iya Kak Zero," jawab Mora sambil terus menahan rasa ingin pipisnya.
Melihat Mora yang tampaknya sudah tidak tahan lagi, membuat Zero tidak tega dan langsung membawa Mora menuju toilet. Tanpa mengingat, jika mungkin saja sekarang Kenzo sedang mencarinya.
"Baiklah, ayo ikut aku!"
Tanpa menunggu waktu lagi, Zero segera membawa Mora menuju toilet terdekat. Tanpa disadari keduanya berjalan dengan Mora yang terus berpegangan pada lengan Zero, dan Zero juga yang tidak menyadari hal itu juga.
"Segera lah masuk!" Titah Zero begitu mereka berdua sampai didepan toilet.
Dengan sedikit terburu-buru, Mora segara masuk kedalam toilet perempuan tanpa mengucapkan apapun pada Zero.
Setelah Mora masuk, Zero masih terdiam berdiri ditempatnya. Entah mengapa, rasanya Zero tidak ingin meninggalkan Mora sebelum selesai dengan urusan toiletnya.
Entah mengapa, Zero malah kembali teringat dengan wajah Mora yang memerah dan memelas sambil berkata 'aku ingin pipis'.
Rasanya tawa Zero ingin meledak saat itu juga, Mora terlihat seperti anak kecil yang sangat lucu. Seperti, seorang anak kecil yang memohon diberikan sesuatu kepada kedua orang tuanya.
"Dia sangat lucu, eh-ada apa dengan diriku ini?" Batin Zero sambil menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir bayang-bayang kejadian tadi didalam pikirannya.
Tidak lama dari itu, terdengar dering telpon yang berasal dari saku celana bahannya, dimana ponselnya berada.
Terdapat nama Kenzo dalam layar ponselnya, "ahk-aku lupa." Zero tidak ingat, jika berada ditempat ini karena urusan pekerjaan yang tentunya akan bersama Kenzo, dengan segera Zero mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Tuan?"
Suara diserbang telpon cukup terdengar kesal, mungkin memang benar. Kenzo yang sedang menelpon Zero itu sedang merasa kesal.
"Ya, ada apa?" Jawab Zero dengan santainya, tidak lupa nada dingin yang selalu dia katakan pada setiap perkataannya.
Sedangkan disebrang sana, Kenzo yang mendengar nada kelewat santai dari Zero membuat dirinya kesal. Bagaimana tidak kesal?
Namun begitu selesai, dan keluar dari tempat itu. Kenzo tidak melihat kebaradaan Zero dimana pun, bahkan disekitar pun tidak ada. Dengan segera Kenzo berkeliling sedikit area itu, karena siapa tau saja ada Zero disana.
Namun nyatanya tidak, Zero tidak berada ditempat itu, bahkan area terdekat. Dan akhirnya, Kenzo memilih menelpon Zero dengan rasa kesalnya karena prilaku Zero menambah beban untuk hidupnya.
Poor Kenzo:(
"Tuan menunggu dimana?"
Zero yang sudah tersadar dengan kondisi sekarang, bahwa dirinya tidak sendiri datang ketempat ini. Masih ada Kenzo yang mungkin sedang mencari dan menunggunya.
"Aku ditoilet."
"Baiklah, saya akan menyusul kesana."
Kenzo pikir mungkin Zero sedang ingin pergi ketoilet, sehingga ada disana. Dengan niat tulus, dia akan menyusulnya dan nanti langsung pulang bersama.
Namun nyatanya tidak, penolakan dari Zero membuat Kenzo bingung akan hal itu. Ditambah dengan perintah Zero yang menyuruhnya pulang terlebih dahulu.
"Tidak. Kamu kembalilah ke kantor sekarang, nanti aku akan kembali ke kantor sendiri."
"Lalu, nanti Tuan akan pakai apa untuk kembali ke kantor?"
Masalahnya, Zero dan Kenzo berangkat bersama, serta menggunakan mobil yang sama juga. Dimana Kenzo yang mengambil kemudi mobil tersebut.
Jadi, jika Zero menyuruhnya kembali lebih dulu, lalu Zero pulang akan memakai apa?
Zero tampak berpikir terlebih dahulu, dirinya bingung harus ikut pergi bersama Kenzo atau menunggu Mora dulu. Namun, dirinya juga belum memastikan dengan jelas tentang pertemuannya dengan Mora.
Masih banyak pertanyaan yang ingin Zero tanyakan pada Mora. "Tidak apa, akan kupikirkan nanti. Pergilah terlebih dahulu!"
Mendengar nada titah dari Zero, membuat Kenzo tidak berani lagi untuk bertanya. Biarlah, suka-suka Zero aja.
Yang penting dirinya cukup menjalani, apa yang dikatakan oleh Zero dengan baik.
"Baik, Tuan."
Tut
Sambungan telpon tersebut langsung terputus, tanpa ada jawaban atau perkataan apapun lagi dari Zero.
Segitu sambungan telpon itu terputus, Kenzo langsung menghela napas lelah. "Tuhan...kapan aku bisa kaya? Aku capek harus kerja keras bagai kuda seperti ini." Sungguh sangat mendramatis sekali Kenzo mengatakan itu pada dirinya sendiri.
Nyatanya, menjadi asisten pribadi Zero harus kuat badan, batin dan juga mental.
Kenzo kembali menatap ponselnya dengan kesal, yang dimana tertera nomor Zero dengan nama 'Tuan Dingin'. Kenzo merasa nama itu sangat cocok untuk menjadi nama samaran untuk Zero.
Mulai memasukan kembali ponselnya, Kenzo hanya bisa mengangkat bahunya pelan. "Biarlah, dia pikirkan bagaimana caranya pulang sendri. Kenapa aku harus repot-repot? Sekalipun dia ingin pulang jalan kaki pun, aku tidak akan perduli." Setelah mengatakan itu, dengan segera Kenzo melangkahkan kakinya keluar dari Mall itu.
Lebih memilih segera pergi seperti perintah Zero dan mengerjakan kembali pekerjaannya yang masih banyak.
"Huh...kayaknya bakal lembur deh." kata Kenzo sambil mulai melajukan mobil tersebut kembali menuju perusahaan.
***
Setelah Kenzo kembali menuju kantor, dilain sisi Zero masih saja setia berdiri didepan toilet menunggu Mora. Cukup lama Zero berdiri sambil terus saja bolak-balik diarea sekitaran itu.
"Apa didalam sana dia pingsan?" tanya Zero pada dirinya sendiri, setelah mulai kesal karena menunggu Mora yang tidak kunjung keluar juga.
Lagian entah apa yang membuat dirinya malah terus terdiam disana. Padahal bisa saja dia langsung pergi setelah mengantar Mora dan bahkan bisa ikut pulang kembali ke perusahaan bersama Kenzo.
Sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka, dan muncullah Mora yang sudah selesai dengan urusannya ditoilet.
Ceklek
Dengan segera Zero mendekati kearah Mora dan pandangan keduanya bertemu. Dapat Zero lihat, jika kedua mata Mora melebar kembali dengan sempurna ketika melihatnya. Sama persis seperti awal bertemu tadi.
"Apa aku semengejutkan itu?" gumam Zero dalam hatinya, ketika melihat reaksi yang secara spontan Mora perlihatkan ketika bertatapan dengannya.
"Loh, Kak Zero masih disini?"
"Ya, aku masih disini."
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.