Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 50



..."Kamu tidak perlu terburu-buru, kamu tidak perlu berpikir bahwa sebuah keharusan disaat sudah lulus kamu harus cari uang hanya dikarenakan kamu sudah dewasa. Cobalah cari apa yang kamu ingin lakukan perlahan, itu tidak pernah terlambat untuk melakukan sesuatu. Waktu tidaklah begitu penting, kamu harus mencari apa yang ingin kamu lakukan dari menikmati pekerjaan itu tanpa penyesalan."...


..._Na Jaemin...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


50. Rencana Go Publik 2


Sekarang sekolah SMA GALAXY XIALLEN masih sedang dihebohkan dengan berita putusnya Nico dan Sisqia, serta mereka juga masih menduga-duga alasan mereka memutuskan hubungan mereka.


Hampir disetiap penjuru kelas sedang membicarakan hal itu, sekarang Nico dan juga Sisqia sedang menjadi sorotan semua murid sekolah.


Termasuk juga Zeana yang ikut terseret dengan berita tersebut dimana Zeana dituduh menjadi penyebab putusnya hubungan Nico dan Sisqia.


Begitu sampai disekolah Zeana langsung menjadi pusat perhatian semua orang, Zeana yang berangkat dengan Zero seketika merasa risih dengan tatapan semua orang yang mengarah pada mereka.


Maaf Saya salah apa ya Kak?


"Kenapa mereka semua melihat kearah kita?" Tanya Zeana pada Zero yang begitu keluar mobil langsung disuguhkan pemandangan seperti itu.


Zeana mulai melihat-lihat penampilannya dan dia rasa tidak ada yang salah dengan dirinya, Zeanapun beralih melihat pada Zero yang memang tidak ada yang salah dengan mereka berdua.


"Tidak tahu, dan jangan pedulikan mereka." Kata Zero yang langsung mengandeng tangan Zeana agar mengikuti langkahnya.


Zero membawa Zeana kearah taman belakang sekolah, yang dimana taman tersebut sangat jarang di jamah oleh orang banyak namun kebersihannya masih sangat terjaga dengan baik.


"Kenapa Kakak membawa ku kesini?"


"Liat saja nanti."


Ditaman tersebut sudah ada Jeano yang menunggu mereka berdua datang karena memang sebelum berangkat sekolah Zero mendapatkan pesan dari Jeano agar membantu Zeana untuk menemuinya ditaman belakang.


Tanpa banyak bicara Zero mengiyakan hal tersebut dan Jeano juga bilang jika ada hal yang ingin dia bicarakan berdua bersama Zeana


"Loh, Jeano?"


"Hai." Jeano langsung melambaikan tangannya begitu melihat Zeana dan Zero sudah datang.


"Hai juga Jeano." Zeana membalas lambaian tersebut dan tersenyum pada Jeano.


Ketika sudah mengantarkan Zeana pada Jeano lekas Zeropun untuk pergi kekelas terlebih dahulu. "Kakak pergi dulu."


"Iya."


"Jaga Adikku dengan baik, dan jangan berbuat apapun!" Ucap Zero pada Jeano yang disertai dengan peringatan diakhir kalimatnya.


"Hm."


Zeropun mulai melangkah menuju kelas dengan meninggalkan Zeana dan Jeano yang masih saja terdiam. Zeana yang asik melihat sekeliling taman karena belum pernah mengunjunginya serta Jeano yang bingung harus memulai membicaraan dari mana.


"Emang kita mau ngapain disini?" Zeana mulai membuka suara karena melihat Jeano yang tak kunjung berbicara.


"Sebenarnya ada suatu hal yang ingin aku katakan kepadamu."


"Apa?"


"Tentang pertunangan kita."


Zeana menegang seketika, memang kenapa dengan pertunangan mereka? Apakah Jeano sudah tahu bahwa dirinya bukan Zeana yang asli dan kini ingin memutuskan pertunangan mereka.


Meskipun Zeana yang kini tidak berhak ikut campur dengan hubungan yang sekarang, namun entah kenapa Zeana merasa sedih jika benar Jeano akan memutuskan pertunangan mereka.


"Memangnya kenapa dengan pertunangan kita? Apakah kita akan memutuskan pertunangan?" Zeana bertanya langsung pada point penting yang ada dipikirannya.


Jika tadi Zeana yang menegang setelah mendengarkan perkataan Jeano, kini kebalikannya. Jeano yang menegang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, Jeano pikir sebegitu inginkah Zeana memutusakan pertunangan mereka?


Apakah selama ini usahanya kepada Zeana tidak berarti apapun? Semua cinta serta kasih sayang yang diberikan darinya pada Zeana tidak ada apa-apanya.


Atau sekarang ingatan Zeana sudah kembali, dan ingat semua hal. Sehingga kini begitu mendengar hubungan Nico yang merenggang membuat Zeana ingin  kembali pada Nico secara diam-diam.


Memikirkan hal itu membuat amarah Jeano meningkat seketika, kedua tangannya mengepal dengan sempurna namun dia masih mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak membuat Zeana takut padanya.


Entahlah kini mereka berdua sama-sama berpikiran negatif satu samalainnya, keduanya sama-sama menerka-nerka apa yang akan terjadi.


"Apa kamu ingin kita memutuskan pertunangan?"


Tanpa sadar Zeana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat tanda tidak menyetujui apa yang dikatakan oleh Jeano, sekarang dia tidak ingin itu terjadi.


Ada rasa tidak suka dan tidak rela jika Jeano memutuskan pertunangan mereka, entah itu mungkin rasa cinta yang kini mulai bersemi.


Melihat Zeana yang menggelengkan kepalanya serta dengan raut wajah yang sedih membaut Jeano seketika merasa bahagia, boleh kah dia berharap jika Zeana juga kini mulai mencintainya.


"Tidak. Aku tidak ingin."


"Baiklah kita tidak akan pernah memutuskan pertunangan, dan lagi pula aku bukan ingin membahas itu.


Ada hal lain yang ingin aku bicarakan, yaitu tentang mengumumkan pertunangan kita pada semua orang. Apakah kamu mau?"


Jeano seketika tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, apakah Zeana lupa kalau Jeano adalah anak pemilik sekolah?


"Boleh. Tidak akan ada dan tidak ada yang berani mempermasalahkan itu semua." Kata Jeano yang mencoba untuk menyakinkan Zeana, bahwa semua akan baik-baik saja jika mereka mengumumkan pertunangan."


"Benarkah?"


"Tentu, jadi apakah kamu mau?"


"Aku ikut kamu saja bagaimana baiknya."


"Aku ingin mengumunkannya dan berarti kamu juga ikut."


"Ya, tentu."


Seketika Jeano langsung membawa tubuh Zeana kedalam pelukannya dan mengusap dengan penuh kasih sayang kepala Zeana sambil mengucapkan kata terimakasih berulang kali.


"Terimakasih sayang."


Blush


Langsung saja muka Zeana memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, Jeano yang berbicara seperti itu membuat jantung Zeana menjadi tidak baik.


"Hei, kenapa muka mu memerah? Apakah kamu sakit?" Tanya Jeano khawatir begitu melihat perubahan wajah Zeana, dia tidak tahu saja jika Zeana sedang salting dengan ucapannya tadi.


"Tidak, aku baik-baik saja. Dan jangan ucapkan terimakasih hanya padaku, karena seharusnya kita saling berterimakasih." Seketika Zeana langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya sendiri, kenapa kedengarannya tidak berguna?


"Ouh iya, sepertinya bel masuk sudah berbunyi. Apakah tidak apa kita masih disini?" Ucap Zeana ketika melihat suasana sekolah yang tampak sepi serta Zeana yang melihat jam ditangannya sudah memasuki jam belajar.


"Tidak apa, hari ini kita tidak akan terlalu belajar karena kebanyakan murid akan fokus untuk latihan. Serta para guru juga yang mulai menyiapkan persiapan yang lainnya, jadi kemungkinan akan banyak guru yang tidak masuk kelas."


"Tapi tetap saja kita harus berada dikelas.


"Baiklah, ayo kita pergi kekelas!" Ajak Jeano yang melihat wajah murung Zeana, mungkin Zeana sejenis murid yang sangat disiplin dengan peraturan sekolah.


Jeano dan Zeanapun mulai melangkah menuju kelas dengan Jeano yang terua mengandeng tangan Zeana sepanjang jalan.


Tanpa disadari bahwa ada Sisqia yang melihat serta mendengar semua perkataan Jeano dan Zeana dari awal hingga mereka pergi. Mendengar apa yang dikatakan oleh Jeano dan Zeana membuat Sisqia menggeram marah.


"Jadi sebenarnya mereka berdua sudah tunangan? Sial*n, akan semakim sulit untuk memisahkan mereka jika begitu. Sepertinya aku harus mengajak seseorang untuk dapat diajak bekerja sama untuk dapat memisahkan mereka berdua." Ucap Sisqia tak lupa seringai jahat yang menghiasi wajahnya.


***


Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya sebuah ruang osis terdapat Nico beserta teman-temannya sedang membahas tentang persiapan acara nanti. Dan memang Nico beserta teman-temannya masuk kedalam organisasi siswa.


"Eh Bos, ini beneran nih lo udah putus sama Sisqia?" Tanya Refan memastikan berita yang kini beredar di seluruh sekolah.


"Hm." Nico hanya menjawabnya dengan deheman saja, sungguh dia sangat malas untuk membahas hal itu.


"Kenapa bisa putus?"


"Nah iya, kenapa bisa? Bukannya kamarin masih baik-baik aja ya." Robby sebagai teman juga ikut heran dengan apa yang terjadi.


Karena yang mereka tau bahwa Nico dan Sisqia tidak terjadi bertengkaran apapun dari kemarin, dan sekarang tiba-tiba ada berita putusnya hubungan mereka. Sungguh mengejutkan.


"Bisa. Karena dia adalah cewek sial*n, yang pernah gue temui." Dengan penuh emosi serta menekan disetiap perkataannya Nico berbicara pada teman-temannya.


Kini Nico menjadi sangat emosi ketika ada orang yang membahas Sisqia juga membahas hubungannya dengan Sisqia.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Nico membuat kedua temannya kaget, sebenarnya apa yang terjadi? Yang dapat membuat Nico menyebut Sisqia sebagai cewek sial*n.


"Kenapa lo bisa ngomong gitu? Coba jelasin!" Desak Robby pada Nico mencoba untuk menjelaskan lebih rincinya lagi.


"Jadi gini kemarin...."


Nicopun menceritakan semua yang terjadi dari awal dia bertemu Zeana hingga akhirnya bertemu dengan Sisqia digudang. Sontak apa yang dijelaskan oleh Nico membuat Refan dan juga Robby shok tidak menyangka semua itu.


Mereka semua merasa tertipu dengan sikap baik Sisqia selama ini, serta merasa menjadi orang paling bodoh karena tidak dapat menyadari kebusukan Sisqia dari awal. Padahal mereka bisa dibilang selalu bersama, karena setelah Nico dan Sisqia resmi berpacaran membuat tak jarang Nico selalu membawa Sisqia bersama.


"Jadi gitu." Ucap Nico mengakhiri perkataannya.


"Wah gila tuu cewek, bisa-bisanya kayak gitu. Sumpah ya, gue gak nyangka banget.


"Sama Fan, geu juga. Dan dengan bodohnya juga kita semua gak bisa liat kebusukan yang di tutupi dari semua orang."


"Pastesan aja waktu itu anak-anak ada yang bilang kali Sisqia centil ke orang lain disaat udah pacaran sama Nico, ternyata emang benar." Ucap Refan mengingatkan mereka kembali pada kejadian yang sudah lama terjadi.


Dimana ada salah satu anak osis yang bilang jika Sisqia menggoda dan mendekatinya, namun saat itu Nico tidak percaya dan malah memarahi orang itu dibanding menegur Sisqia.


"Terus gimana sekarang? Apa lo bakal minta maaf ke Zeana?" Tanya Robby yang penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Nico pada Zeana.


"Pasti. Gue bakal minta maaf ke Zeana  ditambah gue bakal coba deketin Zeana lagi."


"Tapi Jeano?"


"Peduli amat, gue bakal lakuin apapun untuk bisa deket sama Zeana lagi."


Sedangkan Refan dan Robby tidak dapat mengatakan apapun lagi karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk mengigatkan Nico jika kini Zeana selalu bersama Jeano.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.