Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 22



..."Untuk menggapai apa yang kamu inginkan, kamu harus mengejar, dan berjuang untuk mewujudkannya."...


..._Park Chanyeol...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


22. Masih Tidak Yakin


Matahari kini mulai bersinar terang menandakan bahwa pagi hari mulai menyapa semua makhluk hidup di Bumi ini. Terdengar kicawan burung yang merdu mulai menyapa pendengaran seseorang yang kini terusik dari tidur nyenyaknya.


Zero. Anak sulung serta pewaris kelurga Anderson itu baru saja membuka kedua matanya dengan engan, masih terlalu malas untuk memulai pagi hari ini dengan semangat.


Mengeliat pelan dalam tidurnya sambil mencoba membuka kedua matanya, melihat sinar matahari yang sudah masuk kedalam kamarnya membuat mau tak mau membuat Zero harus bangun dari tidurnya.


Mulai mamasuki kamar mandi dan akan memulai sarapan setelahnya. Setelah selesai mandi Zero lekas keluar menuruni tangga menuju ruang makan.


Dimeja makan terlihat sudah ada Daddynya beserta Zeana adik kesayangannya, mungkin?


"Pagi," Sapa Zero dan langsung duduk di sebelah kiri Daddynya berhadapan dengan Zeana yang duduk disebelah kanan Daddynya.


"Pagi juga," Felix membalasan sapaan dari Zero, sedangkan Zeana hanya menunduk setelah tau bahwa Zero ikut bergabung untuk sarapan pagi ini.


Melihat Zeana tak membalas sapaaannya seperti biasa entah mengapa membuat hari Zero merasa tidak suka. Biasanya Zeana akan berbicara apa saja yang akan mengganggu pagi harinya dengan celotoh tidak berguna, namun sekarang Zero rasa Zeana seolah takut serta memberi jarak padanya.


Apakah benar Zeana hilang ingatan? Zero sungguh masih tidak yakin dengan hal itu.


Mereka bertigapun mulai memakai saeapan mereka dengan tenang tanpa ada obrolan didalamnya, semuanya seolah ralut dalam makanan masing-masing.


Tak berselang lama mereka bertigapun selesai dengan sarapan mereka, "Kamu akan langsung ke Rumah Sakit? Tanya Felix setelah melihat Zeana yang sudah selesai denfan makananya.


"Iya Dad, Dokter Bian bilang bahwa jadwal ku akan dimulai pagi hari setiap harinya. Apakah Daddy juga langsung kekantor?"


"Tentu. Namun Daddy akan mengantarmu dulu ke Rumah Sakit, baru Daddy akan kekantor."


"Kenapa begitu? Apakah Daddy tidak sibuk? Aku tidak ada Dad jika Daddy tidak bisa menemaniku, masih ada Paman Tono dan Bi Julia yang menemaniku."


"Karena Daddy ingin mengantarkan mu untuk terapi, dan maaf belum bisa menemani mu sepanjang terapi. Dan untuk pagi ini Daddy tidak sibuk, jadi mau kan diantar Daddy?"


"Daddy tidak perlu minta maaf, dan aku mau diantar jika tidak merepotkan."


"Sama sekali tidak merepotkan, kalau begitu ayo!"


Ajak Felix yang sudah siap akan mendorong kursi roda Zeana menuju luar, namun hal itu harus terhenti karena perkataan seseorang yang dari tadi hanya diam saja seolah tidak dianggap.


"Aku ikut."


Felixpun menghentikan langkahnya dan melihat kearah Zero yang baru saja bersuara.


"Apa?" Tanya Felix yang mengerti.


"Aku ingin ikut ke Rumah Sakit," Ucap Zero lalu melangkah keluar mendahului Felix dan Zeana.


Sedangkan Felix dan Zeana terlihat bingung dan tidak habis pikir dengan yabg dilakukan Zero, orang itu ingin ikut atau ingin buat masalah?


Terlihat Zero yang sudah duduk tenang di samping kemudi, sedangkan Hans yang menunggu mereka disamping mobil untuk membantu menaikan Zeana kedalam.


Akhirnya mobil tersebut mulai melaju keluar dari perkarangan rumah menuju Rumah sakit, dengan posisi Hans yang menemudi serta Zero yang berada di samping kemudi. Sedangkan dibelakang ada Felix beserta Zeana yang mencoba duduk dengan tenang dikondisi yang akward ini, tak lupa satu mobil lagi yang mengikuti mereka berisi Bi Julia dan Paman Tono.


Sesampainya di Rumah sakit Felix langsung berpamitan kepada Zeana maupun yang lainnya.


"Daddy pamit dulu ya, kamu yang semangat terapinya. Tapi ingat jangan terlallu memasakan diri, okey?"


"Iya, dan Zero jaga adikmu dengan baik! Jangan berbicara hal bodoh, Daddy tau apa yang kamu lakukan kemarin pada Anna." Seketika Felix nengalihkan padanganya pada Zero dan menatap remaja tersebut dengan serius. Seolah memperingati Zero untuk tidak berbuat macam-macan apalagi sampai melukai Zeana.


"Hm," Dengan acuh Zero menjawabnya, memang apa yang akan dia lakukan pada Zeana? Sebenci apapun Zero pada Zeana tetap saja dia masih menyayangi adiki satu-satunya itu.


Dan jika ditanya apa alasan Zero ingin ikut kerumah sakit? Jawabannya karena dia ingin memastikan kondisi Zeana baik atau buruknya.


Jika benar Zeana hilang ingatan dan sedang berjuang untuk dapat kembali normal, tentu saja Zero akan dengan senang hati menemani Zeana. Namun jika Zeana pura-pura maka tak segan juga Zero akan mempermalukan serta memarahi Zeana.


"Saya titip Anna ya Bi Julia, Paman Tono." Pesan Felix pada sepasang suami istri itu, karena pada intinya mereka berdualah yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan Zeana.


"Siap Tuan," Keduanya kompak menjawab.


"Kalau begitu sampai jumpa dirumah nanti sore."


Felix dan Hanspun akhirnya pergi kekantor setelah mengantarkan Zeana sampai di Rumah sakit, dan tanpa berlama juga Zeana mulai masuk kedalam Rumah sakit untuk memulai terapinya.


Sesi terapi Zeana sudah dimulai beberapa menit yang lalu, dan tampak diluar ruangan Zero beserta yang lainnya sedang memunggu serta pemperhtikan semua aktivitas terapi Zeana dengan seksama.


"Anna tampaknya serius dengan rasa sakitnya." Batin Zero ikut ngilu ketika melihat Zeana yang menahan sakit ketika mencoba untuk berjalan.


"Apakah kini aku yang salah? Dia tampak tidak pura-pura untuk sekarang. Dan apakah aku sangat keterlaluan kemarin?" Masih bergelut dengan batinnya Zero terus memperhatikan semua pergerakan Zeana dengan serius.


Dan tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Zeana sudah selesai dengan terapinya untuk hari ini, dengan sekujur tubuhnya yang penuh dengan keringat.


Zero beserta yang lainnya mulai menghampiri Zeana yang masih mengistirahatkan tubuhnya.


"Ini Non minumnya," ucap Bi Julia sambil menyerahkan sebotol air pada Zeana yang diterima dengan baik olehnya.


"Terimakasih Bi Juli."


"Sama-sama. Bagaimana terapi sekarang?"


"Sangat lelah Bi, namun aku sudah tidak sekaku kemarin."


"Syukurlah kalau begitu, semoga kedepannya selalu lancar ya. Agar Non Anna cepat sembuh."


"Aamiin Bi, semoga saja."


Sedangkan Zero mengeram kesal, kenapa dirinya selalu diabaikan dan seolah tak terlihat?


Dia sudah kesal tadi pagi tidak diajak mengobrol bersama Daddy dan Zeana, dan sekarang diapun harus menahan kesal lagi karena tidak dianggap oleh Bi Julia maupun Zeana.


"Khem," Zero berdehen cukup keras supaya dapat menyadarkan bahwa diapun sama ada ditempat itu.


Sontak Zeana dan juga bi Julia menghentikan obrolam mereka, serta langsung menatap Zero.


"Apa den Zero butuh sesuatu?"


"Tidak. Apakah terapinya sudah selesai?"


"Sudah."


"Kalau begitu, ayo kita pulang!"


Akhirnya mereka semua pulang kerumah setelah acara terapi hari ini selesai.


...TO BE CONTINUE...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.


See you Next part.