Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 54



..."Jika ingin mimpimu menjadi kenyataan. Impikan mimpi itu, ingatlah dan buat rencana untuk mencapainya. Jika kamu melangkah selangkah demi selangkah, impianmu akan menjadi kenyataan."...


..._IDK...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


54. Obrolan Malam


Cuaca malam ini sangat lah sejuk dimana angin dengan kencang berhembus membuat kesan mistis juga dingin secara bersamaan.


Entah angin apa yang membawa Jeano untuk berkenjung kerumah Zeana dicuaca yang sangat dingin ini, dimana mungkin orang lain akan lebih memilih berdiam diri dirumah serta bergelut dengan selimut dibanding harus berkeliaran keluar rumah.


Selepas baru saja selesai dengan acara makan malam, tiba-tiba Jeano berjalan dengan santai masuk kedalam rumah tanpa diundang seperti biasa. Jeano yang memakai hoodie berwarna hitam serta celana jens yang senada dengan hoodienya membuat Jeano serlihat sangat tampan dan casual.


"Apa kau tidak punya rumah?" Sindir Felix pada sifat Jeano yang tidak tahu malu serta tidak tau waktu untuk berkunjung kerumah orang lain.


"Tentu saja punya, bagaimana bisa anak tunggal kaya raya seperti ku ini tidak punya rumah?" Jawab Jeano dengan santai dan langsung saja duduk dikursi dekat Zeana.


Memang mereka semua masih berada dimeja makan ketika Jeano tiba. Dan apa yang dikatakan oleh Jeano juga semuanya benar, tidak masuk akal jika seorang anak tunggal kaya raya tidak mempunyai rumah. Mustahil.


"Selamat malam sayang." Sapa Jeano ketika sudah duduk dengan sempurna di samping Zeana.


Zeana yang mendengar sapaan itu sontak saja malu dan belum terbiasa ketika Jeano memanggilnya sayang. "Selamat malam juga Jeano."


"Kamu sangat cantik sekali malam ini." Puji Jeano karena dia suka ketika melihat wajah Zeana yang mulai memerah karena malu.


"Hei, jangan menggoda putriku!" Entah mengapa Felix akan selalu merasa tidak suka jika Jeano harus berdekatan dengan Zeana apalagi dengan menggoda Zeana seperti itu.


"Biar saja."


Jeano mulai mengambil salah satu tangan Zeana dan memainkan jari-jari tanganya, sudah menjadi kebiasaan jika berdekatan dengan Zeana, Jeano pasti akan memainkan jari-jari tangan Zeana.


"Cih." Felix hanya mampu berdecih pelan melihat sifat Jeano yang sangat berbanding terbalik jika dengan orang lain dan Zeana.


Tapi dia juga bahagia jika Jeano dapat menjaga Zeana kini hingga akhir nantinya karena bagaimanapun juga Felix sudah mempercayai Jeano untuk dapat menjaga Zeana kedepannya.


Sedangkan untuk Zero dia memilih untuk pergi dari pada harus memonton pertengkaran unpaedah kali ini, tubuhnya terlalu lelah hanya untuk melihat berdepatan tersebut.


Zero lebih memilih untuk pergi kekamar dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah sehabis latihan tadi, ditambah suasana malam ingin yang begitu dingin menambah tekat Zero untuk segera tidur serta bermanjaan dengan selimut dan kulingnya.


Zero merasa salut dengan stamina Jeano yang tadi pagi hingga sore harus latihan dan sekarang malamnya malah keluyuran bertamu kerumah orang lain dengan mengendarai motor.


Waw. Sungguh sangat strong sekali Babang Jeano ini, dan mungkin karena ada tujuan yang pasti membuat Jeano jadi sangat semangat. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah menemui Zeana.


Yang bucin mah beda Zer_Author


"Apa kamu sengaja ingin berkunjung kesini?" Tanya Zeana pada Jeano karena bagaimanapun juga Jeano pasti memiliki hal yang ingin dikatakan kepadanya.


"Tentu, aku hanya ingin menghabiskan wakti bersama mu. Kamu tau kan?  Bahwa dari tadi pagi hingga sore kita tidak bertemu lagi karena aku sedang sibuk dengan latihan, itu membuat ku rindu padamu." Ucap Jeano yang membuat Felix merasa geli seketika. Meskipun sedang sangat jatuh cinta, Felix tidak pernah mengatakan hal tersebut pada mendiang Istrinya.


Karena dulu yang banyak bicara itu kebanyakan mendiang Istrinya dibanding dirinya sendiri.


Daripada harus melihat kebucinan muda mudi didepanya ini, Felix lebih memilih untuk ikut pergi menyusuk Zero. Namun bedanya Felix lebih memilih untuk pergi ke tempat kerja yang ada dirumahnya untuk mengcek pekerjaan yang belum selesai.


Karena bagaimanapun juga Felix termasuk orang yang gila kerja, apalagi setelah Istrinya meninggal membuatnya tambah menjadi sangat gila kerja.


"Daddy tinggal dulu, kalian berdua jangan macam-macam!"


"Iya Dad, lagian kita juga hanya akan mengobrol saja."


Sedangkan untuk Jeano hanya diam saja karena Jeano masih tahu batasan untuknya dan juga Zeana tanpa harus diingatkan.


Felix pun berlalu meninggalkan keduanya, kini tinggal Jeano dan juga Zeana yang tersisa. Mereka berdua memilih untuk pindah keruang tamu agar lebih nyaman untuk mengobrol dibanding harus duduk dimeja makan.


"Udara malam ingin sangat dingin, apakah kamu tidak kedinginan waktu dijalan tadi?" Tanya Zeana ketika angin malam mulai berhembus kembali membuat tubuhnya merinding karena dingin.


"Tidak, aku kan pake baju hangat."


"Tetap saja pasti akan terasa dingin Jeano, lagian kenapa malam-malam harus keluar rumah? Apalagi disaat cuaca dingin seperti ini, lebih baik tidur dengan selimut tebal."


"Sudah aku bilang bukan, bahwa aku ingin menemui mu."


"Tapi itu akan membuat mu sakit Jeano, aku tidak suka itu." Tanpa sadar perkataan Zeana membuat hati Jeano menghangat seketika karena mendapat perhatian dari orang yang dicintanya.


"Kamu menghawatirkan ku?" Tanya Jeano memastikan.


"Tentu saja, aku akan sedih jika kamu sampai sakit."


"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menjaga tubuhku agar tetap sehat supaya tidak membuatmu sedih."


Mereka bedua terdiam sejenak berpikir hal apa lagi yang ingin mereka katakan supaya ada topik membicaraan yang dibahas.


"Hmmm..apakah ada hal yang ingin kamu bicarakan padaku?" Tanya Jeano yang sebenarnya sedang memancing Zeana agar bercerita tentang Nico padanya.


Ya, sebenarnya Jeano sudah tau bahwa Zeana bertemu dengan Nico. Hal itu dia ketahui karena calon mertuanya yang sangat baik menceritakan semua, namun Jeano ingin mendengar langsung dari Zeana.


Hal itu juga yang menjadi alasan Jeano berkunjung kerumah Zeana ditambah alasan yang pertama juga ikut serta.


"Ada, aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu percaya dengan adanya transmigrasi?"


Seketika Jeano mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti dengan pertanyaan Zeana, kenapa Zeana malah membahas hal ini?


Apakah Zeana mencoba untuk mengalihakan pembicaraan dan menghindari dari membahas tentang Nico?


"Maksudmu permindahan jiwa?" Tanya Jeano memastikan dengan cepat Zeaba menganggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan oleh Jeano.


"Ku rasa tidak, itu hanya ada didongeng saja. Lagian bagaimana bisa jiwa seseorang berpindah ketubuh orang lain? Itu hanya suatu hal gila."


Dengan enteng Jeano mengeluarkan pemikirannya tentang transmigrasi tanpa menyadari wajah Zeana yang berubah menjadi pucat.


Zeana pun dari awal tidak pernah percaya dengan adanya transmigrasi, mungkin Zeana juga akan mengatakan hal sama jika tidak mengalaminya sendiri. Namun kini Zeana percaya adanya transmigrasi karena dirinya sendiri mengalami secara langsung.


"Tapi bagaimana jika benar-benar ada?"


"Maksudmu?"


"Ya, transmigrasi itu ada dan mungkin terjadi pada salah satu orang yang berada didekat kita."


"Dengar, itu hal yang mustahil terjadi dan sungguh gila jika berpikir bahwa seseorang itu dapat bertransmigrasi."


Lagi-lagi perkataan Jeano tidak dapat membuat Zeana berkata-kata lagi karena sekeras apapun Zeana mencoba untuk menjelaskan tetap saja Zeana pasti akan dianggap gila juga.


Akhinya Zeana hanya mampu diam hal itu membuat Jeano merasa aneh dengan Zeana, kenapa seolah Zeana merasa sedih ketika dia tidak menyetujui adanya transmigrasi?


"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Bagaimana kalau kita membahas hal lain saja? Misalnya apa saja yang kamu lakukan hari ini?" Jeano memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka ke yang lebih penting saja, Jeano tidak tahu saja jika pembicaraan Zeana yang sebelumnya juga merupakan hal penting juga.


"Ouh ya, aku ingat. Ada yang ingin aku bicarakan padamu, tapi sebelum itu tolong jangan marah." Ucap Zeana dengan tatapan memohonnya serta memegang tangan Jeano meminta agar Jeano tidak marah dengan apa yang ingin dia katakan nantinya.


"Memangnya kamu mau bicara tentang apa?"


"Nico."


"Tepat sekali." Batin Jeano yang menatap puas ketika tahu bahwa Zeana pasti akan membahas Nico sama seperti yang dipikirkannya.


"Waktu itu kamu bilang untuk menjauhi orang bernama Nico kan? Dia Nico Maxime bukan? Dan aku sudah bertemu bahkan mengobrol dengannya, maaf karena aku tidak tahu jika orang itu adalah Nico."


Setelah mengatakan hal itu Zeana langsung tertunduk karena merasa bersalah pada Jeano, namun ketika tidak mendapatkan respon apapun dari Jeano membuat Zeana kembali menegakkan kepalanya dan menatap mata Jeano yang kini berubah menjadi tajam dan juga dingin.


Gleg


Rasanya sangat susah hanya untuk menelan ludah, Zeana masih belum terbiasa dengan tatapan Jeano yang seperti ini karena biasanya Jeano akan menatapnya dengan penuh cinta dan kehangatan.


"Ceritakan semuanya!" Perintah Jeano yang masih dengan wajah dan nada dinginnya.


Zeana tau kalau sekarang Jeano pasti sedang sangat marah, namun Jeano mencoba untuk menahan amarah tersebut. Dengan hati-hati serta rinci Zeana mulai menceritakan semua tentang pertemuannya dan Nico. Dari awal didepan perpustakaan, kantin bahkan danau juga, semua tidak luput Zeana ceritakan.


Serasa sudah menceritakan semuanya, kini Zeana berniat untuk menanyakan hal yang begitu membingungkan baginya. Dan yang hanya dapat dijawab oleh Jeano saja.


"Jadi, siapa sebenarnya sahabat baik ku sejak kecil? Kamu atau Nico?"


***


Ada yang bisa tebak siapa? Jeano atau Nico? Yang pasti bukan Zero sih🤣🤣🤣


Kira-kira Zeana nantinya bakal pilih Jeano atau Nico?


Pliss jangan hujat Zeana dengan apa nanti yang jadi keputusannya😫


Pokoknya stay di novel ini😁


***


Ouh iya, aku juga mau ngucapin selamat Tahun Baru buat kalian semua Readers tercinta AWPOV, semoga di Tahun yang baru ini kita dapat menjadi lebih baik lagi serta selalu dimudahkan jika menghadapi masalah apapun.


INTINYA SELAMAT TAHUN BARU 2023


HAPPY NEW YEAR SEMUANYA🎉🎉🎉


***


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.