Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 79



..."Rumah itu penting, tapi dengan siapa kita tinggal jauh lebih penting. Karena rumah selalu menjadi tempat pulang saat diluar terasa sakit."...


..._Happiness...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


79. Keluarga Menyebalkan


Seperti apa yang dikatakan oleh Bi Julia, bahwa siang nanti Jeano baru bisa menemui Zeana bahkan bertanya apa yang terjadi sebenarnya.


Benar saja, sepulang sekolah Jeano langsung pergi kerumah Zeana tanpa pulang kerumahnya terlebih dahulu.


Dan untung saja Zeana beserta Zero sudah keluar dari kamar sebelum Jeano datang.


"Jadi apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Jeano pada Zeana, yang dimana sekarang mereka berdua sedang ada dikamar Zeana.


"Daddy akan menikah bersama Mbak Sarah besok." Jawab Zeana, tapi bukan hal itu yang mau Jeano ketahui. Yang ingin Jeano ketahui adalah alasan mengapa pernikahan dadakan itu terjadi.


"Aku sudah tau itu, ta-"


"Lalu kenapa bertanya?"


Sebelum Jeano menyelesaikan ucapanya, terlebih dahulu Zeana memotong perkataan tersebut. Hal itu membuat kesal Jeano, namun sekuat tenaga Jeano tidak memperlihatkan itu pada Zeana.


"Hmm kesel deh, pengen potek. Untung sayang." Batin Jeano sambil menatap Zeana dengan tatapan kesal yang disembunyikan.


"Dengar dulu! Yang aku maksud itu, alasan kenapa Pak Tua itu mendadak menikah. Apakah Pak Tua itu sudah tidak tahan menduda?"


Plak


"Awww...sayang kenapa ditabok?"


"Kamu selalu panggil Daddy dengan sebutan Pak Tua, aku tidak suka." Kini Zeana yang kesal dengan Jeano, sehingga tanpa pikir panjang Zeana langsung memukul tangan Jeano dengan kuat.


Terlihat Jeano yang menghela napas terlebih dahulu, sebelum melanjutkan sesi tanya jawabnya bersama Zeana. Entahlah, Jeano rasa sekarang Zeana terasa lebih sensitif dari biasanya.


"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan lagi menyebutnya dengan sebutan  itu..tapi boong." Tentu saja Jeano hanya berani melanjutkan perkataanya dalam hati.


"Jadi apa alasanya?" Tanya Jeano kembali.


"Alasannya karena ada Adik bayi didalam perut Mbak Sarah."


"Maksudmu hamil?"


Zeana hanya mengagangguk pelan, sambil memakan camilan yang ada dikamar tersebut.


"Wah Pak Tua itu pasti sudah tidak tahan menduda terus, jadi sekarang mulai mencari mangsa baru." Jeano hanya dapat membantin dan bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Coba ceritakan bagaimana itu bisa terjadi?"


Zeanapun menceritakan lagi, apa yang sebenarnya terjadi pada Felix dan Sarah sehingga bisa seperti sekarang. "Jadi seperti itu." Kata Zeana diakhir kalimatnya.


"Jadi hanya ketidak sengajaan?"


"Iya, tapi Kak Zero waktu itu langsung marah tanpa mau mendengarkan dulu apa kata Daddy."


"Dan kamu pergi membujuknya?"


"Iya, serta mengobati luka Kan Zero juga."


"Luka?"


"Daddy memukul Kak Zero karena tidak sopan berbicara pada Mbah Sarah, pulukan itu mengakibatkan sudut bibir Kak Zero luka."


Jeanopun mengangguk paham, dia tau bagaimana temperamen Zero ketika sedang marah. Pasti dia akan mengatakan apapun tanpa dipikir terlebih dahulu.


"Apakah sekarang Zero sudah tidak marah lagi?" Jeano kembali bertanya karena dia ingin tahu semuanya yang terjadi.


"Tidak, dan Kak Zero juga sudah setuju dengan pernikahan Daddy besok. Namun untuk sekarang Kak Zero tidak ingin menemui siapapun." Jelas Zeana memberitahukan bagaimana keadaan Zero sekarang.


"Kamu juga setuju?"


"Tentu saja. Bagaiamanapun juga Adik bayi harus punya keluarga yang jelas nantinya."


Benar juga apa yang dikatakan oleh Zeana karena anak itu adalah darah daging Felix dan merupakan keturunan Anderson juga.


Keduanya tampak diam setelah itu, mereka berdua sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Ouh iya, apakah tidak apa-apa tadi pagi aku tidak masuk sekolah?" Zeana kembali teringat tentang sekolahnya, dia sangat khawatir jika nanti sekolahnya akan mendapat masalah.


"Tidak apa, pasti Daddymu sudah mengurusnya." Kata Jeano menenangkan Zeana.


Dan ya, perkataan Jeano serta Zero sama. Karena mereka tau bahwa Felix akan mengurus semua masalah yang terjadi pagi tadi, termasuk urusan sekolah Zero dan Zeana.


Zeana mulai melihat kearah Jeano secara terliti dan dapat dilihat jika Jeano masih memakai seragam sekolahnya. "Kamu tidak pulang dulu ya?"


Jeano menggeleng pelan, "tidak. Aku langsung kesini sepulang sekolah karena khawatir dengan mu yang tiba-tiba tidak masuk sekolah."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jeano membaut Zeana merasa bersalah akan hal itu. "Maaf Jeano, aku membuatmu khawatir."


"Tidak apa. Jangan dipikirkan!" Kata Jeano sambil mengusap pelan kepala Zeana.


Tidak lama dari itu ada yang mengetuk pintu kamar Zeana dan terdengar suara Zero yang memanggil Zeana.


"Anna!"


"Kamu didalam?"


Dengan sedikit berteriak Zeana menjawab panggilam Zero. "Iya Kak, aku didalam. Masuk saja, pintunya tidak dikunci kok."


Ceklek


Terdengar suara pintu yang dibuka dan terlihat Zero mulai masuk kedalam kamar Zeana. Namun Zero malah dikejutkkan dengan kehadirann Jeano yang juga ada di kamar Zeana.


"Kenapa kau ada disini?" Heran Zero pada Jeano yang ada dikamar Zeana, serta sedang tersenyum cengegesan.


Ditanya seperti itu malah membuat Jeano melebarkam semyumnya. "Ingin saja, dan kedatangan ku kesini ingin mengucapkan selamat."


"Selamat untuk apa?"


"Selamat karena Daddymu akan menikah kembali dan selamat juga punya Adik baru. Hehehe..." Jeano malah tersenyum mengejek pada Zero.


Ucapan itu bukannya memberi selamat, namun lebih kearah mengejak. Apalagi ketika melihat wajah Zero yang berubah menjadi kesal, membuat Jeano tambah senang untuk mengejek Zero.


Dengan segera Zero menghampiri Jeano dan memukul kepala Jeano tanpa kira-kira.


Bughh


"Rasakan ini, berani-beraninya kau mengejek ku." Kata Zero yang merasa puas setelah memukul kepala Jeano. Sudah tau dari pagi dirinya sudah dibuat emosi, eh sekarang malah ditambah oleh Jeano.


"Sakit b*go, lo gak kira-kira mukulnya." Adu Jeano sambil terus mengusap-usap kepalanya. "Sayang sakit, Kakak mu jahat sekali memukulku." Kini Jeano mulai merengek pada Zeana, supaya dapat membelaan juga.


Dengan segera Zeana ikut mengusap kepala Jeano, tentu saja hal itu membuat Jeano senang. Jeano kira Zeana pasti akan membelanya dan pasti akan memarahi Zero.


Namun nyatanya tidak seindah ekspetasi yang Jeano bayangkan. "Suruh siapa malah mengejek Kak Zero? Jadi kena pukulkan. Rasakan saja." Kata Zeana mematahkan semua ekspetasi Jeano dan malah membuat Jeano menjadi kesal.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, membuat Zero dibuat ngakak oleh perkataannya. Zero kita Zeana akan membela Jeano dan memarahinya, tapi nyatanya tidak.


Melihat Zero yang tertawa keras membuat Jeano tambah kesal. "Kenapa sekarang Kakak beradik ini terlihat begitu menyebalkan?" Batin Jeano yang menatap Zeana serta Zero secara bergantian dengan tatapan kesal.


Sedangkan Zeana yang melihat Zero tertawa, menjadi ikut senang. Setidaknya dengan cara ini Zeana dapat membuat Zero tertawa dan melupakan sejenak kesedihannya. Meskipun Zeana tidak membenarkan prilakunya dengan membuat Jeano kesal.


Cukup lama Zero dapat mengentikan tawanya dan kini mulai menormalkan kembali ekspresi wajahnya. "Sudahlah, ayo kita turun! Tadi Bi Julia menyuruh kita turun sekarang, ada hal yang ingin Daddy katakan lagi."


Dengan segara mereka semua mengikuti ajakan Zero dan berjalan bersama-sama menuju lantai bawah. Namun tentu saja dengan raut wajah Zero yang kembali datar, sedangkan Jeano yang masih kesal


Zeana mendekati Jeano yang tampak sedikit berjalan berjauhan denganya, mungkin karena masih marah dengan hal tadi. "Maaf Jeano." Kata Zeana yang merasa tidak enak melihat wajah kesal Jeano yang seperti itu.


Jeano hanya mengangguk pelan. "Iya," singkatnya, namun masih saja wajahnya ditekuk kesal.


Sampailah mereka diruang tamu dan dapat mereka lihat jika sudah ada Felix serta Sarah disana.


"Duduklah!" Perintah Felix pada Zero dan Zeana. Namun saat Jeano hendak duduk, Felix malah melarangnya. "Kau tidak boleh! Pulanglah! Usir Felix secara langsung.


Tentu saja hal itu membuat Jeano kembali kesal, apakah keradirannya saat ini adalah suatu kesalahan? Kenapa  Anak dan Ayah kini membuatnya kesal?


Jeano tidak mendengarkan perkataan Felix dan malah dengan kesal ikut duduk disamping Zeana. "Tidak mau." Tolaknya tanpa menghiraukan tatapan kesal dari Felix.


Melihat sikap Jeano membuat Felix pasrah saja, untuk membiarkan Jeano ikut berada disana.


"Ada apa Dad?" Tanya Zeana yang mencoba mengalihkan perhatian dari perseteruan antara Jeano dan Felix.


Kini Felixpun mulai menatap Zeana dan Zero bergantian. "Pernikahan akan tetap dilakukan besok, dan Daddy harap kalian bisa menerimanya."


Zeana hanya mengangguk pelan saja karena memang dari awal dia sudah setuju dengan hal itu. Sedangkan untuk Zero dia hanya diam saja mendegar perkataan Felix, dia tidak mau berbicara yang nantinya malah akan menjadi perdebatan.


"Cieee...Pak Tua kawin lagi." Secara tiba-tiba Jeano malah berkata seperti itu, yang membuat semua orang yang ada disana dibuat kesal.


Mungkin kecuali Sarah, dia malah terkejut dengan ucapan Jeano. Dia tidak menyangka Jeano akan seberani itu, menyebut Felix dengan sebutan tersebut serta berkata seperti itu.


Apalagi dengan status Felix sebagai calon mertua Jeano nantinya. Dan apakah Jeano tidak takut? Jika nantinya Felix malah tidak merestui hubunganya dengan Zeana.


Tapi tenang saja, mungkin Readers tercinta yang sudah mantengi cerita ini dari awal sudah tau. Alasan kenapa Jeano memanggil Felix dengan sebutan Pak Tua, dan juga Felix yang tidak ada kandidat lain selain Jeano untuk dapat berdampingan dengan Zeana.


"Kau!!" Teriak Felix sambil menunjuk Jeano dengan kesal, sedangkan Zeana malah langsung mencubit dengan keras pinggang Jeano.


"Awww....sakit sayang. Kenapa mencubitku? Yang aku katakan benarkan? Bahwa Pak Tua itu akan Kawin lagi."


"Jeano!!"


Secara bersamaan Felix, Zero dan juga Zeana berteriak marah serta menatap tajam pada Jeano.


Mereka bertiga dibuat kesal dengan perkataan Jeano yang tidak disaring dulu, apa-apaan dengan enteng berkata kawin? Yang mungkin saja dapat disalah artikan oleh seseorang.


Sedangakan Jeano yang ditatap seperti itu, kini hanya menyegir tidak berdosa. "Hehehe..." cengir Jeano yang memperlihatkan gigi putih yang rapihnya.


Melihat Jeano yang hanya menyegir membuat mereka semua hanya mendengus kesal dan memilih untuk membahas hal lain untuk besok.


Felix mulai menceritakan semua acara-acara serta apa saja yang akan dilaksanakan besok. Tentu saja yang serius membahas hal itu hanyalah Felix, Zeana dan juga Sarah.


Sedangakn untuk Zero hanya diam sambil mendengarkan saja, serta Jeano yang kadang kali ikut menimpali pembicaraan tersebut. Namun sepertinya perkataan Jeano tidak dibutuhkan sekarang, apalagi perkataan Jeano hanya ikut membuat pusing saja.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.