Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 53



..."Buatlah seseorang tersenyum setiap hari, tapi jangan pernah lupa kamu juga seseorang."...


..._Bangchan...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


53. Niat Berkata Jujur


"Anna!!"


Teriakan tersebut mengkagetkan keduanya, Nico beserta Zeana lamgsung saja melihat kearah asal suara.


"Daddy?"


Terlihat Felix yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua sambil menatap tajam meduanya lebih tepatnya kearah Nico.


Felix segera menghampiri Zeana dan memegang tangannya, "Ayo pulang!"


Tentu saja Zeana tidak dapat melawan karena Felix langsung menariknya menuju mobil yang terparkir dipinggir jalan itu, serta Nico yang tidak dapat mencengahnya. Karena meskipun Zeana dan dirinya sudah berteman dari kecil, Nico tidak sedikitpun dekat dengan keluarga Zeana termasuk Felix maupun Zero.


Meskipun memang tak jarang juga Nico sesekali berbicara pada Felix untuk meminta izin membawa Zeana bermain bersama dan selain itu mereka tidak pernah mengobrol atau berinteraksi hal lainnya.


Felix dan Zero terkenal dingin dan sulit akrab dengan orang baru, termasuk Nico. Beda dengan Jeano yang memang orang tuanya sudah berteman lama.


Sering waktu berjalan bukannya malah dekat, Felix serta Zero malah membenci Nico karena selalu membuat Zeana sedih. Tapi disatu sisi juga merasa berterimakasih pada Nico karena sudah membuat Zeana amnesia serta menjadi seperti sekarang, sangat baik dan penurut.


Sontak Zeana yang dirasa belum berpamitan pada Nico menengok kearah belakang dimana Nico hanya dapat menatap mereka berdua dengan pasrah.


"Kak, aku pamit dulu. Bye." Ucap Zeana sambil melambai dengan salah satu tangannya yang bebas dari cekalan Daddynya.


Nico tidak mengatakan apapun hanya tersenyum saja namun tangannya ikut melambai untuk membalas lambayan Zeana.


Perlahan tubuh Zeana menghilang seiring dengan mobil tersebut melaju mengninggalkan danau Biru Asri tersebut serta meninggalkan Nico sendiri dengan rasa bersalahnya.


Sekarang Nico merasa bersalah karena sudah sering menyakiti Zeana sejak kenal dengan Sisqia, dia ingin menebus semua hal itu dengan mendekatkan kembali pada Zeana.


Namun sekarang entah masih bisa atau tidak untuk Zeana kembali bersama. Apa sekarang masih adakah cinta Zeana padanya?


Hal itu hanya diketahui oleh Tuhan serta hanya bisa dijawab oleh Author saja. Semoga para Readers bisa terus menunggu ya.


***


Sedangkan didalam mobil yang melaju menuju kediaman Anderson terdapat Felix yang sedang mengintrogasi Zeana tentang kebersamaannya dengan Nico.


"Kenapa bisa ada disana? Apakah kamu membolos? Setau Daddy ini masih jam sekolah. Dimana juga Kakakmu dan Bocah tengil itu?" Felix secara langsung menanyakan pada Zeana beberapa bertanyaan.


Zeana yang mendapat pertanyaan beruntun dari Felix dibuat bingung harus menjawab apa terlebih dahulu. "Aku bingung Dad harus jawab dari mana dulu."


"Perlahan saja, dan jawab semua pertanyaan Daddy."


"Aku bisa di Danau itu karena memang aku ingin kesana, dan jam sekolah sudah berakhir dari beberapa jam yang lalu. Sekolah sedang mempersiapankan latihan untuk acara tahunan, jadi para murid dipulangkan lebih awal." Zeanapun mulai menjawab, menjelaskan satu-persatu pertanyaan dari Felix.


"Lalu Zero dan Jeano kemana?" Felix masih heran dan dengan pernyataan dari Zeana, kalau misal sudah pulang kenapa Zero dan Jeano juga tidak ada?


"Kak Zero dan Jeano sedang latihan untuk nanti acara Dad, jadi mereka tidak bisa ikut pulang bersama ku. Tadi juga aku dijemput oleh Paman Tono, dan minta untuk diturunkan didanau karena ingin duduk sebentar saja disana." Lanjut Zeana menjelaskan apa yang terjadi.


"Lalu kenapa bisa bersama orang itu di danau tadi?" Sangat malas sekali kalau harus menyebut namanya, akhirnya Felix hanya menyebutnya sebagai orang itu.


"Maskud Daddy Kak Nico?"


"Ya. Siapa lagi? Tapi tunggu, bagaimana kamu bisa mengenalkanya?" Felix merasa heran juga kaget karena Zeana dapat mengingat nama Nico.


"Hari ini Kak Nico baru saja  mengenalkan diri padaku sebagai teman dan aku tidak tahu Dad kenapa Kak Nico bisa ada disana juga."


Felix yang mendegar apa yang dikatakan oleh Zeana merasa terheran-heran dengsn sikap Nico. Kenapa Nico harus repot-repot mengenalkan diri pada Zeana?


Bukannya Nico harusnya bahagia karena kini Zeana tidak mengganggunya lagi. Dan kenapa bisa Nico ada didanau itu juga? Apakah Nico mengikuti Zeana?


Jadi apakah sekarang Nico yang mengejar Zeana? Memikirkan hal itu membuat Felix menjadi kasihan dengan Bocah tengilnya siapa lagi kalau bukan Jeano. Felix merasa kasihan pada Jeano karena seperinya kini harus berjuang lagi agar Zeana tetap bisa bersamanya.


Sepertinya Felix harus ikut mendukung Jeano agar bisa bersaman karena bagaimanapun juga Felix merasa bahwa Jeano lebih baik dari pada harus dengan Nico.


"Apakah Zero atau Jeano tidak membari tahumu, jika tidak boleh berdekatan dengan orang yang bernama Nico?"


Seketika tubuh Zeana menengang mendengar perkataan Felix, benar dia ingat sekarang. Jeano serta Zero sudah memberi tahunya jika tidak boleh berdekatan dengan Nico dan sekarang bahkan Zeana sudah menemui Nico sebanyak 2x.


Wah sangat gawat dan dapat menimbulkan gencatan perang dunia ketiga.


"Dad bagaimana ini? Jeano dan Kak Zero pasti akan marah jika tau aku menemui Kak Nico. Aku benar-benar tidak ingat Dad, jika mereka berdua sudah menberi tahu untuk tidak berdekatan dengan Kak Nico." Panik Zeanan dengan wajah yang penuh dengan khawatiran, sungguh bukan suatu kesengajaan Zeana ingin bersama Nico. Lagian kini entah mengapa disaat Zeana sendirian, pasti Nico datang menemuinya.


"Dengar ini! Ini semua adalah masalah yang harus kamu hadapi, Daddy tidak mau ikut campur dengan itu karena takut akan menambah masalah saja. Ikuti semua kata hatimu, dan ingat selalu jujur entah apapun itu karena suatu hubungan akan baik jika saling jujur dan terbuka."


Zeana dengan seksama mendengarkan semua yang dikatakan oleh Felix, dia mulai berpikir tentang bagaimana menyelesaikan masalahnya.


"Ouh iya, apa yang kalian bicarakan tadi?" Felix merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Zeana dan juga Nico karena siapa tau saja bisa menjadi bahan informasi yang dapat diberikan pada Jeano maupun Zero nantinya.


Zeana mulai menceritakan semua yang dikatakan bersama Nico didanau tanpa ada yang dilewatkan serta ditutup-tutupi.


"Itu terserah padamu, tapi ingatkan berkata jujur itu lebih baik."


Zeana mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Daddynya, benar bagaimanapun juga Jeano adalah tunangannya yang harus tau juga tentang ini.


"Ouh iya Dad, aku juga bingung dengan perkataan Kak Nico tadi. Sebenarnya siapa sahabat baik ku dari kecil? Jeano atau Kak Nico?"


Felix ingin menjelaskan hal itu, namun dia pikir Jeano akan lebih berhak untuk menceritakan semua pada Zeana.


"Daddy tidak mau menjawabnya, kamu tanya Jeano saja. Dia yang akan menjawab semua rasa bingung mu selama ini dan mungkin menjadi penyelesaian dari masalah ini."


"Baiklah, aku akan tanya Jeano nanti."


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dirumah, Felix beserta Zeanapun melangkah masuk kedalam.


"Kenapa Daddy sudah pulang dijam segini?"


"Daddy belum pulang, hanya saja ada berkas tertinggal yang harus Daddy ambil dirumah."


"Terus dimana Paman Hans?" Zeana baru sadar jika yang tadi bersama mereka bukan Hans, melainkan sopir yang lain.


"Hans sedang menghendel sebentar urusan kantor, kebetulan Daddy sedang dekat dengan rumah jadi Daddy yang mengambil berkas."


"Lalu bagaimana Daddy bisa tau aku ada didanau?"


"Ya kebetulan tadi lewat dan melihatmu didanau, lalu Daddy menghampiri mu saja."


Zeanapu hanya mengangguk pelan, "Jadi Daddy akan kembali lagi ke kantor?"


"Ya, tentu. Setelah ini segera makan dan minun obat, okey?"


"Baik Dad." Zeana segera pergi kekamarnya serta Felix yang segera mengambil berkas dan berlalu pergi lagi kekantor.


***


Waktu terus bergulir kini sudah menunjukan sore hari, dimana kini cuaca sedikit agak mendung namun masih sangat indah dilihat. Ditempat lain tepatnya lapangan sekolah Zero beserta yang lainnya baru saja menyelesaikan latihannya.


Tubuh mereka semua dipenuhi dengan keringat sehabis latihan, terasa lelah dan letih namun mereka semua juga merasa bangga sudah dapat menyelesaikan latihan tersebut dengan sangat baik.


Zero yang baru saja selesai berganti pakaian kini mulai melihat ponselnya yang dari tadi siang tidak dilihatnya, saat pertama kali melihat ponselnya Zero dikagetkan dengan panggilan tidak terjawab dari Zeana. Hal itu sangat mengejutkan baginya, apalagi tidak hanya 1 bahkan sampai 3 panggilan dari Zeana yang tidak dapat Zero jawab.


Tapi setelah melihat pesan dari Zeana malah menambah rasa khawatir pada Zero, dia pikir apakah sekarang Zeana sudah pulang kerumah? Karena melihat pesan tersebut dikirim waktu siang tadi.


Zero mulai menelpon kembali nomor Zeana dan untung sekali langsung dijawab.


"Halo Kak."


"Apakah kamu sudah pulang sekarang?"


"Sudah Kak, tadi aku pulang bersama Daddy."


"Syukurlah kalau begitu, tapi ingat jangan mengulangi lagi! Kakak sudah bilang tidak boleh berpergian sendirian, kenapa masih saja pergi?"


"Maafkan aku Kak, tapi tadi suasana di danau sangat indah. Jadi aku tidak bisa melewatkan hal itu, lagian kalau pulang kerumahpun aku hanya akan diam saja."


"Baiklah, tapi tidak untuk diulangi!!"


"Siap Bos."


Zero dibuat terkekeh dengan apa yang dikatakan oleh Zeana, dia berasa lucu dengan nada suara Zeana yang sedikit berubah menyerupai seperti prajurit, dan pasti Zeana juga sedang mengangkat tangannya kesisi kepala bergaya hormat.


"Apa Kakak masih lama untuk pulang?"


"Tidak. Sekarang Kakak sudah mau pulang.


"Kalau begitu hati-hati dijalannya."


"Pasti, kalo begitu Kakak tutup telponnya."


"Iya."


Tut


Meskipun telpon sudah dimatikan tapi Zero masih saja ternyum kecil sambil memandang ponselnya, dia merasa bahagia jika dapat diperhatikan oleh Zeana.


Saat membalikan tubuhnya Zero dikagetkan dengan semua anak basket yang melihat dirinya. "Ngapain kalian liatin gue kayak gitu?"


"Hehehe gak papa, lagi telponan sama siapa Zer? Kok kelihatannya kayak bahagia gitu." Tanya Bobby yang selalu kepo dimanapun dan kapanpun.


"Gak ada." Singat Zero yang langsung mengambil tasnya dan hendak pulang. "Gue cabut duluan." Lanjutnya sambil melangkah keluar tanpa mendengarkan atau menghiraukan temannya yang lain.


Sedangkan yang lainnya hanya mampu menatap kepergian Zero dengan kesal, selalu seperti itu. Si manusia es ini tidak akan berkata banyak jika dengan orang lain, hanya bersama orang terdekatnya saja Zero dapat berubah menjadi cerewet.


***


Siapa yang kemarin sempat tebak Jeano atau Zero? Taraaa mak jreng, selamat Anda salah ternyata itu Sugar Daddy kita Felix🤣🤣🤣


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.