Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 20



..."Semua ini akan berakhir, kerumitan ini adalah proses panjang menuju hal-hal membahagiakan. Bertahan ya, semuanya akan kembali baik. Meski nantinya akan ada masalah lain, setidaknya kamu sudah berhasil melewati yang satu ini."...


..._Temani Jalan...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


20. Memulai Rencana


Setelah menyusun rencana bersama Zero, Zeana kembali beraktifitas seperti biasanya. Kuliah dan juga menjalani hal lainnya seperti biasa. Namun untuk kali ini, interaksinya dengan Jeano jadi semakin mengurang.


Dikarenakan, Jeano yang sedang mempunyai banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Sebelum peresmiannya, sebagai calon penerus baru dari perusahaan Xiallen.


Keduanya hanya akan saling memberi kabar saja, tanpa bertemu. Hal itu juga, yang membuat Zeana belum menceritakan tentang Mora pada Jeano.


Rasanya akan lebih enak, jika diobrolakan secara langsung. Tanpa harus melewati media telepon atau yang lainnya.


Namun pagi kali ini, Zeana mendapatkan kabar menbahagiakan dari Zero. Tentu saja menyangkut tengang Mora.


"Kakak sudah menjalani apa yang kamu bilang. Besok mereka semua akan kesini untuk makan malam bersama, ternyata ide yang kamu berikan sangat berguna sekali."


"Siapa dulu dong." Tentu saja Zeana sangat bangga pada dirinya sendiri karena rencana yang dia susun berjalan dengan lancar.


"Baiklah, Kakak akan pergi ke kantor dulu. Kamu tidak ke kampus kan?"


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Kakak belum sempat bicara pada Mamah tentang kehadiran keluarga Horison, jadi kamu yang bicara saja."


"Oke, hal yang angat mudah. Kakak tidak perlu khawatir. Apakah Daddy sudah tau juga?"


"Sudah. Karena Kakak membicarakan hal itu, tepat didepan Daddy."


Zero mengundang keluarga Horison untuk makan malam dikediaman Anderson, tepat bersama Felix. Mereka bertiga kemarin ada urusan bisnis yang harus dibahas.


Sehingga dalam hal itu juga, Zero segera mengundang Tuan Horison untuk itu. Awalnya Tuan Horison tidak percaya dengan undangan yang Zero katakan, termasuk dengan Felix juga.


Felix heran dengan Zero yang mengundang orang asing secara tiba-tiba untuk berkunjung kerumahnya.


Namun alasan yang diberikan oleh Zero dapat menyakinkan Tuan Horison dan juga Felix, tanpa curiga sedikit pun.


"Kalau begitu, sisinya biar aku yang mengurusnya. Termasuk membari tahu Mamah."


"Ya, kamu harus melakukan hal itu. Kalau begitu Kakak pergi ya?" Pamit Zero pada Zeana dan segera meninggalkan rumah menuju perusahaan untuk bekerja.


"Welcome para berkas-berkas tercinta, aku datang." Batin Zero menjerit, ketika harus kembali dihadapkan dengan begitu banyak berkas-berkas pekerjaannya.


Hanya dengan membayangkan saja selama perjalanan, dapat membuat Zero sakit kepala tentang itu.


Tapi, Zero juga harus menyukai pekerjaanya. Karena bagiamana pun juga, dia mempunyai kewajiban dan juga tuntutan yang harus dilakukan.


Gak kerja gak dapat duit, giliran udah kerja bawaannya pengen istirahat mulu. Siapa lagi kalau bukan kelakuan para human? Termasuk Author juga.


***


Setelah kepergian Zero, kini dengan segera Zeana mendatangi Sarah ditempat biasa. Sarah berada dijam seperti ini, yaitu taman belakang.


Dijam pagi hari, Sarah akan selalu berada ditaman untuk menyirami para bunga yang ada disana. Hal itu sudah menjadi rutinitas yang Sarah lakukan sejak lama.


Dengan segera Zeana membawa langkahnya menuju taman belakang berada, dapat terlihat jika benar Sarah berada disana.


"Mamah." Panggil Zeana setelah jaraknya cukup dekat dengan Sarah, namun nyatanya suara Zeana yang tiba-tiba dapat mengejutkan Sarah.


"Ah-Ann, kamu ngagetin Mamah deh." Kata Sarah sambil menatap kearah Zeana dengan raut wajah kesal.


Sedangkan Zeana hanya dapat meringis pelan, "hehehe maaf."


"Ada apa kamu kesini? Dan jangan terlalu dekat-dekat dengan bunganya!" Peringat Sarah, yang lebih memilih mendekat pada Zeana. Dibanding Zeana yang malah tanpa sadar, nantinya mendekati bunga-bunga yang ada.


Sarah tidak mau Rhinitis Alergi Zeana kambuh lagi, dan sebisa mungkin untuk menghidarinya.


"Ada hal yang harus aku bicarakan pada Mamah."


"Apa itu?"


Zeana menunjuk gazebo yang tidak jauh berada ditaman itu, "Kita duduk dan mengobrol disana saja Mah."


Dari gazero tesebut masih dapat melihat keindahan taman belakang yang dipenuhi bunga-bunga. Juga digazebo itu akan teduh dari sinar matahari, sehingga bisa mengobrol dengan tenang.


Sarah mengangguk setuju, lalu menyimpan alat penyiram tanaman yang dirinya bawa. "Baiklah, ayo!"


Keduanya mulai berjalan menuju gazebo tersebut, tempat yang selalu bersih dan terawat.


Tentu saja, dengan senang hati Felix akan mengabulkannya. Jadi, berdirilah Gazebo yang bisa digunakan oleh orang banyak.


Untuk dapat melihat keindahan taman belakang kediaman Anderson, dan juga menjadi tempat nyaman untuk mengobrol juga.


Setelah keduanya duduk dengan sempurna dan nyaman, baru obrolan tersebut berlanjut. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan?"


"Ini tentang Mora Mah."


"Memangnya, kenapa dengan Mora?"


"Ternyata orang yang sempat aku liat diacara peresmian adalah Mora. Mereka sekeluarga menghadiri acara itu, dan ternyata mereka juga tinggal disini."


Perkataan dari Zeana mempu membuat Sarah terkejut. Dirinya tidak pernah tau, jika Mora dan keluarnya pindah ke kota ini juga.


"Benarkah? Bagaimana bisa?"


"Mora dan kedua orang tuanga pindah kesini karena keadaan Mora. Mora drop dan sangat tertekan, ketika mengetahui Riana meninggal. Sehingga Dokter yang menanggani Mora, menyarankan untuk berobat kesini dan akhirnya mereka memilih menetap disini juga."


Penjelasan dari Zeana didengarkan dengan begjtu serius oleh Sarah. Sungguh, Sarah juga baru mengetahui fakta tersebut.


"Mamah hanya tau, waktu itu Mora sedang menjalani pengobatan. Mamah pikir Mora masih berobat di kota, dimana kota tinggal dulu. Tidak menyangka akan pergi dan pindah kesini."


Sarah juga tahu, keadaan Mora ketika Riana dinyatakan meninggal. Mora datang ke pemakaman Riana, dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Tidak lupa, selain tangisan. Teriakan histeris dari Mora waktu itu, juga ikut menghiasi pemakanan Riana.


Tidak lama dari itu Mora pingsan dan segera dibawa pergi. Setelah berhari-hari dari pemakaman itu, Sarah sempat bertemu dengan salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di kediama Horison.


Dan juga menanyakan tentang kabar Mora juga, karena bagaimana pun Sarah ikut khawatir tentang keadaan Mora. Apalagi hal tersebut karena kepergian Putrinya, Riana.


Asisten rumah tangga tersebut, hanya bilang jika baik-baik saja dan sedang menjalani perawatan. Sarah yang memang merasa paham dengan itu, tidak banyak bicara dan bertanya lagi.


Sarah tidak kepikiran, jika Mora berobat diluar kota dan malah menetap juga.


Setelah itu, Sarah belum bertanya lagi secara langsung karena kepergiannya ke kota ini untuk memulai hidup baru. Mungkin tanpa sadar, kepindahan Sarah dan Mora itu hampir berbarengan.


"Mungkin karena kepindahannya pun, dadakan Mah. Sehingga, tidak banyak orang yang tahu tentang itu. Tapi aku juga merasa bersalah, tanpa sadar aku telah membuat Mora jadi seperti itu." Kini kedua mata Zeana tampak berkaca-kaca. Dirinya akan selalu merasa bersalah, sebelum bisa kembali membuat Mora bahagia.


"Ini bukan salah mu Anna, ini takdir." Kata Sarah sambil mengusap punggung Zeana penuh kasih sayang. Zeana akan menjadi satu-satunya Putri yang dia sayangi dan cintai, meskipun dalam tubuh berbeda.


"Untuk menebus kesalahan ku, aku ingin kembali berteman dengan Mora Mah."


"Bagaimana caranya?" Sarah sedikit tidak paham dengan maksud Zeana, apakah Zeana juga akan mengungkapkan tentang dirinya yang sebenarnya pada Mora?


"Kita akan mengundang keluarga Mora untuk makan malam bersama besok, disini dan dirumah ini juga. Kak Zero sudah mengatur waktunya dan juga memberi alasan yang sangat tepat dan bagus."


"Apa alasannya?"


"Mamah." Jawab Zeana santai dan tanpa beban.


"Apa!!"


Sarah langsung terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Zeana. Apa maksud dengan dirinya yang dijadikan alasan?


Sedangkan, Zeana merasa lucu melihat wajah terkejut dan juga kedua mata melotot yang Sarah perlihatkan.


"Aku dan Kak Zero sudah merencakan hal itu. Dimana Mamah yang akan digunakan sebagai alasan, dari undangan tersebut. Tidak mungkin, jika keluarga Anderson mengundang orang asing secara tiba-tiba.


Tapi, jika kita menggunakan nama Mamah akan semakin mudah dan masuk akal. Kita tinggal bilang, alasan mengundang Mora dan keluarga adalah karena Mamah yang mempunyai hubungan baik dengan keluarga Mora.


Jadi, sekarang juga Mamah ingin terus menjalin hubungan baik dengan keluarga Mora. Tapi, dengan keluarga baru Mamah.


Selain itu ternyata Daddynya Mora juga menjalin kerja sama yang sudah lama dengan perusahaan Daddy. Jadi, itu suatu alasan yang sangat bagus bukan?" Tanya Zeana dengan wajah penuh bangganya. Sungguh ide yang tidak ada duanya.


Sarah hanya bisa pasrah saja, jika sudah bergini. Ingin marah dan protes pun sudah percuma. "Sangat bagus, tapi tidak dengan menjadikan Mamah umpan juga Anna!!" Teriak Sarah diakhir katanya, dirinya sedikit menjadi emosi sekarang.


Zeana terlonjak kaget mendengar teriakan Sarah, yang meneriaki namanya. "Maaf Mah, nanti tidak akan lagi. Lagian aku tidak ada ide lain untuk hal ini, jadi maaf ya?" Kata Zeana dengan wajah memelasnya, sehingga Sarah tidak tega melihat hal tersebut.


Mengehela napas sejenak, Sarah mencoba untuk ikut rencana Zeana yang sudah berjalan seperempat jalan ini. "Baiklah, tidak apa. Mamah akan ikuti rencana kamu, sekarang lebih baik kamu siap-siap untuk kuliah Online."


"Baik Mah. Terimakasih, aku sayang Mamah."


"Sama-sama. Mamah juga sayang Anna."


Mereka berdua sempat berpelukan sebentar, lalu Zeana segera pergi kekamarnya untuk bersiap-siap.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.