Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 32



..."Semua ini akan berakhir, kerumitan ini adalah proses panjang menuju hal-hal membahagiakan. Bertahan ya, semuanya akan kembali baik. Meski nantinya akan ada masalah lain, setidaknya kamu sudah berhasil melewati yang satu ini."...


..._Temani Jalan...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


32. Mora dan Zero


"Kak Zero masih disini?" Tanya Mora dengan wajah yang tidak bisa ditutupi, jika sekarang dirinya merasa terkejut dengan keberadaan Zero yang menunggunya.


Mora kira, Zero akan langsung pergi ketika mengantarnya menuju toilet. Namun nyatanya tidak, Zero masih ada sampai sekarang. Seketika Mora menjadi merasa bersalah karena membuat Zero menunggu terlalu lama dirinya, "maaf Kak, buat Kak Zero nunggu lama. Aku kira Kak Zero sudah langsung pergi."


Sedangkan Zero hanya diam dan terus menatap Mora dengan pandangan yang sulit diartikan. Membuat Mora yang ditatap seperti itu, menjadi takut dan juga gugup.


Mora tidak pernah, bahkan belum pernah ditatap seperti ini oleh orang lain, apalagi seorang pria seperti Zero.


"Kesini bersama siapa?"


"Hah?"


Mora yang memang sedang tidak fokus, menjadi tidak mendengar dengan jelas opa yang dikatakan oleh Mora. Sedangkan Zero harus sedikit bersabar menghadapi Mora, yang menurutnya sedikit lola.


"Kesini.sama.siapa?" Kata Zero yang menekan setiap perkataanya, supaya Mora merasa jelas dengan apa yang dikatakannya.


"Aku kesini bersama Zea."


Jawaban dari Mora membuat Zero mengerutkan dahinya, bertanda tidak mengetahui tentang siapa orang yang Mora maksud. Dan Mora yang pahan akan tatapan tersebut, mulai menjelaskan secara rinci siapa orang yang dirinya maksud.


"Ahk-maskud ku Zeana, tapi aku lebih suka menyebutnya Zea. Kita sudah mulai berteman sejak malam itu."


Meskipun Zero tidak meminta Mora menjelaskan semuanya, namun dengan senang hati Mora menjelaskan itu semua.


Zero pun mengangguk singkat, "lalu sekarang, dimana Anna?"


"Zea ada ditempat makan bersama temannya."


"Siapa?"


"Apanya yang siapa?"


"Teman yang bersama Anna?"


"Hmm...namanya Rara."


"Lalu kenapa pergi sendirian?" Zero tidak habis pikir dengan Zeana yang membolehkan Mora pergi sendiri.


Bukannya, Zeana sendiri yang memberi tahunya, jika Mora tidak akan bisa mengurus apapun sendirian? Ditambah masih ada dalah satu antara Zeana dan Rara yang dapat mengantar Mora pergi.


Dapat dibayangkan, jika misalkan dirinya tidak datang. Apa yang akan terjadi pada Mora?


"Aku tidak enak saja untuk mengajak salah satu dari mereka berdua, lagian tadi mereka berdua juga masih makan."


Ya, Mora rasa tidak enak rasanya, jika harus meninggalakan salah satu dari mereka. Dan juga tidak mau mengganggu makan keduanya, hanya untuk menemaninya ketoilet.


Mora masih sangat canggung dan sungkan untuk itu.


"Apakah Anna tidak menawari untuk menemani mu?"


"Zeana menawari untuk menemani ku, tapi aku tolak karena merasa tidak enak."


Mora masih merasa sungkan untuk itu semua, masih banyak ekspekulasi yang tidak diharapkan. Simpelnya terlalu overthinking terhadap sesuatu.


"Kalau begitu, ayo kita kembali kepada mereka berdua!"


"Loh, Kak Zero ikut?"


"Ya, aku akan mengantarmu kesana."


Tanpa disadari kini Zero memegang tangan Mora dan mulai berjalan beriringan menuju tempat Zeana dan Rara berada. Mereka sempat menjadi sorotan banyak orang karena penampilan Zero dan Mora yang terlihat sangat tampan dan juga cantik.


Selain itu, mereka semua berpikir jika Zero dan Mora adalah sepasang kekasih yang sangat cocok dan romantis.


***


Sedangkan ditempat Zeana dan Rara berada, kini mereka berdua sudah menyelesaikan makanan mereka. Keduanya sempat mengobrol ringan, membahas tentang Mora.


Rara yang harus mencari data Mora, namun secara garis besarnya saja. Hanya untuk membuktikan, jika perkataan Zeana benar adanya. Sehingga, Rara juga belum tau kalau Mora menginap Sindrom Cinderella Complex.


Tentu saja hal itu dilakukan sambil menunggu Mora yang izin pergi ketoilet, namun seiring berjalannya waktu, Zeana mulai gelisah dengan Mora yang tak kunjung kembali juga.


"Mora kok belum balik ya?" Tanya Zeana sambil menatap pintu masuk, berharap Mora ada disana sedang berjalan masuk.


Namun tidak ada tanda-tanda sedikit pun dari kedatangan Mora. Tentu saja hal itu membuat Zeana cemas karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi pada Mora.


"Yaelah, dia cuman ke toilet doang. Lagian dia udah gede dan gak bakal tersesat, atau bakalan nangis karena gak tau cara balik lagi kesini." Kata Rara yang menimpali perkataan Zeana.


Menurut Rara, hal itu bukanlah suatu yang perlu dipermasalahkan. Toh, Mora udah dewasa dan nampu untuk cuman pergi ketoilet sendirian.


Namun pada kenyataannya, Rara tidak tahu keadaan Mora yang sebenarnya. Mora mungkin saja akan langsung menangis, jika tidak tahu jalan kembali kesini.


Ditambah dengan Zeana yang tidak bisa menghubungi Mora karena ponsel, beserta tas Mora ada dimeja.


Zeana yang mendengar perkataan Rara pun, tidak bisa berkomentar banyak. Belum saatnya, Zeana memberi tahu tentang keadaa  Mora yang sebenernya pada orang lain.


Bukan juga wewenang Zeana untuk mengumbar kekurangan Mora, yang mungkin saja bisa dianggap suatu problem yang sangat serius oleh orang yang bersangkutan itu.


Lagian, yang Zeana harapkan itu. Mora dapat sembuh dari hal yang dideritanya, dan menjalani hidup normal seperti kebanyakan orang-orang.


"Aku susul dulu Mora deh." Kata Zeana yang sudah bersiap akan berdiri dari duduknya, namun dengan segera Rara menahan tangan Zeana.


"Gak usahlah An! Mungkin sebentar lagi juga dia bakalan balik sendiri."


Entah mengapa Rara kembali merasa iri ketika melihat perlakuan Zeana yanh sedikit berlebihan pada Mora. Padahal Mora adalah orang yang baru dikenalnya.


Ternyata omongan Rara ada benarnya juga, kini dapat Zeana lihat, jika Mora mulai berjalan masuk kedalam tempat itu. Namun Zeana juga malah dikejutkan dengan cara dan orang yang menemani Mora kembali.


"Kak Zero!"


Pekik Zeana begitu mengetahui, jika Mora kembali bersama Zero. Dengan Zero yang memegang tangan Mora, tanpa ragu dan risih sekalipun.


Rara pun ikut terkejut dengan suara Zeana dan apa yang dilihat didepannya  oleh kedua matanya.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.