
..."Do the things you want to do, the things you thought were right, and the things you like."...
..._Jung Jaehyun...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
35. Kantin Sekolah
Jam kini menunjukan waktu makan siang, semua murid-murid mulai berhamburan menuju kantin sekolah untuk mengisi kembali tenaga mereka yang sempat terkuras ketika belajar pagi tadi.
Sama halnya dengan Zeanan dan kawan-kawan yang bersiap menuju kantin namun harus menunggu terlebih dahulu Jeano dan yang lainnya datang untuk pergi bersama. Karena memang Jeano sudah mengingatkan mereka agar pergi bersama.
Tidak harus menunggu lama, sudah terlihat Jeano yang mulai berjalan kearah mereka bertiga.
"Ayo!" Ajak Jeano yang langsung mengandeng tangan Zeana dan berlalu menuju kantin diikuti oleh yang lainnya dibelakang.
Mereka semua berjalan dengan santainya tanda terganggu dengan bisikan serta tatapan orang lain yang mengarah kepada mereka semua. Bagimana tidak menjadi perhatian orang lain, jika orang yang sedang berjalan tersebut merupakan most wanted SGX serta anak-anak dari jajaran orang terpandang dikota tersebut.
Begitu mereka masuk kantin sudah dipenuhi oleh hampir semua orang yang sibuk dengan makanan pesanan mereka, serta orang-orang yang sibuk mencari tempat untuk duduk. Namun tenang saja Jeano dan yang lainnya sudah memiliki meja serta kursi yang memang khusus untuk ditempati oleh Jeano yaitu berada di pojok kantin.
"Duduk disini!" Perintah Jeano yang menarik salah satu kursi yang akan ditempati oleh Zeana. Disusul oleh Jeano yang duduk disampingnya.
Mereka semuapun sudah duduk dikursi masing-masing dan dekat cepat juga Andra serta Bobby menawarkan ingin memakan makanan apa.
Bukan bermaksud menjadikan Bobby dan Andra sebagai babu, namun mereka berdua yang memang menawarkan diri untuk melakukan hal itu katanya sih lumayan bisa liat cewek-cewek cantik dulu selagi ngantri ngambil makanan.
"Mau pada makan apa nih?"
"Kamu ingin makan apa Anna?" Tanya balik Jeano pada Zeana yang masih asik melihat-lihat seisi kantin.
"Aku ikut kalian saja."
"Gimana kalo spagetti saja? Ditambah lemon tea?" Usul Aqila yang langsung disetuju semua orang agar nanti tidak merepotkan dalam mesan tinggal sebut saja jumlah yang ingin dipesan.
"Nah iya, itu aja."
"Oke fiks ya itu. Yok Bob cabut!"
Andra dan Bobbypun pergi untuk memesan makanan, sedangkan sisanya mengobrol sambil menunggu makanan tiba.
"Bagaimana belajarmu? Apakah menyenangkan?" Tanya Zero pada Adiknya yang melihat wajah senang Zeana tak luntur sejak pagi tadi.
"Menyenangkan. Teman sekelasku sangat baik serta Guru yang mengajarpun sangat baik dan memberikan materi dengan sangat teliti, sehingga sangat mudah untuk dipahami." Jelas Zeana pada Zero yang membuat Zero merasa lega mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana.
"Syukurlah kalo begitu."
"Ouh iya, aku ingin bertanya. Apakah aku dulu sangat terkenal? Sampai hampir semua orang tau nama ku? Tadi saja mereka secara sepontan menyebutkan nama ku."
"Ya tentu saja, kamu kan suka bu...hmhm..."
Ucapan Aqila harus terhenti karena dengan segera Rara membekap mulut Aqila yang hendak mengatakan bahwa Zeana adalah queen bully waktu dulu.
Serasa Aqila tak akan berbicara lagi, baru Rara menurunkan tangannya. Rara langsung saja melotot menatap Aqila dan seolah menberikan kode untuk tidak melanjutkan ucapannya. Tentu saja Aqila yang sadar dengan kode yang diberikan langsung saja menatap Zeana dengan pandangan was-was.
"Duh, hampir aja keceplosan. Bisa mati gue." Batin Aqila yang sudah mendapatkan tatapan tajam dari Zero serta Jeano.
"Aku suka apa emangnya?" Heran Zeana menatap Aqila meminta untuk melanjutkan ucapannya.
"Suka....bu..buku. Ya, suka buku. Kamu sangat suka sekali baca buku." Dengan cepat Rara mencari alasan agar Zeana percaya dengan ucapannya.
"Benarkah? Berarti aku sama seperti Bunda? Suka sekali baca buku."
"Tentu, kamu sama seperti Bunda. Apalagi nanti kamu akan menjadi anaknya juga."
Zeana mengerutkan halisnya tanda tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Jeano. Mengapa dia akan menjadi anak Bunda Maura? Apakah Daddy Felix membuangnya?
"Apakah Bunda Maura akan mengadopsiku?"
"Hah?"
Semua orang yang mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana menganga tidak paham dengan pertanyaan Zeana. Apa maksudnya?
Dengan polos Zeana berkata serta raut wajah sedih yang terlihat diwajahnya, tak lupa bibir yang mengerucut membuat dia menjadi imut tanpa sadar.
Sontak saja Aqila dan Rara tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Zero meringis sambil menggeleng pelan mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, kenapa Adiknya bisa berpikir seabsurd itu?
Tidak berbeda jauh dengan yang lain Jeano juga tidak habis pikir dengan apa yang dikatakn oleh Zeana, serta meresa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Zeana. Siapa yang ingin Zeana menjadi Adiknya? Dia ingin Zeana menjadi pendamping untuk masa depannya kelak. Menjadi Istri serta Ibu dari anak-anaknya nanti.
Bagaimana bisa Zeana berpikir sebodoh itu bahkan sampai sejauh itu? Apakah Zeana tidak terpikirkan tentang dia yang menikah dengan Jeano? Yang nanti secara otomatis Zeana akan menjadi anak dari Maura juga, bukan malah berpikir tentang adopsi.
Tapi wajah saja sih, jika Zeana yang sekarang berpikir begitu. Karena yang kini mereka tau Zeana adalah seorang yang polos yang terkadang pola pikirnya tidak bisa ditebak oleh orang lain.
Zeana yang melihat Aqila dan Rara tertawa terbahak-bahak sontak saja menjadi tambah sedih. "Kenapa Aqila dan Rara ketawa? Apakah kalian senang jika aku dibuang oleh Daddy?"
Langsung saja Aqila dan Rara mencoba untuk menahan tawanya meskipun sangat ingin kembali tertawa ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana.
"Bukan Anna, kita tidak menertawakanmu. Lagian mana mungkin Om Felix akan membuang mu." Jelas Aqila mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk Zeana.
"Tapi kenapa aku akan menjadi anak Bunda? Kak apakah aku membuat kesalahan, hingga Daddy akan mengusirku dan mengirimkan pada Bunda?" Kini Zeana bertanya pada Zero dengan wajah yang terlihat sangat sedih dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Entahlah sifat dari Riana yang dulu ternyata terbawa ketubuh Zeana, dimana Riana adalah orang yang mudah sedih bahkan menangis jika hal ada hal sulit yang menimpanya. Tapi bukan berarti Riana adalah orang yang cengeng, Riana akan memperlihatkan sifat itu hanya pada orang yang benar-benar dekat dengannya.
Secara langsung Zero membawa tubuh Zeana kedalam pelukannya, dan mengusap pelan kepala Zeana yang berada di dekapannya. "Tidak Anna. Kamu tidak membuat kesalahan dan Daddy tidak akan membuang mu, jangan terlalu jauh berpikir!"
Jeano yang melihat Zeana makin berpikir jauh langsung saja menarik tubuh Zeana dari dekapan Zero dengan pelan. Kemudian menangkup kedua pipi Zean dengan kedua tangannya agar pandangan Zeana hanya padanya.
"Dengar Anna! Yang dikatakan oleh Zero dan yang lainnya benar, Daddy tidak akan membuang mu. Dan Bunda juga tidak akan mengadopsimu, serta tidak akan ada kamu yang menjadi Adikku. Yang aku maksud adalah kita. Saat nanti kita menikah, secara otomatis kamu akan menjadi anak Bunda juga. Paham?" Jelas Jeano yang terus menatap kedua mata Zeana.
Namun respon Zeana yaitu menggeleng pelan, "Aku tidak ingin menikah."
Deg
Sontak saja Jeano merasa sakit dibagian hatinya, apakah untuk kesekian kalianya Zeana menolaknya? Kenapa Zeana selalu menolaknya? Apa kurangnya Jeano?
Seketika wajah Jeano langsung merubah menjadi marah, ingin sekali Jeano berteriak dengan kencang didepan muka Zeana untuk menanyakan alasan dia menolaknya.
Terlihat otot-otot ditangannya mulai menonjol serta kedua tangan itu terkepal dengan kuat. Namun Jeano berusaha untuk mengontrol emosinya saat ini, supaya Zeana tidak merasa takut padanya.
"Kenapa?" Terdengar sekali nada dingin dari Jeano, serta terlihat wajah datar yang Jeano tampilkan sekarang.
Zeana yang baru saja melihat sifat Jeano yang seperti ini sontak saja merasa takut, dia mulai merapatkan tubuhnya pada Zero.
Melihat Zeana yang malah menjauh darinya menbuat Jeano tambah kesal dan hendak menarik tubuh Zeana, namun hal itu dapat dicegah terlebih dahulu oleh Zero.
"Ubah tatapan mu Jeano!" Perintah Zero pada Jeano yang tahu bahwa Adiknya takut melihat tatapan Jeano yang sekarang.
Jeano langsung mengubah raut mukanya menjadi biasa saja, namun masih terlihat datar. Sedangkan Aqila dan Rara yang melihat berdebatan itu hanya diam saja karena takut terkena amukan Jeano.
"Kenapa?" Jeano bertanya sekali lagi tanpa melepaskan tatapannya pada Zeana.
"K-kita kan masih sekolah Jeano. Bagaimana bisa seorang pelajar menikah? Bukankah begitu?" Meskipun takut Zeana mencoba membalas tatapan Jeano dan menjelaskan alasannya.
Seketika semua orang mulai berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Zeana. Benar juga apa yang dikatakan oleh Zeana bahwa seorang pelajar tidak boleh menikah. Ditambah umur mereka yang belum cukup untuk memenuhi persyaratan menikah.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana membuat Jeano dapat bernapas dengan lega karena kekhawatiranya sirna. Jeano mulai kembali menatap Zeana dengan lembut serta penuh cinta seperti biasanya.
"Baiklah aku paham, tapi lain kali jangan berkata seperti itu lagi! Bagaimanapun juga kamu akan tetap menikah dengan ku Anna." Kata Jeano yang menekan kalimat terakhirnya.
Zeanapun langsung menganggukan kepalanya karena tidak mau membuat Jeano kembali marah dan menatapnya dingin. Zeana tidak suka itu
Sedangkan yang lain hanya menatap kasihan pada Zeana karena harus dipaksa oleh Jeano, namun jika dipikirkan kembali Jeano lebih baik dari pada Zeana harus bersama Nico.
Susana yang menegangkan tersebut bisa hilang karena kedatangan duo AB kita yaitu Andra dan Bobby sambil membawa 2 napan berisi makanan di kedua tangan mereka. Tak lupa ada 1 orang lain yang mengikuti mereka yang membawa sebagian makanan karena jumlah makanan yang dipesan sekarang sangat banyak.
"Makanan datang gaesssss!!!" Seru keduanya sambil menaruh makanan tersebut keatas meja.
"Makasih banyak." Dengan bersamaan Aqila juga Rara mengatakan hal itu sambil mulai menaruh satu-satu persatu makanan keatas meja.
"Sama-sama. Yuk buruan makan! Keburu dingin."
Mereka semuapun mulai memakan makanan mereka dengan diam tanpa ada obrolan ataupun candaan seperti biasanya. Karena Andra maupun Bobby merasa heran dengan Jeano serta Zeana yang tidak seperti biasanya. Mereka berpikir pasti ada hal yang mereka lewatkan yang membuat suasana menjadi seperti ini.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.
See you Next part.