Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 42



..."Mimpi itu seperti berlari, jika tidak ada garis finish, maka tidak ada artinya untuk terus berlari. Jika kamu tahu bahwa ada garis finish, maka kamu akan berlari ke arah itu dan tidak akan menyerah."...


..._Lucas...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


42. Obrolan Malam


Zero dan yang lainnya pulang kerumah masing-masing tepat ketika hari mulai gelap, serta matahari sudah tidak terlihat lagi. Zero tiba dimana hampir bersamaan dengan tibanya Daddynya pulang dari kantor, yang memang Felix sering pulang ketika sore bahkan malam hari.


"Kau baru pulang?" Tanya Felix ketika berpapasan dengan Zero yang baru saja kembali dari dapur untuk mengambil air minum.


"Ya, tadi ada rapat organisasi dahulu. Dan sisanya bermain bersama anak-anak."


"Lalu Anna pulang bersama siapa?"


"Bersama Jeano. Dia terlebih dahulu mengantarkan Anna pulang, dan langsung pergi bermain bersama."


"Syukurlah, kalau begitu. Cepat bersihkan tubuhmu, dan kita segera makan malam bersama."


"Daddy juga."


"Ya, Daddy juga."


Mereka berduapun segera menuju kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu, dan akan kembali untuk makam malan.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka semua sudah dengan aktivitasnya dan kini mereka sudah bersiap-siap untuk makan malam.


"Selamat malam Daddy. " Sapa Zeana begitu sampai dimeja makan dan hendak bergabung bersama.


"Selamat malam juga sayang."


"Eh, dimana Kak Zero?"


"Sepetinya masih didalam kamarnya, biar pelayan panggilkan untuk turun dan makan malam bersama."


"Tidak Daddy, aku saja yang akan memanggil Kakak turun."


"Tapi kamu harus balik lagi sayang, sudah duduk diam saja dan tunggu Zero tiba."


"Tidak apa Dad, sekalian aku berlatih berjalan. Dari tadi aku hanya diam saja dikamar. Daddy tau kan, bahwa Dokter Bian bilang aku harus sering berjalan." Zeana mencoba untuk mengingatkan kembali pesan Dokter Bian pada Daddynya agar tidak terlalu khawatir dengan semua pergerakan yang Zeana lakukan.


"Hm baiklah, tapi jangan terlalu kelelahan!" Peringat Felix pada Zeana yang langsung dibalas anggukan oleh Zeana.


"Iya Dad, aku pergi dulu panggil Kak Zero."


Zeana segera melangkah kembali kelantai 2 dimana kamarnya dan kamar Zero berada. Sampailah dia dipintu berwarna coklat pekat yang letak kamarnya berhadapan dengan kamarnya.


Tok tok tok


"Kak Zero...."


Masing tidak ada sautan dari dalam, Zeana pun kembali mengetuk pintu itu lagi.


Tok tok tok


"Kak....


Ceklek


Pintu yang diketukpun terbuka menampilka Zero yang berdiri dengan baju kaus hitam polosnya serta celana kolor bergambar sebuah Anime ONE PIECE.


"Ada apa?" Tanya Zero sambil menatap Zeana dengan tatapan hangatnya, tidak seperti dulu yang selalu berkata dingin dengan wajah datar.


"Ayo kita makan malam! Kak Zero sudah ditunggu Daddy."


"Hm baiklah, ayo!"


Zeropun merangkul bahu Zeana dan turun kebawah menuju meja makan yang sudah ada Felix yang menunggunya.


"Ayo cepat makan! Sebelum makananya dingin." Perintah Felix yang langsung saja dituruti oleh Zeana maupun Zero.


Mereka mulai memakan makanan mereka dengan hening tanpa pembicaraan apapun, hanya terdengar suara sendok dan piring yang bersentuhan.


"Ouh iya sayang, bagaiman hari pertama mu sekolah kembali?" Tanya Felix ketika sudah menyelesaikan makannya.


"Baik Dad. Aku sangat senang dapat kembali bersekolah, dan teman-teman sekelas ku juga baik semua."


"Syukurlah kalau begitu, tapi ingat jangan terlalu beraktivitas yang dapat membuat mu sakit kembali! Serta tidak boleh kemana-mana sendiri, minta temanmu menemani."


"Iya Dad aku ingat, lagian sepertinya guru sekolah pun tau aku baru saja sembuh dari sakit. Pasti mereka tidak akan memberatkan ku dalam itu."


"Tentu saja mereka tidak akan berani menyusahkan calon menantu pemilik sekolah."


"Calon menantu pemilik sekolah? Siapa?" Tanya Zeana penasaran.


"Tentu saja kamu sayang, kamu kan calon menantu keluarga Xiallen."


"Jadi makdud Daddy sekolah itu punya Ayahnya Jeano?"


"Ya tentu, kamu tidak tau?"


"Tentu Anna tidak akan tau Dad, Daddy lupa keadaan Anna sekarang." Ucap Zero yang ikut berbicara.


"Ah iya, Daddy lupa. Sekolah itu memang sekolah turun temurun yang keluarga Jeano kelola sayang."


"Pantas saja aku merasa tidak asing ketika mendengar nama sekolah dan aku baru ingat jika nama sekolah adalah SMA GALAXY XIALLEN. Xiallen adalah nama marga Jeano rupannya."


"Ya, kamu harus mengingatnya."


"Baiklah, segera kembali kekamar dan tidur. Besok masih harus bersekolah bukan?"


"Iya Dad, kalau begitu aku pamit kembali kekamar. Selamat malam Daddy."


"Selamat malam juga Sayang, happy a nice dream." Ucap Felix sambil mengecup puncak kepala Zeana pelan.


"Malam Dad."


"Malam Boy."


Selesai dengan makan malam, Zero dan Zeana kembali kekamar masing-masing sedangkan Felix masuk kedalam ruang kerjanya yang berada dirumah.


"Ada apa Kak?"


"Hmmm boleh kah, kita mengobrol sebentar? Kakak belum ingin tidur."


Zeana tidak langsung menjawab, dia masih agak kaget saja dan canggung jika harus mengobrol hanya berdua dengan Kakaknya Zero.


Melihat Zeana yang hanya diam saja tidak menjawab membuat Zero sedih, apakah Zeana membencinya? Apakah Zeana tidak mau mengobrol dengannya? Kenapa hanya pada dirinya saja Zeana seolah masih menjaga jarak? Kenapa tidak dengan orang lain juga?


"Kamu tidak mau ya? Tidak apa." Zero hendak buru-buru masuk kedalam kamarnya namun lebih cepat Zeana yang terlebih dahulu berkata.


"Tidak. Aku mau, ayo kita mengobrol sebentar!"


"Benarkah?" Terlihat sekali wajah murung Zero seketika berubah menjadi ceria.


"Iya, ayo! Dimana kita akan duduk?"


"Bagaimana dikamar mu saja? Balkom dikamarmu pempunyai suasana yang indah jika malan hari, ditambah berhadapan langsung dengan halaman depan."


"Baiklah. Ayo!"


Mereka beduapun menuju balkom kamar Zeana, dan ya benar apa yang dikatakan oleh Zero. Bahwa balkom kamar Zeana mempunyai pemandangan yang bagus, apalagi sekarang langit sedang dipenuhi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip.


Zero dan Zeana duduk dibangku yang memang tersedia, ditemani sebuah cemilan yang memang selalu ada didalam kamar Zeana. Cukup lama mereka berdua terdiam hingga akhirnya Zeana memula pembicaraan terlebih dahulu.


"Bukankah langit malam ini sangat indah?"


Zeropun lantas langsung melihat kearah langit ketika Zeana berkata seperti itu. Ya, benar. Sejak kapan langit bisa seindah ini dimalam hari?


Rasanya Zero belum pernah menikmati langit malam karena terlalu sibuk dengan kegiatannya, tanpa menyadari bahwa ada keindahan yang diabaikan yang berada disekitarnya contohnya Zeana.


"Ya, sangat indah."


"Aku suka menatap langit."


"Kenapa hal sekecil ini saja aku tidak tahu? Aku benar-benar Kakak yang buruk." Batin Zero menatap miris pada dirinya sendiri yang bahkan tidak mengetaui hal kecil dari Adiknya sukai.


"Benarkah? Sejak kapan?"


"Entahlah." Jawab asal Zeana, dia tidak mungkin jika menjawab sudah suka dari kecil. Karena yang suka melihat langit itu diri Riana, bukan Zeana yang tubuhnya sedang ditempati sekarang.


"Kenapa sangat suka menatap langit?"


"Kurasa menatap langit itu adalah hal yang dapat mengobati penatnya mata kita. Ketika kita lelah melihat padatnya bangunan serta orang-orang disekitar kita, kita dapat melihat luasnya langit yang tak terhingga. Sangat luas hingga aku ingin membangun satu saja rumah untuk ku disana. Hahaha, konyol bukan?" Kekeh Zeana diakhir perkataannya, bagaimana bisa membuat rumah dilangit?


"Ya benar, Kakak rasa juga begitu."


"Kak Zero hanya ikut-ikutan saja."


"Tidak. Aku rasa langit adalah suatu keindahan yang sering kita abaikan tanpa sadar. Kita terlalu sering fokus pada pekerjaan kita, hingga tidak menyadari ada salah satu karya keindahan Tuhan yang secara gratis dapat kita lihat."


"Benar sekali."


"Ouh iya, apakah tadi sepulang sekolah Jeano membawa mu kesuatu tempat terlebih dahulu?"


"Ya, Jeano membawa ku kesebuah danau yang tidak jauh dari sini. Memangnya kenapa?"


"Tidak, Kakak hanya memastikan saja."


Zeana mengangguk paham, "Kakak ikut ekskul apa disekolah?" Tanya Zeana agar percakapan mereka tidak sampai hanya disitu saja.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Hm aku hanya ingin tau saja, tadi teman-teman dikelas membicarakan akan ada sebuah acara disekolah kita. Acara itu melibatkan semua ekstra kulikuler yang ada, dan setiap murid wajib memilih salah satu ekstra kulikuler bukan? Aku penasaran apa yang Kakak ikuti?"


"Kakak ikut basket."


"Benarkah?" Tanya Zeana merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleb Zero


"Ya. Bersama Jeano dan juga duo AB."


"Jadi Jeano, Bang Andra, dan Kak Bobby  juga ikut. Sebenarnya itu seperti acara apa Kak?"


"Acara itu seperti sebuah aksi serta demo yang ditampilkan semua organisasi dari setiap Ekskul. Seperti menampilkan bagaimana organisasi itu bekerja serta apa saja yang ada didalamnya. Namun khusus Basket akan mendatangkan lawan dari luar, karena tidak mungkin bukan melawan satu tim sendiri?"


"Wah, berarti basket adalah penampilan yang sangat seru juga menegangkan?"


"Tentu saja, dan banyak ditunggu oleh orang banyak."


"Apakah nanti Kak Zero juga akan ikut tanding?"


"Kamu ingin Kakak ikut?" Tanya balik Zero pada Zeana, sepertinya Zeana sangat menyukai acara nanti.


"Tentu saja aku ingin melihat Kakak ikut tampil juga, bukankah akan terlihat sangat keren ketika Kakak mengiring bola dan masuk ring? Tapi jika tidak pun tak apa."


"Kakak ikut. Kakak akan ikut pertandingan itu, dan kamu harus melihatnya." Dengan cepat Zero menyetujui keinginan Zeana tanpa berpikir lama terlebih dahulu.


"Benarkah Kakak akan ikut?"


"Tentu, untuk mu dan juga sekolahan kita." Zero mencoba menyakinkan Zeana atas perkataannya.


"Terimakasih Kak, aku jadi tidak sabar waktu itu tiba." Kata Zeana sambil memeluk tubuh Zero secara langsung, membuat Zero sempat menegang sebentar lalu mulai membalas pelukan Zeana.


"Sama-sama, dan pastikan kamu harus melihat bagaimana Kakak tanding."


"Pasti. Aku akan menontonnya."


Tanpa sadar mereka terus berbagi cerita sampai akhirnya mereka merasa kantuk dan memutuskan untuk tidur. Karena mereka berdua masih ingat jika harus kembali bersekolah besok.


"Selamat malam Anna." Ucap Zero sambil mengelus pelan kepala Zeana.


"Selamat malam juga Kak."


Zeropun langsung pergi menuju kamarnya, dan meninggalkan Zeana yang mulai sibuk mengambil ponselnya untuk memberitahu seseorang.


"Kak Zero sudah setuju untuk ikut. Jadi Jeano dan yang lainnya tidak akan sedih kan?" Itu adalah isi sebuah pesan yang dikirimkan Zeana pada seseorang itu.


"Tentu saja tidak. Terimakasih atas kerja samanya, selamat malam Anna." Isi balasan dari pesan sebelumnya yang Zeana kirim.


"Malam juga Kak."


Setelah mengirim balasan seperti itu lantas Zeana mematikan ponselnya dan berbaring nyaman menuju alam mimpi.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.