Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 102



..."Tolak aku dengan jelas jika itu mau mu. Perjelas hubungan kita dan persiapkan kehilangan segalanya."...


..._2521...


...Happy Reading Semuanya...


.......


.......


🌱


102. See You Again


Sebagai hari terakhir Jeano berada dirumah, kini Jeano dan Zeana merencakan untuk menghabisakan waktu bersama hanya berdua saja.


Rencananya Jeano dan Zeana akan mengunjungi Danau Biru Asri, setelah sekian lama tidak pernah berkunjung ketempat itu lagi.


Danau Biru Asri selalu menjadi tempat yang beritu berkenang bagi keduanya. Entah sebagai Jeano-Zeana atau juga Jeano-Riana.


Memang terkesan sederhana, namun hal sederhana tersebut yang selalu dapat dikenang dan diingat dengan mudah.


Mereka berdua hanya membawa sedikit makanan untuk menemani mereka menghabiskan waktu bersama. Hanya sekedar agar tidak datang dengan tangan kosong saja.


Entah memang sudah menjadi takdir atau hanya kebetulan saja. Tempat yang menjadi favorite keduanya selalu kosong ketika mereka berdua berkunjung kesana.


Sehingga tanpa harus memilih tempat lagi, mereka berdua segera duduk ditempat itu.


"Selalu tetap indah."


"Ya, tidak pernah mengecewakan."


Jeano dan Zeana yang baru datang sudah disuguhkan dengan pemandangan yang indah dari Danau itu.


Seperti biasa suasana dan pemandangan di Danau Biru tidak pernah mengecewakan. Selalu dapat membuat kesan yang sangat baik disetiap berkunjung kesana.


"Tapi kenapa tidak ramai seperti biasanya?" Heran Zeana yang melihat tidak begitu banyak orang yang berkunjung.


Sedangkan jika melihat kondisi sekarang yang masih termasuk liburan, pasti akan banyak orang yang berkunjung.


"Entahlah, mungkin memang mereka tidak sedang ingin berkunjung saja kesini."


"Benar juga."


"Ini taruh dimana?" Kata Jeano yang membawa tas kecil berisi makanan.


Zeana menepuk pelan tempat duduk yang ada disampingnya, "disini saja."


Dengan segera Jeano meletakan tas tersebut disamping Zeana dan juga ikut duduk. Zeana langsung saja membongkar isi tas itu, dimana ada sebuah cemilan serta minuman juga.


Mereka berdua mulai memakan bawaan tersebut, dengan mata yang mengedar melihat kesekeliling Danau.


"Sudah sangat lama kita tidak kesini."


Zeana mengangguk pelan, "ya, sudah sangat lama tidak berkunjung kesini. Tapi tempat ini selalu bagus dan dapat dikunjungi kapanpun."


"Benar, sepertinya beberapa tahun kedepan akan tetap sama. Bahkan bisa saja bertambah bagus." Kata Jeano membernarkan perkataan Zeana.


"Aku masih tidak menyangka ada tempat yang begitu indah di tengah kota yang padat ini."


"Akupun juga. Apalagi tempat ini begitu istimewa untuk ku, ah-maksud ku kita. Entah itu Zeana ataupun Riana, tempat ini akan selalu menjadi kenangan didalam hidup kita."


"Kamu benar. Terimakasih Jeano karena sudah mau menerimaku juga."


"Sudah aku bilang, jangan selalu ucapkan terimakasih! Ini semua sudah takdir yang Tuhan dan Author tuliskan untuk kita.


Dari awal mungkin ini semua sudah ada dalam sekenario mereka, dimana kita dipertemukan dengan keadaan yang rumit. Keadaan yang dimana kita harus mulai mengenal satu-sama lainnya. Memulai semua dari awal lagi.


Justru seharusnya aku yang harus berterimakasih padamu karena dengan dirimu mau menggantikan Zeana, hidup semua orang jadi ikut bahagia.


Tanpa sadar kamu bukan hanya merubah nasib Zeana, namun ikut merubah nasib semua orang disekitarmu juga.


Terimakasih karena sudah mau memilih hal yang tepat untuk kehidupan kedepannya, terimakasih karena sudah mau menerima ini semua dengan ikhlas.


Terimakasih Riana Milane dan Zeana De Anderson. Kalian berdua sudah melakukan yang terbaik."


Mungkin ini kesekian kalianya Zeana mendengar perkataan Jeano yang begitu panjang. Zeana akui jika Jeano akan menjadi banyak bicara dan cenderung cerewet ketika sedang berbicara dengannya.


Namun Zeana menjadi terharu juga dengan apa yang dikatakan oleh Jeano. Memang sebuah takdir tidak ada yang tau dan tugas kita hanya dapat menjalani takdir tersebut dengan sebaik-baiknya.


Setelah mendengar perkataan Jeano, dengan segera Zeana memeluk tubuh Jeano dengan erat. Kini Zeana kembali teringat dengan kenyataan bahwa Jeano akan pergi jauh darinya untuk beberapa tahun kedepannya.


Tanpa terasa kedua mata Zeana yang indah mulai mengeluarkan air mata dan isakan kecil mulai terdengar. Seketika Jeano yang mendengar itu jadi panik.


"Hei..kenapa menangis?"


"A-aku hiks sedih k-karena besok kamu harus pergi."


Jeano hanya bisa tersenyum tipis, dia tahu jika Zeana tidak setegar yang terlihat. Mungkin dihadapan orang lain Zeana seolah orang yang paling ikhlas dengan kepergiannya. Namun nyatanya baik Zeana maupun Jeano merupakan dua orang yang sangat sulit untuk menghadapi hal ini.


"Dengar ini!" Kata Jeano sambil mengusapa pelan kedua pipi Zeana yang dipenuhi air mata. "Kita sudah membahasnya bukan? Jika kamu benar-benar tidak bisa melepaskan kepergian ku, aku akan tetap disini bersama mu a-"


"Tidak. Kamu harus tetap pergi Jeano, aku tidak apa." Sela Zeana dengan cepat sebelum Jeano menyelesaikan ucapannya.


Mendengar itu membuat Jeano merasa bangga, Zeananya sudah dewasa sekarang. Jeano tau, jika Zeana berusaha untuk tidak egois dengan melarangnya pergi.


"Kalau begitu jangan sedih lagi!"


"Tidak, aku sudah tidak sedih kok."


"Benarkah? Lalu kenapa menangis?"


"Tadi hanya terharu saja dengan apa yang kamu katakan, tanpa terasa aku juga teringat dengan keberangkatan mu besok."


"Benarkah?" Tanya Jeano memastikan, namun dapat terdengar nada mengejek dari kata tersebut. Tidak lupa wajah mengejek yang Jeano tampilkan, menambah dugaan tersebut.


Melihat wajah tersebut membuat Zeana menjadi kesal. "Ihss..benar Jeano. Jangan melihatku seperti itu!" Kata Zeana sambil memukul pelan bahu Jeano.


Perlakuan Zeana justru membuat Jeano menjadi tertawa terbahak, Jeano selalu suka wajah kesal Zeana.


Wajah Zeana tampah kesal ketika melihat Jeano yang malah tertawa, Zeana tahu pasti Jeano sedang menertawakan wajah kesalnya.


"Awwss..sakit tau." Tepis Zeana dengan cepat."


"Ah-maaf aku terlalu gemas dengan pipimu ini, rasanya aku ingin menggigitnya."


Plak


Terlalu kesal dengan Jeano yang terus tertawa membuat Zeana kini menampar wajah Jeano dengan pelan, namun hal itu dapat menghentikan wata Jeano.


Jeano yang dasarnya lebay malah kini terlihat sangat kesakitan. "Sayang, kenapa menamparku?"


"Biarin, siapa suruh ngeselin ketawa mulu." Ucap Zeana dengan nada jutek.


"Ya, benarkan? Kalau pipi mu itu sa-"


"Jeano!"


Seketika tawa Jeano malah terdengar mengudara lagi, Jeano benar-benar sangat menikmati wajah kesal Zeana. Mungkin ini akan menjadi salah satu momen yang akan Jeano rindukan, jika sedang berjauhan nanti.


Mereka berdua tanpa sadar telah menghabiskan waktu berudaan yang tersisa, tentunya yang diisi dengan banyak hal. Terkadang Jeano yang terus mengejek Zeana, terkadang juga keduanya tertawa bersama.


***


Waktu 2 minggu berlalu begitu cepat, tidak terasa kini waktu Jeano bersama dengan keluarga dan teman-temannya sudah habis. Waktu kebersamaan yang mungkin akan terhalang untuk beberapa tahun kedepannya.


Jeano yang sudah mempersiapkan semua dengan baik, kini harus segera siap pergi menuju negara orang untuk belajar. Meskipun pasti akan sulit untuk dirinya dan keluarga yang ditinggal.


Namun hal ini merupakan perpisahan sementara saja, nanti akan ada waktunya dimana Jeano kembali bersama yang lainnya.


Hampir semua orang mengantarkan kepergian Jeano menuju Bandara, mereka ingin dapat bersama di detik-detik terakhir sebelum penerbangan Jeano.


"Hati-hati disana, kabari jika sudah sampai nanti. Ingat untuk tidak melakukan hal-hal aneh disana nantinya! Kita akan selalu menunggu kepulangan mu. Semoga sukses Boy." Kata Reno dengan penuh wakti-wanti pada Jeano, tidak lupa sebuah harapan yang dia panjatkan diakhir kalimatnya.


"Terimakasih Ayah. Aku titap Bunda ya, jangan biarakan Bunda terus menangis karena merindukan ku."


"Hei..sangat percaya diri sekali bahwa Bunda akan merindukan mu." Ejek Reno yang langsung memeluk tubuh Jeano.


Dirinya pasti akan sangat merindukan momen ketika bertengkar dengan anaknya ini. Sedangkan Jeano hanya bisa tersenyum saja mendengar ejekan tersebut, biarkan untuk kali ini Jeano tidak akan membalas ejekan tersebut.


Setelah melepas pelukan dengan Reno, kini Jeano berpindah pada Bundanya Maura. Sudah terlihat jika Maura dengab sekuat tenagan menahan tangisanya.


"Bunda, aku pamit ya. Jaga diri Bunda dengan baik disini!"


"Harusnya Bunda yang mengatakan itu padamu. Jada diri mu dengan baik disana, karena tidak ada orang lain yang akan menjagamu nantinya. Makan dengar teratur dan jika lelah segera istirahat, jangan terlalu memaksakan diri. Bunda akan selalu merindukan mu."


"Baik Bunda. Bunda jangan nangis lagi ya!" Kata Jeano sambil mengusap kedua pipi wanita yang sudah melahirkannya itu. Wanita yang sangat berharga bagi hidupnya, sejak dulu, nanti dan juga selamanya.


Kini Jeano berpindah pada teman-temannya. "Gue pergi ya bro. Titip orang-orang yang ada disini." Kata Jeano yang mulai memeluk satu persatu teman-temanya. Dari mulai Zero, Bobby dan juga Andra.


Ketiganya hanya bisa mengangguk secara bersamaan, mereka akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Jeano kedepannya. Dan selalu berusaha menjalani pesan Jeano dengan baik.


"Tenang aja Bos. Beres itu mah, jangan khawatir! Yang penting lo juga sehat-sehat disana, semoga cepet balik juga biar kita bisa ngumpul bareng lagi."


"Ya, bener Bos." Perkataan Bobby disetujui oleh Andra. Mereka sangat berharap bisa segera berkumpul kembali.


"Gue titip Anna ya."


"Lo gak perlu bilang pun, gue akan selalu jaga Anna."


Zero tidak perlu perintah Jeano untuk menjaga Zeana karena bagaimanapun Zeana adalah adik tersayangnya yang selalu akan dia jaga.


"Kalian beruda juga, gue titip Anna." Kedua teman Zeana dengan semangat langsung mengangguk, "iya Kak pasti."


Jeanopun kini mulai mendekat pada Zeana dan kedua orang tuanya. Jeano sengaja ingin bertapamita terakhir pada Zeana.


"Dad, Mah Aku pergi ya."


Untuk kali ini Jeano memanggil Felix dengan benar, tanpa ada candaan didalamnya.


"Iya, jaga kesehatan disana. Semoga perjalanan kamu lancar sampai nanti pulang lagi kesini."


"Aamiin." Semua orang mengamini doa yang Sarah panjatkan.


"Jangan berbuat macam-macan disana Bocah tengil!" Sebuah kata perpisahan yang buruk, namun semua orang dapat memakluminya.


Mereka semua tau jika Felix adalah orang yang sulit menyampaikan perasaannya dengan kata-kata. Sehingga Jeano hanya bisa mengangguk saja dan menjawab singkat saja. "Iya, Dad."


"Anna."


Kedua pandangan Zeana dan Jeano bertemu. Dengan segera Jeano membawa Zeana kedalam pelukannya, serta mengecup puncak kepala Zeana beberapa kali.


"Aku pergi ya, jaga dirimu baik-baik disini."


"Iya, kamu juga jaga diri baik-baik. Aku akan selalu merindukan mu Jeano, segera kembali."


"Aku juga akan selalu merindukan mu, aku akan segera kembali jika study ku sudah selesai."


Keduanya tampak masih berpelukan tanpa mengiraukan orang lain yang menatap pasangan tersebut dengan haru. Untuk kesekian kalinya pasangan tersebut harus perpisah lagi.


Mereka tidak ingin menghancurkam momen pasangan itu, sampai akhirnya pengumuman keberangkatan Jeano sudah terdengar. Mengharuskan pasangan itu melepaskan pelukan tersebut.


Jeano mulai menarik koper yang dia bawa dan mulai melihat satu persatu wajah orang-orang yang ikut mengantar kepergiannya.


"Aku pergi, see you again."


Itu kata terakhir yang Jeano katakan sebelum dirinya melangkah menjauh dari mereka. Tidak lupa tangan yang terus melambai, menandakan perpisahan mereka.


Perlahan secara pasti tubuh Jeano mengilang dibalik pintu yang memisahkan penumpang dan pengunjung.


...TAMAT...


Kisah ini selesai di chapter ini ya, semoga pada suka dengan endingnya. Ide cerita untuk cerita ini udah mentok banget, aku ngerasa gak akan seru kalau chapter di cerita ini dilanjutkan jadi tambah banyak.


Mungkin nanti ada bagian Epilog dan juga ekstra part kalau aku sempet buat. Makasih untuk kalian yang udah baca sejauh ini.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk last part ini.