
..."When life pushes you down on your knees you're perfect position to pray."...
..._Justin Bieber...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
57. Pertunangan
Part ini masih flashback ya.
Pertemuan dua keluargapun segera dilakukan, dimana tepat malam ini akan diadakan pertunangan Zeana dan juga Jeano.
Semuanya sudah siap dengan pakaian mereka masing-masing dimana, memang kedua belah pihak memilik untuk memakai pakaian santai saja tidak terlalu formal.
"Apakah ini adalah suatu hal yang benar? Bagaimana kalau Anna menolaknya nanti?" Tanya Maura khawatir menatap Reno yang ada di sebelahnya.
"Tenang sayang, Felix bilang Zeana sudah menerimanya. Dan sisanya serahkan pada Purta kita untuk membuat Anna kembali seperti dulu, kamu tidak perlu khawatir."
"Ya, kuharap malam ini berjalan lancar dan Anna dapat menerimanya dengan tulus. Aku jadi merasa bersalah karena waktu itu kehilangan nomer telpon Anna, sehingga tidak dapat berkomunikasi lagi dengannya." Kata Muara sedih yang melihat keadaan sekarang, dimana hubungan Purtanya dan Zeana harus menjadi canggung.
"Ini semua memang sudah takdir, mungkin ini adalah tahap yang sebenarnya untuk Jeano berjuang akan cintanya. Waktu itu masih terlalu dini untuk mereka paham akan perasaan mereka masing-masing." Jelas Reno mencoba untuk menghibur Maura.
"Ya, semoga saja Jeano dan anna berjodoh. Aku juga ingin Anna yang menjadi calon pendamping serta menantu kita kelak."
"Ya, semoga saja."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan obrolan mereka berdua, Renopun berjalan kearah pintu untuk melihat siapa orang yang berada dibalik pintu itu.
Ceklek
Ketika membuka pintu terlihat Jeano yang menatap kesal pada Reno, sedangkan Reno tidak paham dengan apa pengebab Jeano menatapnya seperti itu.
"Kenapa menatap Ayah seperti itu?"
Jeano tidak menjawabnya malah mendorong tubuh Reno agar menyingkir dari pintu dan dia langsung masuk kedalam kamar.
"Dasar tidak sopan." Cibir Reno menatap tidak suka pada punggung Jeano yang perlahan mendekati Maura.
"Ada apa Jeano?" Tanya Maura dengan lembut sambil mengusap kepala Jeano pelan.
"Kenapa lama sekali? Ayo kita segera kerumah Anna!!" Ucap Jeano langsung pada intinya, dia dari tadi sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Zeana.
Sedangkan Maura langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Jeano, dari dulu hingga sekarang Jeano selalu tidak sabaran jika menyangkut Zeana.
Ya, memang semenjak waktu itu berpisah. Jeano tidak pernah dekat dengan gadis manapun lagi, mungkin temannya hanya sebatas teman sekelas.
"Iya...iya, ayo!" Ucap Maura yang mencoba menahan agar tidak tertawa yang nantinya malah membuat Jeano tambah kesal.
Maura segera menarik tangan Jeano agar mengikutinya menuju keluar dan tanpa sadar melewati begitu saja Reno yang masih berdiam diri disamping pintu.
"Hei!! Kenapa kalian berdua melupakan ku?" Teriak Reno menatap tidak suka pada Maura dan Jeano yang pergi begitu saja.
"Cepat turun, dan ikuti kita." Perintah Maura tanpa mau menunggu serta mendengar ocehan Reno.
Renopun segera mengikuti langkah Maura dan Jeano dengan wajah kesal, lalu dia menghempaskan tangan Maura yang menggandeng tangan Jeano.
"Dia Istriku, menjauhlah darinya!!" Reno berucap sambil menatap tajam Jeano.
"Tapi dia Bunda ku."
"Tidak perduli, minggir!" Renopun mendorong sedikit tubuh Jeano agar tidak berdekatan dengan Maura.
Sedangkan Maura menatap jengah pertebatan keduanya, selalu saja seperti itu. Akhinya dia memilih berjalan terlebih dahulu meninggalkan Suami dan Anaknya itu.
"Sayang mengapa meninggalkan ku?"
"Bunda mengapa duluan pergi?"
Secara bersamaan Jeano dan juga Reno meneriaki Maura yang pergi duluan meninggalkan mereka, segara mereka berdua sedikit berlari menyusul Maura yang ternyata sudah duduk dengan tenang didalam mobil.
Mereka berduapun dengan segera masuk kedalam mobil yang sama dan tanpa mau membuang waktu lagi mereka semua segera menuju rumah Zeana.
***
Sedangkan di kediaman Anderon Felix serta kedua Anaknya sudah setiap untuk menyambut tamu mereka, dimana Felix dan Zero menunggu diruang tamu tanpa Zeana karena Zeana memilih menunggunya dikamar saja.
"Siapa?" Zero tiba-tiba membuka suaranya dan menatap Felix dengan salah tuhu alis yang diangkat.
Meskipun tidak perlu ditanyakan secara rinci Felix sudah paham kemana arah dari pertanyaan dari Zero. Maklum sama-sama kulkas berjalan jadi sudah sefrekuensi.
"Bocah tengil itu." Singat Felix menjawab pertanyaan dari Zero.
Sudak dapat ditebak bukan respon seperti apa dan obrolan seperti apa yang akan keduanya lakukan.
"Jeano?"
"Hm."
Zero merasa masih tidak menyangka dengan perjodohan ini karena sejujurnya dia juga ikut kaget dengan berita pertunangan Zeana dan juga Jeano. Ditambah dari awal, Felix maupun Jeano tidak pernah membahas hal ini.
Dan tadinya Zero akan menentang perjodohan kini karena belum tau siapa calon yang akan dijohohkan dengan Zeana karena bagaimanapun juga Zero ingin yang terbaik untuk Adiknya, tapi ketika tahu itu Jeano sepertinya dia juga akan ikut mendukung.
Setelah itu tidak ada obrolan apapun lagi hanya sunyi dan tidak lama datang suara mobil yang memasuki perkarangan rumah mereka, bertanda jika tamu mereka sudah sampai.
"Selamat malam, selamat datang dirumah ku." Sapa Felix ketika Jeano dan keluarganya sudah turun dari mobil.
"Selamat malam juga." Kata Reno yang langsung bersalaman dengan Felix seperti gaya laki-laki pada umumnya. "Bagaimana kabarmu?"
Mereka berduapun masuk dengan Jeano dan Zero yang berjalan paling belakang.
"Kenapa tidak bicara padaku tentang ini?" Tanya Zero yang menyikut pelan tangan Jeano yang berjalan disebelahnya.
"Biar kejutan." Singkat Jeano yang berjalan terlebih dahulu dari Zero.
"Cih."
Zeropun hanya menatap jengah Jeano dan ikut menyusul. Mereka semuapun mulai memenuhi ruang tamu dan para maid pun mulai menyiapkan makanan untuk para tamu.
"Silahkan duduk." Felix mempersilahkan para tamunya untuk duduk dengan nyaman untuk membicarakan hal penting nantinya. "Tolong panggilkan Anna!!" Perintahnya pada salah satu maid yang ada disitu.
"Baik Tuan." Maid itupun segera pergi menuju lantai 2 dimana kamar Zeana berada.
Tidak membutuhkan waktu lama Zeana sudah turun dengan gaun berwarna putih gading yang menghiasi tubuh idealnya, terlihat begitu cantik dimata semua orang.
"Selamat malam semuanya." Sapa Zeana begitu sampai diruang tamu.
"Malam juga sayang, kamu cantik sekali. Ayo duduk bersama Bunda!" Maura yang membalas sapaan tersebut serta langsung mengajak Zeana agar duduk disampingnya.
Zeanapun dengan pelan melangkah kearah dimana Maura berada, dia merasa gugup terus ditatap oleh semua orang terutama Jeano yang menatapnya intens.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik Tante."
"No Tante, tapi Bunda."
Zeanapun hanya mengangguk pelan, "Bagaimana kabar Bunda?"
"Kabar Bunda baik, tapi akhir-akhir ini ada anak yang mengganggu ketenangan Bunda." Kata Maura sambil menatap Jeano dengan kesal, sedangkan objek yang ditatap hanya terdiam acuh saja ketika disindir.
Karena tidak mau menbuang waktu lagi obrolan mereka langsung pada intinya saja.
"Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, kedatanganku dan keluarga yaitu ingin menjadi hubungan kekeluargaan kita supaya semakin dekat. Dengan menjodohkan Purtaku Jeano dan juga Putrimu Anna, aku harap jawaban yang diterima nantinya tidak mengecewakan."
"Aku sangat memyambut niat baikmu, tapi keputusan ada pada Anna sendiri. Bagaimana Anna, apakah kamu menerima perjodohan ini?" Tanya Felix sambil menatap Zeana dengan tatapan datarnya seperti biasa.
Zeana sudah tahu jika perkataan dari Daddynya bukan suatu pertanyaan lebih ke pernyataan yang tidak dapat ditolak oleh dirinya, hanya dapat menerimanya.
Zeana menganggukan kepalanya pelan, "Iya Dad, aku menerimanya."
"Syukurlah kalau begitu, kamu akan menjadi menantu Bunda." Ucap Maura yang langsung memeluk tubuh Zeana, yang dengan ragu Zeana mulai membalas pelukan tersebut.
Semua orang yang ada diruangan tersebut pernapas lega ketika mendengar perkataan Zeana, untuk sekarang biarkan semua seperti ini dulu. Jeano dan Zeanapun segera bertukar cincin pertunangan, tanpa ada adegan lebih dari itu karena setelah bertukar cincin Zeana langsung menjauh dari Jeano.
Tidak lama datang seorang maid yang lebih penting dari semuanya, seseorang yang sudah sangat lama bekerja dikediaman Anderson. Bi Julia, orang yang sudah sangat berjasa dalam mengurus kedua putra Felix.
"Maaf Tuan, makan malamnya sudah siap."
"Baiklah, terimakasih Bi." Perlakuan keluarga Felixpun berbeda jika dengan Bi Julia, Felix maupun Zero tidak akan sungkan untuk meminta tolong, maaf dan berterimakasih pada Bi Julia.
"Ayo, kita makan terlebih dahulu! Pembicaraannya dapat dilanjut nanti."
Felix mengajak semuanya menuju ruang makan, dan dengan segera mereka semua langsung memakan makanan mereka dengan khikmad.
Malam malam kali inipun terlihat sangat ramai dengan banyaknya orang yang kini berada di meja makan, karena biasanya hanya ada Felix dan kedua anaknya saja.
Mereka semua makan dengan damai dan sangat memikmati makanan mereka.
Ketika selesai dengan acara makan makan, Jeano segera meminta izin untuk betbicara berdua dengan Zeana.
"Aku ingim bicara berdua dengan Anna."
Tanpa banyak tanya mereka mengizinkan Jeano dan Zeana untuk pergi mengobrol diruang terpisah.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah gazebo yang berada tidak jauh. Mereka mulai duduk dengan tenang sambil menikmati pemandangan malam yang indah dimana langit dihiasi banyak bintang yang berkelap-kelip.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, entah lah masih memikirkan hal apa yang ingin dikatakan.
"Kamu masih mengenalku?" Tanya Jeano memulai pembicaraan.
"Hmmm, ya. Jeano bukan?"
"Benar."
Keduanya kembali terdiam, "Kenapa kamu menerima perjodohan ini?" Meskipun sudah tau alasan Zeana menerima karena desakan dari Felix, tapi tetap saja Jeano ingin mendengarnya langsung dari Zeana.
"Karena Daddy. Aku tidak mau membuatnya kecewa dengan penolakanku."
Ya, memang mungkin itu adalah salah satu alasan Zeana menerima perjodohan ini.
"Kamu sendiri?"
"Sama." Jeano mengatakan hal itu karena tidak mau Zeana tahu yang sebenarnya, setidaknya tidak untuk sekarang.
"Bisakah kita merahasiakan hubungan ini dari publik?" Ya, ketika tidak bisa membuat perjodohan ini batal setidaknya bisa menyembunyikan dulu.
"Kenapa?"
"Aku rasa tidak pantas saja, anak sekolah seperti kita sudah bertunangan. Aku mohon..." Dengan mengandalkan muka yang dibuat sesedih mungkin Zeana mencoba untuk membujuk Jeano.
Dengan berat hari Jeano mengiyakan ajakan dari Zeana, dan tetap membiarakn pertunangan ini hanya kedua pihak keluarga saja yang tahu.
Dan keputusan itu juga yang sangat disesali oleh Jeano, karena nyatanya Zeana ingin merahasiakan pertunangan mereka agar masih bebas mengejar Nico. Dan dengan sangat terpaksa juga Jeano harus menahan amarah setiap harinya melihat Zeana yang terus berdekatan dengan Nico dan mengabaikan dirinya yang notabennya adalah tunangannya sendiri.
Flashback Off
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.