
..."Kebanyakan orang mengatakan kalau kamu tidak menyerah dan bekerja keras, kamu akan mencapai tujuan. Tapi aku ingin mengatakan hal berbeda. Berjalanlah dengan langkahmu sendiri."...
..._Kim Doyoung...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
81. Suasana Berbeda
Pagi hari kembali menyapa, berbeda dengan hari-hari sebelumnya kini Sarah sedang menyiapkan sarapan pagi. Untuk keluarga Anderson dengan status baru, yaitu Nyonya Anderson.
Sarah yang dibantu para Maid lainnya, kini sedang bersama-sama menyiapkan sarapan. Meskipun status Sarah yang sudah berubah, tidak membuat Sarah menjadi sombong. Bahkan dia meminta semua orang memperlakukannya seperti biasa, saat dirinya belum menikah dengan Felix.
"Mbak- eh, maksudnya Nyonya. Ini sarapannya sudah siap semua." Kata salah satu maid, yang melarat panggilannya pada Sarah. Serta tidak lupa menunjukan bahwa hampir semua menu sarapan sudah siap.
Mendengar panggilan seperti itu menbuat Sarah merasa tidak nyaman karena kesannya panggilan itu seolah memberi jarak padanya.
"Panggil Mbak Sarah aja kayak biasa. Kalo panggil Nyonya, agak aneh aja dengernya." Pinta Sarah pada Maid tersebut.
Namun maid itu malah menggeleng pelan, "gak berani Nya." Ucap Maid tersebut sambil tersenyum canggung.
Terlihat Sarah yang menghela napasnya berat, "tidak apa saya yang ingin." Desak Sarah agar semua orang tidak memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
"Baik, Mbak Sarah."
"Nah, gitu dong. Yaudah, ayo kita segera siapakan dimeja makan!" Ajak Sarah yang langsung saja diikuti oleh semuanya.
Terlihat dimeja makan sudah ada Bi Julia yang sedang berberes juga, serta langsung kaget begitu melihat Sarah yang dikedua tangannya penuh dengan bawaan sarapan.
"Aduh Sar,kamu kok ikut kedapur sih? Kamu gak boleh kecapean! Nanti pingsan lagi kayak waktu itu." Dengan segera Bi Julia membawa makanan yang berada kedua tangan Sarah, serta menuntun Sarah agar duduk disalah satu kursi yang ada meja makan tersebut.
Baru saja Sarah akan protes, namun terlebih dahulu terdengar suara yang mengurungkan niatnya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Bi Julia, kamu tidak boleh kacapean. Ingat, bahwa kamu sedang hamil Sarah." Tiba-tiba suara Felix terdengar, yang langsung membuat Sarah melihat keasal suara tersebut.
Dapat Sarah lihat jika Felix yang sudah rapi dengan pakaian kantornya, setelan tersebut sama persis dengan yang dia siapakan waktu bangun tadi.
Felix pun mulai melangkah dan duduk disalah satu kursi yang memang sudah menjadi tempatnya. Dia menatap Sarah yang hanya dapat diam saja ketika dia berbicara seperti itu.
"Apa kamu dengar apa yang saya katakan?"
"Dengar Tuan."
"Kalau begitu, saya tidak izinkan kamu masuk kedapur selama hamil."
Kedua mata Sarah langsung membola mendengar apa yang dikatakan oleh Felix, "kenapa seperti itu Tuan? Saya janji tidak akan sampai kecapean, lagian tadipun hanya bantu sedikit saja."
"Saya tidak menerima penolakan dan ini semua demi kebaikan kamu, serta kandungan mu juga. Jadi penurutlah." Kata Felix yang kini mengeluarkan aura dingin yang dia miliki agar membuag Sarah menuruti perkataannya.
Dan benar saja, Sarah langsung ciut setelah mendengar nadi dingin dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Felix.
"B-baik Tuan." Singakat Sarah dengan sedikit gugup menjawab perkataan Felix.
Tidak lama dari itu, terdengar langkah kaki mendekat dari arah tangga. Terlihat Zero dan juga Zeana yang sudah siap dengan seragam sekolab mereka.
Setelah 2 hari izin dengan keterangan ada kepentingan keluarga, ini Zero dan juga Zeana kembali untuk bersekolah seperti biasanya.
"Selamat pagi." Sapa Zeana yang ketika sudah dekat dengan meja makan. Sedangkan Zero hanya diam saja dengan wajah datarnya.
"Selamat pagi juga." Sapa kembali Sarah dan juga Felix.
Mereka berdua segera duduk dikursi masing-masing. Namun saat Zero hendak duduk dikursi biasanya, kursi tersebut sudah diisi oleh Sarah. Yang membuat Zero terdiam dan menatap tidak suka.
Sarah yang peka akan tatapan tersebut segera bangun dari kursi itu, namun terlihat Zero yang segera berjalan kearah dimana Zeana duduk.
"Kenapa berdiri? Duduklah, mulai hari ini kita akan sarapan bersama." Ucapan Felix yang menyadarkan Sarah dalam lamunanya.
Dengan ragu Sarah mulai kembali duduk dikursi tersebut dan terus menatap Zero dengan tatapan bersalah.
Felix yang mengerti tatapan Sarah hanya diam saja, dia tidak mau memulai pagi dengan debatan apapun.
Sedangkan Zeana yang baru sadar jika Zero duduk disampingnya, langsung saja menatap heran pada Zero. "Kenapa Kakak duduk disini?"
"Lalu aku harus duduk dimana?"
"Disa-eh," Zeana tidak dapat melanjutkan perkataannya, dia sedikit terlonjak kaget ketika melihat Sarah yang menempati tempat duduk yang Zero biasa tempati.
Tampak Zeana yang menatap Zero dengan sedikit meringis. "Kalau begitu, Kakak bisa duduk ditempatku saja." Kata Zeana yang hendak berdiri dari duduknya yang langsung dicegah oleh Zero.
"Tidak usah. Duduklah!"
Setelah mengatakan itu dengan segera Zero mengambil sarapannya dan langsung memakannya tanpa menunggu yang lain terlebih dahulu.
Melihat sikap Zero hanya membuat Felix menghela napas saja. Felix tidak akan membujuk Zero karena masih dalam keadaan merajuk padanya. Lagian Felix sudah tau, jika Zero akan kembali seperti biasanya dengan sendirinya.
"Ayo, cepat makan sarapannya!" Titah Felix yang langsung oleh Sarah dan juga Zeana turuti.
Mereka semua mulai sarapan dalam diam, serta suasana yang sedikit berbeda dari biasanya.
Setelah beres sarapan dengan segera Zeana berpamitan, "Aku pamit dulu Dad, Mah"
"Iya, hati-hati dijalan." Kata Sarah sambil mengelus pelan kepala Zeana.
Felix pun ikut mengelus kepala Zeana dan mengecup pelan puncak kepalanya. "Belajar yang benar." Pesan Felix pada Zeana, yang langsung saja dibalas dengan anggukan pelan.
Sedangkan Zero malah langsung pergi keluar setelah beres sarapan, tanpa repot-repot berpamitan terlebih dahulu.
Melihat Zero yang sudah pergi duluan, membuat Zeana dengan segera menyusul karena takut akan ditinggal. Tapi nyatanya tidak, Zero tidak akan mampu berbuat seperti itu pada adik kesayangannya.
Dapat Zeana lihat jika Zero sudah duduk dengan nyaman dikursi kemudi yang sedang menunggu Zeana datang.
Dengan segera Zeana masuk dan duduk dikursi penumpang. Tak lama mobilpun perlahan berjalan meninggalkan perkarangan mansion Anderson.
"Apakah Kakak masih marah pada Daddy?" Tanya Zeana memulai pembicaraan untuk mengisi perjalanan mereka menuju sekola.
"Tidak." Singkat Zero yang masih fokus kedepan.
"Kalau begitu, kenapa tadi tidak berpamitan dulu?"
"Hanya tidak ingin."
"Apakah karena ada Mamah Sarah?"
Zero tidak menjawab, yang membuat Zeana yakin jika benar hal itu yang membuat Zero tidak mau berpamitan waktu tadi.
"Kenapa Kakak belum bisa menerima Mamah Sarah? Mamah baik kok." Kata Zeana yang mencoba menyakinkan Zero bahwa Sarah benar-benar orang baik.
"Orang yang kelihatan baik, belum tentu hatinya baik juga."
"Tapi orang yang menurut Kakak jahat, belum tentu jahat juga kan?"
Zero kembali terdiam setelah mendengar ucapan Zeana. Dia merasa kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Zeana yang memang benar adanya.
Hingga obrolan tersebut menjadi akhir pembicaraan yang dilakukan oleh Zero dan juga Zeana dalam perjalanan menuju sekolah tersebut.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.