
..."Entah mereka keluarga atau bukan, jika ada yang membuatmu menderita lari saja. Jangan biarkan dirimu menderita seumur hidupmu."...
..._ Law cafe...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
2. Bocah Tengil is Back
Semua tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Zion. Memang seorang anak kecil tidak akan pernah berbohong dalam ucapannya.
Wajar saja jika Zion berkata seperti itu karena yang sudah kita tau, jika Felix selalu memanggil Jeano dengan sebutan Bocah tengil.
Namun rasanya Jeano jadi kesal sendiri, apakah selama 4 tahun ini tidak ada yang memberi tahu namanya pada Bocal menyebalkan ini?
Sarah lagi dan lagi hanya bisa menghela napas mendegar perkataan Zion, tidak salah sih? Tapi rasanya tidak enak juga membecarakan hal itu didepan orangnya langsung.
"Namannya bukan itu. Nama tunangan Kak Zeana itu adalah Ka-"
"Tidak usah Mah! Biar aku sendiri yang berkenalan dengannya." Potong Jeano dengan cepat sebelum Sarah menyelesaikan perkataannya.
Jeano segera berjalan kearah dimana Zion dan Zeana berada. Lalu Jeano mulai berjongkok, untuk menyamakan posisinya dengan Zion.
"Perkenalkan namaku Jeano Aksa Xiallen, tunangan Kakak mu Anna." Kata Jeano yang menyodorkan tangannya tepat didepan Zion.
Tanpa sadar Zion mulai menerima uluran tangan Jeano, membuat Jeano tersenyum tipis melihat hal itu. "Hai, calon Adik ipar." Lanjut Jeano yang kini tangannya melambai pada Zion.
"Jadi, benarkah dia tunangan Kak Anna?"
Sarah dan Zeana secara langsung mengiyakan dengan mengangguk pelan.
"Tapi kenapa dia sangat tampan? Bukannya kata Daddy tunangan Kak Anna itu jelek."
Untuk kesekian kalianya perkataan Zion membuat orang mengela napas lelah dan juga mulai merasa kesal.
"Dasar Pak Tua itu!" Untuk kesekian kalinya juga Jeano mengerutu dalam hatinya.
"Tidak boleh berkata seperti itu Zion. Jangan dengarkan perkataan Daddy yang itu! Kamu sudah liat sendiri kan, jika Kak Jeano itu tampan?"
"Iya, Kak Jeano sangat tampan."
Entah mengapa, mendengarkan pujian dari Bocah polos didepannya ini mampu membuat Jeano menjadi malu sendiri. Rasanya sangat berbeda, jika saat dipuji oleh orang dewasa dan anak bocah.
Pada dasarnya anak kecil selalu jujur dan orang dewasa cenderung sedikit berbohong atau bahkan melebih-lebihkan.
"Jadi sudah tau kan? Jika Kak Jeano itu tunangan Kakak dan dia sangat tampan." Secara sengaja Zeana mengedipkan sebelah matanya kepada Jeano, diakhir perkataannya.
Jeano yang melihat itu tentu saja semakin berusaha untuk menahan senyum lebarnya.
"Iya, aku sudah tau."
"Jadi, apakah Kak Jeano boleh duduk bersama Kakak?"
"Iya. Tapi aku masih penasaran, kenapa Daddy menyebut Kak Jeano jelek?"
"Karena sebenarnya Daddy mu yang jelek." Jawab Jeano tanpa beban, yang tidak menghiraukan keadaan sekitar.
"Bocah tengil!!"
Teriakan tersebut membuat semua orang yang ada disana terlonjat kaget dan mulai melihat kearah asal suara.
"Daddy?"
***
Suasana makan siang kali ini, bertambah ramai dengan adanya Jeano yang ikut bergabung. Mereka semua sedang menikmati makanan tersebut dengan begitu damai, sampai akhirnya suara Felix terdengar memulai percakapan.
Tanpa harus bertanya siapa orang yang Felix maksud, mereka sudah tahu jika pertanyaan itu untuk Jeano.
"Baru saja."
"Lalu, kenapa tidak mengabari terlebih dahulu?
"Hanya ingin saja."
"Ihss..dasar Bocah tengil ini."
Nyatanya jawaban singkat dari Jeano dapat membuat Felix kesal. Yang Felix mau itu, jika Jeano menceritakan alasan dibalik hal itu.
Felix sudah tau, jika Jeano selalu menyebalkan untuknya. Serta wajar saja jawaban Jeano yang singkat itu, sama seperti jawabannya pada orang lain ketika berbicara.
"Tuhkan benar Mah, Daddy memanggil Kak Jeano dengan sebutan Bocah tengil."
Perkataan Zion mengundang tatapan tajam Sarah dan Zeana. Kini kedunya menatap Felix dengan pandangan kesal. Sedangkan Zero mencoba menahan tawa atas perkataan Zion yang terlalu jujur itu.
Anak kecil memang suka meniru apa saja hal baru yang didengarnya dan juga ada disekitarnya. Jadi, jangan pernah biarkan anak kecil tumbuh dilingkungan yang tidak baik!
"Daddy kenapa mengajarkan hal itu pada Zion?" Tanya Zeana yang masih saja menatap tajam pada Felix.
Sedangkan Felix yang ditatap seperti itu, seketika menjadi ketar-ketir. Dirinya merasa takut, jika Zeana sudah marah.
Karena kini mereka tau, Zeana akan menjadi sangat menyeramkan ketika marah. Apalagi setelah Zion lahir, Zeana menjadi sering marah-marah pada sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dia mau.
Memang, jika dilihat dari sudut pandang positifnya. Perlakuan Zeana tidak bukan untuk kebaikan semua orang yang dirinya sayangi. Dengan marah-marah Zeana mencoba melindungi keluarganya agar selalu baik-baik saja.
Dah macam Kak Rose dicerita Up*n&Ip*n saja. Anggaplah seperti itu, sifat Zeana yang sekarang.
"Ahk-itu..Daddy hanya tidak sengaja mengatakannya didepan Zion." Dengan sedikit gugup Felix menjawab pertanyaan dari Zeana.
"Lain kali, tidak boleh lagi Dad! Zion sedang banyak meniru ucapan orang lain untuk sekarang. Tidak baik jika dia mendengarkan kata yang tidak sopan seperti itu." Nasihat Zeana yang memang benar adanya.
Zeana tidak bermaksud untuk menggurui Felix, atau bahkan orang tua lainnya. Dirinya hanya mengeluarkan pendapat yang berasal dari sudut pandangannya sendiri.
Dan untuk Felixpun, dia tidak sedikitpun merasa tersingung dengan perkataan Zeana pada dirinya.
Malahan dirinya dan orang lain yang mendengar perkataan Zeana merasa terkejut. Mereka tidak menyangka, jika sekarang Zeana mampu mengatakan hal seperti itu. Sekarang Zeana mereka sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dengan baik.
"Gadis ku sudah dewasa sekarang." Celetuk Jeano yang duduk disamping Zeana, serta mengusap pelan rambut hitamnya.
"Apaan sih! Gak usah usap-usap Jeano! Tangan kamu kotor." Sentak Zeana yang langsung menyingkirkan tangan Jeano dari atas kepalanya.
"Ah- maaf aku lupa." Cengir Jeano yang menampilkan wajah bersalahnya dan Zeana hanya bisa mendengus kesal melihat hal itu.
"Maafkan Daddy ya, Daddy janji tidak akan berbicara hal aneh lagi didepan Zion." Kata Felix yang menarik perhatian Zeana dari Jeano.
Seketika Zeana menggeleng pelan, "tidak udah minta maaf Dad. Aku hanya memberi tahu saja." Kata Zeana yang kini raut kesalnya sudah berangsur-angsur menghilang.
"Sudah. Sudah. Lebih baik kita lanjut makan saja, nanti ngobrolnya bisa dilanjut lagi nanti setelah makan."
Perkataan dari Sarah membuat semua orang kembali memakan makanan mereka, namun sebuah pertanyaan malah membuat mereka tersedak secara bersamaan.
"Jadi, apakah aku juga boleh mempunyai tunangan?"
Uhukkk
Sebuah pertanyaan yang begitu random meluncur dari Zion, yang dapat membuat orang lain tersedak secara berjamaah.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.