
..."Tidak selalu air mata mengukur rasa sakit, terkadang senyum yang kita palsukan."...
..._Lee Jeno...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
23. Akward
Canggung, satu kata yang dapat menggambarkan suasan dalam mobil sekarang ini. Mobil yang sedang melaju menuju kediamana Anderson, dengan Paman Tono yang berada di balik kemudi dan Bi Julia yang ada disamping kursi pengemudi. Dan ya, hasilnya yang duduk dibelakang adalah Zero dan juga Zeana yang masing-masing dari mereka tidak ada yang mau memulai tegur sapa.
"Kenapa rasanya aneh sekali? Biasanya Anna akan senang jika bisa satu mobil dengan ku dan selalu berbicara banyak."
Zero kembali bergelut dengan batin dan pikirannya.
"Sangat canggung sekali," batin Zeana sambil terus melihat kearah luar jendela.
"Sungguh suasana yang sangat tidak mengenakan." Bi Juliapun ikut merasakan keadaan canggung didalam mobil.
Akhirnya setalah sekian lama denga keterdiama didalam mobil, Zero mulai bersuara.
"Apakah kamu lapar?"
Hening tak ada jawaban apapun.
Mereka semua yang ada didalam mobil merasa bingung, kepada siapa Zero bertanya?
"Hei, aku sedang bertanya. Kenapa tidak menjawab?"
"Maaf, Den Zero bertanya pada siapa?"
Kini Bi Julia yang bersuara. Dan sepetinya Bi Julia paham bahwa Zero bertanya pada Zeana, namun Zeana terlihat engan untuk menjawabnya.
"Anna." Singkat Zero.
"A-aku?" Jawab Zeana gugup, Zeana takut jika Zero akan kembali memarahinya.
"Ya, kamu. Apakah kamu lapar?"
"Aku tidak lapar, kita langsung pulang saja."
Bohong. Sebenarnya Zeana sudah lapar sekarang, apalagi dia habis terapi yang menguras semua tenaganya. Namun dia masih enggan untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Paman Tono. Mampir dulu ke Restoran biasa!" Titah Zero tak memperdulikan yang Zeana katakan.
"Kenapa bertanya kalau ujung-ujungnya dia yang memutuskan." Zeana menatap kesal Zero.
"Aku sunggung tidak lapar Kak, kita pulang saja."
"Siapa yang mengajak kamu? Aku yang akan makan."
Seketika raut wajah Zeana berubah menjadi sedih, sebegitu bencikah Zero padanya?
Akhirnya Paman Tono membelokan mobil itu kesebuah Restoran yang biasa mereka kunjungi, dan jika ingin tau restoran tersebut merupakan milik Pamannya. Lebih tepatnya adik dari Daddynya yang memang mempunyai bisnis dibidang kuliner.
"Kita sampai Den." Paman Tono memberi tahu jika mobil tersebut telah terparkir di depan resporan.
"Ayo keluar semuanya!"
Tanpa menunggu lama Paman Tono serta Bi Julia keluar dari mobil, sedangkan Zeana masih didalam mobil.
Sedangkan Zero sudah memasuki restoran tanpa menunggu mereka, karena Zero akan memesan terlebih dahulu makanan untuk mereka.
"Ayo Non!" Ajak Bi Julia sambil membuka pintu belakang, dan siap untuk membantu Zeana untuk duduk dikursi rodanya.
"Kemana Bi? Akukan tidak diajak oleh Kak Zero," terlihat sekali wajah sedih serta bingung Zeana.
"Den Zero hanya bercanda Non, ayo sekarang cepat kita menyusul sebelun Den Zero marah!"
Bi Julia sudah paham tentang semua sifat kelurga Anderson, dan termasuk Zero. Sebenarnya Zero sangat sayang pada Zeana, namun dia tidak tau cara untuk menyalurkan kasih sayangnya itu.
Dan tanpa banyak bicara Zeana dibantu oleh Bi Julia serta Paman Tono untuk keluar dari mobil dan masuk kedalam restoran menyusul Zero.
"Selamat siang, mari ikut saya." Begitu masuk kedalam restoran Zeana sudah disambut oleh seorang pelayan di restoran tersebut dan diarah kan kemana mereka harus tuju.
Disana terlihat Zero yang sibuk dengan ponselnya, dan sudah tersaji begitu banyak makanan yang tersedia diatas meja.
Bi Julia membantu Zeana untuk duduk disalah satu sisi meja dengan masih duduk di kursi rodanya agar mempermudah untuk pulang nantinya. Selesai dengan itu Bi Julia beserta Paman Tono pamit untuk makan diruangan yang berbeda dengan Zero dan Zeana.
"Bi Juli mau kemana?" Tanya Zeana melihat Bi Julia hendak meninggalkannya hanya berdua bersama Zero.
"Bibi pamit keluar dulu Non, untuk pindah ruangan."
"Terus aku bagaimana? Aku ikut ya," tanpa sadar Zeana memegang tangan Bi Julia dengan erat seperti anak yang takut ditinggalkan oleh Ibunya.
"Nona kan disini sama Den Zero makannya, dan Bibi sama Paman Tono."
"Tapi..." Zeana melirik kearah Zero yang juga sedang menatapnya. "Aku tidak mau Bi, aku ingin ikut Bibi saja."
Sedangkan Zero terus menatap kearah Zeana dengan pandangan kesal. Kenapa sekarang Zeana seolah selalu menghindarinya? Apakah dia semenakutkan itu?
"Tid.."
"Bibi boleh keluar!" Usir Zero sebelum Bi Julia menyelesaikan perkataanya.
Tanpa lama Bi Juliapun keluar dari ruangan itu meninggalkan Zean dan Zero yang masih terdiam.
"Makan!"
Zeana tetap diam, dia mengira bahwa Zero bilang begitu untuk memberi tahu bahwa Zero hendak makan, bukan untuk menawari Zeana.
Melihat Zeana yang masih diam dan menunduk membuat Zero heran. Apakah Zeana takut makanannya dia racuni?
"Kenapa tidak makan?"
Zeana masih diam, dia tidak tau semua perkataan Zero ditujukan pada siapa? Meskipun diruangan itu hanya ada Zero dan Zeana, namun Zeana cukup tau diri untuk mengira bahwa Zero berbicara padanya.
Takutnya berbicara, eh malah kena semprot.
"Makan Anna!" Kini nada suara Zero terdengar agak meninggi, ketika melihat Zeana yang terus saja diam dan menunduk tanpa mau berbicara apapun.
Zeanapun mengangkat kepalanya dan menatap Zero dengan padangan polos.
"Apa?"
"Makan makanan mu!"
"Bukannya tadi hanya Kakak yang akan makan? Kenapa menyuruhku makan?"
Zero menghela napas pelan, kenapa adiknya menjadi sangat polos begini? Bahkan bisa sangat menggemaskan secara bersamaan, apakah hilang ingatan dapat membuat sifat juga berubah?
"Aku hanya takut makanan ini tidak habis dan nantinya malah terbuang, jadi aku mengajak mu." Kata Zero yang mencoba memberi alasan yang masuk akal untuk membohongi Zeana, agar tidak terlihat bahwa Zero peduli dengan Zeana.
"Kenapa pesan banyak kalau takut tidak habis?"
"Sudah jangan banyak bicara lagi, makan!"
Dan tanpa lama segera Zeana memakan makanan yang sudah dipesan oleh Zero dengan lahap, meskipun mulut bisa berkata tidak, namun nyatanya perut Zeana tidak dapat berbohong bahwa saat ini dia sangat lapar.
Zero yang melihat Zeana makan dengan lahap tanpa disadari tersenyum tipis, "Dia sangat menggemaskan dengan pipi yang mengembung itu."
Keduanya makan dengan tenang tanpa ada obrolan apapun, dan tak membutuhkan waktu lama mereka selesai dengan makan siangnya.
"Katanya tadi tidak lapar, lalu ini apa?" Tanya Zero melihat begitu banyaknya makanan yang habis dimakan oleh Zeana.
Tidak. Zero tidak marah, dia malah terlihat senang Zeana dapat makan dengan lahap seperti sekarang. Namun ya itulah Zero, entah mengapa sekarang dia menjadi sangat senang jika berbicara dengan Zeana.
"Maaf." Zeana tidak tau lagi harus berkata apa, diapun tidak sadar bahwa menghabiskan begitu banyak makanan.
"Hm, ayo pulang!" Ajak Zero, dan tanpa banyak bicara membantu Zeana untuk mendorong kursi rodanya.
"Kenapa Kak Zero baik sekali hari ini?" Heran Zeana yang melihat semua tingkah laku Zero hari ini.
Akhirnya mereka pulang dengan keadaan yang tidak jauh berbeda seperti awal, namun kini sudah tidak secanggung sebelumnya.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.
See you Next part.