Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 52



..."Jangan pernah takut gagal. Bahkan jika kamu selalu gagal, tidak apa-apa karena harus ada kegagalan dan kesalahan untuk menjadi sukses."...


..._Lee Seokmin...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


52. Bertemu Nico 2


Karena ketidak kondusifan dalam belajar pihak sekolah memilih untuk memulangkan semua murid sekolah kecuali yang akan latihan saja mereka terus berada di sekolah, tak terkecuali Jeano dan juga Zero yang ikut tidak dapat pulang bahkan hanya sekedar mengantar Zeana pulang.


Akhirnya Zero memilih untuk menelpon Paman Tono dirumahnya agar menjemput Zeana disekolah dan supaya merasa tenang juga Zeana dapat pulang dengan aman.


Tak membutuhkan waktu yang lama Paman Tono tiba untuk menjembut Zeana, namun saat di pertengahan jalan lebih tepatnya pas ketika melewati danau Biru Zeana meminta untuk berhenti disana.


"Paman Tono kita berhenti didepan ya." Perintah Zeana yang entah mengapa dia ingin bermain terlebih dahulu, karena merasa ini masih terlalu siang untuk pulang kerumah.


"Loh, Non Anna mau kemana dulu?"


"Aku mau duduk didanau dulu, Paman Tono bisa pulang duluan."


"Emang udah izin sama Tuan?"


Zeana menggeleng pelan, dia tidak sempat untuk meminta izin pada Zero maupun yang lainnya karena keinginannya baru saja muncul ketika melewati danau biru tersebut.


"Belum, tapi nanti aku akan menelpon Kak Zero untuk meminta izin. Paman Tono tidak usah khawatir."


Terlihat Paman Tono tidak yakin untuk meninggalkan Zeana disini, bukan karena suasana danau yang sepi namun dia khawatir jika terjadi sesuatu pada Zeana nantinya.


"Terus nanti Non Anna gimana pulangnya?"


"Bagaimana kalau nanti aku akan kabari lagi Paman Tono jika aku sudah puas disini?"


Terlihat wajah penuh harap dari Zeana yang membuat Paman Tono tidak tega jika tidak menuruti kemauan Zeana, akhirnya dengan berat hati Paman Tono akan mengizinkan.


"Baiklah, nanti Nona langsung telepon saya dan ingat untuk tidak kemana-mana!"


"Iya."


"Baik kalo begitu sama pamit dulu."


Paman Tono pun berlalu kembali menuju rumah tanpa Zeana, dia berharap semoga saja Tuannya tidak akan marah mengetahui Zeana yang ditinggal sendirian di danau.


Zeana melanjutkan langkahnya menuju salah satu tempat duduk yang ada di danau tersebut, tempat duduk itu sama persis dengan tempat yang Zeana dan Jeano tempat tempo hari itu.


Begitu mendudukan tubuhnya lantas Zeana langsung mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Zero untuk memberi tahu jika dirinya berada didanau terlebih dahulu tidak langsung pulang kerumah.


Dering pertama panggilan tersebut tidak dijawab oleh Zero, sampai akhinya panggilan ketigapun tidak mendapatkan jabawan dari Zero. Akhirnya Zeana menberikan pesan singkat pada Zero, karena Zeana pikir Zero sedang sibuk latihan sehingga tidak dapat menjawab panggilannya


...Kak Zero...


^^^Aku ingin kedanau biru dulu, tidak langsung pulang kerumah.^^^


^^^Nanti pulangnya dijemput lagi oleh Paman Tono, Kakak tidak perlu khawatir.^^^


Kira-kira seperti itu isi pesan singkat yang dikirimkan Zeana pada Zero, dan dapat Zeana lihat jika pesannya tidak berubah menjadi biru meskipun bercentang 2.


Zeana mulai melihat-lihat sekeliling danau, dimana lumayan banyak orang yang berada disini. Mungkin memang orang-orang tersebut memiliki waktu sengang sepertinya sehingga dapat main kedanau terlebih dahulu.


Entah mengapa Zeana selalu dibuat kagum oleh pemandangan yang danau biru tampilkan, dari mulai suasana dan cuaca yang sangat bangus ketika Zeana berkunjung.


Ketika sedang asik dengan kekagumannya tiba-tiba Zeana merasa tempat disebelahnya diduduki oleh seseorang, dan terlihat seorang pemuda yang masih memakai seragam sekolah sama seperti dengannya.


"Boleh ikut duduk disini?"


Zeana mengangguk pelan, "Ya, tentu."


"Kamu masih mengingatku kan?"


"Hmm..Nico bukan?" Jawab Zeana meskipun sedikit ragu, jika boleh jujur Zeana adalah tipe orang yang mudah lupa dengan seseorang apabila orang itu tidak terlalu penting untuknya.


Dan sampai sekarang Zeana masih mengingat hal apa yang berhubungan dengan nama Nico.


Nico mengangguk dengan penuh semangat serta senyum yang langsung terbit dari bibirnya.


Ya, orang itu adalah Nico. Sejak awal dinyatakan pulang lebih awal Nico sudah memperhatikan Zeana, dia tahu kalau Zeana pasti tidak akan dengan Jeano karena Jeano pasti sedang sibuk dengan latihan basketnya.


Dan benar saja, ternyata Zeana pulang dengan dijemput oleh sopir keluarga Anderson, dari situ juga Nico mengikuti Zeana sepanjanh jalan pulang.


Serta entah memang suatu takdir atau memang sudah menjadi sknario Author, Zeana malah turun sendirian didanau tanpa ditemani oleh siapapun. Tentu saja hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Nico untuk dapat dekat kembali dengan Zeana.


"Kami suka tempat ini?"


"Suka. Tempat ini sangat bagus, apalagi ini berada ditengah kota rasanya masih tidak menyangka saja."


"Apa kamu juga melupakan tempat ini juga?" Tanya Nico dengan hati-hati karena takut membuat Zeana bersedih.


"Ya, tapi Jeano mengenalkan kembali tempat ini padaku."


Jeano? Kenapa harus Jeano orang pertama mengenalkan tempat yang sangat istimewa ini pada Zeana. Kenapa tidak bersama dia saja?


"Jeano yang membawa mu kesini?"


"Iya, selepas sekolah waktu itu Jeano membawa ku kesini dan ternyata tempat ini begitu spesial untuk ku dan Jeano." Kata Zeana dengan penuh binar bahagia seolah memberi tahu bahwa dia sangat senang membicarakan hal itu.


"Benarkah?"


"Iya, hmm apakah kamu mengenal Jeano juga?"


"Tentu saja aku tau, Jeano teman seangkatan juga kapten basket disekolah kita."


"Kamu teman seangkatan Jeano? Berarti kamu Kakak kelasku?"


Nico mengangguk singat, "Ya."


"Maafkan aku yang tidak sopan, aku tidak tahu jika Kakak adalah Kakak kelasku. Aku mengira kita seangkatan karena waktu itu Kakak bilang adalah temanku." Panit Zeana yang langsung meminta maaf pada Nico, karena bagaimanapun juga Zeana akan selalu menghormati orang yang lebih tua darinya.


Deg


Entah mengapa mendengar sebutan Kak dari Zeana membuat Nico merasa dejavu, dimana dulu Zeana selalu menganggunya dan menempelinya serta tak lupa panggilan Kak yang selalu Zeana katakan untuk memanggilnya.


Mungkin dulu Nico sangat benci panggilan Kak dari Zeana, tapi untuk sekarang entah mengapa Nico sangat suka ketika Zeana kembali memanggilnya dengan sebutan Kak.


"Tidak apa, itu bukan suatu hal yang disengaja lagian kamu tidak ingat aku."


"Benar juga. Apakah Kak Nico juga teman Kak Zero dan juga Jeano?"


"Tidak. Kita tidak berteman dekat, hanya saling mengenal saja."


"Aku kira kalian berteman dekat, terus bagaimana caranya Kak Nico bisa menjadi temanku?"


Zeana merasa bingung dengan dirinya yang bisa berteman dengan Kakak tingakatnya, Zeana pikir mungkin Nico adalah teman Jeano atau Zero sehingga secara tidak langsung kenal dan dekat dengan Zeana serta dianggap teman oleh Zeana.


"Kamu pasti lupa hal ini, tapi kita sudah berteman dari kecil."


"Benarkah? Tapi aku juga sudah berteman dengan Jeano juga dari kecil. Kenapa kamu bisa tidak menjadi teman Jeano juga?"


Nico tidak tahu harus mengatakan apa karena pada dasarnya dia juga baru tahu jika Zeana dan juga Jeano sudah menjadi teman dari kecil. Apakah Jeano adalah teman kecil pertama dari Zeana?


"Aku tidak tahu hal itu, tapi aku bisa ceritakan kembali bagaimana kita pertama kali bertemu."


"Boleh, kalau begitu ayo ceritakan!"


"Pertama kali kita bertemu adalah ditempat ini, juga ditempat duduk ini."


Flashback On


Dipagi yang sangat cerah namun tidak dengan suasana hati Zeana, hari ini dia begitu sedih karena sahabat baiknya harus pergi jauh darinya.


Zeana yang masih berusia 10 tahun hanya bisa terus menangis sambil membawa sebuah boneka memberian teman baiknya itu. Zeana yang berumur 10 tahun sudah dapat berpergian sendirian serta sudah mulai mengingat sedikit jalan disekitar rumahnya.


Salah satunya danau biru yang memang tidak terlalu jauh dari rumahnya, tempat yang begitu istimewa bagi Zeana dan juga sahabat baiknya itu.


Bisa dibilang ketika Zeana sedang sedih dan mengingat sahabat baiknya Zeana kan mengunjungi taman tersebut dan berdiam diri ditempat duduk dimana awal dia dan sahabatnya bertemu.


Sekarang Zeana sedang duduk terdiam dengan wajah sedihnya serta sambil memeluk boneka kesayanganya. Zeana tidak menyadari bahwa dia sudah menjadi pusat perhatian orang disekitarnya salah satunya Nico.


Nico yang memang sedang bermain didanau tersebut seketika menghentikan acara bermainnya karena melihat Zeana yang duduk sedirian dengan wajah sedih, diapun berjalan mendekati Zeana dan duduk disamping Zeana.


"Kamu kenapa?"


Zeana yang tadinya melamun sontak saja langsung menatap Nico dengan wajah kagetnya ditambah terlihat bahwa mata Zeana sedikit berkaca-kaca.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Zeana pelan, sangat berbanding terbalik sekali keadaan serta apa yang dikatakan.


"Apa ada yang sedang membuat mu sedih?" Tanya Nico kembali mencoba untuk menghibur Zeana.


"Hanya hal kecil saja."


Zeana tidak mau membagi hal sedih ini dengan orang lain apalagi orang baru dia temui, ditambah entah mengapa dia tidak mau membahas tentang sabahat baiknya itu pada orang lain karena dapat membuat Zeana kembali sedih saja.


"Kalau begitu, jangan bersedih jika itu hal kecil! Bagaimana kalau kita bermain bersama saja?"


Zeana sedikit ragu untuk menerima tawaran Nico karena Zeana merasa tidak kenal dengan orang yang didepannya ini, dan takut kalau orang tersebut adalan orang jahat.


Melihat keraguan dari Zeana membaut Nico memaklumi hal itu, "Kamu tidak perlu takut, aku bukan orang jahat."


"Perkenalkan nama ku Nico Mexime, siapa namamu?" Nico melanjutkan perkataanya dan memperkenalkan diri terlebih dahulu agar dapat menyakinkan Zeana bahwa dirinya bukan orang jahat.


"Namaku Zeana."


Melihat hal tersebut membuat Zeana yakin jika Nico bukanlah orang jahat, dan tanpa sadar mereka mulai bermain bersama.


Dari situ awal mula pertemanan Zeana dan Nico bermula, dimana Zeana yang sedang sedih yang didatangi oleh Nico yang membawa senyuman untuknya.


Zeana merasa bahwa kedatangan Nico adalah obat kesedihan untuknya yang tanpa disadari bahwa Zeana mulai melupakan sahabat baiknya dan menjadikan Nico sahabat barunya.


Flashback Off


Mendengar perkataan Nico membuat Zeana tambah bingung. Jeano juga bilang tempat ini adalah awal mereka bertemu, jadi yang benar Jeano atau Nico?


Sebelum akan mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya bingung terlebih dahulu suata teriakan seseorang membuat kaget keduanya.


"Anna!!"


Hayoloh itu suara teriakan siapa? Ada yang bisa tebak?


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.