Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 1



..."Being thankfull and giving that thanks is one of the keys to be happy."...


..._Mark Lee...


...Happy Reading semuanya...


.......


.......


🌱


1. Destiny


"Anna bangunnn, kamu gak sekolah?" Teriak seorang wanita yang mencoba pembangunkan anak semata kakinya_eh anak tunggal maksudnya.


"Lima menit lagi mah," gumaman yang hanya di berikan oleh gadis itu.


"Sekarang Riana, heran punya anak gadis gini amat."


Meskipun engan gadis itu mencoba untuk memaksakan diri. "Iya iya ini juga bangun," sambil terbangun dari tidurnya.


"Sarapan udah ada di meja, Mamah berangkat kerja dulu yah." Pamit Sarah_Mamah dari Riana sambil pengelus pelan kepala anaknya.


"Iya Mamah hati-hati ya, jangan terlalu capek kerja nanti aku bantu kerja aja."


"Gak ya kamu fokus sekolah aja, belajar yang bener."


"Gak belajar juga dah pinter aku," sombong dikit boleh kali.


"Eh enak aja tetep harus sekolah yang bener," omel Sarah pada anaknya.


Setelah mengatakan itu Sarah lekas pergi dari kamar anaknya, untuk bersiap-siap pergi bekerja.


Menjadi singel parent tak mudah baginya meskipun hanya pempunyai anak satu, tetap saja hidup di zaman yang serba modern serta segala hal yang harus penggunakan uang membuat dia harus bekerja keras untuk bisa menyambung hidupnya.


Pekerjaan nya pun tak begitu mendapatkan gaji yang besar, Sarah hanya bekerja sebagai pelayan di kafe kecil. Tapi cukup untuk membiayai hidupnya sehari-hari.


Suami serta Ayah dari anaknya pergi meninggalkannya demi wanita lain yang lebih kaya serta cantik tentunya. Di saat dia harusnya bahagia karena lahirnya anak, dia harus bersedih karena mengetahui suaminya selingkuh dan lebih memilih pergi dengan wanita lain.


Bersyukur dan selalu menolong orang lain, itu yang selalu Sarah tanamkan dalam hidupnya.


***


Setelah melihat Mamah Sarah yang keluar dari kamarnya Riana lekas pergi ke kamar mandi, untuk apa? Untuk mandi lah. Terus anda berharap apa?


Siap dengan serangam sekolah nya Riana bergegas sarapan dan berangkat ke sekolah.


Saat di perjalanan menuju sekolah dia tak sengaja melihat seekor kucing oyen nan bar-bar yang tampak akan menyebrang jalan, karena takut akan kucing tersebut tertabrak kendaraan yang akan melintas dia mencoba menolong kucing tersebut.


"Yen kamu ngapain di situ? Buruan nyebrang! Kamu gak liat apa itu banyak kendaraan yang lewat?" Riana mencoba berbicara pada kucing oyen tersebut.


Emang s oyen ngarti ya?


Karena tidak mendapat respon dari kucing tersebut dia pun mencoba mengangkat kucing tersebut untuk menyebrang. Bukannya malah berterimakasih kucing tersebut malah menyakar Riana dengan sangat ganasnya.


"Eh dasar kucing oyen bar-bar udah gue tolongin ya, lo malah nyakar gue." Karena emosi pada kucing tersebut Riana terus berceloteh.


Dia tidak sadar bahwa berada di tengah jalan, dan bertepatan dengan itu ada sebuak truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


Brukkkk


Tidakkkk


Awasssss


Terlambat


Meskipun truk itu sudah berusaha untuk mengrem tetap saja tabrakan tersebut tidak bisa di hindari.


Sekeras apapun orang-orang berteriak, tetap saja tubuh Riana terhantam oleh truk tersebut. Tubuh Riana terlempar cukup jauh.


Dengan darah yang mulai keluar dari hidung, telinga bahkan kepalanya. Riana merasakan sakit yang luar biasa dan sudah tidak dapat mendengar teriakan orang di sekitarnya lagi.


"Aku mau mati ya? Ya padahal entar malem aku ulang tahun. M-maafin Anna Mah b-belum b-bisa bahagia-in Mamah." Dengan napas yang tersengal-sengal Riana mengatakannya.


Dengan kesadaran yang hampir menipis Riana masih bisa melihat kucing oyen yang dia selamatkan dengan menggantikan nyawanya. Kucing tersebut hanya mengeong dengan muka tidak dosanya menatap Riana.


"Gue mati karena lo kucing sialan," maki Riana dalam hati sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.


Banyak sekali orang-orang yang mulai menggerumuni tubuh Riana yang sudah penuh dengan darah, dan sebagian orang mulai menolong dengan menelpon ambulans.


***


Prannggg


"Mbak Sarah kenapa?"


"Hah?"


"Mbak Sarah ngelamun yah? Itu gelas nya pecah!"


"Kok bisa?" Sarah melihat heras dengan gelas yang sudah tidak berbentuk di bawah kakinya.


"Kayanya Mbak beneran ngelamun yah, itu gelas nya jatoh terus pecah. Apa ada yang ganggu pikiran Mbak?" Tina_rekan kerja Saran di kafe merasa heran dengan keadaannya.


"Lah Mbak juga gak sadar Tin, itu gelas pecah," sambil memberesi pecahan gelas tersebut.


"Kok Mbak kepikiran Anna yang Tin, rasanya perasaan Mbak jadi gak enak."


"Positif thinking aja mungkin Mbak kangen sama Anna, berdo'a aja semoga Anna baik-baik aja," Tina mencoba untuk menenangkan Saran.


"Aamiin, semoga baik-baik aja."


"Eh Mbak bukannya entar malem ulang tahun nya Anna yah?"


"Lah iya, Tin. Duh Mbak kok bisa lupa ya?" Tak habis pikir bisa-bisanya dia lupa ulang tahun putri nya sendiri.


"Lah Mbak gimana sih, kok bisa lupa? Gimana kalo kita bikin pesta kecil-kecil aja Mbak? Aku ikut," dengan sangat semangat Tina mengatakannya.


"Boleh. Kita makan-makan aja sambil nanti pulang kerja kita beli kue, terus langsung ke rumah." Sarah mengiyakan ajakan Tina untuk merayakan ulang tahun Riana.


"Oke jadi fiks yah Mbak?"


"Iya,"


Sarah mencoba untuk mengabaikan rasa gelisahnya dengan mencoba untuk terus berpikir positif, dan menuruskan kerjanya yang sempat tertunda.


***


Tibalah waktu istirahat kerja, Sarah mengcek ponselnya yang memang di simpan di sebuah loker tempat penyimpanan barang karyawan. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomer asing dan salah satunya ada dari Riana putrinya.


Baru akan menelpon kembali Riana, tapi panggilan dari nomer asing terlebih dahulu masuk.


"Hallo?"


"Hallo. Apa benar ini dengan ibunya saudara Riana?"


"Benar. Dengan saya sendiri, ini siapa ya?"


"Kami dari rumah sakit, mau mengabarkan bahwa anak anda menjadi korban kecelakaan."


Deg


"A-apa?"


"Dan maaf dengan berat kami juga menyatakan bahwa saudara Riana juga meninggal di tempat kecelakaan."


"Gak. Gak mungkin Anda pasti bohong kan?" Dengan suara bergetar Sarah mengatakannya.


"Tidak Bu, Anda bisa mendatangi rumah sakit xxx untuk mengambil jenazahnya. Sekali lagi kami turut berduka cita, selamat siang."


Tut


Tubuh Sarah langsung jatuh terduduk setelah mendapatkan kabar yang sangat menggejutkan tersebut.


Apa dia bermimpi? Sungguh ini begitu cepat dan mengejutkan.


"Mbak Sarah," Tina langsung menghampiri Sarah yang terlihat terduduk di lantai sambil menangis.


"Kenapa Mbak?"


Hiks hiks hiks


Tak apa jawaban hanya tangis yang memilukan yang bertambah keras.


"Mbak jawab dong, kenapa? Jangan bikin khawatir." Tina mencoba menenangkan Sarah sambil terus bertanya apa yang terjadi.


"Anna Tin,"


"Anna kenapa Mbak?" Sela Tina cepat.


"Anna mening-ggal"


"APA?"


...To Be Continue...


Makasih untuk part ini, jangan lupa saran dan dukungannya. Bay ketemu di part selanjutnya👋👋👋