
..."Do your best but maybe not sometimes."...
..._SEVENTEEN...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
27. Kedatangan Calon Mertua
Terapi Zeana seperi biasa berjalan dengan lancar, serta sekarang terlihat perubahan dari Zeana. Untuk hari ini Zeana sudah tidak perlu lagi menggunakan kursi roda, namun dapat diganti dengan menggunakan tongkat untuk membantu dalam berjalannya.
Serta terapi hari ini penuh dari huru-hara karena keributan dan kehebohan dari 3 pengrusuh yang mengganggu kedamaian Zeana.
Namun syukurlah semua bisa dilalui dengan sabar dan ketabahan. Kini mereka semua hendak langsung pulang ketika Zeana sudah selesai dengan terapinya.
Sebenarnya awal rencana mereka ingik makan siang diluar, namun orang rumah memberi tahu Felix juga ada tamu yang berkunjung ke mensionnya. Oleh karena itu mereka semua langsung pulang, karena tidak mau membuat tamu mereka menunggu terlalu lama.
Ketika sudah memasuki gerbang utama kediaman Anderson, terlihat sebuah mobil mewah yang terparkir disana.
"Ini mobil siapa Dad?" Keran Zeana karena mungkin hanya dia saja yang lupa dengan pemilik mobil tersebut.
"Tamu kita. Ayo masuk!"
Zeana dibantu oleh Jeano yang memapah serta menemani jalan Zeana yang masih agak kaku ketika harus menggunakan tongkat untuk masuk kedalam rumah.
Begitu sampai di ruang tamu, sudah terlihat sepasang suami istri yang tersenyum hangat pada Zeana.
"Anna!"
Seruan yang keras serta menggangetkan setiap orang yang mendengarnya, membut semua orang ingin mengumpat secara bersamaan.
"Tidak perlu teriak sayang! Ini rumah orang lain."
Terlihat sepasang suami istri yang merupakan tamu Felix, menyambut kedatangan Zeana dengan sangat bahagia.
"Bunda."
"Bunda?" Secara langsung Zeana menatap Jeano dan sepasang suami istri itu bergantian dengan terkejut.
"Itu Bunda dan Ayah ku." Ucap Jeano seolah menjawab rasa terkejut Zeana.
"Sayang, ini Bunda. Kamu tidak ingat?" Maura dengan segara menbawa tubuh Zeana kedalam pelukannya serta megecup pelan dahi Zeana.
Zeana yang masih ragu-ragu mulai membalas pelukan wanita yang ternyata adalah Ibu dari Jeano, tunangannya.
Zeana mengangkat sedikit wajahnya agar dapat melihat wajah cantik dari orang yang memeluknya.
"Maaf Tante, aku tidak mengingat Tante." Terdengar sekali nada bersalah dalam perkataan Zeana .
"Bunda sayang. Jangan panggil Tante! Kamu sudah seperti anak Bunda sendiri, dan lagian kamu akan menjadi anak Bunda juga nantinya."
"Iya Bunda." Kata Zeana dengan senyuman manis yang dapat menbuat siapa saja yang melihatnya merasa gemas."
"Aaaa...kamu lucu sekali sayang." Secara langsung kedua tangan Maura menyentuh kedua pipi Zeana yang putih mulus dan sedikit berisi. Dan tanpa sadar Maura malah menguyel-nguyel kedua pipi itu dengan gemas.
"Bwunda..pwipwi khu shakit.."
"Bunda jangan seperti itu! Liat Anna dapat kesakitan!" Tegur Jeano yang melihat kedua pipi Zeana mulai memerah.
"Aduh sayang, maaf." Maura dengan segera melepaskan kedua tangannya dari pipi Zeana. "Maafkan Bunda ya."
Terlihat sekali wajah Zeana yang memerah apalagi dibagian kedua pipinya.
"Iya, tidak apa Bunda." Meskipun terdengar mengikhlaskan apa yang dilakukan oleh Maura, namun nyatanya tidak. Zeana malah mengerecutkan bibirnya dan terlihat sekali wajah kesal darinya. Dan hal itu semakin membuat orang yang melihatnya semakin gemas.
"Kenapa sangat mengemaskan sekali? Untung dia Adik ku." Zeropun tak luput merasa gemas dengan Zeana.
"Putriku sangat mengemaskan sekali. Kenapa aku baru sadar bahwa Anna sangat cantik dan lucu." Felix merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Sejak kapan putrinya Felix sangat lucu? Kemana saja aku ini?" Heran Reno yang baru saja melihat sikap Zeana, meskipun ini bukan kali pertama mereka bertemu, tapi Reno baru sekarang melihat sikap Zeana yang seperti ini.
Zeana yang Reno tau, adalah gadis baik dan sopan serta tidak banyak bicara dan berinteraksi ketika berkunjung ke kediamannya.
Reno merasa bahwa kini dia melihat orang baru, bukan seorang Zeana yng mereka kenal ketika kemari-kemarin sebelum kecelakaan.
"Ayo peluk Bunda lagi sayang! Bunda sangat rindu dengan mu." Maura kembali menarik tubuh Zeana kedalam pelukannya.
Entah mengapa Zeana merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Muara, pelukan ini mengingatkan dengan Ibunya Sarah. Tentu ketika masih di raga sebagai Riana.
"Aku suka dipeluk Bunda, apakah aku boleh selalu dipeluk Bunda?" Dengan penuh harap Zeana menatap Maura meminta persetujuan.
"Tentu sayang, kamu boleh memeluk Bunda sesukamu."
Maura secara langsung menatap prihatin Zeana, dia merasa kasihan dengan anak didalam pelukannya ini. Anak yang tidak tau bagaimana kasih sayang seorang Ibu sejak lahir hingga sebesar sekarang.
Anak yang tumbuh tanpa kasih sayang keluarga, membuat Maura sangat menyayangi Zeana.
Selain karena Zeana adalah anak dari sahabat baiknya, Zeana juga sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Maura. Maura yang tidak dapat hamil kembali setalah melahirkan Jeano, membuat dia sangat sedih. Jika saja rahimnya tidak dianggakat waktu itu, mungkin kini Maura sudak menpunyai banyak anak.
Ditambah mempunyai anak perumpuan merupakan impian Maura dan juga suaminya. Namun kini juga mereka masih bersyukur dapat mempunyai anak tampan satu-satunya yang mereka punya dan sayangi.
Jeano merupakan anugrah dalam pernikahan serta rumah tangga mereka.
Kini mereka berpikir tidak apa pempunyai anak satu, daripada tidak mempunyainya sama sekali.
Jadilah Jeano anak tunggal kaya raya.
Sudahi cari yang sempurna, cukup nikahi anak tunggal kaya raya. Jeano contohnya, ada yang mau?
Tak jauh berbeda dengan Maura yang merasa terharu dengan ucapa Zeana, mereka semua yang mendengar apa yang dikatakan oleh Zeanapun ikut sedih melihat Zeana.
Semuanya terdiam tidak ada yang mengatakan apapun, dengan pandangan iba menatap punggung Zeana dalam pelukan Maura.
Namun susana itu tidak bertahan lama, karena kedatangan maid membuyarkan semua suasana pikiran mereka.
"Maaf Tuan, makan siangnya sudah siap." Seorang yang memakai pakaian khas pelayan datang dan menunduk hormat memberi tahu semua orang yang berada di ruang tamu itu.
"Ya, kami akan kesana. Kau boleh pergi!" Felix mengangguk kecil sambil langsung menyuruh pelayan itu pergi.
"Baik. Permisi."
"Ayo kita makan terlebih dahulu! Obrolannya dapat dilanjutk kembali setelah makan."
"Ya, ayo!" Melepaskan pelukannya dengan Zeana, dengan sigap Maura akan membantu Zeana untuk berjalan.
"Ayo sayang, Bunda bantu."
"Terimakasih Bunda."
"Sama-sama. Ayo!"
Mereka semuapun mulai berjalan keruang makan dan mulai memakan makanan mereka, yang diselangi dengan obrolan serta candaan kecil didalamnya.
See you next part
Jangan lupa like, vote, dan komen
Tandai juga bila ada typo
Bay bay👋👋