
..."Sebesar apapun kebencianmu terhadap dunia dan isinya, kamu tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Kamu akan selalu butuh seseorang untuk bersandar." ...
..._The Devil Judge...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
69. Kantin Perusahaan
Tidak terasa jam makan siangpum tiba, dimana Felix sudah memanggil Zero dan Zeana untuk segera kembali dan segera ikut makan siang bersama.
Mau tidak mau, Zeana mengurungkan niatnya yang tadinya sedang menunggu Jeano dilantai bawah kini harus kembali lagi menuju ruangan Felix. Biarlah nanti Jeano bisa segera kesana juga.
Zero dan Zeanaphn kembali melangkah masuk kedalam, dan dapat dilihat jika kali ini begitu banyak orang yang berhamburan tidak menentu. Ada yang langsung kantin, dan hal lainnya yang bebas mereka lakukan di jam istirahat.
Tentu saja mereka akan terdiam sejenak untuk menyapa Zero maupun Zeana.
"Selamat siang Tuan Muda, Nona Muda." Sapa orang-orang yang setiap kali berpapasan dengan mereka berdua.
"Selamat siang juga." Sapa Zeana kembali disertai dengan senyuman, sedangkam Zero hanya diam seperti biasa.
Tidak lama mereka musah sampai diruangan Felix, dan langsung saja masuk. Dapat dilihat jika sudah ada Felix dan Hans yang sedang membereskan berkas-berkas sebelum mereka hendak pergi.
"Bagaimana, sudah puas berkelilingnya?"
"Sangat puas Dad, tapi sangat memelahkan juga karena kantor ini begitu luas."
Felix dan Hans hanya terkekeh kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, sudah jelas bahwa kantor ini akan sangat luas dilihat dari luarpun.
"Baiklah, ayo kita langsung makan siang saja!"
"Ayo Dad! Aku mau makan dikantin yang dibawah tadi."
Seketika Felix langsung menghentikan aktivitasnya mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana. Apa yang dimaksud oleh Zeana adalah kantin yang berada dikantornya?
"Maksudmu kantin perusahaan?" Tanya Felix memastikan apa yang dimasuk oleh Zeana. Dan langsung saja Zeana mengangguk dengan semangat serta terlihat sekali binar dikedua matanya.
Melihat ekspresi yang Zeana buat, membuat Felix tidak tega untuk menolaknya. Tapi dia juga tidak bisa untuk menuruti kemauan dari Zeana.
"Iya Dad, yang ada dibawah."
"Hmm..bisakah kita makan ditempat lain saja?"
"Kenapa tidak disana saja Dad? Apakah kantin itu tidak boleh kita kunjungi?"
"Bukan seperti itu, hanya saja kantin pasti akan penuh dijam sekarang oleh para karyawan. Daddy tidak mau nanti berdesak-desakan, apalagi makanan dikantin tidak sesuai untuk kamu. Kamu tidak boleh makan sembarangan, ingat apa kata Dokter Bian."
"Tapi Dad, pasti makanan dikantin juga sehat-sehat dan higenis. Jadi, tidak perlu khawatir juga aku turut ikut memakannya. Tidak apa juga untuk berdesak-desakan. Aku mohonnn..."
Zeana masih terus membujuk agar mereka semua bisa makan dikantin yang tadi sempat Zeana lewati. Sungguh Zeana sangat penasaran dengan makanan yang ada disana, ditambah dengan aroma yang begitu haruk dari makanan yang ada disana.
Felix masih terlihat diam dan mulai berpikir, dia juga tidak mau ambil resiko yang dapat membahayakan Zeana.
"Ayolah Dad, kumohon..." Bujuk Zeana kembali tidak lupa dengan wajah yang begitu memelas.
Baru saja Felix akan bersuara, namun terlebih dahulu sebuah suara mendahuluinya.
"Kalau mereka tidak mau, bersama ku saja."
Sontak semua orang langsung melihat kearah pintu yang dimana sudah ada Jeano yang sedang bersandar pada salah satu dinding tidak lupa kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya.
"Jeano!!"
Dengan segera Jeano menghampiri Zeana dan hendak membawa Zeana pergi dari sana, namun dengan segera Felix mencegahnya.
"Tidak boleh! Kau tau bukan, jika Anna tidak boleh makan sembarangan."
"Aku tau, jadi ayo kita lihat kesana! Apakah ada makanan yang dapat Anna makan atau tidak? Aku tidak tega melihat Anna harus bersedih karena tidak bisa makan disana." Kata Jeano yang membuat Felix menjadi tersadar dengan kebodohannya.
Benar apa yang dikatakan oleh Jeano, kenapa tadi tidak terpikirkan ya?
"Baiklah, ayo kita kesana!"
"Yeeyyy!!" Seru Zeana yang sangat bahagia karena diperbolehkan makan dikantin.
Mereka semua mulai berjalan kelantai dimana kantin itu berada. Berbeda dengan Zeana yang sangat bahagia, terlihat Zero sedikit kesal.
"Kalau tau mau makan disana, kenapa tadi harus naik kelantai atas dulu? Buang-buang tenaga saja." Gerutu Zero pelan yang masih setia mengikuti yang lainnya.
Sungguh kaki Zero sudah sangat letih karena terus berjalan dari tadi, karena terus diajak berkeliling oleh Zeana.
Mau menolakpun tidak bisa karena melihat wajah Zeana yang begitu bersemangat, Zero tidak ingin membuat Zeana sedih.
Tentu saja ketika Zeana dan yang lainnya berjalan bersama sudah menjadi sorotan semua pasang mata, yang dimana mereka merasa sedang cuci mata melihat orang cantik dan juga ganteng secara bersamaa.
Begitu memasuki kantin, tampak kantin yang tadinya berisik jadi hening seketika. Mereka semua shok dengan kedatangan para petinggi perusahaan, karena baru kali ini mereka melihat Felix dan yang lainnya mengunjungi kantin selama bekerja di perusahaan tersebut.
Namun tetap saja suasana tidak banyak berubah, para karyawan masih menjaga sikap serta tutur kata mereka.
Kalian semua pasti tau kan? Jika jam istirahat selain dijadikan waktu makan, dijadikan juga waktu bergosip. Atau yang lebih berfaedah yaitu saling sharing tentang pekerjaan yang sedang dilakukan.
Namun saat ini para karyawan tidak bisa untuk itu, mereka canggung juga takut jika salah dalam berbicara. Yang mungkin saja dapat mengakibatkan mereka harus kehilangan pekerjaan.
Dan ini juga yang menjadi alasan Felix tidak pernah mau mengunjungi kantin perusahaannya dijam istirahat. Karena Felix cukup sadar diri untuk tidak menganggu jam istirahat para pegawainya dengan aura yang dia keluarkan.
Felix tau bahwa hampir setiap karyawanya takut jika berada bersamanya serta selalu segan dengan tatapan dingin yang Felix berikan.
Tentu saja Felix termasuk Bos yang memperdulikan semua kenyaman karyawanya, agar betah ketika sedang bekerja tentunya.
Tapi untuk sekarang mau bagaimana lagi? Ini hanya sekedar keinginan Zeana saja, dan semoga tidak ada untuk kedepannya lagi.
Mereka semua duduk dimeja yang sengaja dikosongkan secara mendadak untuk dapat ditempati oleh Felix dan yang lainnya.
"Mau pesan apa Tuan?" Tanya salah satu juru masak yang ada disana, begitu Felix sudah duduk dikursinya.
"Ada apa saja?"
Juru masak tersebut mulai menyebutkan satu-persatu medu yang disediakan hari ini dikantin tersebut.
Dengan segera Felix dan yang lainnya memesan, meskipun Felix tidak yakin apakah bisa menikmati makanannya nanti.
Dan tidak membutuhkan waktu lama makanan segera tiba, dan mereka mulai memakannya.
"Makananya enak Dad, aku mau makan disini lagi." Kata Zeana yang merasa puas dengan rasa yang dia rasakam dari masakan tersebut.
"Ya, tentu." Itu yang hanya bisa dikatakan oleh Felix, karena sebenarnya dia berharap tidak lagi.
Memang selain Zeana, Felix dan yang lainnya juga mengakui jika makanan dikantn ini sangat enak. Namun hanya satu masalahnya, kecanggungan yang membuat suasana makan jadi tidak enak.
Mereka semua mulai memakan makanan masing-masing dengan tenang, tanpa mereka tau jika sebagian karyawan masih ada yang ketar-ketir. A
Apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, membuat mereka berpikir untuk tidak akan bisa leluasa lagi jika dikantin nanti.
***
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya disudut sebuah kafe yang ramai pengunjung. Terdapat seorang remaja yang tampak sedang menunggu seseorang, terbukti dari prilakunya yang beberapa kali melihat ponsel serta melihat kearah luar kafe.
"Cih, lama banget tu orang. Awas aja kalo cuman mau ngomong hal yang gak guna." Gerutu pemuda itu sambal terus melihat-lihat kepintu masuk, karena siapa tau saj orang yang ditunggunya sudah datang.
Dan benar saja tidak lama pemuda tersebut sudah dapat melihat orang yang ditunnggunya sedang tergesa-gesa menghampirnya.
"Sorry, gue telat."
"Gak gue maafin. Cepet mau ngomong apa?"
"Yaelah, sabar dong."
"Gak ada. Cepet apa yang mau lo omongin?" Ucap pemuda tersebut yang sudah menahan kesal dari tadi, sedangkan orang yang ditunggunya malah dengan santai seolah merasa tidak bersalah.
"Ini tentang lo sama dia."
"Emang kenapa gue sama dia? Gue udah bilangkan? Mulai sekarang lo gak bisa ikut campur lagi urusan gue sedikitpun, apapun alesannya."
"Gue gak akan ganggu lo kali ini, tapi gue bakal bantu lo."
"Emang lo pikir gue bodoh? Yang akan ketipu sama omongan lo lagi, pokoknya gue gak akan percaya sama lo lagi."
"Yaudah sih, kalo lo gak mau. Tapi lo bakal nyesel karena gak terima penawaran yang gue berikan."
Perkataan dari orang tersebut dapat membuat hati pemudah tersebut sedikit goyah, mulai tidak kayin dengan penolakan yang ingin dia berikan.
"Gak ada salahnya gue coba dulu apa rencana dia." Batin pemuda tersebut yang sudah memikirkan tentang penawaran yang diberikan orang yang berada didepannya ini.
"Yaudah, apa yang lo rencanakan?"
"Gue pengen kita kerja sama, buat keberhasilan kita. Tentunya, gue sama lo akan sama-sama diuntungkan kalau rencana ini berhasil."
"Jadi?"
"Buat hubungan mereka hancur. Dan kita bisa miliki salah satunya secara bersamaan. Gimana?"
"Ide yang bagus, tapi kenapa lo jadi pengen sama dia?"
"Ini privasi, gak bisa gue omongin. Intinya kita saling diuntungkan, kalo mau kerja sama. Dan lagi bakal tambah gampang untuk misahin mereka kalau kita langsung serang dari 2 arah."
Sungguh apa yang ditawarkan oleh orang didepannya ini sangat menggiurkan untuknya. Apalagi melihat apa yang akan dia dapatkan nantinya.
Tanpa berpikir panjang pemuda itu langsung menyetujui tawaran tersebut tanpa banyak tanya penolakan.
Mereka berdua terus membicarakan rencana apa yang akan mereka lakukan kedepannya.
Tanpa mereka sadari jika masih ada seseorang yang mendengar semua obrolan pemuda itu dengan orang yang ditunggunya. Seseorang yang mengenal keduanya, seseorang yang mungkin saja bisa membuat rencana mereka berdua gagal total.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.