Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 58



..."Jika menunggu itu menyenangkan maka itulah Cinta."...


..._Kim Junmyeon...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


58. Kita Mulai Dari Awal


Zeana terus mendengarkan semua yang diceritakan oleh Jeano dengan seksama dan serius. Entah mengapa setelah mendengarkan semua cerita yang Jeano katakan membuat Zeana sangat sedih, dia menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Kenapa Zeana yang dulu sangat bodoh dan juga kejam secara bersamaan?


Bodoh karena melakukan perbuatan yang sangat merugikan dirinya sendiri dan kejam dengan menyakiti orang lain.


"Lalu kenapa dulu kamu membiarkan saja ketika aku mengejar Nico?" Heran Zeana dengan Jeano yang dengan mudah mengiyakan keinginan Zeana dulu.


"Karena aku mencintaimu." Singkat Jeano dengan menatap tepat kearah dua mata Zeana berwarna biru yang sangat indah.


Deg


Entah mengapa ketika Jeano mengatakan hal, hati Zeana seolah merasakan getaran yang berbeda. Antara bahagia, sedih dan bingung secara bersamaan.


Zeana merasa bahagia ketika tahu Jeano masih mencintai Zeana yang dulu dan sekarang, namun dia juga sedih karena masih harus berbohomg dengan menutupi identitas aslinya. Serta bingung, apakah dia merasakan apa yang Jeano rasakan pada dirinya?


Cinta. Satu kata yang tidak pernah tau arti sebenarnya. Zeana yang sekarang tidak pernah merasakan jatuh cinta pada seorang pria, baik dikehidupannya waktu dulu sebagai Riana.


Dulu sebagai Riana, dia hanya fokus belajar serta selalu menuruti apapun yang Ibunya perintah. Karena dengan menuruti semua kemauan Ibunya membuat Riana menjadi senang, tanpa harus memikirkan tentang percintaan.


Apalagi ditambah dengan telahir dari keluarga broken home membuat Riana menjadi tidak pernah dekat dengan sosok pria, dan jika disekolahpun hanya berteman layaknya teman sekolah biasa.


Namun berbeda saat dia terbangun di tubuh Zeana, dia harus berinteraksi banyak serta mendekatkan diri dengan yang namanya pria. Bahkan hampir dikehidupannya sekarang Zeana lebih banyak dekat dengan pria, karena keadaan yang mendesak.


Awalnya begitu canggung dan bingung yang Riana rasakan begitu berada dilingkungan Zeana yang sangat berbeda dengannya, apalagi dengan segudang masalah serta ingatan yang tidak sedikitpun Zeana dulu berikan pada Riana.


Membuat Riana yang kini ada didalam tubuh Zeana memutuskan untuk menjalani kehidupan sekarang dengan kemauan sendiri, dan juga sifat dari dirinya sendiri.


"Sungguh?" Tanya Zeana memastikan.


"Tentu, kamu tau? Aku sudah mencintaimu dari pertama kali kita bertemu, dan aku membiarkan dirimu terus mengejar Nico kerena ingin terus melihat mu bahagia. Dulu aku pikir dengan membiarkanmu terus bersama Nico akan membuatmu bahagia, tak apa jika harus aku yang tersakiti." Lirih Jeano diakhir kalimatnya, sangat tertera sekali jika Jeano begitu sakit ketika mengatakan hal itu.


Seketika Zeana langsung memeluk tubuh Jeano dengan erat dan menangis dalam pelukan tersebut. Jeanopun melakukan hal sama dengan ikut membalas pelukan Zeana tak kalah erat, serta merasa terharu dengan apa yang Zeana lakukan padanya.


"M-maaf Jeano...a-aku hiks hiks membuatmu menderita waktu dulu..a-aku sungguh hiks mintaa maaff-" Zeana tidak mampu lagi berbicara dengan benar karena dia lebih memilih terus menangis dalam pekulan Jeano.


"Tidak apa..jangan terus meminta maaf." Ucap Jeano yang mencoba menenangkan Zeana yang ada didalam pelukannya dengan terus mengusap punggung yang terus bergetar itu.


"Tapi aku...aku hiks hiks-"


Tangisan Zeana malah semakin kencang dan bertambah sesenggukan, sangat terlihat sekali pilu untuk orang yang mendengar tangisan tersebut.


"Sudah..sudah, jangan menangis! Kamu akan susah bernapas jika menangis terus." Sekarang Jeano menjadi khawatir dengan keadaan Zeana yang terus menangis dengan kencang.


Srottt


Suara tarikan ingus yang Zeana lakukan serta dia yang mencoba untuk mulai kembali duduk dengan tegak. "Hidungku mampet." Adu Zeana pada Jeano.


Jeano yang mendengar itu hanya terkekeh kecil, sekarang terlihat sangat lucu dengan mata yang sembah dan hidung yang memerah.


"Sudah aku bilang bukan? Kamu akan kesusahan untuk bernapas karena hidungmu akan mampet."


Jeano segera mengambil tisu yang tidak jauh dari tempat duduk mereka dan tanpa merasa jijik Jeano membantu Zeana untuk mengelap ingus serta air matanya.


"Sudah merasa baik?"


"Masih mampet, aku masih tidak bisa bernapas." Cemberut Zeana yang masih mencoba untuk mengelap hidungnya yang mampet.


"Tidak apa, nanti akan baik-baik saja."


Tangisan Zeanapun sudah reda namun masih terdengar sesekali sesegukan darinya. "Ini minumlah dulu!" Jeano dengan sigap memberikan segelas air pada Zeana yang langsung diminum habis air tersebut.


"Terimakasih." Ucap pelan Zeana dengan suara serak khas habis menangis.


"Sama-sama. Ini sudah semakin malam, ayo segera tidur!"


"Apakah kamu akan pulang?"


"Hmm....ya."


"Tapi ini sudah sangat malam, aku takut kamu kenapa-kenapa dijalan jika pulang. Kamu mengenap saja disini, aku akan bilang pada Daddy."


"Baiklah, jika itu mau mu."


"Ayo!"


Mereka berdua berjalan kearah ruangan kerja Felix karena Zeana yakin pasti Daddynya masih berada disana.


Tok tok tok


"Dad...Daddy, apakah ada didalam?"


"Ya masuk saja, pintunya tidak dikunci." Teriak Felix dari dalam ruangan itu, dengan segera Zeana membuka pintu tersebut dan masuk kedalam.


Ceklek


Pintu pun terbuka, Zeana dapat lihat jika Felix sedang duduk dimeja kerjanya dengan setumbuk berkas-berkas. Zeana dan Jeanopun mulai mendekat kearah dimana Felix berada


"Apa aku mengganggu Dad?"


"Tidak sayang, ada apa?" Jawab Felix dengan senyum kecil, namun ketika melihat wajah sembab Zeana raut wajahnya langsung berubah menjadi khawatir. "Kenapa dengan dirimu? Kenapa terlihat seperti sudah menangis? Apakah Bocah tengil ini membuatmu menangis?"


"Tidak Dad, aku tidak apa. Jeano tidak membuatku menangis, tadi kita menonton film yang sedih jadi aku menangis."


"Aku mau minta izin untuk Jeano menginap disini."


"Kenapa?"


"Ini sudah sangat malam Dad, aku khawatir Jeano kenapa-kenapa dijalan. Jadi tolong izinkan Jeano menginap disini!"


"Baiklah, dia akan tidur dikamar tamu."


"Kenapa bagitu?" Tanya Jeano dengan cepat begitu mendengar yang dikatakan oleh Felix, dia yang awalnya diama saja kini mulai mengeluarkan protes.


"Memangnya kau mau seperti apa? Tidur bersama Zeana? Tidak bisa!"


Zeana yang melihat akan terjadi berdebatan segera mencegahnya, "Sudah jangan bertengkar! Bener apa yang dikatakan oleh Daddy, kamu bisa tidur dikamar tamu."


Dengan berat hati Jeano menyetujuinya, dia kira dengan Zeana yang akan meminta izin langsung pada Felix dia bersama Zeana akan tidur bersama. Catat, hanya tidur saja tidak lebih.


Tapi nyatanya tidak, entah Jeano yang terlalu berharap atau otaknya saja yang selalu berpikir ingin tidur bersama Zeana.


"Ouh iya, apakah bekerjaan Daddy masih banyak?"


"Tidak, kenapa?"


"Kalau begitu segera tidur Dad, jangan terlalu lelah bekerja! Daddy bisa sakit nantinya, aku tidak mau itu."


"Baiklah..baiklah, Daddy akan tidur sekarang."


"Kalau begitu aku akan pergi kekamarku. Selamat malam Dad."


"Malam juga." Kata Felix yang mengecup pelan dahi Zeana.


Zeana dan Jeano segara keluar dari ruangan Felix dan menuju kamar Zeana, karena Jeano ingin menemani Zeana sampai dikamarnya.


"Sudah, sampai sini saja. Kamu segera kembali kekamar." Ucap Zeana begitu mereka berdua sudah berada didepan kamarnya.


"Baiklah, kamu segera tidur juga. Selamat malam." Kata Jeano yang tidak lupa mengusap pelan kepala Zeana.


"Selamat malam juga Jeano." Ucap Zeana yang langsung masuk dan menutup pintu kamarnya.


Jeanopun segara kembali kelantai bawah menuju salah satu kamar tamu yang sudah disiapkan untuknya, mereka semuapun mulai tertidur lelap mengistirahatkan tubuh mereka agar kembali fiv untuk esok hari.


Tenang saja, kedua orang tua Jeano tidak akan khawatir jika Jeano tidak pulang kerumah untuk malam ini karena Jeano sudah memberi kabar jika akan menginap dirumah Zeana.


***


Tidak terasa pagi mulai menyapa, satu demi satu manusia dibumi mulai bangun dari tidur nyenyaknya. Begitu juga Zeana yang baru saja bangun karena terusik dengan cahaya matahari yang mulai masuk kedalam jendela kamarnya. Untung saja hari ini weekend jadi Zeana tidak perlu terburu buru untuk segera pergi kesekolah.


Zeana segara beranjak dari kasur menuju kamar mandi, dan segera turun keruang makan untuk sarapan pagi bersama.


Sudah terlihat Felix dan Jeano yang ada disana, menunggu Zeana untuk ikut bergabung. "Selamat pagi semuanya." Sapa Zeana begitu ikut bergabung dimeja makan.


"Selamat pagi juga."


"Dimana Kakak?" Tanya Zeana ketika tidak melihat keberadaan Zero.


"Kakak disini." Tiba-tiba Zero bersuara dari arah belakang tubuh Zeana, karena Zero baru saja turun dan bangun dari tidurnya.


Zeropun ikut bergabung bersama dimeja makan. "Kau tidak pulang?" Tanya Zero ketika melihat Jeano sudah ada dimeja makan dengan memakai baju semalam.


"Tidak, aku menginap disini. Kenapa?"


"Tidak, hanya tanya saja."


Tanpa banyak lagi obrolan mereka semua mulai memakan sarapan dengan diam dan damai, dan tidak lama dari itu setelah selesai sarapan Jeano mengajak Zeana untuk berkeliling ditaman belakamg kediaman Anderson.


"Taman ini menjadi sangat indah dari terakhir kali aku lihat."


"Ya, karena akhir-akhir ini aku merenovasi sedikit tanaman yang ada disini. Apakah jadi seindah itu?"


"Sangat indah, suasananya menjadi tambah hidup. Dan apakah kamu menyukai tanaman?"


"Tentu. Aku sangat suka tanaman." Zeana tanpa sadar mengatakan salah satu kesukaannya waktu masih menjadi Riana.


"Benarkah? Sejak kapan?" Yang Jeano tahu Zeana yang dulu tidak sedikitpun suka dengan tanaman apapun.


"Sejak dul-"


Hampir saja Zena keceplosan, buru-buru dia melarat ucapannya. "Maksud ku sejak kemarin-kemarin. Karena aku tidak tahu harus melakukan apa jika dirumah, jadi aku memilih untuk bertanam saja."


Jeano hanya mengangguk saja mendengar penjelasan dari Zeana, kemudian dia mulai melihat-lihat lagi keadaan sekitaran taman.


"Jeano?"


Ucapan Zeana menarik perhatian Jeano yang membuat dia langsung melihat kearah Zeana dengan wajah bertanya.


"Ada apa?"


"I-itu...tentang yang kita bicarakan waktu semalam." Zeana tampak diam sejenak dan berpikir untuk mengatakan hal selanjutnya, sedangkan Jeano dengan seksama mendengarkan perkataan Zeana.


"Bisakah, kita memulainya dari awal lagi? Tolong ajarkan aku untuk dapat mencintai mu juga, dan dapat menerimamu dengan dengan lapang dada. Ayo kita jalani hubungan pertunangan yang baik!" Ucap Zeana yang dapat membuat Jeano menjadi terdiam kaku menatap tidak percaya pada Zeana.


Setelah memikirkannya semalaman, Zeana akhinya memilih untuk mencoba menerima Jeano dan menebus semua rasa sakit yang Jeano alami waktu dulu dengan mencoba untuk mencintai Jeano juga.


"Benarkah? Aku tidak bermimpi bukan?"


"Tidak Jeano, aku bersungguh-sungguh mengatakan hal itu. Apakah kamu mau membantu ku?"


"Tentu saja, terimakasih Anna." Dengan segera Jeano membawa tubuh Zeana kedalam pelukannya.


Zeana hanya mengangguk pelan dalam pelukan itu, keduanya saling terdiam menikmati suasana yang indah itu serta dengan suasana hati yang sangat baik juga.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.