Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 30



..."Apapun yang kamu lakukan tidak perlu menyesali sesuatu yang sudah hilang bahkan tidak bisa dimiliki kembali."...


..._Zhong Chenle...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


30. Perkara Menginap


Masih didalam kamar Jeano dengan keadaan yang sama, dimana Jeano masih nyaman dengan usapan Zeana dikepalanya sedangkan Zeana mulai melihat-lihat seisi kamar Jeano dengan teliti.


Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu membuat mereka terus dan terarah pada pintu yang diketuk tersebut.


Tok tok tok


"Jeano!" Teriakan khas ibu-ibu terdengar sangat kencang dibalik pintu tersebut. Sudah dapat ditebak jika orang yang berada dibalik pintu itu adalah Maura.


Ceklek


"Kalian sedang apa?" Buru-buru Maura mengahampiri Zeana dan Jeano yang berada diatas kasur.


Sedangkan Zeana langsung merasa gugup karena seperti dipergok habis melakukan suatu hal yang salah, padahal dia hanya diam duduk di kasur Jeano tanpa melakukan hal lebih.


"K-kami hanya duduk Bunda. Tidak melakukan apapun lagi selain itu." Kata Zeana sambil berusaha menyingkirkan kepala Jeano yang masih ada diatas pahanya. Namun Jeano tidak merespon itu, malahan dia malah dengan sengaja menduselkan lebih dalam mukanya pada perut Zeana.


"Jeano, ada Bunda."


"Hmmm...." hanya sebuah ngumaman yang diberikana Jeano.


"Heh Jeano, bangun! Malah makin asik ngeduselin anak orang." Dengan cepat Maura menarik tubuh Jeano agar menjauh dari Zeana.


"Ih...Bunda....." Tertera sekali wajah ngantuk Jeano, mungkin dia ingin tertidur karena elusan Zeana dikepalanya membuat kantuk datang.


"Bangun Jeano, lanjut tidur yang benar! Kasian Anna kalau harus memangku kepalamu terus, kakinya akan kram. Dan itu tidak baik untuk Anna."


Sontak saja Jeano langsung melotot membuka matanya dan menatap Zeana dengan pandangan bersalah.


"Maaf sayang, aku lupa tentang kakimu."


"Tidak apa Jeano, aku baik-baik saja. Tapi benar kata Bunda, kamu lanjut tidur saja dengan posisi yang lebih nyaman."


"Tidak. Aku sudah tidak mengantuk lagi."


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita makan!" Ajak Maura pada Zeana dan juga Jeano.


Merekapun bergegas turun dengan Zeana dan Maura terlebih dahulu karena Jeano akan menyusul nantinya. Jeano harus membasuh mukanya dulu supaya terlihat segar kembali dan tersadar dari rasa kantuknya.


Dimeja makan sudah terdapat Reno yang menunggu kedatangan mereka. Maura duduk samping sisi kanan Reno sedangkan Zeana duduk disamping Muara. Tak lama Jeano datang dan duduk disamping sisi kiri Reno, tepat didepan Maura.


"Ayo kita makan!" Reno memberi instruksi agar mereka bisa langsung memakan makanan mereka.


Maura dengan cekatan langsung mengambilkan makanan untuk Reno, dan hal itu tidak luput dari pandangan Zeana.


"Jadi begininya, jika mempunyai keluarga lengkap. Kita bisa melihat interaksi sederhana antara suami istri yang dapat menguatkan hubungan mereka, serta menunjukan kasih sayang pasangannya." Batin Zeana menatap kagum interaksi Reno dan Maura.


"Terimakasih sayang."


"Sama-sama. Ouh iya kamu mau makan dengan apa Anna? Biar Bunda ambilkan." Kini Maura berpindah pada Zeana untuk menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Zeana.


"Hmm, aku bisa sendiri Bunda. Bunda langsung makan saja." Zeana merasa masih tau diri sekarang, masa sudah numpang makan kini harus diambilkan juga.


"Tidak apa, ayo mau makan apa?"


"Ayam dan tumis brokoli saja Bunda." Karena Maura yang terus memaksa, akhirnya dengan tak enak hati Zeana menerima tawaran itu.


Maurapun langsung mengisi pirang kosong Zeana, "Segini cukup?"


"Cukup Bunda, terimakasih."


"Iya, sama-sama."


Sedangkan Jeano kini terpojokan lagi, entah mengapa sekarang seolah dia merasa tidak terlihat dan seperti dianak tirikan oleh Bunda tercintanya itu.


"Apakah aku tidak ditanya juga?" Tanya Jeano menatap Bundanya dengan kesal.


"Baru saja Bunda akan bertanya. Kamu mau makan dengan apa?"


"Sama seperti Anna."


"Baiklah."


Maurapun langsung mengisi piring kosong Jeano sama seperti milik Zeana.


"Selamat makan semua."


***


Selesai dengan acara makan, kini mereka semua sedang berkumpul kembali diruang keluarga.


"Jeano aku mau pulang." Pinta Zeana karena teringat dengan pesan Daddynya yang menyuruh pulang sore.


"Nanti saja. Atau kamu menginap saja disini, bagaimana?"


"Heh, gampang banget kamu bilang gitu. Memang Daddynya Anna bakal ngizinin?" Maura langsung menegur Jeano, dia mengingatkan tentang seberapa protektifnya Felix pada Zeana.


Tentu hal itu saja Felix tidak akan dengan mudah mengizinkan Zean untuk menginap.


"Bakal dong, kan nginepnya juga disini."


"Yaudah coba telepon."


Zeana langsung saja mengeluarkan ponselnya dari tak kecil yang memang dibawanya dari rumah dan langsung mengdial nomer Daddynya.


Tidak membutuhkan waktu lama telponpun langsung tersambung.


"Halo sayang. Kamu membutuhkan sesuatu?"


"Halo Dad. Tidak, aku tidak membutuhkan apapun. Tapi aku mau minta izin menginap dirumah Jeano, apa boleh?"


"Tidak." Dengan cepat Felix disembarang telepon melarang Zeana.


Jeano yang mendegar ucapan Felix langsung saja mereput ponsel tersebut dari Zeana, karena memang ucapak Felix dapat didengar oleh semua orang yang berada disana.


"Kenapa?" Sentak Jeano secara langsung.


"Ya, pokoknya tidak boleh!"


"Yaudah, aku tidak akan mengantarkan Anna pulang."


"Tidak apa. Aku yang akan menjemputnya."


"Ayolah biarkan Anna menginap disini!"


"Kubilang tidak, ya tidak. Kenapa kau sangat memaksa Anna untuk menginap? Apakah kau ingin bisa tidur lagi dengannya?"


Sontak perkataan Felix mengundang tatapan tajam dari kedua orang tua Jeano. Mereka menatap seolah bertanya apakah benar yang dikatakan oleh Felix.


"Hei, sudah kubilang bukan. Bahwa kita hanya tidur saja, tidak lebih. Jadi ayolah biarkan Ana menginap untuk malam ini saja."


"Tidak. Jika kau terus memaksa, aku akan membuat mu tidak bisa melihat Anna lagi. Jadi cepat pulang!"


Tanpa mau tau apa yang dikatakan oleh Jeano selanjutnya, Felix langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


"Pak Tua!!"


"Sial*n..."


Jeano tidak melanjutkan ucapannya karena teringat ada Zeana dan juga kedua orang tuanya yang sedang menatapnya tajam.


"Tidak boleh mengumpat Jeano!" Larang Zeana setelah Jeano mengembalikan ponselnya.


"Maaf sayang, aku hanya kesal saja dengan Daddymu."


"Sekarang jelaskan apa maksud Felix tadi!" Desak Maura yang terus menatap tajam Jeano, sedangkan Reno sudah biasa saja. Karena dia tahu bahwa Jeano tidak akan merusak Zeana.


Jeanopun menjelaskan semua tentang kesalahpahaman tersebut. "Begitu Bun, Yah. Aku tidak melakukan hal lebih sungguh, iyakan sayang?"


Jeano langsung menatap Zeana meminta agar ikut menyetujui apa yang dikatakan olehnya.


"Iya Bunda, Ayah. Kami tidak melakukan apapun."


"Baiklah, kami percaya. Namun ingat jangan sampai kebablasan! Tetap stay halal."


"Siap Bunda."


"Yasudah, cepat antar Anna pulang! Sebelum Felix benar-benar marah."


"Iya."


"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu Bunda Ayah."


"Iya sayang, hati-hati."


"Hati-hati saat berkendaranya Jeano!"


Akhirnya dengan tidak ikhlas Jeano mengantarkan Zeana pulang karena dia tahu bahwa Felix tidak akan main-main dengan ucapannya. Dia tdak mau jika harus berpisah dengan Zeana.


See you next partπŸ‘‹πŸ‘‹


Hai haiπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.