
..."Baik boleh, tapi jangan terlalu baik. Karena tidak semua orang tau caranya berterimakasih."...
..._IDK...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
74. Pagi Mengejutkan
Benar-benar sebuah pagi yang sangat mengejutkan dimana berita tersebut memang sangat menggembarkan semua seisi sekolah.
Setelah Reno menyatakan pemecatan serta pengeluaran yang sudah disetejui semua pihak sekolah, membuat kini terlihat Pak Baron dan juga Sisqia keluar dari ruangan tersebut dengan wajah tertunduk malu.
Keduanya terlihat melewati banyak orang yang melihat kearah keduanya dengan tatapan merendahkan. Seolah benar-benar menganggap mereka berdua layaknya sampah.
Dih ketahuankan busuknya
Bener banget, nyesel gue waktu itu belain jala*g itu
Nah iya, mending Zeana aja jadipada dia yang sok baik yang ternyata jala*g
Tuh si Tua bangka juga gak nyangka banget kaya gitu
Dasar orang menjijikan
Pasti Nico nyesel banget karena udah ketipu sama wajah polos Sisqia
Begitulah kira-kira cibiran orang-orang ketika Pak Baron dan juga Sisqia berjalan melewati mereka semua.
Sedangkan kedua tersangka itu hanya terus saja menunduk sambil terus berjalan, tanpa mau menghiraukan cibiran orang-orang untuk keduanya. Mereka berdua terlalu malu hanya untuk mengangkat kepala mereka.
"Gimana Bos mantep Kan?" Tanya Andra pada Jeano.
"Hm." Jeano hanya menjawabnya dengan singkat dan terus memperhatikan pergerakan Sisqia dan Pak Baron.
"Yaelah si Bos gitu amat. Tapi gimana nih imbalanya?" Dengan semangat Bobby menanyakan hal itu pada Jeano.
"Udah ada."
"Mantep." Bobby dan Andra secara bersamaan berseru seperti itu tidak lupa dengan mengancungkan kedua jempol tangannya.
"Cabut!" Perintah Jeano yang langsung dituruti oleh keduanya tidak lupa juga dengan Zero yang ikut bersama mereka namun hanya diam saja.
Mereka semua kembali melangkah menuju tempat yang sering dijadikan tongkrongan untuk mereka. Tempat yang jarang dijamah oleh banyak orang, yaitu area belakang sekolah.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka dapat sampai ditempat tersebut, dan teryata banyak anak basket lainnya yang juga ada disana.
Ya bisa dibilang mungkin itu adalah tempat dimana Jeano dan Anak basket lainnya berkumpul.
"Dari kapan?" Tiba-tiba Zero menyakan hal itu pada Jeano.
"Udah lama."
"Lo sengaja nyuruh mereka?"
"Heem, lumayan buat nambah kerjaan mereka." Kata Jeano yabg sedikit terkekeh kecil.
"Lo kasih apa?" Tanya Zero karena tau bahwa Andra dan juga Bobby tidak akan mau melakukan perkerjaan jika tidak ada imbalannya.
"Mobil." Jawab enteng Jeano seolah hal itu bukan suatu hal sulit untuknya.
"Gila." Maki Zero yang tidak habis pikir dengan pikiran Jeano.
Bagaimana bisa dengan mudah memberi orang lain mobil seolah hal itu bukan apa-apa?
"Gak papa, suka-suka gue." Enteng Jeano yang sangat suka melihat wajah kesal Zero.
Memang benar sih Jeano kaya, jadi suka-suka Jeano aja.
"Gue emang udah curiga sama tuh orang dari lama, makanya gue suruh duo AB buat selidiki mereka berdua. Apalagi ditambah dia juga deket sama Nico, yang secara gak langsung ada hubungannya sama Anna." Jelas Jeano tanpa ditanya terlebih dahulu tentang alasan dirinya melakukan hal itu.
"Bagus." Singkat Zero menanggapi perkataan Jeano, yang membuat Jeano malah merasa kesal dengan hal itu.
"Udah gitu aja? Lo gak ada niatan buat muji gue gitu?"
"Buat apaan?"
"Ya kan gue udah buat Anna terjauh dari salah satu hama kehidupan."
"Cih," Zeropun hanya berdecih pelan menanggapi perkataan Jeano.
***
Sedangkan dilain tempat terdapat Nico yang sedang marah-marah setelah mengetahui berita tersebut. Dia kembali merasa marah dengan apa fakta yang sebenarnya tentang Sisqia.
Nico merasa begitu amat tertipu dengan sikap Sisqia selama ini serta dengan dirinya yang ikut terseret-seret dalam berita itu. Karena dengan dirinya yang pernah menjalin kasih dengan Sisqia, membuat tak sedikit orang bilang jika Nico itu adalah orang bodoh yang malah memilih sampah dibanding berlian yang ada.
"****, berani-beraninya dia tipu gue sampai segininya. Dan apa waktu itu dia bilang? Mau kerja sama bareng gue, tapi diri aja malah bikin ulah sampai dikeluarin dari sekolah. Dasar jala*g sial*n."
Nico terus saja memaki Sisqia disetiap perkatannya karena merasa sudah benar-benar marah dengan sikap Sisqia kepadanya.
Tidak lama dari itu datang kedua temannya Nico, yaitu Robby san Refan yang sama-sama tidak menyangka dengan sikap Sisqia yang sebenarnya.
"Udah lah Bos, gak usah marah-marah kayak gutu. Lo harusnya bersyukur sikap asli dia udah kebongkar dari sekarang. Coba aja kalo gak kebongkar sekarang, beh bakal ruyen tuh nanti urusannya." Kata Refan yang berusaha untuk menasehati serta meredakan amarah Nico.
Dan apa yang dikatakan oleh Refan benar adanya, dibanding harus marah-marah lebih baikk bersyukur saja. Karena akan ada sedikit berkah dalam suatu kejadian.
"Nah iya, benar banget." Robby ikut mengiyakan perkataan Refan, karena sebenarnya tak urung juga jika Robby ikut merasa marah mengetahui hal ini.
"Yang harus lo pikirin sekarang itu, gimana caranya buat deket lagi sama Zeana dan buat Zeana bisa cinta lagi sama lo." Refanpun kembali menasihati Nico dengan apa yang harusnya dikipirkan kedepannya, dari pada terus memikirkan sifat Sisqia yang sebenarnya.
"Tapi gue gak yakin deh kalau lo bisa Bos, soalanya Jeano kayaknya ketak banget jaga Zeana. Buktinya Zeana bakal ditemenin kalau mau kemana-mana." Namun berbeda dengan Refan, Bobby malah mematahkan semangat Nico untuk bisa bersama dengan Zeana lagi.
Sungguh perkataan dari kedua temannya benar-benar membuat Nico bingung dengan apa yang harus dilakukannya.
"Yaelah, selama janur kuning belum melengkung masih bisa ditikung itu mah. Pepet aja terus sampe nanti dapet." Kata Refan kembali memberi semangat untuk Nico.
"Terus kalo ternyata mepetnya gak mulus, terus malah nyungsruk gimana?"
"Lah anj*r, kalo nyungsruk mah itu udah takdirnya."
"Nah itu, gimana kalo emang Zeana itu tidak ditakdirkan jadi jodohnya si Bos?"
"Lah terus siapa dong?"
"Apanya yang siapa?"
"Jodoh si Bos."
"Gue rasa juminten cocok deh jadi jodohnya si Bos. Hahahaha."
Sontak perkataan dari Robby membuat Refan jadi ikut tertawa, keduanya nampak sedang tertawa terbahak-bahak dengan kedua tangan yang tidak bisa diam. Dimana keduanya terlihat saling memukul satu sama lainnya.
Mereka sangat menikmati sebuah lelucon yang mereka buat tanpa melihat wajah Nico yang kembali marah mendengarkan hal itu.
Plak
Plak
Secara langsung geblakan itu dapat menghentikan tawa Refan dan juga Robby. Terlihat sang pelaku, yaitu Nico sedang menatap tajam keduanya.
"Hehe maaf Bos, canda doang." Cengir Robby sambil membentuk jari terlunjuk dan jari tengahnya membentuk V.
"Kalian sebenarnya mau hibur gue, atau mau nambah gue marah?" Tanya Nico dengan wajah yang tampak marah.
"Kita sih bisa dua-duanya Bos, jadi terserah Bos aja mau yang mana." Dengan enteng Refan malah mengatakan hal itu yang malah membuat Nico semakin tambah marah.
Kenapa disaat sekarang kedua temannya malah menjadi somplak seperti ini? Tidak bisakah kedua temannya menjadi tempat solusi yang benar untuk sekarang?
Entah Nico yang salah mencari teman, atau memang melakuan keduanya yang sudah seperti itu sejak lahir. Yang pada intinya Nico harus segera merekrut teman baru, yang sama waras dengannya.
Tanpa mau lagi menjawab perkataan dari kedua temannya, Nico memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua tanpa banyak kata.
"Loh, mau kemana Bos?" Tanya Refan yang memang tidak akan dijawab oleh Nico.
"Woi Bos, mau kemana?" Robby ikut berteriak untuk memanggil Nico, namun memang tidak ada jawaban apapun karena Nico masih terus berjalan tanpa menghiraukan keduanya.
"Yaelah, si Bos mau pergi kemana tuh?" Heran Refan melihat kepergian Nico yang tanpa berkata terlebih dahulu.
"Gak tau, tapi kayaknya si Bos baper deh."
"Baper kenapa?"
"Kan tadi gue udah jodohin sama si Juminten." Dengan tanpa dosa Robby malah mengungkit hal itu lagi yang kembali membuta mereka berdua tertawa terbahak-bahak lagi.
Keduanya terus tertawa tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.