Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 7



..."Belilah karena butuh, bukan ingin. ...


...Belilah karena fungsi, bukan gengsi....


...Tujuannya menjadi kaya, bukan terlihat kaya. Jika belum mampu jangan dipaksa."...


..._IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


7. Curhatan Anak Tunggal


Langit yang cerah bertambah cerah karena waktu menunjukan tengah hari. Terik matahari yang tepat berada ditengah kepala, membuat kita tahu bahwa waktu menunjukan siang dan hendak menuju sore.


Langit yang begitu cerah dihiasi oleh awan yang begitu banyak dan juga sangat indah. Tidak lupa, banyak hewan yang berterbangan disekitar langit tersebut menambah kesan indah.


Satu hal yang sudah pasti didunia ini adalah pergantian waktu yang tidak pernah bisa terulang lagi.


Bertepatan dengan itu juga, Zero dan Jeano baru saja keluar dari kafe yang sempat mereka datangi tadi pagi.


Ternyata obrolan mereka cukup lama dan juga memakan waktu yang lama. Dimana dari tadi pagi, hingga siang ini obrolan mereka baru saja selesai.


Obrolan mereka sangat beragam, dari membicarakan bisnis, kehidupan sehari-hari dan hal lainnya yang ingin mereka bahas.


"Kau akan menjemput Anna?" Tanya Zero sebelum dirinya pergi dan memasuki mobil masing-masing.


Takutnya Jeano tidak bisa menjemput Zeana, sehingga dirinya akan menyempatkan diri dulu untuk menjemputnya. Dan akan mengantar Zeana pulang terlebih dahulu, lalu akan pergi keperusahaan setelah itu.


Meskipun arahnya berlawanan, tapi Zero akan dengan senang hari melakukan hal itu. Selagi hal itu menyangkut Zeana, Zero tidak apa.


Zero tau semua jadwal Zeana, dari mulai jam masuk hingga jam pulang. Semua tentang Zeana akan selalu terpantau oleh Zero maupun yang lainnya. Termasuk Felix dan juga Jeano.


"Ya, aku akan menjemputnya. Kau sendiri?"


"Aku akan pergi ke perusahaan."


Zero dapat tenang sekarang, setelah tau bahwa Jeano yang akan menjemput Zeana. Sehingga dirinya dapat pergi keperusahaan dan mengurus beberapa hal disana.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi, hati-hati dijalan nanti."


"Ya, kau juga."


Mereka berdua mulai memasuki mobil masing-masing dan mulai berpisah menuju tempat berbeda yang hendak mereka tuju.


Waktu mengubah kondisi, dimana mereka semua sudah memiliki urusan masing-masing dan sangat susah untuk bersama sekarang. Perlahan secara pasti mobil mereka berdua mulai meninggalkan area parkiran kafe.


***


Jeano yang sudah berada diparkiran kampus 10 menit lebih awal dari jam yang telah Zeana tentukan. Dirinya lebih baik menunggu Zeana, dibanding Zeana yanh harus menunggu dirinya.


Tipe cowok idaman banget gak sih? Tapi sayang, cuman fiksi :(


Lagian sekarang Jeano tidak mempunyai urusan apapun lagi, bisa dibilang Jeano sedang simulasi menjadi pengangguran. Sebelum nantinya, dia akan disibukan dengan kewajiban baru yang harus diembannya.


Nikmati waktu selagi bisa dan ada. Syukuri waktu santaimu, sebelum waktu sibukmu.


Sampai saat ini, kedua orang tua Jeano masih belum memberi kabar dan juga perintah yang harus dilaksanakan olehnya. Mungkin keduanya masih memberi sedikit waktu liburan, setelah 4 tahun Jeano belajar dengan sangat keras.


Serta, mungkin kedua orang tua Jeano masih sibuk dengan honeymoonya. Sangat menggelikan dan juga menjengkelkan, jika Jeano kembali mengingat hal itu.


Sambil menunggu Zeana selesai dengan kelasnya, Jeano memilih untuk mengchek ponselnya. Meskipun Jeano terlihat santai dan seperti pengangguran. Namun pada kenyataannya, Jeano tetap orang sibuk.


Dimana Jeano juga ikut mengchek dan juga mengelola perusahaan milik keluarganya melalui jarak jauh. Jeano hanya memantau lewat ponselnya saja, dan sesekali akan ikut pergi keperusahaan.


Hal itu sudah Jeano lakukan semasa SMA, serta tentunya atas perintah Reno juga. Terlahir menjadi anak tunggal, membuat banyak kewajiban yang harus Jeano tanggung.


Tapi nyatanya tidak, terlahir menjadi anak tunggal menjadi sebuah anugrah dan juga suatu beban.


Dari mulai mengelola bisnis keluarga, menjaga kedua orang tua dan juga banyak tugas lain yang harus Jeano lakukan. Yang tidak bisa dia bagi dengan Kakak atau Adik karena kondisinya terlahir sebagai anak satu-satunya.


Kalaupun bisa, Jeano tidak ingin terlahir menjadi anak tunggal. Dirinya ingin merasakan kasih sayang seorang Kakak, bahkan Adik. Menghormati seorang Kakak dan sangat menyayangi seorang Adik. Layaknya Zero dan Zeana.


Jeano ingin merasakan itu semua. Terlepas dari itu, Jeano juga ingin membagi beban yang dirinya tanggung dengan saudaranya. Saling berbagi suka dan duka bersama.


Dari kecil Jeano selalu suka ketika melihat perdebatan atau bahkan interaksi antar saudara yang tidak pernah bisa dia rasakan. Namun harapannya pupus, setelah Maura dinyatakan tidak bisa hamil lagi.


Namun Jeano juga selalu mensyukuri apa yang sudah Tuhan berika padanya, semuanya. Dari mulai keluarga, pasangan, teman dan juga orang-orang yang telah Jeano jumpai semasa hidup.


Cukup lama terlarut dalam ponselnya, Jeano tidak terasa bahwa Zeana sudah masuk dan duduk dengan tenang disampingnya.


"Jeano." Panggil Zeana sambil memegang tangan Jeano. Sontak hal itu membuat Jeano tersentak kaget, dirinya langsung menatap Zeana dengan kedua mata membola sempurna.


Setelah melihat siapa orang tersebut, Jeano mendengus pelan. "Kamu mengagetkan ku." Kata Jeano yang kini mematikan ponselnya dan menaruhnya pada saku hoodie.


"Hehehe maaf, siapa suruh kamu diam saja saat aku masuk."


"Sepertinya tadi aku terlalu fokus pada data yang aku chek diponsel, sehingga tidak menyadari kehadiran mu. Maaf juga ya." Kata Jeano sambil mengelus pelan kepala Zeana.


Zeanapun mengangguk pelan merasa tidak masalah dengan hal itu. "Iya, tidak apa. Sekarang ayo pulang!" Sebenarnya Zeana tidak benar-benar ingin mengajak Jeano pulang, namun Zeana juga gengsi dan bingung harus berbicara bagaimana pada Jeano.


Untungnya Jeano merupakan tipe cowok yang sedikit peka juga, dan mungkin Jeano juga ingin agar tidak langsung pulang juga. "Yakin langsung pulang? Tidak mau mampir dulu?"


"Mau." Seru Zeana dengan cepat dan terlihat sekali wajah berbinar dari wajahnya. "Tapi aku tidak tau mau kemana," namun detik berikutnya Zeana kembali murung lagi.


Jujur saja Zeana tidak pernah pergi kemana-mana, apalagi jika sendirian. Felix, Zero bahkan Sarah tidak akan pernah mengizinkannya. Sehingga dirinya tidak punya tempat rekomendasian untuk dikunjungi.


Zeana akan berpergian jika ditemani, sehingga rata-rata setiap Zeana mengunjungi suatu tempat adalah ketika liburan keluarga.


Melihat wajah murung Zeana, membuat Jeano tidak tega melihatnya. Jeano tahu, jika Zeana tidak banyak berpergian selama 4 tahun kebelakang ditambah dengan dirinya yang tidak ada.


Keluarga Anderson termasuk keluarga overprotektif dan juga sangat menjaga keamaana keluarganya.


"Apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"


Zeana terlihat berpikir, tempat apa yang hendak dia kunjungi. "Ada, tapi aku tidak yakin kamu bisa mengambulkan keinginana ku untuk pergi kesana." Dirinya yakin jika Jeano juga akan melarang Zeana pergi ketempat itu, seperti keluarganya.


Mendengar perkataan Zeana, membuat Jeano menjadi heran. "Memangnya kenapa? Dan tempat apa itu?" Zeana tidak mungkin meminta pergi ke tempat-tempat anehkan, seperti club malam contohnya-eh.


Gak boleh ya gaisss, buat pergi ketempat haroom kayak gitu!!


"Tempat yang sangat indah. Tunggu sebentar, aku akan perlihatkan kepadamu." Dengan segara Zeana mengeluarkan ponselnya dan tampak mencari-cari suatu hal dalam ponsel tersebut.


Sedangkan Jeano dengan sabar menunggu dan semakin dibuat penasaran saja. "Nah, ini dia."


Setelah mendapatkan apa yang dirinya cari, Zeana dengan segera menunjukannya pada Jeano. "Aku mau kesini, bolehkan?"


Jeano melihat apa yang Zeana tunjukan padanya, seketika matanya membulat dengan sempurna. "Kamu yakin mau kesini?" tanya Jeano memastikan keinginan Zeana.


Dengan segera Zeana mengangguk penuh semangat, tidak lupa semyum yang merekah dari wajahnya.


"Aku sih No."


"Jeano!" Teriak Zeana dengan kesal, apalagi melihat wajah mengejek yang Jeano perlihatkan.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.