Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 85



..."Tidak menjadi apapun juga tidak masalah....


...Tidak dikenal orang juga tidak masalah....


...Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah....


...Tidak dihormati juga tidak masalah....


...Justru kita bisa bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai."...


..._IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


๐ŸŒฑ


85. Bujukan Maura


Zero terus menatap heran kearah Zeana, yang kini sudah pergi menghilang bersamaan dengan tubuhnya yang terus menaiki tangga menuju kamarnya.


"Anna kenapa Mah?" Heran Zero yang kini memilih bertanya pada Sarah karena jawaban dari Zeana yang tadi tidak membuat Zero puas.


"Dia ada sedikit masalah bersama Jeano. Sepertinya hanya salah paham saja."


"Salah paham karena apa?"


"Anna bertemu dengan Nico tanpa izin dulu pada Jeano."


"Apa?" Seketika Zero dibuat kaget dengan perkataan Sarah, pantas saja Jeano akan salah paham dengan itu.


"Kalau seperti itu pasti akan salah paham. Lalu bagaimana sekarang?"


"Jeano pergi dengan marah tanpa mau mendegarkan penjelasan Anna terlebih dahulu. Tapi tenang, tadi sudah meminta bantuan Bunda Maura untuk melihat kondisi Jeano sekarang."


Meskipun Zeana tidak menceritakan semua secara rinci, tapi Sarah dapat tahu inti dari permasalahn tersebut.


"Ada-ada saja dengan mereka berdua itu." Dengan gelenggan pelan Zero mengatakannya, diaย  merasa tidak habis pikir dengan bermasalahan yang kini menimpa pasangan bucin itu.


"Hal itu wajar dilalui oleh sepasang kekasih. Jika dapat melewatinya, berarti sudah mampu untuk melalui masalah yang lain nantinya."


"Tapi hal itu sungguh merepotkan serta dapat menguras emosi dan tenaga."


Sarah hanya dapat tersenyum mendengar perkataan Zero, hal itu wajar Zero katakan karena belum pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang. Serta belum mengalami hal itu, mungkin jika sudah pernah mengalami Zero tidak akan berkata seperti itu.


"Kamu belum paham tentang hal itu karena belum pernah mengalaminya. Nanti juga jika sudah mengalaminya, kamu pasti tidak akan berbeda jauh seperti mereka berdua."


"Tidak akan." Sela dengan cepat oleh Zero. Menurutnya, nanti hubungan asmaranya tidak akan penuh draman seperti ini.


"Ya, semoga saja tidak." Sarah lebih memilih untuk mengiyakan saja perkataan Zero, dari pada nantinya malah berdebat. "Sekarang segera ganti baju dulu sana! Apalagi pasti banyak kuman yang kamu bawa dari luar kerumah, dih kotornya." Usir Sarah pada Zero, yang sebenarnya hal itu merupakan bentuk kasih sayangnya pada Anak sambungnya itu.


Mendengar usiran halus dari Sarah membuat Zero jadi sedikit kesal. Dia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar saja dan nanti pun akan segera bersih-bersih tanpa harus disuruh.


"Nanti, sebentar lagi Mah." Kata Zero dengan malas, sungguh dirinya masih merasa enak dengan posisinya sekarang.


"Sekarang Zero! Apalagi kamu sedang berdekatan dengan Mamah, yang dapat berpengaruh pada Adik bayi nantinya. Kalau Daddy sampai tau, pasti akan kena marah nantinya."


Perkataan Sarah dapat membuat Zero sadar, dirinya lupa jika sudah melakukan banyak aktivitas diluar sana. Yang mungkin saja banyak juga kuman yang berada dalam tubuhnya sekarang.


"Baiklah aku pergi. Maaf karena mungkin akan membahayakan Adik bayi dan jangan katakan pada Daddy."


"Iya, tidak apa. Tidak akan dikatakan juga pada Daddy."


"Aku kekamar dulu Mah." Pamit Zero sebelum benar-benar meninggalkan Sarah.


"Iya."


Zero pun mulai pergi menaiki tangga menuju kamarnya untuk bersih-bersih. Dia juga baru merasa jika tubuhnya sangat lengket oleh keringat dan hendak segera ingin dibersihkan.


Kini tinggal Sarah saja yang berada diruang tamu. Dirinya memilih untuk kembali membaca sebuah buku panduan ibu hamil yang dirinya punya.


Aktivitasnya hanya melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja, serta mungkin hanya melakukan hal itu-itu saja setiap harinya. Karena memang Felix tidak memperbolehkan dirinya untuk melakukan pekerjaan yang berat dari awal masa kehamilannya.


Dan kini hubungan Sarah dan Felixpun sudah tidak secanggung dari awal, meskipun dibilang dekat pun belum bisa juga. Mereka berdua sama-sama rukun untuk mengurus semua hal tentang kehamikan Sarah, serta tentang mengurus Anak-anak.


Mungkin sampai sekarang mereka berdua masih sama-sama belajar untuk menerima, juga melakukan perubahan yang terbaik untuk kehidupan kedepannya.


Perubahan juga terjadi pada hubungan Sarah dan Zero. Secara perlahan namun pasti, kini Zero sudah dapat menerima Sarah sebagai Ibu sambungnya. Bahkan sekarang begitu sangat menyayangi Sarah dan juga Adik bayinya kelak.


Mungkin karena ikatan darah antara Kakak dan Adik yang sangat kuat, membuat secara perlahan merubah pandangan Zero.


Bahkan kini kebiasaan Zero setiap harinya adalah mengelus perut buncit Sarah. Rasanya akan kurang jika tidak melakukan hal itu setiap harinya.


***


Sedangkan ditempat lain, kini Maura yang merasa cemas dengan keadaan Jeano. Apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana di telepon tadi.


Dirinya masih menunggu Jeano sampai dirumah dan untung saja tidak lama dari itu terdengar suara motor yang memasuki perkarangan rumah Xiallen.


Dengan buru-buru Maura bersikap biasa saja dengan membaca sebuah majalah fasion yang dirinya punya. Dia mencoba bersikap seolah-olah tidak tahu hal yang sedang terjadi pada Jeano.


Dan dapat Maura rasakan jika Jeano mulai memasuki rumah dan berjalan masuk kedalam.


"Aku pulang." Kata Jeano dengan singkat, lalu segera pergi kekamarnya.


Mungkin Jeano masih menghargai keberadaan Maura yang sempat dilihatnya, sehingga dia masih sempat untuk menyapa pada Bundanya itu.


Sedangkan kini Maura mulai mengela napas berat, sambil menatap pungguh Jeano yang perlahan menghilang. Maura dapat dengan mudah tahu jika Jeano sedang marah sekarang karena biasanya sikap Jeano tidak akan seperti ini jika sedang tidak marah.


Jeano akan selalu mengahampirinya, serta bergelayut manja dulu dengannya sehabis pulang sekolah. Dan juga biasanya Jeano akan masuk dengan berteriak memanggil namanya.


Namun sekarang tidak. Hanya sebuah sapaan singkat saja dari Jeano.


Dengan segera Maura memberi tahu Zeana, jika Jeano sudah pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Setelah mengabari Zeana, kini Maura lebih memilih untuk membuat coklat panas serta cookies untuk meredakan emosi Jeano.


Hal itu sudah sering Maura lakukan untuk membujuk Jeano ketika sedang marah.


Setelah semuanya siap, kini Maura mulai naik kelantai atas dimana kamar Jeano berada. Dengan perlahan Maura mulai mengetuk pintu kamar Jeano.


Tok tok tok


"Jeano?" Panggil Maura yang dengan segera mendapatkan jawaban dari Jeano dari dalam.


"Iya Bunda, masuk saja tidak dikunci."


Dengan segera Maura masuk setelah mendengar jawaban dari Jeano. Dapat Maura lihat jika Jeano sedang berdiam sambil menatap sebuah bingkai foto yang didalamnya terdapat Zeana.


"Bunda bawakan coklat panas dan juga cookies."


"Aku sedang tidak marah Bunda."


Ya, Jeano sudah hapal jika Muara membawakanya coklat panas dan juga cookies untuk membujuknya ketika sedang marah. Namun untuk sekarang, Jeano tidak mau Maura ikut tau jika dia sedang marah pada Zeana.


"Ouh ya? Lalu kenapa Anna begitu khawatir dengan mu serta menanyakan apakah kamu sudah sampai atau belum?"


Jeano dibuat sedikit kaget dengan apa yang dikatakan oleh Maura, jadi apakah Bundanya juga sudah tau masalahnya dengan Zeana?


Dirinya tidak menyangka jika Zeana masih menghawatirkannya meskipun sedang bertengkar. Namun Jeano juga dibuat senang oleh hal itu.


"Hanya ada masalah kecil saja."


"Masalah sekecil apapun akan menjadi besar, jika tidak diselesaikan dengan baik." Kata Maura yang mulai menasehati Jeano.


Meskipun tidak tahu secara rinci masalah apa yang terjadi, namun Maura mencoba untuk membujuk Jeano agar mau mendengarkan perkataan Zeana terlebih dahulu.


"Jika ada masalah harus segera diselesaikan, jangan sampai menjadi besar atau bahkan membuat masalah baru. Kita harus mau mendengarkan dulu apa yang hendak orang lain jelaskan pada kita. Selesaikan dengan kepala dingin, tanpa ada emosi didalamnya.


Dan jika memang nantinya masih membuat kita kesal bahkan tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Coba untuk mengintropeksi diri masing-masing karena siapa tau saja ada kesalahan yang tidak disadari.


Serta yang paling penting mau meminta maaf, serta memaafkan setiap kesalahan yang terjadi karena pada dasarnya manusia itu tidak luput dari kesalahan."


Dengan seksama Jeano mendengarkan semua yang dikatakan oleh Maura, tanpa ada bantahan apapun.


Dirinya kini sadar mungkin terlalu emosi sehingga tidak dapat mendengarkan dulu apa yang hendak Zeana katakan padanya. Serta dirinya tidak menghargai kejujuran yang sudah Zeana lakukan padanya.


"Jadi, apakah sekarang mau mendengarkan dulu apa yang hendak dikatakan oleh Anna?" Maura terus membujuk Jeano agar mau berbicara pada Zeana lagi.


"Iya, aku akan mendengarkannya nanti. Tapi untuk sekarang biarkan aku sendiri dulu, aku mencoba untuk menenangkan diri. Agar nanti tidak tersulut emosi lagi."


"Bagus kalau begitu."


Jeano hanya mengagguk pelan, setelah itu Maurapun hendak meninggakan Jeano sendirian seperti perkataannya tadi.


"Kalau begitu Bunda keluar dulu, jangan lupa segera bersih-bersih! Dan jangan lupa juga diminum dan dimakan apa yang dibawa Bunda." Pesan Maura sebelum benar-benar pergi dari kamar Jeano.


"Iya Bunda."


Maura pun keluar dari kamar Jeano, meninggalakan Jeano sendirian dengan pikirannya yang mencoba untuk menyelesaikan masalahnya.


...To Be Continue...


Hai hai๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.