Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 44



..."Demi menyelamatkanmu, Tuhan mematahkan hati mu. Bukan untuk menghancurkan mu, tetapi untuk menyelamatkan mu dari orang yang salah."...


..._Unknown...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


44. Bobby Is Back


"Loh, bukannya itu Kak Bobby?"


"Hah?"


Aqila dan Rara sama-sama tercengang dengan apa yang dilihat oleh mereka berdua. Seorang Bobby yang selama 4 tahun ini tidak saling bertemu, kini ada dihadapan mereka berdua.


Tampak Bobby sedang berbincang dengan yang lainnya, namun mereka berdua tidak bisa mendengarnya karena jarak yang cukup jauh.


"Kak Bobby kok jadi ganteng yah?" Celetuk Aqila secara tiba-tiba yang mengamati Bobby lebih teliti lagi.


Mungkin bertambahnya umur dapat mengubah menampilan juga, ditambah dengan gelar yang sudah didapatkan.


"Lo suka?" tanya Rara yang juga ikut diam-diam ikut menyetujui perkataan Aqila.


Bobby terlihat sedikit berbeda dari 4 tahun belakang ini, terlihat sedikit perubahan dan juga penampilan yang membuat pangling ketika pertama kali melihatnya lagi.


"Gak, siapa juga yang suka. Lagian gue mau jodohin lo aja sama Kak Bobby." Bantak Aqila secara langsung, yang memang tidak ada sedikit rasa tertarik pada Bobby, mungkin hanya sekedar kagum saja melihat penampilan Bobby yang sekarang.


"Dih, makin ngadi-ngadi lo." kata Rara yang semakin tidak suka mendengarkan perkataan Aqila yang hendak kembalj menjodohkannya.


"Ya, gak papa kan. Siapa tau aja Kak Bobby masih jomblo, terus lo bisa move on deh dari Kak Zero."


"Terserah."


Rara lebih mememilih untuk menghampiri dimana Bobby dan yang lainnya berada. Meskipun keadaan hati tidak kuat karena harus melihat Zero bersama Mora, namun pada kenyataannya dia harus bisa menerima hal itu semua.


Sedangkan Aqila yang melihat Rara berjalan kearah itu, seketika membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Dia tidak habis pikir dengan Rara yang begitu kuat menghadapi perasaannya.


"Woi tungguin!"


***


Disisi lain, sebelum kedatangan Bobby. Jeano dan Andra masih saja berdebat hal yang tidak berguna, namun bedanya kini tidak ada lagi para orang tua disekitaran mereka.


Hanya tersisa Zeana, Jeano, Andra, Zero dan juga Mora saja. Namun saat sedang sibuk dengan perdebatan itu, malah terdengar suara yang sudah pamiliar untuk mereka semua.


"Gue gak diajak juga?"


Sontak hal itu membuat semua orang terdiam dan melihat kearah asal suara. Dapat dilihat, jika Bobby berdiri tidak jauh dari mereka memakai pakaian formal juga.


"Kak Bobby?"


Seketika Andra yang menjadi orang pertama yang menghampiri Bobby dan memeluk sahabat kecilnya itu. "Ah....my Bro best friend, gue kangen banget sama lo."


Seperti biasa Andra akan sendikit mendrama dalam perkataanya, sedikit terdengar lucu dan juga mengelikan.


Sedangkan Bobby yang mendapatkan serangan mendadak seperti itu, dengan segera mendorong kuat tubuh Andra agar terlepas darinya.


"Sial*n, gak usah peluk-peluk kayak gitu juga!! Jijik banget gue," kata Bobby yang mengusap-ngusap tubuhnya seolah memang ada kotoran disana.


"Lo kok jahat banget sama gue, dedek sakit hati loh Bang."


"Andra!!"


Secara bersamaan Zero, Jeano dan juga Bobby meneriaki nama Andra karena sudah tidak tahan dengan kelakuan absurd sahabatnya itu. Yang mengakibatkan mereka harus menahan malu dengan sikap Andra yang seperti itu.


"Hehehe..maaf, maaf."


Andra pun seketika menjadi ciut, jika sudah melihat Zero dan Jeano yang hendak marah. Sudah cukup untuk menjahili dan membuat malu sahabatnya dengan kelakuannya itu.


"Gimana kabar lo?" tanya Jeano yang mengabaikan Andra, dan lebih memilih serius dengan Bobby


"Baik, lo?"


"Seperti yang lo liat, gue juga baik."


"Ya, terserah lo deh. Yang udah jadi Pak Dokter mah beda, gue mah apa atuh."


"Hahaha," seketika Bobby dan yang lainnya itu tertawa mendengar perkataan Jeano.


"Kak Bobby kapan datang? Kok gak bilang-bilang sih?" Kini Zeana yang ikut bertanya dan merasa perasaran dengan kehadiran Bobby yang tiba-tiba.


"Datang sih udah dari kemarin, dan sengaja gak ngabarin biar kejutan.  Btw, kamu makin cantik aja sih?" Tentu saja ucapan dari Bobby mengundang tatapan tajam dan raut wajah tidak suka dari Jeano.


"Dia tunangan gue, kalo lo lupa."


"Iya, iya..tau kok. Pelit amat, orang cuman bilang gitu juga."


Pendangan Bobby kini teralih pada Mora, yang tentu merasa belum pernah melihat wajah itu sebelumnya. Ditambah dengan dekatanya jarak antara Mora dan Zero.


"Dia siapa?" Tentu saja pandangan Bobby terarah pada Mora, yang tentu saja orang-orang disana paham dengan siapa yang Bobby maksud.


"Dia tunangan gue," kata Zero yang tentu saja masih dengan wajah datarnya, namun mampu membuat Bobby terkejut mendengarnya.


"Serius? Gak bohongkan?"


Semua orang yang ada disana mengangguk singkat, menandakan jika perkataan Zero benar adanya.


"Wah...selamat juga Bro. Duh gak nyangka gue balik, lo pada malah udah dapat pawangnya aja."


"Makannya cepet nyusul," ledek Andra yang tidak menyadari dirinya sendiri bahwa senasib dengan Bobby.


"Emang lo udah punya?"


"Enggak," dengan enteng Andra menjawab itu yang tentunya langsung mendapatkan geplakan dari Bobby.


Plak


"Gue kira lo ngomong gitu karena udah sama-sama punya, taunya jomblo teriak jomblo."


Gelak tawa kembali menghiasi obrolan mereka, bertambahnya Bobby tentunya menambah moment lucu antara mereka. Apalagi Bobby yang sama-sama memiliki sifat seperti Andra.


Dou AB kita kembali gaiseee.


"Ouh iya, siapa namanya?" Tanya Bobby kembali yang belum sempat menanyakan lebih jauh tentang Mora karena terlebih dahulu disela oleh Andra.


"Ayo, kenalan!" Titah Zero pada Mora,  yang tentu saja Mora sedikit ragu dan juga malu harus kembali berkenalan dengan seorang pria yang tidak sempat ada dalam agenda hidupnya.


Karena Mora pikir, dapat berkenalan dan dekat dengan Zero sudah membuatnya bersyukur. Apalagi dapat berkenalan dengan Jeano dan Andra yang merupakan bagian dari Zeana dan juga Zero.


Ditambah sekarang, masih ada lagi laki-laki yang mungkin saja akan ikut kenal dengannnya. "Aku Mora Kak, salam kenal." Cicit Mora dengan pelan, namun masih dapat didengar dengan jelas oleh yang lannya termasuk Bobby juga.


"Ouh Mora toh....selera lo yang imut-imut gitu yah." Tentu saja kalimat terakhirnya hanya Bobby ucapkan langsung pada Zero dengan berbisik pelan.


Secara langsung juga, Bobby mendapatkan tatapan tajam juga dari Zero. "Hehehe, maaf." Ringis Bobby setelah mendapatkan tatapan seperti itu.


Berbarengan dengan itu, datang Rara dan juga Aqila yang ikut bergabung bersama.


"Hai, Kak Bobby." Sapa Aqila begitu ikut bergabung bersama.


"Hai juga, adik bocilnya Andra."


"Idih, sekarang udah gak bocil lagi yah." Ucap Aqila yang tidak terima dengan perkataan Bobby, sungguh sekarang umurnya sudah 21 tahun. Sehingga, tidak mungkin lagi untuk disebut bocil.


"Hai Kak," Rara pun ikut menyapa Bobby disertai dengan senyumab tipis.


"Hai juga Ra," hanya sapaan singkat, mungkin memang tidak ada kata lain yang hendak dikatakan.


Setelah itu mereka kembali mengobrol, banyak sekali yang hendak mereka bicarakan selama 4 tahun tidak bertemu lagi. Dalam obrolan tersebut, hanya Rara dan Mora yang tidak banyak berbicara.


Mungkin Rara yang sudah terbiasa tidak banyak bicara dan juga Mora yang memang masih baru mengenal mereka, sehingga tidak banyak juga yang dibicarakan.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.