Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 71



..."Gak apa-apa jadi beda. Hidup tak selamanya harus terseret-seret arus. Kamu berhak memilih dengan gaya apa kamu bergerak, seperti halnya semua orang juga berhak menentukan dengan musik mana mereka menari."...


..._Albaitmubaroq...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


71. Kebenaran


Nico masih terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana. Kini dirinya mengalami yang namanya penyesalan, dimana kondisi tidak akan kembali seperti dulu lagi.


Dimana dirinya mungkin kini tidak akan bisa bersama dengan Zeana lagi seperti dulu, bahkan kini untuk bertemu saja sudah sangat sulit.


Terasa begitu sakit ketika mendapatkan penolakan secara langsung dari Zeana, jadi apakah ini yang dirasakan Zeana waktu itu? Rasa sakit selalu ditolak dan bahkan tak jarang Nico sesekali memaki Zeana dengan kata-kata kasarnya.


"Aku memang bodoh dengan menyia-yiakan mu waktu itu." Batin Nico meratapi nasibnya yang mungkin kini sudah sudah tidak bisa lagi bersama Zeana.


Kedua mata Nico masih terus melihat punggung Zeana yang perlahan hilang oleh jarak. Terlihat punggung itu yang dulu selalu ada untuk menjadi sandaran Nico ketika lelah dalam beraktivitas, punggung yang selalu menemani Nico dalam kegiatan sehari-harinya.


Ya, nyatanya kita baru akan mengetahui orang itu sangat berarti untuk kita setelah kita kehilangan orang itu. Sama halnya dengan Zeana dan Nico sekarang.


Mungkin dulu Nico hanya menganggap Zeana tidak lebih dari teman bahkan sudah dianggap Adik sendiri oleh Nico. Nico yang selalu membuat Zeana terseyum serta selalu ada ketika Zeana sedih dan sendirian.


Namun sekarang Nico baru menyadari bahwa Zeana lebih dari sekedar sahabat kecilnya untuknya. Zeana adalah orang yang selalu ada untuknya, bahkan setelah Nico membencinya, Zeana tetap selalu ingin bersamanya.


Harusnya Nico sadar dari dulu, betapa Zeana sangat membutuhkan dirinya. Baik sebagai teman dan juga keluarga baginya.


Tapi nyatanya Nico tidak memahami Zeana secara mendalam, dia hanya tau Zeana adalah seseorang yang saling mengenal nama saja.


Selama mereka berteman tidak sekalipun Zeana pernah membahas tentang keluarganya, dan Nico pun tidak ada inisiatip untuk bertanya.


Jadi apakah hal tersebut bisa dibilang pertemanan?


"Maaf, dulu aku selalu membuatmu sedih." Lirih Nico yang hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.


Nico pun melangkah meninggalkan perpustakaan serta kesedihannya karena perkataan Zeana.


***


Setelah pertemuanya dengan Nico tadi, Zeana kembali menjalani aktivitas disekolah seperti biasanya. Dari belajar, makan dijam istirahat, dan langsung pulang ketika sudah bel pulang berbunyi.


Namun kali ini bedanya setelah pulang kerumah, Jeano segera mengajak Zeana untuk bermain kerumahnya. Dengan alasan jika Maura sangat merindukan Zeana dan ingin Zeana main kesana.


Tanpa banyak tanya Zeanapun mengiyakan ajakan Jeano untuk pergi kerumahnya itu.


Jadi selepas sepulang sekolah, Jeano mengantarkan terlebih dahulu Zeana kerumahnya dan kembali bersama menuju rumah Jeano.


Diperjalanan seperti biasa akan diisi oleh obrolan ringan dari keduanya, karena Jeano tidak suka kesunyian jika hanya berduaan dengan Zeana. Pasti saja akan ada topik pembicaraan yang mereka bahas.


"Apakah tadi Maid baru?" Tanya Jeano yang memulai obrolan terlebih dahulu.


"Ya, Mbak Sarah baru masuk kemarin-kemarin."


"Kamu tau namanya?" Heran Jeano, karena biasanya Zeana hanya akan memanggil semua Maid dengan panggilam Bibi saja. 


Zeana hanya akan memanggil nama pada Bi Julia saja, karena memang sudah benar-benar dekat dengan Zeana.


"Iya, aku tau."


"Tidak biasanya." Guman pelan Jeano yang terdengar tidak jelas oleh Zeana.


"Apa yang kamu katakan?"


"Tidak ada."


Keduanya kembali terdiam sejenak, mulai bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Tadi aku bertemu dengan Nico." Ucap Zeana scara tiba-tiba yang membuat Jeano sedikit terkejut.


"Kapan?"


"Waktu pagi, diperpustakaan."


"Kalian mengobrol?"


"Ya, sedikit."


"Membicarakan apa?"


Zeana pun mulai menceritakan semua yang dia dan Nico bicarakan waktu diperpustakaan tadi, tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun.


"Sangat bagus." Puji Jeano begitu Zeana menyelesaikan perkataannya, kini Jeano salut dengan perkataan yang diucapkan Zeana pada Nico.


"Tentu saja. Sekarang aju juga ikut tidak suka dengan Nico, karean dia sudah menyakiti Zeana yang dulu." Zeana tanpa sadar malah mengatakan hal itu, yang mungkin saja akan membuat orang lain salah paham serta curiga.


"Apa maksudnya dengan Zeana yang dulu?" Tanya Jeano tak paham, yang sesekali mulai melihat kearah Zeana.


"Hmm..maksud ku, ya Zeana yang dulu itu adalah Zeana yang belum mengalami amnesia dan selalu mengejar Nico."


"Benar. Itu Anna yang dulu. Kalau yang sekarang, kamu hanya boleh mencintai ku dan hanya menjadi miliku." Kata Jeano yang dengan sengaja menekan kaya terakhir yang dia ucapkan. Seolah-olah benar-benar menekankan bahwa Zeana hanya miliknya.


"Tentu saja." Kata Zeana tanpa ragu.


Tanpa sadar keduanya mengobrol sepanjang perjalanan, hingga kini mereka berdua sudah sampai dirumah Jeano.


"Baik Bunda, bagaimana kabar Bunda?"


"Bunda juga baik, ayo masuk kedalam! Bunda punya resep makanan yang mau ditunjukin sama kamu loh." Kata Muara yang dengan segera menuntun Zeana masuk kedalam rumah, tanpa menghiraukan Jeano yang hanya diam saja seperti orang linglung.


Nah ini yang tidak disukai jika Zeana main kerumah karena pasti Maura akan sibuk dengan Zeana dan melupakan Jeano sebagai anak kandungnya.


Namun Jeano merasa senang juga dengan hal itu, karena dengan begini Zeana tidak akan merasa tidak mempunyai sosok Ibu.


Dan padat Jeano lihat jika Zeana dan juga Maura sudah ada didapur serta sudah lengkap dengan alat untuk memasak. Melihat itu Jeano lebih memilih pergi kekamarnya dahulu untuk berganti pakaian.


"Bunda nemu resep buat kookies yang enak dia sosmed, kita coba yuk!"


"Yaudah, ayo Bunda. Apa aja bahannya?"


Mereka berdua mulai sibuk dengan aktivitas yang mereka kerjakan, dan tidak lama datang Jeano yang ikut bergabung bersama mereka.


"Mau buat apa nih?"


"Buat Kookies. Kamu ngapain kesini? Pasti mau ngusilin kan?" Tuduh Maura yang sudah tau dengan sikap Jeano yang jika masuk kedapur, hanya akan jadi perusuh saja.


"Bunda mah fitnah, wong aku cuman mau bantu aja kalian mau buat apa." Elak Jeano yang sebenarnya apa yang dikatakan oleh Maura benar adanya, namun dia sedikit malu karena kini ada Zeana juga disana.


"Alesan. Bilang aja malu ada Anna disini, jadi kamu sok jaga sikap biar keliatan sok bantuin."


"Yaelah Bunda, jangan buka kartu dong!"


"Tuhkan benar. Dengar ya An! Jeano itu tukang perusuh kalo Bunda lagi masak, nanti kalo kamu udah jadi Istri Jeano jangan biarin Jeano ikut kamu masak juga. Nanti bawaannya emosi terus."


Sontak perkataan dari Muara membangunkan imajinasi dari Zeana dan juga Jeano. Mereka berdua mulai membayangkan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah nantinya.


Maura merasa heran tidak mendapatkan respon apapun dari Zeana dan juga Jeano, dan ternyata setelah Maura lihat Zeana serta Jeano terlihat sedang melamun.


"Heh!!"


Sontak hal itu menggembalikan kesadaran Zeana serta Jeano, kedua terlihat sedikit tersentak dengan seruan Maura.


"Kalian berdua bengong mikirin apa? Jangan dulu mikir kesana ya! Kalian berdua harus belajar yang bener dulu, baru nanti mikirin nikah."


"Iya Bunda." Jawab keduanya secara kompak.


Mereka semua mulai fokus kembali membuat kookies, dengan sesekali Jeano yang mengganggu Zeana maupun Maura. Pokoknya Jeano benar-benar menjadi seorang pengrusuh didapur tersebut.


***


Setelah pulang dari rumah Jeano, kini Zeana berniat untuk berbicara pada Sarah tentang sebenarnya apa yang terjadi.


Zeana yang baru selasai mandi, langsung saja mencari Sarah untuk membicarakan hal penting tersebut sambil menunggu jam makan malam.


Zeana mulai menuruni tangga dan menuju kedapur. Dapat Zeana lihat jika Sarah terlihat sedang bekerja dengan para Maid yang lainnya untuk menyiapakan makan malam.


"Mbak Sarah?" Panggil Zeana yang langsung saja Sarah melihat kepada orang yang memanggilnya itu.


"Iya Non, ada apa?"


"Mbak bisa ikut aku sebentar gak?"


Sarah merasa tidak yakin untuk menerima ajakan Zeana karena bagaiamanpun dirinya sedang melakukan bekerjaan bersama yang lainnya dan sedang sibuk-sibuknya juga.


"Gak papa, sana ikut Non Anna aja." Kata Bi Julia yang melihat wajah bingung Sarah.


"Benaran gak papa Bi?"


"Gak dong, disini masih banyak yang lain. Kamu mending ikut Non Anna aja, siapa tau Non Anna butuh sesuatu."


"Yaudah Non, saya bisa."


Mereka berdua mulai meninggalkan dapur dan kembali pergi kekamar Zeana. Begitu sampai dikamar Zeana, dengan segara Zeana mengkunci pintu tersebut yang membuat Sarah bingung.


"Loh, kenapa pintunya dikunci segala Non?"


"Biar nanti gak ada yang tau obrolan kita."


"Emang Non Ann mau ngomong apa?"


"Kita duduk dulu disana, biar enak ngobrolnya." Tunjuk Zeana pada sopa yang memang ada dikamar Zeana.


Mereka berdua mulai duduk namun dengan perasaan yang berbeda, Zeana yang tidak sabar untuk membicarakan semua pada Sarah, dan Sarah yang khawatir dengan apa yang ingin dikatakan oleh Zeana.


"Mbak Sarah dengar semua ni ya! Nanti aku harap Mbak Sarah bakal percaya sama omongan aku."


Sarah pun hanya diam dan mulai mendengarkan setiap perkataan Zeana dengan serius.


"Aku Riana Mah, Anna anaknya Mamah." Secara langsung Zeana mengatakan apa yang ingin dia katakan, dan dari gaya bicarapun Zean sudah kembali memanggil Sarah dengan panggilan Mamh.


Tidak lupa tatapan serius yang Zeana berikan pada Sarah, seolah dia memang benar-benar serius mengatakan hal itu.


Seketika tubuh Sarah langsung menengang dan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, namun dengan segera Sarah menormalkan ekspresi wajahnya.


"Nona becandanya tidak lucu." Kekeh Satah dengan senyuman miris, dia pikir bagaimana Zean dapat bercanda seperti itu? Dengan menbawa-bawa nama Riana dalam perkataannya yang tentu saja akan membuat dirinya menjadi sedih.


"Aku tidak bercanda Mah, aku serius. Aku bisa ceritakan bagaimana hidupku sebagai Riana Milane."


Seketika Sarah kembali terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Zeana karena  dia tidak pernah menyinggung nama Milane dalam ceritanya. Jadi bagaimana Zeana bisa tau nama Milane yang disematkan pada Riana?


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.