
..."Jika kamu membenci seseorang itu akan lebih sulit bagimu, jadi jangan lakukan. Coba senyum ke mereka. Bahkan jika kamu berpikir 'haruskah aku benci mereka' itu hanya buang-buang waktu." ...
..._Wonyoung...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
95. Kelulusan
Setelah tahu akan kebenaran tersebut Zeana tidak pernah lagi mau membahas siapa Ayah kandungnya pada Sarah. Dia cukup tau bahwa pasti akan sangat sulit untuk Sarah dapat memberitahunya.
Lagian sepertinya untuk sekarang Zeana cukup tau saja karena bagaimanapun takdir tersebut tidak akan pernah bisa diubah lagi.
Hari demi hari terus berlalu, kini setelah Ujian Nasional selesai sampailah pada penghujung perjuangan. Dimana semua siswa kelas 12 akan mendapatkan pengumuman kelulusan.
Seperti biasa Zeana akan berangkat bersama Zero menuju sekolah dan akan berkumpul dengan yang lainnya disekolah nanti.
Begitu sampai dengan segera semua siswa-siswi berkumpul dilapangan, dimana pengumuman tersebut akan diumunkan ketika upacara selesai.
Acara demi acara sudah terlaksana dengan lancar, mulai dari sambutan-sambutan serta amanat lain. Kini sampailah pada pengumuman tersebut, dimana hampir seluruh kelas 12 merasa tegang dengan hasil perjuangan mereka bersekolah selama 3 tahun.
"Bailklah, mungkin ini hal yang sangat dinanti-nanti oleh semua kelas 12. Bahkan mungkin ini juga merupakan hal yang ingin didengar dan diketahui oleh semua warga sekolah.
Pertama-tama saya ucapkan terimakasih pada kalian semua karena sudah berjuang sampai pada titik akhir ini. Saya tahu bahwa begitu banyak perjuagan, serta pengorbanan yang kalian lakukan untuk dapat menyelesaikan jenjang pendidikan ini.
Saya harap apapun nanti hasilnya dapat diterima dengan baik karena bagaimanapun itu merupakan hasil usaha kalian semua."
Sontak perkataan Kepala sekolah menambah ketegangan dan ketahukan di hati kelas 12. Hampir semua siswa terdiam mendengarkan ucapan tersebut.
"Lulus tidak lulus, kalian sudah berusaha dengan semaksimal mungkin. Saya ucapkan selamat bagi yang lulus dan juga berusaha lagi bagi yang belum lulus. Tidak usah malu ketika sedang menempuh pendidikan, suatu kegagalan tidak membuat langkah lain terhenti.
Saya harap bagi yang lulus mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih lanjut, ataupun dapat melakukan hal yang berguna nantinya.
Sedangkan yang belum lulus, semoga senantiasa untuk kembali berusaha yang terbaik."
Kepala sekolahpun melanjutkan perkataaannya, yang tentu saja kini membuat sebagian murid menjadi sedih karena takut jika diri mereka yang termasuk kedalam orang yang tidak lulus itu.
"Oleh karena itu saya umumkan, jika siswa-siswi kelas 12 angkatan XIV..." ucapan tersebut sengaja digantung yang semakin membuat orang-orang menjadi penasaran akan kelanjutannya.
"Semuanya dinyatakan lulus."
Yeayyy
Seketika sorak bahagia dan juga haru mengema diseluruh penjuru lapangan, banyak murid-murid yang mulai mengucap syukur. Tidak lupa saling berpelukan haru bersama teman-teman seperjuangan mereka.
Mereka merasa senang dan juga sedih secara bersamaan.
"Selamat untuk semuanya. Kalian semua hebat telah dapat menyelesaikan ini semua. Hanya itu saja yang dapat saya sampaikan, mungkin selebihnya akan disampaikan oleh rekan-rekan yang lainnya."
Merasa sudah cukup menyampaikan hal yang ingin dikatakan, Kepala sekolah tersebut segera pergi. Kini berganti dengan Nico selaku mantan Ketua Osis, serta perwakilan dari semua murid 12 untuk menyampaikan pesan dan kesan.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Nico begitu sudah ada dihadapan semua orang.
"Berdirinya saya disini mungkin selaku perwakilan dari rekan-rekan, serta teman-teman saya untuk dapat menyampaikan separah duapatah kata.
Pertama-tama, selamat untuk semuanya. Terimakasih sudah mau berjuang bersama-sama sampai titik ini, melalui semua hal dengan begitu baik.
Saya harap ini bukan akhir dari perjuangan kita, namun awal menempuh kehidupam baru yang sesungguhnya. Serta saya harap, perpisahan ini tidak memutus ikatan pertemanan antara kita semua.
Saya harap kita masih bisa bertegur sapa, jika bertemu diluar nanti. Meskipun sudah tidak bersama dalam bidang, serta keadaan yang sama. Tidak perlu malu dan juga gengsi untuk menyapa nantinya.
Terimakasih juga pada Guru-guru, serta staf lainnya yang sudah menemani kami selama ini. Terimasih karena sudah mau memberi begitu banyak ilmu yang bermanfaaat bagi kami, semoga Tuhan dapat membalas semuanya.
Terimakasih atas jasa yang begitu besar, serta selalu membimbing kami dalam jalan yang benar.
Untuk semuanya semoga sukses dimasa depan, dan kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang.
Mari bertemu kembali dititik terbaik menurut takdir Tuhan.
Sekian, terimakasih."
Nicopun langsung kembali bergabung dengan yang lainnya dan dapat dilihat jika perkataan dari Nico sungguh membuat banyak hati ikut terharu.
Mereka semua tidak menyangka bahwa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya seperti baru kemarin mereka berkenalan dengan teman-teman yang lain dan kini malah sudah mau berpisah kembali.
Rasa haru juga dirasakan oleh teman-teman Jeano, yaitu Andra dan juga Bobby. Kini keduanya tampak sedang sibuk sendiri.
"Jangan nangis!"
"Iya, jangan nangis. Kita cowok, gak boleh cengeng!"
Keduanya terlihat saling menguatkan, namun nyatanya mereka berdua malah langsung menangis sambil berpelukan.
"Gue sedih banget asyyuu." Kata Andra yang masih memeluk erat tubuh Bobby, tidak lupa salah satu tangannya mencoba menyeka air mata yang keluar.
"Iya, sama cok hiks." Bobbypun tidak kalah terharunya, malah mungkin kini terlihat Bobby yang paling sedih diantara keduanya.
Ya, cowokpun masih punya perasaan. Tidak apa sesekali menangis untuk menunjukan keadaan kita saat ini. Hal itu tidak akan dianggap lemah dan juga cengeng karena setiap orang berhak untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan.
Sedih itu bukan aib dan menangispun bukan suatu dosa.
Sama halnya dengan Andra dan juga Bobby saat ini. Orang-orang disekitarnya sangat memaklumi hal itu, lagian tidak banyak juga yang memperhatikan prilaku keduanya karena memang sedang sibuk dengan urusan sendiri.
Sedangkan untuk Jeano dan juga Zero yang melihat prilaku keduanya, hanya bisa menampilkan wajah datar. Prilaku absurd tersebut sudah sering mereka lihat, sehingga mereka hanya bisa menahan malu melihat Andra dan juga Bobby.
"Biarlah, suka-suka mereka." Mungkin itu isi hati dari Jeano dan juga Zero. Keduanya tetap diam, tanpa mengeluarkan ekspresi tidak lebih dari datar.
Setelah upacara tersebut sudah selesai, mereka semua mulai membubarkan diri menuju kelas masing-masing. Karena hal lainnya, seperti pembagian surat kelulusan akan dilakukan didalam kelas oleh Wali kelas masing-masing.
Meskipun sedikit kesal dan juga malu, Jeano serta Zero mulai menarik tubuh Andra dan Bobby untuk pergi menuju kelas bersama-sama. Mereka masih ada rasa kasihan dengan kedua temannya itu, mereka tidak mau jika Andra dan Bobby malah tambah merasa malu dengan tertinggal ditengah lapangan.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.