Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 41



..."Rumah itu penting, tapi dengan siapa kita tinggal itu jauh lebih penting. Karena rumah selalu menjadi tempat untuk kita pulang saat diluar sudah terlalu sakit dan kita bukan hanya butuh seseorang yang bisa mengenal kita, tapi juga membuat kita nyaman saat didalam rumah."...


..._Happines...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


41. Akan Berusaha


"Jadi begitu ceritanya." Jeanopun selesai menceritakan semua bagaimana awal dirinya dan Zeaan bertemu.


"Jadi sebenarnya Daddy dan Kak Zero sangat menyayangiku?"


"Tentu saja. Dan masih banyak lagi orang yang masih menyayangi mu sampai sekarang."


"Aku sangat berterimakasih pada kalian, dan maaf perbutan ku yang dulu banyak menyakiti orang lain termasuk dirimu Jeano." Meskipun perbuatan tersebut bukan dilakukan oleh dirinya melainkan oleh Zeana yang dulu, namun Zeana rasa dia harus meminta maaf untuk itu semua.


"Aku sudah memaafkan mu. Jangan khawatir!"


"Syukurlah kalau begitu dan maaf juga belum bisa membalas cintamu dengan benar, tapi sekarang aku akan berusaha untuk menerimanya serta membalas rasa cinta itu. Tolong bantu aku!"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana membuat Jeano sangat senang bahwa sekarang Zeana sudah mau menerima dirinya dan mau berusaha untuk membalas rasa cintanya yang sudah ada dari dulu.


Akhirnya penantianya selama ini dapat membuahkan hasil meskipun harus ada musibah terlebih dahulu yang menimpa Zeana.


"Pasti, aku akan membantumu. Dan aku sangat senang mendengar apa yang kamu katakan, dan tolong tetap selalu bersama ku Anna apapun yang terjadi." Kata Jeano sambil menatap Zeana dengan penuh permohonan karena bagaimanapun Zeana belum mengetahui tentang Nico, dan itu yang membuat Jeano masih khawatir jika Zeana akan kembali mengejar Nico.


"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk selalu bersama mu."


"Terimakasih." Ucap Jeano yang langsung memeluk tubuh Zeana dengan erat serta senyum yang mengempang yang jarang terlihat diwajahnya.


"Sama-sama Jeano." Zeanapun membalas pelukan itu serta mengelus pelan baru lebar Jeano.


"Ouh iya, ayo kita pulang! Pasti kamu sudah sangat laparkan?"


Jeano baru ingat jika selepas sepulang sekolah mereka langsung kedanau ini dan belum memakan makan lagi setelah istirahat makan siang tadi, dan jika dilihat sepertinya ini sudah sore. Mereka terlalu asik bercerita sehingga tidak menyadari, jika matahari yang mulai terbenam meninggalkan warna orange yang sangat indah di langit.


"Baiklah, ayo!"


Mereka berduapun mulai kembali menaiki mobil untuk menuju rumah, tanpa menyadari jika dari awal mereka didanau tersebut sudah ada seseorang yang ikut mendengar semua cerita yang Jeano katakan.


"Jadi benar kamu hilang ingatan? Kau tau? Ini juga merupakan tempat awal kita bertemu Zeana. Dan nanti, aku akan menceritakan bagaimana kita pertama kali bertemu." Batin seseorang itu terus menatap Zeana dan juga Jeano yang mulai meninggalkan danau tersebut.


***


Setelah mengantarkan Zeana dengan selamat, Jeano segara pamit untuk pulang karena dia ada urusan dengan teman-temannya.


Jeano menjalankan mobil milik Zero yang dikendarainya kesebuah tempat yang memang sering dia bersama teman-temanya pakai untuk membahas hal penting atau hanya sekedar nongkrong saja.


Kaki Jeano mulai melangkah kesuatu tempat yang lumayan besar, cukup nyaman untuk dipakai bermain bersama teman-temannya. Bukan sebuah markas atau apapun, karena memang Jeano tidak masuk kedalam golongan anak genk motor atau apapun hal semacam itu.


Meskipun terkenal dengan gaya badboynya namun Jeano beserta teman-temanya tidak ikut dalam hal itu, mereka berkumpul hanya sekedar untuk mengobrol serta membahas bisnis bersama.


Mereka merupakan anak baik yang sangat patuh pada kedua orang tua mereka. Jika orangtuanya melarang, tentu saja mereka tidak akan melakukan hal itu.


"Maaf menunggu lama." Ucap Jeano yang langsung duduk disalah satu kursi kosong yang ada ditempat tersebut.


"Santai aelah Bos, kayak sama siapa aja." Jawab Andra dengan mulutnya yang tidak berhenti mengunyah makanan ringan, yang memang selalu ada disana untuk menemani mereka ketika bermain.


"Kemana dulu Bos? Kok lama?" Kini Bobby yang bertanya pada Jeano, karena jiwa keponya selalu ada.


"Hanya main kedanau terlebih dahulu bersama Anna."


"Danau Asri Biru?"


"Ya, danau mana lagi kalau bukan kesana?"


"Lo ngapain aja?" Zero ikut penasaran ketika Jeano membawa-bawa nama Adiknya dalam percakapannya.


"Cuman ngobrol biasa aja. Awalnya gue ajak Anna untuk main dulu sebelum pulang, karena gue liat Anna bahagia banget liat-liat jalanan. Mungkin karena Anna amnesia, dia merasa semua tempat disini itu baru. Yaudah gue bawa aja kedanau Asri Biru sekalian gue kasih tau Anna hal penting."


"Hal penting apaan?"


"Gue cuman ngasih tau Anna, tentang gimana kita pertama kali ketemu. Dan pas kesana bener dong Anna seneng bangat karena baru tau jika ada tempat bagus kayak danau Asri Biru ditengah kota."


"Kayaknya Anna harus sering diajak jalan-jalan deh, soalnya dia pasti lupakan?"


"Nah bener banget. Gue setuju sama saran Bobby."


"Ide bagus, gue usahaan bakal sering bawa Anna main."


"Emangnya bakal gue izinin?" Tanya Zero menatap remeh kearah Jeano, meskipun mereka sudah bersahabat sejak kecil tidak membuat jiwa pertengkaran mereka reda.


Zero serta Jeano kerap kali bertengkar dari kecil, apalagi menyangkut tentang Zeana. Apalagi ditambah jika Felix ikut berdebat dengan pemuda itu seperti sebelum-sebelumnya, lengkap sudah perdebatan tersebut.


"Ya, gak papa kalo lo gak ngizinin. Gue bakal tetap bawa Anna, tanpa izin dulu dari lo."


"Oh ya? Kayaknya sekarang Zeana bakal nurut deh, kalo misalkan Daddy atau gue ngelarang dia keluar rumah." Dengan seringai serta tatapan tajam Zero mengatakan hal itu pada Jeano.


"Sial*n, gue lupa kalo Anna gak kayak dulu lagi. Pasti Anna bakal langsung nurut apa kata Pak Tua itu dan juga Zero." Batin Jeano penatap kesal Zero yang tepat ada di sampingnya.


Keduanyapun tidak ada niatan untuk memisahkan Zero dan Jeano ataupun sekedar melerai karena berdepatan itu sudah sering terjadi meskipun tidak setiap hari. Perdebatan itu sudah terjadi sejak mereka kecil dan ketika awal berkenalan, serta tanpa disadari terbawa hingga besar.


Lagian hanya Jeano yang mampu perdepat dengan Zero, begitupun sebaliknya didalam bertemanan mereka. Sedangkan untuk Andra dan Bonny mana berani untuk melakukan itu pada salah satunya.


"Hm, baiklah. Lain kali, gue akan minta izin dulu wahai Kakak ipar." Kata Jeano yang ditambahi dengan sedikit candaan di akhir katanya.


"Hei diam kau! Jangan panggil seperti itu! Lo belum resmi jadi Adik ipar gue ya?"


"Kakak ipar jangan seperti itu, aku kan akan menjadi Adik ipar yang sangat baik." Dengan sengaja Jeano malah terus menjahili Zero serta sekarang kedua tangan Jeano sudah menggandeng tangan Zero.


"Jeano!! Lepas!!" Sentak Zero mencona melepaskan tanganya yang dipeluk oleh Jeano.


"Tidak."


"Lepas, atau aku tidak akan mengizinkanmu bertemu lagi dengan Anna." Anjam Zero karena sudah merasa kesal dengan Jeano yang tidak mau melepaskan tangannya bahkan sekarang kepalanya sudah menyander dibahu Zero.


Sungguh sangat menggelikan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Zero membuat Jeano buru-buru melepaskan tangannya, dan kembali menegakkan tubuhnya dengan benar.


Enak saja tidak mengizinkan dia bertemu dengan Zeana. Tidak bisa, dan tidak boleh.


"Iya, iya. Baperan amat."


"Hei, sejak kapan kau tau kata seperti itu?"


"Tau apa?"


"Itu, kata baperan."


"Aku hanya tau dari orang-orang yang sering mengucapkannya saja."


"Cih."


Mereka berduapun berhenti dengan perdebatan mareka, keduanya sama-sama seperti tidak melakukan perdebatan. Keduanya langsung diam dan fokus pada ponsel masing-masing.


Memang seperti itu, mereka akan berdebat dan berhenti dengan sendirinya tanpa harus dilerai terlebih dahulu.


Andra, dan Bobby menatap heran kearah keduanya. Mereka saling melirik satu sama lain, dan tercengang.


"Udah gitu aja?"


"Gak ada baku hantam dulu apa?"


Andra beserta Bobby bertanya pada keduanya, namun Zero dan Jeano hanya diam saja tanpa mau menjawab apapun dari pertanyaan Andra maupun Bobby.


Sungguh luar biasa. Tadi saja Zero dan Jeano menjadi sangat cerewet sekali, tapi selarang 2 orang itu hanya diam seperti patung saja.


"Minimal tonjok-tonjokan dulu kek."


"Nah iya, seru tuh."


Zero beserta Jeano masih saja diam tidak mengatakan  apapun ataupun menanggapi perkataan dari Andra maupun Bobby.


"Gimana rapat tadi?" Jeano lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka ke lebih yang bermutu.


"Kita ada tanding nanti, tapi kayaknya bakal kurang anggota deh Bos. Soalnya si Kevin belum bisa ikut tanding lagi, kakinya masih diperban soalnya." Jelas Bobby untuk menjawab pertanyaan dari Jeano.


"Lo ikut aja Zer, lumayan gak usah cari gantinya." Kata Jeano sambil melihat kearah Zero yang masih saja fokus pada ponselnya.


"Gak. Gue gak mau, lo cari aja. Kan masih banyak tuh anggota basket disekolah."


"Ayolah Zer, lo aja yang ikut." Andrapun ikut mencoba untuk membujuk Zero agar ikut dalam pertandingan Basket akhir tahun ini.


Memang setiap akhir tahun sekolahnya akan mengadakan pertandingan dari berbagai organisasi yang ada di sekolah tersebut, salah satunya Basket Ball yang diikuti oleh Jeano dan kawan-kawannya.


"Gue bilang gak, nya engak. Lagian gue udah baik-baik gantiin lo waktu rapat tadi."


"Yeee, kan gue nganterin Anna dulu."


"Nah justrus itu, harusnya gue aja yang pulang sama Anna."


"Kan gue tunanganya, jadi wajar dong kalo pulang bareng gue."


"Gue Kakak kandungnya, kalo lo lupa."


"Tapi kan gue cuman mau sama Anna, kalo lo kan bisa nanti dirumah."


Mereka berdua kembali berdebat tentang Zeana, yang memang mungkin tidak akan ada habisnya jika terus mempermasalahkan itu.


"Udah!! Udah! Kalian berdua berantem mulu deh, heran gue. Kalo masalah Anna aja kalian baru merubah jadi cerewet, tapi giliran yang lain cuman jawab singkat banget."


Zero dan Jeanopun langsung menghentikan perdepatan mereka. Dan saling menatap tajam satu sama lainnya. Namun tiba-tiba Bobby menemukan solusi dari permasalahan kali ini, yaitu Zeana.


Jika Zero dan Jeano hanya akan berdebat karena Zeana, besar kemungkinan Zeana juga dapat membujuk Zero agar dapat ikut tanding bersama mereka.


Ya, Bobby akan coba cara itu. Dia akan mencoba berbicara pada Zeana tentang masalah pertanding ini nantinya.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.